Riri 3: Eksib di Kolam Renang


Beberapa hari berlalu sejak kejadian antara aku dan kedua bocah tanggung itu. Aris sudah kembali ke kampungnya karena sudah harus kembali masuk sekolah. Kadang aku kangen juga dengan perlakuan mereka yang mesum itu padaku. Wawan sempat meminta no handphoneku saat hendak mau keluar dari rumah ketika itu, karena dia memaksa aku beri saja. Tentu saja dia gunakan nomorku untuk dapat menghubungiku bila dia kangen denganku, mungkin dia onani sambil ngebayangin dan mendengarkan suaraku, hihi :p . Sering juga dia malah seenaknya minta isikan pulsa seperti sms mama minta pulsa yang sedang trend. Bahkan kalau pulsanya sedang tipis dia sms aku menyuruh aku yang menelponnya. 

Beberapa kali datang sms yang entah dari siapa yang berisi kata-kata kotor padaku, seperti mengajak aku ngentot, minta di sepongin dan macam-macam, sepertinya si Wawan seenaknya memberikan nomorku pada orang lain. Ku biarkan saja sms-sms kurang ajar itu, kadang kalau aku iseng aku balas nantangin. “Sini.. kalau berani samperin ke rumah kalau pengen ngentotin riri, tapi berhadapan dulu sama satpam komplek dan papa riri” balasku. Sepertinya mereka cuma berani lewat sms saja karena tidak ada balasan lagi setelah itu. Sampai saat ini aku memang belum bisa menghilangkan sifat eksibisionisku, menyenangkan sekali menggoda para pria sampai mupeng terhadap diriku walaupun kadang berakhir dengan beberapa aktifitas mesum seperti yang pernah terjadi saat aku di villa dan di rumahku dengan kedua bocah mesum itu. Si Wawan bocah jalanan itu bahkan tidak tahan untuk mengulang perbuatannya itu padaku, yah.. terpaksa aku turutin (Akan aku ceritakan di kesempatan yang lain kalau sempat.. hihi)

Seperti biasa hari-hariku masih disibukkan dengan tugas yang tidak pernah nganggur diberikan oleh dosenku. Hari ini aku ada kelas dan juga harus menyerahkan tugas. Aku memakai kemeja merah muda yang cukup ketat serta celana jins panjang yang tentunya mencetak bentuk tubuhku. Tidak heran banyak mata memandang ke arahku bahkan para dosen pria. 

“Hai ri, gimana? Udah selesai tugasnya?”kata Vani teman baikku. Aku dan Vani memang sudah berteman cukup lama, kami bahkan sudah berteman sejak SMP. Tentu saja dia sudah tau dengan sifatku dan segala hal tentang diriku ‘luar dalam’ .

“udah sih… tapi tadi malam gue sampai begadang nih bikinnya, sialan tuh dosen kampret tua udah bau tanah” gerutu ku curhat pada Vani.

“Hohoho… iya, apa bedanya sama gue.. eh, besok pulang kuliah jadikan ke kolam berenangnya, badan gue udah gatal banget pengen berenang, lo kan udah janji temanin gue..” Vani memang dari dulu gemar berenang, membuat bodynya semakin yahud dan sexy gak kalah dengan diriku. Warna kulitnya memang tidak seputih kulitku, tapi jangan tanya kehalusannya, benar-benar mulus dengan rambut ikal sebahu. Soal dada juga jangan ditanya, montok habis.


“iya-iya.. gue bakal nemanin lo kok” kataku padanya sambil kami berjalan menuju kelas selanjutnya. Hari ini bahkan tiba-tiba ada quiz yang diberikan, mati aku.. gak ada belajar sedikitpun.

Besoknya seperti yang dijanjikan, aku harus menemaninya berenang. Aku menjemputnya dan bersama pergi ke kolam. Ternyata hari ini sangat ramai, memang hari ini bukan hari libur tapi ternyata cukup banyak yang datang, termasuk rombongan anak SMK yang sepertinya sedang mengambil nilai mata pelajaran olahraga. Aku yang baru tiba dan masih memakai pakaian lengkap saja sudah banyak mata yang tertuju padaku, apalagi nanti sewaktu aku ganti pakaian renang, bisa heboh satu kolam :v. Aku akhirnya masuk ke ruang ganti, ku mencari-mencari kamar ganti yang kosong tapi upsss.. beberapa pria yang sedang kencing terheran dan terkejut melihat kehadiranku. Sial, karena melamun barusan aku malah masuk keruang ganti pria, aku jadi salah tingkah sendiri.

“Aduh, maaf pak.. mas.. salah ruangan” kataku dengan muka merah malu sambil menuju keluar dari ruang ganti pria ini, aku tersenyum geli sendiri karena kebodohanku. Namun ketika aku hendak keluar tiba-tiba seorang pria memanggilku.

“ Neng.. udah gak papa, ganti bajunya disini aja.. tuh disana ada kamar ganti yang kosong kok, sama aja kan kalo ganti disini” katanya penuh kemesuman terhadapku. Aku balikkan badanku dan menatap ke arah pria tersebut. Dia hanya mengenakan kolor kumal yang sepertinya ada lubangnya(tajam amat emang barangnya sampai kolornya berlubang gitu). Aku pikir ada benarnya juga omongannya, sama aja kan mau ganti baju disini atau di ruang ganti wanita. Bedanya disini aku cewek sendiri diantara banyak pria, yang mana para pria ini telah terpesona dengan putih mulusnya tubuhku apalagi pahaku, karena aku cuma memakai hotpants jeans, hehe.

“Hmmm.. iya deh mas, mana nih kamar yang kosongnya?” tanyaku pada para pria disana. Dasar cowok, ditanyain malah asik liatin badanku.

“Halooo… mas, Riri nanya nih, dimana kamar kosongnya?” tanyaku lagi pada mereka.

“Eh… i-iya neng, di sebelah sana” katanya sambil menunjuk ke arah yang dimaksudnya.

“Yang mana sih mas?” tanyaku ingin memancing mereka lebih.

“Sini neng, biar saya antarin aja nengnya” katanya sambil berjalan menuju ke kamar yang dimaksudnya, aku ikuti arahnya. 


“Disini mas? Yaudah makasih ya mas.. Riri masuk dulu” kataku masuk dan menutup pintu. Sial, kuncinya gak ada bahkan gantungan bajunya juga gak ada, sepertinya telah rusak dan copot dari posisinya karena ulah tangan yang tidak bertanggung jawab. 

“Mas ini kok pintunya gak ada kuncinya sih? Ada kamar lain gak mas?” tanyaku sambil membuka-tutup pintu mengisyaratkan bahwa pintu ini gak bisa dikunci.

“Aduh.. gak ada neng, disini kamarnya gini semua gak ada kuncinya, neng tenang aja deh.. aman kok, hehe” katanya menenangkanku. Mana bisa gue tenang sebenarnya, dimana gue mesti ganti baju di ruang ganti pria yang banyak cowok di dalamnya. Gimana nanti kalau gue diperkosa ramai-ramai? Bisa capek ntar. Aku akhirnya tetap ganti baju di kamar itu, aku tutup pintunya, posisi pintu ini tidak bisa menutup sempurna karena ada celah kecil di sana. Terpaksa aku gunakan tanganku sesekali mendorong pintu itu disela-sela aktifitasku mengganti pakaian agar pintunya dapat menutup sempurna.

“Jangan ngintipin Riri ya kaliannyaaa…” kataku sedikit berteriak.

“Iya…” jawab mereka hampir serentak. Aku mulai melepaskan kemejaku, kemudian meloloskan hotpants jins ku, dengan iseng ku gantungkan kemeja dan hotpantsku di atas pintu, begitu juga dengan celana dalam dan bra ku. Tentu mereka terbelalak dengan apa yang mereka liat, seorang gadis muda putih mulus kini telah bugil di dalam kamar ganti yang tidak dikunci, yang bisa dibuka kapan saja kalau mereka mau. 

“Pluk” Celana dalam biru mudaku jatuh karena posisi letaknya yang tidak sempurna. Tentu saja membuat para pria disana makin terpelongo. 

“Aduhhh… sorry.. ada yang mau tolongin ngambilin gak?” pintaku pada para pria di luar sana. Tentu saja mereka mau, siapa juga yang gak mau megang celana dalamku yang masih fresh dari tempatnya. 

“Ini neng” kata seseorang dari luar sana”

“Iya, makasih yah… tolong pegangin aja bentar” pintaku yang semakin mengaduk-aduk nafsu mereka. Aku kini mengambil ‘pakaian renang’ku dari dalam tas, setelah memakainya aku buka pintu kamar ganti tersebut. Mata mereka sekarang makin terbelalak melihat apa yang ada didepan mereka, seorang gadis dengan pakaian yang amat minim memperlihatkan tubuh putih mulusnya.


Aku mengenakan micro bikini yang hanya menutupi daerah sekitar vaginaku dengan tali tipis yang mengeliingi bokongku dan terhubung ke kain yang menutupi sekitaran putting payudaraku, sehingga hampir seluruh tubuhku terbuka, baik pantat, punggung, dan perutku. Hanya menutupi vagina dan putting payudaraku, benar-benar bikini yang cukup extreme.

“Napa sih pada bengong gitu? Liatin apa ayo..” godaku pada mereka membuat mereka salah tingkah. 

“Ya udah, makasih ya udah jagain Riri, Riri keluar dulu ya..” kataku pada mereka sambil berjalan ke luar ruang ganti.

“Kancutnya kelupaan neng..” panggil salah satu dari mereka yang sedang memegang celana dalamku. 

“makasih mas” kataku mengambil celana dalamku. Aku kemudian keluar dari sana dengan mata mereka yang masih melekat memandangku.

“Oii Ri, kemana aja lo?” tanya Vani padaku. Tentu saja dia heran aku yang telah berganti pakaian padahal dia tidak melihatku ada di ruang ganti wanita tadi. Akupun menceritakan padanya apa yang barusan terjadi.

“Gila lo, dasar binal.. dan lihat nih, bikini lo ini, gila… kita gak sedang di pantai kayak di film barat-barat beb, ini kolam renang umum…hihi” ujarnya mengomentari ceritaku. Pakaiannya memang lebih sopan, dengan memakain celana kain pendek sedikit longgar dan tanktop putih tipis pendek yang tidak sampai menutupi pusarnya.

“Biarin, sesekali kasih hiburan gratis” balasku. Kami kemudian masuk ke kolam dan berenang. Para lelaki disana mencuri-curi pandang ke arah kami, apalagi padaku dengan busana yang hampir telanjang gini. Bahkan aku sempat diganggu anak-anak SMK itu, seperti menanyai namaku dan tinggal dimana. Cukup lama kami berenang, lokasi kolam itu sudah mulai agak sepi, rombongan anak sekolah juga sudah pulang. Setelah sekian lama berenang dengan ditemani tatapan mata para pria disana, kami memutuskan untuk menyudahinya. Aku bangkit keluar dari kolam diikuti Vani. Beberapa pria terlihat mengikuti kami berdua.


“Neng… bilasnya di ruang ganti cowok aja seperti tadi gimana?” ajak salah satu dari mereka. Gila apa mereka, namun sisi binalku muncul dan membuat gairahku bangkit mengalahkan akal sehatku. Akupun menyanggupi permintaan mereka.

“Neng yang satu lagi boleh ikut kalau mau” kata mereka lagi sambil memandang teman baikku Vani. 

“Van, temanin gue yah.. malas gue sendiri, ntar gue diapa-apain lagi” pintaku pada Vani.

“Iya-iya gue temanin, gue penasaran juga gimana rasanya di dalam ruang ganti cowo” katanya yang akhirnya menunjukkan sisi binalnya.

Akhirnya kami masuk ke ruang ganti cowo, yang mana tadinya aku masuk tidak sengaja, namun kali ini aku masuk karena ajakan mereka yang aku sanggupi tanpa paksaan. Bahkan kini bertambah satu orang lagi gadis muda di sana, membuat para pria mesum itu makin girang dengan muka mupeng dan horny mereka.

Kami berdua menuju shower yang terbuka tanpa sekat atau pintu, diikuti beberapa pria tidak dikenal yang ada disana. Aku putar kran air sehingga shower mulai memancurkan air membasahi tubuh kami.

“Eh, van, kita godain mereka yuk.. sini aku bisikin” kataku pada Vani lalu membisikkan sesuatu padanya dengan tubuh kami yang masih diguyur air pancuran shower. Awalnya dia terkejut mendengarnya, namun akhirnya dia tersenyum nakal menyetujui ajakanku.

“Mas mas semua.. mau lihat yang lebih gak?” kata Vani menggoda mereka.

“I-iya neng, mau dong”

“tapi gak boleh pegang-pegang yah, cuma liatin aja” sambung Vani lagi. Aku dan Vani kemudian saling mendekatkan tubuh kami sehinggga kulit putih mulus kami yang basah saling bersentuhan. Aku dekatkan bibirku ke wajah Vani, menciumi wajahnya berkali-kali. Kemudian aku turun ke bibirnya, kami akhirnya berciuman, saling membelitkan lidah kami dan berbagi air liur. Tangan ku menjamah setiap inci tubuhnya begitu juga dirinya pada diriku. Semua itu kami lakukan di bawah pancuran shower yang tentunya membuat pemandangan semakin erotis bagi lelaki mesum di sekeliling kami. 

Aku lihat diantara mereka yang tidak tahan mulai mengocok penis mereka dibalik celana maupun pakaian dalam mereka, aku tersenyum saja melihatnya. Bahkan ada diantara mereka yang melepas celananya bertelanjang ria sambil mengocok penisnya dihadapan ku dan Vani yang sedang asik bercumbu memancing nafsu birahi mereka pada kami. Nafas kami semakin berat, begitu juga dengan mereka yang menyaksikan kami. Aku sedikit takut bila makin banyak pria yang datang ke ruang ganti, mungkin bisa membuat suasana akan menjadi kacau, tapi aku tetap saja melanjutkan aksi kami.

Aku lepaskan ciuman dan pelukanku dari Vani. Aku buka tas perlengkapan mandiku dan mengambil botol shampo milikku. 

“mau dibantu neng?” tawar salah satu dari mereka padaku.

“hmmm.. boleh deh mas” jawabku menyetujui permintaannya. Dia ambil botol shampo dan menuangkan isinya dan mengusapkannya di tangannya. Lalu dia mendekati tubuhku dan mulai melumuri rambutku dengan busa shampo dari tangannya. Pria yang satu lagi juga melakukan hal yang sama pada Vani. Kini kami sedang dibersihkan rambutnya oleh dua pria ini, yang berdiri disamping kami dengan penis yang mengacung tegak di balik celana dalam mereka yang kadang menyenggol paha maupun belahan pantatku dan Vani, sedangkan pria lain makin mupeng menyaksikan pemandangan ini.


“Neng, sabunnya mana neng? Biar bapak bantu sabunin badannya neng” kata seorang bapak-bapak yang ada disana.

“Iya neng, saya juga mau bantu” kata pria yang lain. Mereka berebutan ingin mengusap-ngusap tanganya ke tubuh putih mulusku dan Vani. Aku senyum-senyum kecil saja melihat kelakuan mereka.

“oke deh pak.. tapi tangannya jangan nakal yah… tuh ambil aja di tas Riri sabunnya” kataku menyetujui. Mereka ambil sabun cairku dan mereka saling berbagi tumpahan sabun itu ke masing-masing tangan mereka, sepertinya mereka ingin berbarengan menyabuni tubuh kami. 

“Bentar… Riri buka aja bikininya, biar gak ganggu ntar” kataku yang makin membangkitkan nafsu mereka. Aku dengan mudahnya melepaskan tali-tali tipis bikiniku sehingga bikini itu langsung lolos dari tubuh montokku dan memperlihatkan seluruh tubuhku yang kini tidak ada sehelai benangpun.

“Van, baju lo buka juga tuh..” kataku pada Vani.

“oke deh.. hmm, ada yang mau tolongin bukain gak?” goda Vani pada mereka, mana ada yang nolak, hihi. Mereka mendekati tubuh vani, mereka angkat tangan Vani ke atas dan menarik tanktop Vani lalu mereka tarik celana pendek tipis sekaligus celana dalam yang dikenakannya ke bawah, sehingga kini tubuh kami berdua sudah bugil di hadapan para pria mupeng tersebut.

Tubuh putih mulus kami kini terpampang bebas tanpa ada yang mengalangi, guyuran shower di tubuh polos kami makin membuat pemandangan makin menggoda. Diantara mereka yang tidak tahan makin mempercepat kocokan penisnya, bahkan terang-terangan didepan kami berdua. Kini mereka mendekat dan bersiap menyabuni tubuh telanjangku dan Vani. Jadilah tangan mereka mengusap-ngusap tubuhku dan Vani. Mereka mengusap seluruh inci tubuh kami, punggung, leher, perut, paha dan kakiku secara bersamaan oleh tangan-tangan nakal mereka. Tidak hanya mengusap, mereka juga meremas dadaku dan Vani dengan nafsunya. Penis mereka yang tegang kini tidak tertupi lagi, menggesek gesek tubuh kami dengan penis tegang mereka.

“yang bersih ya.. awas gak” ujarku.

“kalo gak bersih gimana neng?” tanya salah satu pria.

“ya gak boleh berhenti sampai semua bersih” balasku. 

Mereka lanjutkan mengusap-ngusap tubuhku dan Vani, sepertinya niat mereka memang cuma pengen gerepe-gerepe doang bukannya mau nyabunin. Cukup lama mereka menyabuni tubuhku. Akhirnya ku bilas tubuhku sehingga kini tubuhku telah bersih dari sabun.

“udah selesai nih, makasih yah…” ujarku pada mereka. 

“anu.. neng, kami boleh lanjutin onani gak sambil lihat neng berdua? Kami udah gak tahan banget nih..” kata pria berkumis.


“hmmm… boleh deh pak, anggap aja sebagai tanda terima kasih karena sudah mandiin kami” kata Vani, mereka girang bukan main mendengarnya. Mereka mulai mengocok penis mereka dihadapan kami, terlihat nafsu mereka tak terbendung lagi.

“Hihi.. nafsu yah kalian semua liat tubuh kita berdua?” goda Vani.

“uh.. iya neng.. badan neng bedua bening amat, gak tahan pengen ngentotin” kata mereka mulai bicara jorok. Sambil masih disiram air yang mengucur dari shower aku dan Vani berpelukan lagi dan saling berciuman membelit lidah. Kami kini duduk diatas lantai dikelilingi pria-pria nafsu yang masih mengocok penis mereka. Aku dan vani kini dikelilingi penis penis tegang yang hanya berjarak sekitar satu meter, memberi ruang padaku dan Vani melanjutkan aksi lesbian kami demi menggoda dan membangkitkan nafsu birahi mereka. 

Sambil asik berciuman dan bercumbu, aku dan Vani kadang melirik ke arah mereka dan tersenyum semanis mungkin. Senyuman manis yang membangkitkan birahi pria manapun, apalagi dengan tubuh putih mulus kami yang bergesekan basah dibawah guyuran air shower.

“Ohhh… neng… ngentot yuk neng… gak tahan neng pengen genjotin neng..” kata mereka mulai meracau. Aku hanya tersenyum nakal mendengar ocehan jorok mereka. 

Air shower kini sudah dimatikan, namun bulir-bulir air masih tersisa di kulit mulus kita berdua. Kami lanjutkan beberapa aksi nakal seperti bergantian mengulum buah dada ataupun menggesek-gesekkan vagina kami. Lama-kelamaan mereka makin mendekat saja, penis mereka kini hanya berjarak beberapa puluh senti saja dari tubuh telanjang kami, bahkan ada yang sempat menyenggol tubuhku. Mereka sudah benar-benar gak tahan kayaknya. 

“Crooot… crooott” beberapa diantara mereka yang tidak tahan lagi menumpahkan spermanya ke badanku dan Vani membuat kami menjerit kecil. Sperma itu mengenai beberapa bagian tubuh dan rambutku. Duh sial.. baru mandi juga, batinku.

“Ihhh… kok numpahin pejunya gak bilang-bilang sih” kata Vani dengan nada manja. 

“so-sorry neng, abisnya saya gak tahan lihat badan neng..” jawab si pria jangkung.
Aku sempat mencolek tumpahan sperma di lenganku dan iseng mengusapnya ke wajah Vani. 

“Ih.. rese lu Ri, bau tau, enak aja lo colekin ke wajah gue..” katanya, aku tertawa-tawa dibuatnya diikuti Vani. 

“Awas gue balas..” katanya yang juga mencolek tetesan sperma dari paha putihnya dan ingin mencoleknya kembali ke wajahku, tapi sempat ku tangkis tangannya walau akhirnya kena juga wajahku T.T Kelakuan kami tentu saja membuat mereka makin mupeng dan semakin nafsu. 

“Ih.. lo curang ri, gue gak sebanyak itu coleknya” kata Vani manja.

“Hihihi.. rasain” jawabku.

“rese lo ah.. eh, mas.. nanti tumpahin aja tuh pejunya ke mukanya Riri, biar tau rasa dia” kata Vani pada mereka sambil ketawa-ketiwi nafsuin.

“Janji ya mas ntar ngecrotnya ke wajahnya dia.. hihi, awas kalau gak.. “ sambung Vani lagi. Mereka makin mempercepat kocokan penisnya mendengar permintaan Vani barusan.

“jangan mau mas.. ke mukanya Vani aja, dia suka tuh mukanya ditumpahin pejunya mas” tolakku yang juga ketawa-ketiwi.

“Rese lo ri.. gak mas, ke wajah Riri aja, ntar Vani kasih hadiah deh..” katanya meyakinkan mereka. Kami bergelut diatas lantai dikelilingi mereka yang sudah benar-benar nafsu. Tiba-tiba salah satu dari mereka menarik dan memutar kepalaku dengan agak memaksa, sehingga kini aku menghadap ke penis orang itu.

“Crooot…. Crooooott” penisnya langsung saja memuntahkan banyak peju ke wajahku. Aku cukup gelagapan karena beberapa masuk ke mulutku. Aku tadi tidak sempat menutup mulutku karena aku sedang bergelut dengan Vani sambil tertawa-tawa dan orang ini tiba-tiba saja menarik kepalaku.

“Hihihi… horeee… rasain tuh peju” kata Vani tertawa penuh kemenangan. Aku hanya nyengir kecil, awas lo… kataku dalam hati. Aku yang masih terkejut tiba-tiba ada lagi yang menumpahkan pejunya ke wajahku, bahkan kini dua orang sekaligus. Gila.. aku di bukkake.. batinku.

“Hahaha… rasain, enak yah ri? Gimana? Wangi gak? “ katanya sambil tertawa-tawa merasa semakin menang. 


“Rese lo Van.. ih… kalian kok ngecrotnya gak bilang-bilang sih..” kataku yang kini pura-pura ngambek pada mereka dengan wajah yang penuh cairan hina mereka, mereka hanya cengengesan saja. 

“Niihh… ratain” kata Vani tiba-tiba mengusap dan meratakan sperma di wajahku dengan tangannya sambil tertawa kecil.

“Ah…. Apaan sih lo Van, terus gue harus bilang makasih ke lo gitu udah bantu ngeratain nih peju di muka gue” jawabku dengan masih pura-pura ngambek.

“gak ke gue kali lo bilang makasihnya, tapi ke mereka nih.. yang udah kasih lo facial gratis” katanya dengan masih tertawa-tawa.

“Rese lu..” jawabku.

“hmm.. makasih yah yang udah ngecrot di muka Riri.. enak yah? “ kataku akhirnya menuruti kata Vani sambil tersenyum manis dengan muka yang mengkilap karena peju mereka. 

“Neng Vani, katanya mau kasih hadiah kalau kita ngecrotnya ke wajahnya neng Riri, mana nih hadiahnya?” ujar salah satu dari mereka.

“eh.. tadi Vani ngomong gitu yah.. hehe, iya deh.. hmm.. apa ya hadiahnya..” kini Vani malah bingung sendiri mau ngapain.

“Gimana kalau kita dibolehin ngentotin neng Vani.. yah.. yah..” pintanya mesum pada Vani.

“eh… kalu itu jangan deh..” kata Vani agak cemas. Dia memang tidak perawan lagi, tapi dia mana mau juga ngentot sembarangan apalagi dengan orang yang gak dikenal gini.

“hmm… gimana kalau ngentotnya di mulut Vani aja? Gak papa kan? Beda-beda tipis lah” tawar Vani sambil tertawa cengengesan. Aku yang berada disebelahnya menunggu saja gimana aksi sahabatku ini selanjutnya, tapi ni peju lengketnya bikin gak nyaman aja, batinku karena peju di wajahku yang barusan di ratakan oleh Vani masih kubiarkan.

“Hehe.. boleh neng..” mereka mulai mengambil posisi didepan wajah Vani sambil yang masih duduk di lantai. Vani mulai menjilati penis tersebut, atas ke bawah, menjilati buah zakarnya, mengulum rambut-rambut kemaluannya, sepertinya Vani sudah sering melakukan BJ pada pacarnya, lihai gitu gerakannya. Aku akhirnya membersihkan peju dari wajahku sehingga wajahku mulus kembali.

“Masukin yah neng..” katanya mulai memasukkan penisnya ke mulut Vani yang mungil. Memaju mundurkannya seperti sedang bersetubuh. Sambil mengentoti mulut Vani, orang itu juga meraba-raba dan meremas buah dada Vani yang montok. 

“Neng Riri, ciuman yuk.” Kata pria yang sedang mengentoti mulut temanku ini. Sepertinya dia ingin menyetubuhi mulut temanku ini sambil berciuman denganku. Aku turuti saja fantasinya ini, ku berdiri di sisinya dan kamipun berciuman mesra membelit lidah. Tidak lama kami berciuman karena tangan pria yang lain menarik tubuhku dan juga mengajakku berciuman.


“Neng Riri.. kita juga mau nih ngentotin mulut neng.. Gak papakan? Lama nih kalau harus antri” kata mereka padaku. Dasar aku yang binal, ku turuti kemauan mereka. Jadinya kini kami berdua harus melayani penis mereka dengan mulut kami. Mereka lakukan itu bergantian, bahkan orang yang sudah merasakan mulutku juga menyetubuhi mulut Vani.
Aku kini sedang melayani penis hitam besar sambil berbaring di lantai, si empunya penis dengan seenaknya memaju-mundurkan penisnya di mulutku dari atas, memasukkan penisnya sedalam mungkin ke kerongkonganku yang beberapa kali membuatku tersedak karena kesullitan bernafas. Benang liur terjalin antar mulut mungilku dengan ujung penis orang itu. Cukup lama kami melakukan aksi tersebut, baik Vani dan aku sudah kelelahan, namun mereka seperti tidak ada puasnya, aku tidak tahu apakah disana ada orang yang baru masuk ke ruang ganti atau tidak.

“udah dong….” Kata Vani manja dengan nafas ngos-ngosan.

“iya nih mas.. udah pegel nih mulut kita” sambungku setuju dengan Vani. Mereka akhirnya melepaskan penisnya. Ku lihat mereka masih belum puas, penis mereka masih tegang berselimuti air liur gadis remaja ini.

“Gini aja deh mas, kalian lanjutin aja yah gesekin penisnya ke susu atau vagina kita.. gimana? Gak papa kan? Coba dulu.. kalau gak enak, ntar Riri pikirin deh jalan lain” tawarku pada mereka. Mereka menyetujuinya dan mulai aksi mesumnya kembali. Kini aku dan Vani menyerahkan dada dan pahaku untuk memuaskan penis-penis tegang mereka yang belum terpuaskan. Membiarkan mereka seenaknya menggesek-gesekan penis mereka di antara buah dada maupun paha kita. Mereka mau kita terlentang dilantai ataupun nungging kita turuti, hihi.

“Neng.. boleh nyelip dikit gak?” kata mereka padaku.

“nyelipin dimana? Kalau diantara paha silahkan..” kataku yang sedang terlentang di bawahnya.

“Nyelipin di memeknya neng.. boleh kan?” kata pria itu.

“kalau gesek-gesekin di memek Riri boleh dong.. silahkan aja..” kataku gak keberatan. Dia mulai memposisikan penisnya tepat didepan vagina mulusku. Kepala penisnya mulai bersentuhan dengan bibir vaginaku. Dia mulai menggoyangkan badannya sehingga penisnya bergesekan dengan permukaan vaginaku. 

“Aduh.. hati-hati, hampir masuk tadi tuh..” Beberapa kali kepala penisnya hampir masuk ke lubang vaginaku, namun karena tidak benar-benar masuk aku biarkan saja aksinya.

“enak yah mas?” tanyaku menggoda.

“Banget neng.. masukin dikit boleh ya neng.. plis neng, udah gak tahan nih.. kepalanya aja boleh yah..” katanya memelas. Aku tidak langsung menjawab permintaannya, aku takut juga nanti kalau dia gak tahan dianya nancapin semuanya, bisa diperawanin gue ntar. 

“Janji yah mas, Cuma kepalanya..”

“iya neng” diapun kembali memposisikan penisnya didepan vaginaku. Kepala penisnya mulai masuk dan terbenam di antara bibir kemaluanku, hingga akhirnya kepalanya masuk keseluruhan sebatas leher penisnya. Dia mulai mengayunkan pinggulnya maju mundur namun tidak sampai membuat kepala penisnya lepas dari vaginaku. Aku yang baru pertama kali dimasuki penis merasa horny dan meringis kenikmatan walaupun hanya kepalanya saja yang masuk. Aku terbuai oleh ayunannya hingga aku tidak sadar….


“Sreeekkk” rasa perih menderaku… selaput daraku robek!! Apa?? Bagaimana bisa? Kulihat ternyata penisnya masuk lebih dalam dari yang aku bolehkan tadi. Gila apa? Aku telah diperawani oleh orang yang tidak ku kenal ini, susah payah aku menjaga keperawananku untuk suamiku kelak. Namun aku bermain api terlalu dekat hingga akupun terbakar karenanya.

“Maaaasssss, kok masukin penisnya sedalam itu sih? ” teriakku padanya kesal.

“Aduh.. maaf neng, gak sengaja.. habisnya gak tahan..” jawabnya enteng, sialan. Mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, dan tukang bubur sudah naik bu haji, mau gak mau aku harus nikmati apa yang sudah terjadi.

"Ya udah deh… mas sih… lanjutin aja deh, kepalang tanggung..” kataku padanya. Akhirnya aku kini merasakan bagaimana nikmatnya disetubuhi, walau masih terasa sedikit perih namun lama-kelamaan terasa nikmat. 

“Ougghhh nikmat neng…” erangnya kenikmatan karena akhirnya bisa merasakan menyetubuhiku yang juga telah merenggut keperawananku. Aku juga merasakan nikmat yang tidak terkira yang baru kali ini ku rasakan. Ternyata Vani juga sudah disetubuhi oleh salah satu dari mereka.

“Hmmpphh.. iya mas, terus…” kataku kenikmatan.

“Ohhh… Riri.. sempit neng…” kami lanjutkan persetubuhan itu.

“Pengen keluar neng, keluarin dimana?”

“Di dalam aja mas” kataku, aku penasaran juga bagaimana rasanya vaginaku yang terisi sperma.

“Croott… crooott” akhirnya penisnya menyemburkan spermanya di dalam rahimku, nikmat ternyata rasanya. Ku lihat wajah pria ini ngos-ngosan tapi amat puas. Parahnya, aku harus melayani lebih dari satu penis sesaat aku kehilangan keperawananku, betul-betul gila. 

“Neng.. pantatnya masih perawan juga kan? Saya perawanin juga boleh kan?” kata salah satu pria.

“Haaaah?” tanpa menunggu jawabanku orang itu menarikku dan menerobos lubang anusku. Ternyata anal seks amat-amat sakit, namun akhirnya aku nikmati saja. Gila , aku yang baru saja kehilangan keperawananku harus rela juga kehilangan keperawanan pantatku T.T 

Persetubuhan itu berlangsung cukup lama hingga mereka semua puas dan menyemprotkan sperma mereka baik di vagina, anus, mulut maupun di tubuh kita berdua. Aku berdoa saja mudah-mudahan aku tidak hamil karenanya. Akhirnya aktifitas ini berakhir, kami sekali lagi membilas tubuh kami dan bersiap kembali ke rumah karena sudah benar-benar capek.



Beberapa minggu setelah itu…
“Huekkk… hueekkk” pagi-pagi aku sudah mual-mual, ada apa gerangan? Aku teringat aktifitasku beberapa hari yang lalu.. 
sial, jangan-jangan……


Ku periksa alat cek kehamilan yang baru saja ku beli di apotek.
What?? Aku positif hamil.. kepalaku terasa berat, aku tidak tahu siapa bapak anak ini karena sangat ramai waktu itu. Vani ternyata tidak hamil, mungkin dia tidak dalam masa subur atau mungkin tuh anak mandul, hehe. Aku yang belum siap hamil tentu saja menyembunyikan kehamilanku dari orang tuaku. Aku tidak berani melakukan aborsi karena takut. Akhirnya aku memberanikan menceritakan semuanya pada orangtuaku bahwa aku hamil, hingga membuat mereka marah besar. Untung saja aku bertemu dengan seseorang yang mau menerimaku apa adanya, yang tidak lain adalah Andi pacarku sendiri. Dia memang sudah mempunyai pekerjaan walaupun hanya honorer. Kamipun akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar