Rista: Eksibisionis X Bondage



Rista masih sibuk mengubrak-abrik lemari pakaiannya. Dia bingung celana dalam mana yang harus dia pakai untuk hari ini. "Hmm, mana yang harus kupakai ya? Yang warna putih, pink, atau yang belang-belang?" Dia teringat akan cowok manis yang mengintipi celana dalamnya seharian kemarin. Entah mengapa dia merasa amat bergairah ketika mengetahui ada cowok yang mengintipi celana dalamnya. "Hmm kurasa yang warna putih saja, pasti Tomi akan senang, hihi." Dan begitulah Rista mengenakan celana dalam putihnya dan rok pramukanya yang berwarna cokelat yang tingginya agak sedikit di atas lututnya. Walaupun suka memamerkan celana dalamnya, Rista tetap tidak suka menggunakan rok yang terlalu pendek.

Siang itu ketika kelas berlangsung, Rista berniat untuk melancarkan aksinya. Dia memperhatikan terus gerak-gerik Tomi yang berada empat meja di depannya sampai dia menyadari bahwa Tomi mulai melirik-lirik ke belakang, tepatnya ke arah bawah meja Rista.   Rista tersenyum dalam hati sambil berkata, "Yes, dia akan mulai melakukannya, hmm tapi aku tidak mau menunjukkannya langsung, pasti asik kalau aku buat dia agak penasaran." Rista pun mulai melebarkan kedua kakinya perlahan-lahan, namun sambil meletakkan kedua tangannya di antara kedua kakinya, sehingga roknya pun menjadi ikut terdorong ke bawah dan menutup celana dalamnya. Namun, pahanya tetap terlihat dengan jelas dan pemandangan ini jelas akan mulai merangsang Tomi, pikir Rista.

Benar saja, Tomi langsung merubah posisi duduknya jadi menghadap belakang, tapi dia pura-pura berbicara pada teman di belakangnya, Rista tahu itu. "Hmm, sepertinya dia sudah siap dengan yang lebih dari ini." Rista pun perlahan-lahan mengangkat tangannya ke atas meja sambil pura-pura menulis. Perlahan-lahan, roknya yang tadi terdorong ke bawah oleh tangannya mulai terangkat naik lagi dan memperlihatkan warna putih yang tersembunyi dalam gelap. Mengetahui itu terjadi, Tomi mulai tidak konsen berbicara dengan temannya, matanya menjadi sangat fokus pada pemandangan yang ada di bawah meja Rista.



Rista pun menundukkan kepalanya, berpura-pura membaca untuk membiarkan Tomi menikmati pemandangan itu. Tanpa disadari, wajahnya memerah dan gairah di tubuhnya mulai bangkit. "Ooh Tomi, aku bisa memberimu lebih dari ini." Rista mulai nekad, dia melebarkan kakinya sejauh mungkin sampai dia bisa membayangkan sebuah segitiga berwarna putih terpampang jelas di selangkangannya. Kemudian dia merapatkan kembali kakinya dan dengan gerakan cepat kembali melebarkan kedua kakinya lalu merapatkannya lagi, melebarkannua lagi, terus berulang-ulang, sehingga celana dalamnya pun menjadi seperti film jadul. Tomi membelalakkan matanya, namun ternyata kejutan belum cukup sampai situ. Rista mengakhiri gerakan tutup-bukanya dengan cara melebarkan kakinya sejauh mungkin lalu dengan tangan kanannya menarik rok bagian atasnya, sehingga bagian bawah dari perutnya sedikit terlihat beserta celana dalam berwarna putihnya yang kini sedikit basah. Rista kemudian memasukkan tangan kirinya ke dalam rok sambil menggaruk-garuk celana dalamnya. Rista tahu bahwa Tomi jadi tidak bisa melihat celana dalamnya, tapi dia tahu bahwa Tomi pasti amat senang dan memang benar.

Rista sangat puas dengan pertunjukkannya itu karena dia mencapai orgasmenya. "Ooh, sungguh melegakan," katanya dalam hati. Tomi pun juga pasti merasa demikian, pikir Rista. Dia pun menarik tangan kirinya dari dalam roknya, memperlihatkan sedikit celana dalamnya pada Tomi untuk terakhir kalinya di hari itu, lalu kembali merapatkan kedua kakinya. Pertunjukkan sudah berakhir, itu yang dipikirkan Rista. Namun, sedikit yang ia ketahui bahwa pertunjukkan hari itu belum berakhir dan bahwa ia akan melakukan pertunjukkannya dengan cara yang takkan pernah ia bayangkan. Demikianlah bel tanda sekolah sudah berakhir pun berbunyi menandakan saatnya untuk pulang.



Sebelum pulang sekolah, Rista memutuskan untuk pergi ke toilet dulu. Celana dalamnya yang sudah basah agak sedikit mengganggu, sehingga ia memutuskan untuk menggantinya. Celana dalam cadangannya berwarna putih, sama persis seperti yang ia kenakan ketika berangkat. Setelah selesai mengganti celana dalamnya, Rista memasukkan celana dalamnya yang sudah basah ke dalam plastik lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

Selesai merapihkan pakaiannya, Rista pun membuka pintu toilet dan terkejut ketika menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang berdiri di depannya. Rista tahu siapa dia, tentu saja, karena dia langsung berkata, "Tomi apa yang kamu laemmmmmpppphhhhh!!!" Tangan kiri Tomi yang kuat itu langsung mencengkeram dan membungkam mulut Rista, sehingga pipinya yang gembung menjadi tertekan kencang, membuatnya tidak dapat berkata apapun. Dengan gerak cepat, Tomi langsung bergerak ke belakang Rista sambil mencengeram kedua pergelangan tangan Rista dengan tangan kanannya yang masih bebas. Rista langsung merasa tidak berdaya dan ketakutan karena berada di dalam cengkeraman Tomi. "Apa yang kamu lakukan, Tomi? Toloooong!!" Adalah apa yang ingin dikatakan Rista, namun hanya, "Mmmppphhh! Mmmmmpppphhhh! Hemmmpppphhh!!!!" Yang terdengar olehnya.

Perlahan Tomi melepaskan tangan kirinya yang membungkam Rista dan ternyata sebuah lakban perak telah merekat dengan sempurna di bibir Rista, membuatnya tetap tidak dapat berbicara selain, "Mmmmpppphhh!!!" Lalu dengan tangan kirinya yang bebas tersebut, Tomi mendorong Rista sampai tubuhnya menghimpit tembok, membuat dadanya yang agak besar jadi tergencet. Rista sangat marah dengan perlakuan tersebut, sehingga dia terus berteriak, "Emmmmpppphhhhh!!!" Namun tetap tak ada gunanya. Lakban Perak tersebut sudah membuat kedua bibirnya tidak dapat terbuka sedikit pun.



Rista yang tubuhnya terhimpit tembok kemudian berusaha untuk melihat ke belakang untuk melihat apa yang akan dilakukan Tomi kepadanya. Rista amat terkejut ketika melihat Tomi mengeluarkan seutas tali pramuka dari dalam sakunya. "Dia ingin mengikatku? Dia ingin menculikku? Tidaaak! Tolooonggg!!!" dan tentu saja hanya "Mmmmmpppphhhh mmmmpppppphhhhh!!!!" yang terdengar.

Benar saja prediksi Rista, Tomi dengan amat telaten mengikat kedua tangan Rista menjadi satu dengan sangat keras sampai-sampai Rista berteriak ketika Tomi menarik talinya untuk membuat simpul. Selesai mengikat tangan Rista, Tomi mengeluarkan lagi tali yang lain dari sakunya dan menggunakannya untuk mengikat pergelangan tangan Rista agar menjadi satu dengan tubuhnya. Tali pun diikatkan melewati bagian atas dan bawah dada Rista membuatnya amat risih dan marah, tentu saja, tapi hanya "Mmmpppphhhh!!!" Yang dapat ia katakan untuk mengekspresikan kemarahannya.

Selesai dengan mengikat tangan Rista, Tomi pun membaringkan tubuh Rista ke lantai secara perlahan-lahan. Rista yang sudah tidak dapat menggerakkan tangannya menjadi tidak berdaya untuk melawan Tomi, sehingga ia pun harus rela untuk terbaring di atas lantai kamar mandi sekolah yang kotor. Rista sudah tidak tahu lagi apa yang dapat dia lakukan selain pasrah. Tanpa disadari, air mata mulai menetes di pipinya, Rista hanya dapat menangis terisak-isak dengan perlakuan yang diberikan kepadanya ini. Dia menyadari bahwa Tomi sedang berusaha untuk menyatukan kedua kakinya yang masih bebas dan mengikatnya dengan tali yang lain. Rista sudah tidak peduli lagi, dia benar-benar sudah merasa tidak berdaya. Rista tidak menyangka bahwa cowok yang dipujanya tega berbuat demikian padanya dan dia pun menangis semakin kencang.



"Jangan menangis."

Suara tersebut bagaikan petir di siang bolong. Rista tidak salah dengan pendengarannya, dia tahu bahwa suara itu datang dari Tomi. Rista pun seakan tak percaya, "Apa maksudmu jangan menangis? Kau pikir aku bisa terima diperlakukan begini!!!??" Rista meluapkan kemarahannya, namun hanya, "Mmmmpppphhhh mmmmppppphhhh!!!" yang terdengar. Rista pun meronta-ronta semakin kencang, tanpa peduli bahwa semakin ia meronta, semakin eratlah tali yang mengikatnya, dan semakin perih pula kulitnya yang berkontak langsung dengan tali tersebut. Namun Rista tiba-tiba menghentikan rontaannya ketika merasakan sebuah kehangatan di keningnya. Tomi mendadak memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya lalu mengecup keningnya. Rista tertegun. Baru kemarin dia naksir dengan laki-laki pervert yang mengintipi celana dalamnya dan kini laki-laki itu sudah mengecupnya. Rista seakan lupa akan fakta bahwa saat ini tubuhnya sedang terikat tak berdaya, dia hanya dapat memikirkan kecupan tersebut.

Namun lamunan Rista harus berakhir ketika dia menyadari bahwa tubuhnya terangkat ke atas. Sesaat dia amat takut bahwa dia akan jatuh, namun dia menjadi merasa aman kembali ketika mendarat di punggungnya Tomi. "Dia menggendongku? Aku mau dibawa kemana?" Pikir Rista dalam hati. "Mmppphhh, mmmpppphhh" Rista melenguh dengan suara yang amat pelan, mencoba menarik perhatian Tomi. Namun, "Mmmmmmpppppphhhhhh!!!!" Rista amat terkejut ketika merasakan roknya tersingkap dan sebuah tangan masuk ke dalam roknya sambil mengusap-usap bokongnya. "Tomi, jangan lakukan ituuuu!!!" Namun hanya, "Mmmmmppppphhhhh!" Yang terdengar. Pipi Rista pun memerah malu ketika merasakan bokongnya diusap-usap oleh Tomi. Dia bisa membayangkan bahwa Tomi pasti bisa melihat celana dalam putihnya yang menutupi bokongnya dengan jelas karena roknya kini sudah tersingkap.



Tiba-tiba Rista menyadari bahwa pemandangan di depannya bergerak dengan sendirinya. Dia sadar bahwa Tomi kini sedang bergerak sambil menggendongnya. Namun digendong dalam posisi OTS seperti ini, membuat Rista hanya dapat melihat ke lantai, dia amat takut terjatuh. Dia hanya bisa percaya bahwa Tomi akan menggendongnya dengan baik. "Aneh, sedetik lalu aku begitu marah padanya, tapi sekarang aku jadi sangat bergantung padanya."

Tomi menggendong Rista keluar dari toilet, Rista begitu takut ada orang lain yang melihatnya, sehingga dia terus menerus meronta-ronta. Mengetahui hal itu, Tomi menjadi agak kesal dan berkata, "Diam, nanti kamu jatuh!" Rista pun agak kaget dan menjadi diam ketika mendengar kata-kata Tomi. Dia pun memutuskan untuk diam saja dan pasrah kemanapun Tomi akan membawanya.

Rista melihat sekeliling dan menyadari bahwa matahari sudah mulai terbenam, semua orang pasti sudah pulang, jadi dia tidak perlu khawatir jika ada orang lain yang melihatnya diperlakukan begini. "Lagi-lagi aneh, aku tidak mau ada orang lain melihatku? Apa itu berarti aku tidak mau ada orang lain yang menyelamatkanku?" Rista semakin kebingungan dengan perasaan yang dirasakan di dalam hatinya. Di satu sisi dia tidak nyaman karena diikat, tapi di sisi lain dia begitu senang karena bisa berada di dekat  lelaki yang dipujanya. Dia benar-benar bingung, sangat bingung.



Tanpa disadari, mereka berdua sudah mencapai ruang kelas tempat mereka belajar tadi siang, tepatnya tempat Rista melangsungkan 'pertunjukan' - nya untuk Tomi tadi siang. Tomi membawa Rista mendekati meja tempat Rista duduk tadi siang dan menurunkannya dari gendongannya. Tomi kemudian memaksa Rista untuk duduk di kursi tempat ia melangsungkan 'pertunjukan'-nya tadi siang. "Hmmmppp," Rista melenguh pelan karena merasa lega karena kini ia tidak perlu takut untuk terjatuh lagi, tapi ia tetap tidak mengerti apa yang akan dilakukan Tomi padanya selanjutnya.

Rista menjadi agak terkejut ketika melihat Tomi mengeluarkan seutas tali lagi dari sakunya. Dalam hati dia berpikir, "Darimana Tomi bisa punya tali sebanyak itu?" Dan Rista pun baru tersadar ketika melihat seragam Pramuka yang dikenakannya. "Tentu saja, hari ini adalah hari Pramuka, setiap laki-laki diminta untuk membawa lima utas tali untuk melakukan kegiatan kepramukaan." Ingin sekali Rista berkata bahwa mengikat seorang anak perempuan ke kursi bukanlah kegiatan kepramukaan, namun hanya "Mmmpppphhhh mmmpppphhhhh. . ." Yang dapat ia katakan.

Dengan tali yang baru diambilnya, Tomi mengikat tubuh Rista ke kursi tempatnya duduk, membuat Rista tidak bisa bangun dari kursinya. Rista hanya bisa melenguh pelan sambil pasrah mendapati perlakuan tersebut. Namun apa yang terjadi setelah ini sama sekali di luar dugaannya. Tomi membuka ikatan yang menyatukan kedua kakinya. Awalnya Rista merasa biasa-biasa saja, namun kemudian ia menyadari sesuatu dan mendadak berteriak, "Mmmmmmppppphhhhhh!!!!!!" Sambil meronta-ronta. Tomi melebarkan kedua kaki Rista dan mengikatnya pada masing-masing kaki kursi. Praktis, celana dalam Rista yang berwarna putih pun terpampang jelas karena ikatan Tomi yang memaksa Rista untuk duduk mengangkang.



"Mmmmmpppphhhhhh! Mmmmmpppphhhhhh!!!!!" Rista tidak dapat berhenti meronta-ronta. Tanpa disadari, pipinya memerah. Dia amat malu, sekaligus bergairah, karena celana dalamnya dilihat lagi oleh Tomi. Menyaksikan hal tersebut, Tomi hanya bisa tersenyum-senyum kegirangan. Rista pun semakin marah, matanya melotot, namun tak ada yang dapat ia lakukan. Ia kini telah dikuasai sepenuhnya oleh Tomi yang sedang sibuk menikmati pemandangan celana dalam Rista yang amat indah.

Tomi tidak berhenti sampai di situ. Ia memasukkan kepalanya ke dalam rok Rista yang terbuka lebar akibat ikatan yang ia lakukan pada kedua kakinya. Rista amat terkejut melihat itu dan ia pun menjerit, namun hanya, "MMMMMPPPPPPHHHHHHH!!!!!" Yang terdengar karena suaranya tertahan oleh lakban perak yang merekat erat pada bibirnya. Kepala Tomi kini sudah berada di dalam rok Rista dan wajahnya tepat menghadap celana dalam putihnya yang amat indah. Tomi mulai menikmati posisinya dengan mengendus-endus celana dalam Rista dan merasakan wanginya bau kewanitaan yang nikmat. Rista terus menerus menjerit, tapi Tomi tidak mempedulikan hal tersebut. Tomi malah menggunakan kedua tangannya untuk meraba-raba paha Rista yang amat mulus. Kemudian, Tomi merapatkan kedua kaki Rista agar menjepit kepalanya, sehingga Tomi bisa benar-benar menikmati pemandangan indah tersebut untuk dirinya sendiri. Rista amat terkejut dengan hal itu, tapi dia begitu menikmatinya. Tidak menyangka bahwa dia bisa memperlihatkan celana dalamnya dengan jarak sedekat itu, Rista pun mencapai puncak orgasmenya.

Malam belum berlalu dan kedua manusia itu masih terdiam pada pikirannya masing-masing. Kaki Rista kini sudah diikat dengan rapat lagi karena Tomi sedang ingin agar Rista dapat tenang. Tomi memecah kebisuan di antara mereka dengan berkata, "Kamu sudah tidur?" Rista menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih terjaga.
"Mmmppphh" lenguh Rista pelan. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Tomi langsung memotongnya.



"Aku suka kamu Rista, sejak pertama bertemu aku sudah suka." Rista terkejut dengan pengakuan itu dan tanpa disadari pipinya memerah. "Maaf kalau aku mengikatmu, tapi aku ini pecinta bondage. Bagiku bondage adalah ekspresi kasih sayangku. Aku mengikatmu bukan karena aku ingin menyakitimu, tapi karena aku ingin menunjukkan rasa sayangku padamu."

Rista begitu tertegun dengan pengakuan Tomi yang amat tulus itu, tapi Tomi masih belum berhenti. "Aku tahu kamu adalah seorang eksibisionis." Rista terkejut mendengarnya, tapi dia tahu bahwa itu adalah benar. "Aku tahu kamu sangat suka memperlihatkan celana dalammu pada orang lain. Aku bisa mengabulkan itu, Rista, aku bisa mengikatmu dalam posisi yang akan membantumu memperlihatkan celana dalammu dengan berbagai cara yang kamu tak akan terpikirkan."

Mendengar kata-kata itu, Rista menjadi semakin tidak tahan lagi, dia harus mengatakan sesuatu pada Tomi, "Mmmmppphhhh, mmmmpppphhhh."

"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Tomi

Rista mengangguk-anggukan kepalanya. Tomi pun melepas lakban perak yang menempel di bibir Rista perlahan-lahan dan creeet, bibir Rista yang tebal dan seksi itu kembali terlihat. Rista agak merasakan hal yang aneh pada bibirnya setelah dilakban cukup lama, namun dia tidak mempedulikannya karena dia buru-buru berkata, "Aku juga sayang kamu, aku ingin memperlihatkan celana dalamku padamu."

Mendengar itu, Tomi pun tersenyum, lalu berkata, "Maukah kamu menjadi pacarku?"

Tak perlu banyak berpikir untuk Rista mengangguk-angguk sembari berkata, "Iya, aku mau."

Demikianlah kisah cinta di antara kedua manusia itu bermulai. Ciuman mesra diberikan oleh Tomi kepada Rista untuk menyumpal mulutnya lagi. Sesudah itu, Tomi melepaskan ikatan yang mengikat Rista pada kursinya, tapi dia tidak melepaskan ikatan lainnya. Tomi pun menggendong Rista lagi, namun kali ini dengan gaya pengantin baru. Tomi kemudian memasukkan Rista ke kursi penumpang mobilnya lalu memasangkan sabuk pengaman untuk memastikan Rista tetap aman. Sepanjang perjalanan, kedua manusia yang baru mengikat perasaan tersebut hanya diam. Bukan karena masih malu, tapi karena Tomi kembali menyumpal mulut Rista dengan lakban, tapi Rista tidak mempermasalahkannya. Sesampai di rumah Rista, Tomi pun melepaskan semua tali yang mengikata tubuh Rista dan lakban di mulutnya. Tomi memberikan ciumannya lagi dan mereka pun berpamitan. Petualangan bondage mereka akan dimulai sebentar lagi.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar