Fara 2: Naked Day



Di tulisan Fara sebelumnya, aku bercerita bagaimana pengalamanku pada saat pertama kali merasakan memiaw dan payudaraku terbuka di luar ruangan, dan bahkan merasakan nikmatnya masturbasi di luar ruangan.

Sejak kejadian tersebut, aku jadi sering berkhayal bagaimana jika aku bugil dan masturbasi di sebuah tempat yang terbuka dan ditonton oleh banyak orang. Khayalan tersebut selalu hadir ketika aku sedang masturbasi, dan membuat masturbasiku menjadi lebih nikmat.

****

Malam itu adalah malam minggu. Cuaca waktu itu sedikit gerimis, sehingga membuat aku malas keluar rumah untuk main bareng teman-temanku. Apalagi kala itu orang tuaku sedang bersiap-siap untuk pergi ke luar kota.

"Jaga rumah baik-baik ya.. Kalau ada apa-apa telepon mamah..." kata mamaku.
"Iya mah..."

Kedua orang tuaku baru pulang hari Senin. Sedangkan di rumah aku akan ditemani mbok dan pakdhe yang menginap di rumahku.

Setelah kedua orang tuaku berangkat, aku langsung ke pergi kamarku. Karena aku merasa ngantuk sekali malam itu. Mungkin gara-gara siangnya aku ada kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Sedangkan mbok dan pakdhe sedang menonton tv.

Meskipun ngantuk sekali, tapi aku merasa susah tidur kala itu. Dan entah kenapa, tiba-tiba tangan kananku sudah menyelinap masuk ke celana pendekku. Mungkin karena instinct atau kebiasaan, tanganku seolah-olah sudah tahu apa yang harus dilakukan. Saat itu aku memang sedang tidak memakai bra maupun cd.

Aku memang sedikit memainkan memiaw dengan hanya membelai rambut kemaluanku sambil tetap mencoba untuk tidur. Namun lama-kelamaan aku menikmatinya, dan terasa memiawku sedikit basah oleh cairanku sendiri. Dan jika sudah begini, maka mau tidak mau harus dituntaskan.

Aku mulai dengan melepaskan celana pendekku yang terasa membatasi pergerakkan tanganku. Setelah celana terlepas, kulebarkan kedua pahaku selebar-lebarnya. Kini tanganku leluasa untuk memainkan memiawku. Mataku terpejam, dan aku pun mulai berfantasi.

Fantasiku saat itu adalah, aku sedang jalan-jalan dengan 2 temanku di sebuah tempat anak-anak biasa nongkrong di kotaku. Yang membedakan adalah aku dan kedua temanku tidak memakai apa-apa alias telanjang bulat dan dengan santainya berjalan sambil bercanda di tengah keramaian kota. Tentu saja mata semua orang tertuju pada kami. Ada yang tertawa melihat kami dan bahkan ada yang terlihat mupeng. Ada beberapa orang yang mulai memfoto kami, tapi kami tetap cuek dan tidak menghiraukannya.




Di tengah perjalanan, kami berhenti. Aku memposisikan agak jongkok dan melebarkan kedua kakiku. Seketika aku mengeluarkan air kencing tapi aku tetap tak menghiraukannya dan tetap ngobrol dengan kedua temanku. Beberapa orang yang memfoto kami mulai memfokuskan pada memiawku yang sedang mengucurkan air kencing. Setelah air kencingku habis, kami melanjutkan jalan-jalan kami.

Kami berhenti di sebuah pusat keramaian. Kami tiduran sambil mengangkang di aspal dengan posisi memutar saling menghadapkan memiaw. Ceritanya kami sedang adu masturbasi dan adu cepat untuk orgasme. Semua orang semakin mendekat untuk menonton kami. Mereka mulai menyoraki nama-nama kami ditengah kocokan tanganku dan suara lenguhanku. Tidak hanya menyoraki, para penonton cowok mulai mengeluarkan penis mereka dan mengocoknya ke arah kami. Tak segan-segan mereka menyemprotkan sperma meraka ke arah kami, sehingga kami basah kuyup oleh lendir sperma. Tak lama kemudian kami orgasme dengan menyemprotkan banyak cairan (squirt) dari memiaw kami.

Seiring orgasme di fantasiku tersebut, aku juga mengalami orgasme pada saat itu juga. Aku yang kecapean, langsung tertidur setelah orgasme tersebut. Bahkan aku belum sempat untuk mengelap memiaw dan tanganku yang basah oleh lendir kewanitaanku.

****

"dek... dek... bangun dek...."

Setengah sadar, aku mencoba membuka kelopak mataku. Samar-samar kulihat wajah mbok yang terus-terusan memanggil namaku sambil menggoyangkan bahuku.

"iya... mbok...." jawabku asal.
"dek, mbok mau pulang dulu... ponakan mbok mau ke rumah mbok... dek fara gak apa-apa kan di rumah sendiri? nanti sore mbok kesini lagi..." kata mbok menjelaskan maksud membangunkanku.
"ooh... gak apa-apa kok mbok" jawabku yang juga masih asal jawab karena memang belum sepenuhnya sadar.
"mbok udah bikin nasi goreng buat sarapan. nanti kalau mau makan, diangetin sendiri ya... bisa kan?" kata mbok sebelum beranjak dari kamarku.
"iiiyyaaaa mbok..." jawabku.
Sekilas kulirik hapeku untuk melihat jam. Ternyata masih jam 8, dan kulanjutkan lagi tidurku...

Perlu diketahui, mbok dan pakdhe tinggal di rumah yang agak jauh dari rumahku, tapi tetap satu kampung. Biasanya mbok pagi-pagi ke rumahku, dan sorenya pulang lagi. Beliau baru menginap di rumahku kalau diminta buat menemani aku jika kedua orangtuaku pergi.




Kembali ke ceritaku.

Jam 9, aku benar-benar bangun dari tidurku. Kuregangkan tubuhku untuk melemaskan otot-otot yang kaku saat tidur. Dan saat itu aku baru sadar, kalau aku tidak memakai apa-apa di bawah sana. Untung saja semalam aku tidur dengan selimut, sehingga mbok tidak tahu kalau aku sebenarnya bottomless.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Kurapikan selimut sembari mencari celana pendekku. Setelah celanaku ketemu dan akan kupakai, tiba-tiba muncul ide gilku. Kurungkan niatku untuk memakai celana, namun celana tersebut masih aku bawa.

Tanpa celana, kuberanikan diri untuk keluar kamarku. Perlahan kubuka pintu kamarku, kulongokkan kepalaku melalui celah pintu sambil berteriak memanggil mbok dan pakdhe untuk memastikan mereka sudah tidak ada di rumah. Karena tidak ada jawaban, kuberanikan keluar kamar. Perlahan, kulangkahkan kaki keluar. Tangan kananku yg masih menggenggam celanaku, kugunakan unuk menutupi memiawku.

Sambil tetap memanggil-manggil, aku turun ke lantai 1. Dengan perasaan was-was dan tangan yang masih menutupi kemaluan, aku menuju dapur untuk mengecek keberadaan mbok. Kupastikan kalau mbok tidak ada disitu. Lalu aku menuju pintu belakang dan menguncinya, agar tidak ada orang yang tiba-tiba masuk ke rumah.

Aku kembali mengendap-endap menuju ruang keluarga dan ruang tamu. Namun kali ini kuberanikan untuk melepas tanganku yang dari tadi menutupi daerah selangkanganku. Aku selalu waspada pada keadaan rumah. Karena siapa tahu masih ada mbok di dalam rumah dan sedari tadi tidak menjawab panggilanku karena dia memang memiliki pendengaran yang kurang.

Setelah ku cek seluruh ruangan, sudah ku pastikan kalau tidak ada orang kecuali aku di rumah ini. Maka aku menuju pintu depan. Melalui jendela, ku lihat gerbang sudah ditutup oleh mbok, maka aku tidak perlu menutupnya lagi. Setelah itu ku kunci pintu depan, agar memastikan tidak ada orang yang masuk ke rumah.

Ku lempar celana yang kubawa. Ku lepas kaosku, satu-satunya penutup tubuh yang masih melekat di tubuhku, dan melamparnya juga seperti celanaku. Kini aku telah telanjang bulat.

Aku merasa sangat senang sekali waktu itu. Bahkan saat aku dari ruang tamu menuju ruang keluarga, aku menari-nari dan terkadang melompat-lompat kegirangan layaknya seperti orang gila. Namun hal itu adalah sebuah ungkapan rasa bahagia bisa merasakan bertelanjang di tempat yang bukan seharusnya.




Di ruang keluarga, kunyalakan TV dan mengaturnya dengan suara yang cukup keras. Lantas aku duduk di sofa sepan TV. Dengan santainya, aku menikmati ketelanjangan tubuhku ini dengan menonton TV. Namun tidak cukup sampai disitu. Ada satu hal yang tidak bisa ku tahan lagi waktu itu, yaitu masturbasi.

Ketika jari-jariku menyentuh memiaw, kurasakan kalau daerah tersebut sudah becek oleh cairan cintaku. Mungkin sudah basah sejak aku mengendap-ngendap mengecek rumah tadi. Tak perlu ku ceritakan secara detail masturbasiku saat itu. Paling yang membedakan dari aktivitas masturbasi biasanya adalah waktu itu aku sengaja merintih agak keras. Aku meracau nggak jelas, "oh, yess, ahh, ahh" yang sebenarnya aku buat-buat. Tentu suara rintihan yang cukup keras ini tidak akan terdengar dari luar rumah, karena cukup tertutupi oleh suara TV.

Tak butuh waktu lama untukku mencapai orgasme. Karena memang memiawku sudah basah sebelum aku memulai masturbasi.

****

Meskipun baru saja orgasme, aku seperti tidak merasakan lemas ataupun capek sama sekali. Mungkin karena begitu excitednya aku pada hari itu. Karena bagaimanapun, itu adalah hari pertama dimana aku merasakan ketelanjangan di luar kamarku. Aku ingin melakukan semua kegiatanku hari itu dengan bertelanjang.

Setelah membersihkan sisa lendir di memiawku dengan tissue yang ada di meja di ruang keluarga, aku bangkit dan menuju ruang tamu untuk memungut kaos dan celanaku, lalu aku masukkan ke mesin cuci. Aku juga naik ke kamarku lagi untuk mengambil beberapa pakaian kotor untuk mencucinya.

Sementara menunggu mesin cuci bekerja, aku ambil sapu untuk menyapu ruangan. Meski mungkin sebenarnya sudah disapu oleh mbok, tapi aku hanya ingin mengekspresikan ketelanjanganku dengan kegiatan sehari-hari di rumah, termasuk menyapu.

Aku menyapu dengan sedikit berjoget ria dan menyanyi mengikuti lagu dari tv. Aku berlagak seperti penyanyi yang berada di panggung. Hanya bedanya penyanyinya kali ini telanjang bulat. Aku naik ke atas meja di depan tv. Aku bergaya seperti penyanyi yang sedang mengekspos tubuhnya sendiri. Aku membuat gerakan yang mengsiyaratkan penonton untuk memegang atau bahkan melakukan hal terserah mereka terhadap tubuhku terutama payudara dan daerah selangkanganku. Bahkan sesekali aku menjepit gagang sapu tepat di selangkanganku. Tentu saja aku membayangkan jika gagang sapu tersebut adalah sebuah penis, meskipun sebenarnya aku belum pernah melihat penis orang dewasa secara langsung apalagi memegangnya.




****

Setela mesin cuci selesai menjalankan tugasnya, aku ambil pakaian-pakain yg basah tersebut dan berniat untuk menjemurnya. Ini adalah salah satu ide untuk sedikit mengekspos ketelanjanganku.

Kami biasa menjemur pakaian di lantai 3. Dimana lantai 3 ini adalah lantai yang terbuka. Saat naik ke lantai ini, aku sedikit menunduk. Tentu saja untuk berjaga-jaga apakah aku kelihatan dari bawah karena ini adalah ruangan terbuka. Namun setelah dicoba berdiri, ternyata tubuhku tidak akan terlihat dari bawah jika aku tidak terlalu ke pinggir.

Lalu aku menjemur pakaian dengan santainya. Setelah selasai dan ingin turun kebawah, aku melihat sebuah alat untuk lompat tali (skipping). Dengan sedikit iseng, aku mencobanya disitu juga, di lantai 3.

Meskipun pada beberapa lompatan awal aku agak sedikit kesulitan, lama-lama aku terbiasa. Seiring lompatan demi lompatan, tubuhku bergoncang, terutama payudaraku. Payudaraku terayun-ayun seakan-akan ingin melepaskan diri dari tubuhku.

Setelah cukup berkeringat, aku melakukan sedikit gerakan senam atau peregangan. Namun gerakannya sedikit dibuat-buat, karena memang tujuannya ingin mengekspos daerah vitalku. Aku beberapa kali melakukan gerakan mengangkat satu kaki, mengangkang, dan membusungkan dada.

Setelah tubuhku basah kuyup oleh keringat, karena saat itu matahari memang sudah cukup terik, barulah aku turun ke lantai 1. Aku ambil botol air dingin di kulkas, dan menikmatinya sambil nonton tv. Kuhempaskan tubuhku ke sofa, dan kuletakkan botol yang dingin tadi di selangkanganku. Rasa dingin di memiawku merupakan sebuah sensai tersendiri.

****

Terbuai aku dengan sensasi dingin di memiawku, membuat aku merasa ingin pipis. Karena memang dari bangun tidur aku belum pipis. Dan ini menimbulkan sebuah ide gila baru. Aku tidak akan pipis di kamar mandi, melainkan di halaman depan rumah!

Perlu kalian ketahui, halaman rumahku tertutupi oleh pagar berbentuk tembok rapat yang kira-kira tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhku. Sedangkan pintu atau gerbangnya terbuat dari besi yang rapat juga, tingginya sekitar sehidungku. Jadi, aku tetap aman tidak terlihat dari luar jika aku agak menunduk dan orang dari luar pagar tidak sengaja untuk melongok ke dalam halamanku.

Aku membuka sedikit pintu rumahku, dan memastikan jalanan depan rumahku agak sepi. Lalu aku sedikit berlari kecil menuju pintu pagar untuk menggemboknya. Agar memastikan tidak ada yang masuk ke halaman rumahku dan memergoki ada cewek telanjang sedang pipis di depan rumahnya sendiri.




Saat menggembok pintu pagar, kudongakkan sedikit kepalaku untuk melihat ke luar pagar. Ku melihat tetanggaku yang memiliki kios dan tambal ban di depan rumahku. Tiba-tiba mata kami berpapasanm sehingga mau tidak mau aku menyapanya. Bahkan tidak sekedar menyapa, tetanggaku malah sedikit basa-basi dengan menanyakan keberadaan orangtuaku saat itu. Benar-benar obrolan yang menegangkan, karena aku ngobrol dengan orang tapi aku tidak memakai baju sehelaipun, hanya tertutup oleh pagar.

Setelah pamit untuk masuk rumaha sama tetanggaku, aku sedikit merundukkan badan. Bahkan aku merangkak di rumput di taman kecil halamanku. Aku berjalan merangkak bagaikan anjing yang sedang mencari tempat untuk pipis. Benar-benar seperti orang gila.

Setelah menemukan tempatnya, dengan tetap merangkak, aku mencoba mengangkat satu kaki dan mencoba pipis dengan gaya anjing di sebuah pot kecil di taman. Namun sampai aku pegal mengangkat kaki, air pipis tak kunjung keluar dari memiawku, mungkin karena tak terbiasa pipis di tempat terbuka. Karena kakiku sudah pegal, maka aku tidak jadi pipis disitu, karena aku juga khawatir jika tumbuhan tersebut jadi layu dan bau pesing oleh pipisku.

Maka aku mengganti target pipisku ke kolam ikan yang ada di taman. Kolam yang kecil memang, tapi setidaknya bau pesing pipisku tidak akan tercium jika bercampur dengan air kolam. Lansung saja aku memposisikan jongkok di pinggir kolam.

Namun sama saja, pipisku susah keluar di kolam tersebut. Namun setelah dicoba, akhirnya sedikit demi sedikit air pipis mulai mengucur dari lubang kemaluanku. Sementara sedikit demi sedikit cairan tersebut mengalir lewat pahaku, kurubah posisiku. Dari yang tadi jongkok, kini aku duduk di pinggir kolam. Kumasukkan kedua kakiku ke dalam air, ku kangkangkan kakiku, tubuhku sedikit ke belakang dan bertumpu pada tangan kananku, sedangkan tangan kiriku mencoba membuka lubang kemaluan dan sedikit bermain-main dengan air pipis dengan mengarahkannya ke berbagai sudut kolam.

Setelah tetes terakhir pipisku, kehempasku tubuhku ke rerumputan taman di sebelah kolam, sedangkan posisi kaki masih tetap. Tiduran sambil telanjang di rumput seperti ini membuat aku rileks. Aku ingin setiap saat selalu begini.

Tiba-tiba aku melihat ada selang air tepat di sebelahku. Selang tersebut memiliki ujung seperti pistol dan biasa digunakan untuk menyiram tanaman maupun mencuci mobil atau motor. Karena penasaran, aku bangkit dari posisiku dan kembali duduk di pinggir kolam. Kembali ku kangkangkan kakiku, lalu aku iseng mengarahkan selang air tadi ke memiawku dengan tujuan untuk cebok setelah pipis tadi. Ketika ku buka ujung selang tadi, ternyata air keluar begitu kencang dan tepat mengenai memiawku. Aku yang kaget dengan sensasi yang aku dapatkan di memiawku, reflek berteriak "ah..!". Namun cepat-cepat kututup mulutku agar tidak terdengar oleh tetangga sekitar.




Kembali ku nyalakan selang dan mengarahkannya ke memiawku. Mataku terpejam dan aku menggigit bibir bawahku ketika air yang keluar dari selang seakan-akan menusuk-nusuk lubang memiawku. Sedangkan tangan kiriku meremas-remas payudaraku. Semprotan air terjadang juga aku arahkan ke payudara dan tubuhku, sehingga tubuhku basah kuyup. Air yang mennyiram di tubuhku terutama dari area selangkanganku langsung mengalir menuju kolam.

Aku berusaha sebisa mungkin menahan lenguhan-lenguhan dari mulutku dengan menggigit bibir bawahku. Namun kenikmatan yang kudapatkan terkadang tidak bisa membendung mulutku untuk mendesah pelan. Tangan kiriku mulai turun dan mulai membelai memiawku. Ketika kubuka sedikit memiawku dan mengarahkan air ke clitorisku, seketika aku menjerit kecil atas kenikmatan tersebut. Dan tak lama setelah itu aku mendapatkan orgasme disertai tubuhku yang sedikit kejang-kejang seiring luapan kenikmatan yang didapat memiawku.

Kakiku lemas dan tubuhku jatuh ke rumput serta nafasku tersengal-sengal setelah orgasme yang baru aku dapatkan. Kubiarkan tubuhku tergolek lemas di rerumputan sambil mengumpilkan tenaga lagi. Lalu muncul ide gila lagi, "bagaimana kalo aku mandi sekalian disini?" pikirku dalam hati. Lalu setelah beberapa saat mengatur nafasku, aku bangkit dan berjalan dengan gontai ke dalam rumah untuk mengambil peralatan mandiku.

Aku memustuskan untuk mandi di depan pintu garasi. Sehingga air sabun sisa mandiku akan mengalir langsung ke luar pagar melalui selokan. Jadi tetangga sekitar mengiranya aku sedang mencuci motor. Tapi aku harus berjongkok untuk berjaga-jaga jika tubuhku terlihat dari luar pagar.

Aku mandi seperti biasanya. Aku awali dengan menggosok gigi. Lalu mengguyur tubuhku dengan semprotan dari selang, dan kusabuni seluruh tubuhku. Lalu kubilas lagi dengan air dari selang. Sama seperti mandi pada umumnya, hanya bedanya mandi kali ini tidak di kamar mandi, melainkan di luar rumah.

Setelah mandi, kukeringkan tubuhku dengan handuk yang memang sudah kusediakan. Kubungkus rambutku dengan handuk tersebut dan berjalan masuk ke rumah sedangkan tubuhku masih tetap telanjang.

Hari sudah siang, dan aku belum sarapan. Padahal hari itu tenagaku cukup terkuras setelah beberapa orgasme di pagi itu. Maka setelah sedikit merias tubuhku di kamar dan menjemur handuk di lantai 3, aku menuju dapur untuk menghangatkan nasi goreng yang sudah dibikin mbok tadi pagi. Tentu dengan kondisi tubuh yang masih telanjang.

Kusantap makananku tersebut sambil menonton tv. Untuk lebih detailnya, posisiku waku itu adalah duduk di sofa dan menyender. Piring makanku berada di atas perutku. Sedangkan kedua kakiku aku naikkan ke atas meja dengan posisi mengangkang. Jadi jika saja orang di dalam tv dapat melihat keluar, maka dia akan langsung menghadap memiawku yang merekah.




Setelah makan, aku bingung mau ngapain lagi. Aku hanya mengganti-ganti channel tv dan tidak menemukan acara tv yang dapat menarik perhatianku. Maka aku putuskan untuk membaca novel saja.

Aku mengambil novel yang memang belum selesai kubaca. Kubaca novel tersebut di teras belakang rumah. Aku duduk di sebuah kursi lipat yang biasa digunakan berjemur di samping kolam renang, sambil mendengarkan musik lewat headset. Kuposisikan tubuhku menyender, kedua kaki diluruskan, tangan kiri memegang buku, dan tangan kanan kugunakan sebagai sandaran kepala.

Setelah hampir sejam membaca, entah kapan mulainya, tiba-tiba tangan kananku sudah berada di selangkangan sambil memainkan rambut kemaluanku. Karena sudah terlanjur, maka kulanjutkan saja dengan masturbasi.

Kuturunkan kedua kakiku ke samping kursi, sehingga kini aku dalam posisi mengangkang. Dengan begitu, aku lebih leluasa mengobok-obok memiawku.

Masturbasi kali itu, cukup lama aku untuk mendapatkan orgasme. Mungkin gara-gara aku seudah beberapa kali orgasme hari itu. Namun setelah rangsangan secara intensif di memiaw dan payudaraku, akhirnya kucapai kenikmatan orgasme yang cukup melelahkan tersebut.

Karena kelelahan, aku pun tertidur di kursi tersebut. Tentu dengan kondisi yang masih telanjang bulat, dan bahkan memiaw yang masih basah oleh lendir.

****

Malam harinya, ternyata mbok tidak jadi untuk tidur dirumahku. Maka aku harus kembali sendiri di rumah sampai besok. Tapi aku malah senang, karena lebih banyak waktu lagi untuk mengekspresikan kegilaanku. Aku memang berlum berpakaian sejak tadi.

Kuhabiskan malam itu dengan menoton tv dan chatting dengan temanku di facebook. Tentu dengan keadaan telanjang bulat. Hingga akhirnya aku merasa kebelet pipis.

Aku pun menuju depan rumah, karena aku tidak ingin pipis di toilet, melainkan di taman seperti tadi siang. Ketika aku sudah berjongkok dan memposisikan lubang memiawku ke sebuah pot tanaman, tiba-tiba aku mendengar suara tukang bakso lewat. Karena aku lapar, langsung saja aku menuju gerbang, mendongakan kepalaku ke atas pintu gerbang, dan kupanggil tukang bakso tadi.




Aku masuk ke rumah lagi untuk mengambil mangkok dan uang. Lalu kembali ke luar lagi untuk menyerahkannya ke tukang bakso. Saat menyerahkan mangkok lewat atas pintu gerbang, aku lupa dengan keadaanku yang telanjang bulat. Aku baru sadar ketika kedua putingku menyentuh dinginnya pintu pagar yang terbuat dari besi. Untung saja pintu ini tidak tembus pandang dari luar, jadi tukang baksonya tidak bisa melihat ketelanjanganku, kecuali jika dia sedikit mendongakkan kepalanya di atas pintu.

Sambil menunggu baksoku siap, aku kembali ke pipisku yang sempat tertunda. Tapi tiba-tiba aku punya ide lain. Aku tidak pipis di pot lagi melainkan di posisiku berdiri sekarang. Aku mencoba untuk pipis sambil berdiri disitu juga.

Aku sambil menonton tukang bakso sedang menyiapkan bakso ketika air kencingku mulai mengalir melalui selangkanganku dan turun ke paha sampai ke kaki. Karena agak kesulitan mengeluarkan air kencingku, aku kangkangkan kakiku dengan menaikkan kaki kananku dan berpijak pada pegangan pintu gerbang. Kini pipisku bebas mengalir bagaikan air mancur.

Ternyata baksoku sudah siap, namun pipisku belum selesai. Maka kuterima mangkok tersebut dengan posisi yang masih sama, serta dengan air kencing yang masih mengalir. Jika saja si tukang bakso melihatku saat itu, mungkin saja dia akan menawarkan diri untuk mencebokiku.. haha

Setelah aku bersihkan tubuhku dari air kencingku menggunakan air dari selang, maka ku santap bakso tadi sebagai makan malam.

****

Pada akhirnya, kuakhiri kegilaan hari itu dengan tidur. Tentu bukan tidur seperti biasanya. Karena aku sedang menggila, aku akan coba tidur di alam terbuka, dan tentunya dengan kondisi telanjang.

Kupilih untuk tidur di lantai 3 atau lantai atap. Aku bawa sebuah karpet kecil untuk alas tidur dan sebuah bantal. Awalnya aku ingin membawa selimut karena takut kedinginan. Tapi aku berpikir, jika aku tidur berselimut, sama saja aku tidur tidak bugil.

Akhirnya aku mencoba tidur diatas karpet yang kubawa tadi. Tubuh telanjangku langsung berhadapan dengan langit yang cerah dan berbintang. Udara dingin langsung menyentuh kulitku yang memang tak tertutup apa-apa ini. Hingga membuat putingku mengeras.

Udara dingin ini tentu saja membuat aku merasa sedikit horny. Dan tanpa berpikir panjang, kutuntaskan saja hasratku kala itu. Masturbasi terakhir hari itu, sekaligus penghantar tidur. Karena aku memang sering melakukan masturbasi sesaat sebelum tidur, apalagi jika aku sedang susah buat tidur.



Aku bermasturbasi sambil mencoba untuk tertidur. Dan akhirnya aku tertidur, padahal aku belum sampai orgasme. Mungkin karena aku sangat 'kelelahan' seharian, sehingga aku cepat tertidur.

Tiba-tiba aku terbangun dari tidur nyenyakku. Aku merasa ada yang basah didaerah selangkanganku. Dengan spontan, kusentuh memiawku. Dan kurasakan memiawku memang basah. Apakah ini cairan dari hasil aku orgasme?

Aku mencoba bangun untuk memastikan. Kulihat karpet tempat tidurku juga basah, dan cukup lebar juga basahnya. Tidak mungkin itu hasil orgasmeku, karena memiawku tidak mungkin mengeluarkan cairan sebanyak itu ketika orgasme.

Tiba-tiba aku mencium bau pesing. Ternyata cairan itu adalah air kencingku! Dengan kata lain, aku mengompol saat tidur. Mungkin karena kedinginan dan aku memang tidak pipis dulu sebelum tidur.

Bisa dibayangkan, kondisiku yang telanjang, dan posisi kaki yang mengangkang sejak masturbasi sebelum tidur tadi, maka pada saat aku mengompol bisa dipastikan air kencingku mengucur dengan bebasnya bagaikan air mancur. Air mancur yang keluar dari memiaw cewek cantik telanjang yang sedang tertidur pulas.

Aku tidak mungkin melanjutkan tidur di karpet yang basah tadi. Maka kuputuskan untuk tidur di dalam rumah. Setidaknya aku sudah punya pengalaman untuk tidur di luar ruangan dengan keadaan telanjang.

Setelah aku membersihkan selangkanganku di kamar mandi, kulihat jam, ternyata sudah jam 2 pagi. Cukup lama juga aku tidur. Lalu aku melanjutkan tidur di sofa di depan tv, bukan dikamar. Tentu dengan keadaan masih telanjang bulat.

Paginya, ketika aku terbangun, aku merasa sakit. Badanku demam, dan ada rasa sedikit ngilu di daerah memiawku dan payudaraku. Mungkin karena kemarin kedua bagian tubuhku sudah diobok-obok seharian. Sedangkan aku demam karena masuk angin, tentu karena kemarin aku tidak memakai baju seharian.

Namun aku tidak kapok. Bagiku kemarin adalah pengalaman yang tidak mungkin kulupakan, dan bahkan aku ingin melakukannya lagi.

Sejak saat itu, aku mulai terbiasa tidak memakai apa-apa jika didalam kamar. Dan jika tidak ada orang di rumah, maka aku akan bertelanjang di rumah.

Sejak kejadian itu, kegilaanku semakin liar. Aku punya obsesi untuk mencoba untuk bertelanjang dan bermasturbasi di tempat dimana saja yang aku kunjungi. Tentu secara diam-diam, dan tidak ketahuan oleh orang lain.

****

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

4 komentar: