Nidia 1: Awal Menjadi Nudist


Sebelum aku mulai cerita tentang kebiasaanku, ada baiknya kalian harus tau apa itu Nudist. Nudist adalah suatu kebiasaan dimana kecendrungan seseorang untuk tidak memakai pakaian apapun untuk menutupi tubuhnya dalam kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan.

Sejak SMA aku sudah memiliki kebiasaan untuk melepas bra pada saat tidur. Karena pada waktu itu, aku tahu bahwa lebih baik melepas bra pada saat tidur karena banyak manfaatnya. Tidurku pun jadi lebih nyaman dibanding dengan memakai bra. Mamaku juga sudah tahu tentang kebiasaanku itu, dan beliau malah mendukungnya. Mungkin karena kebiasaanku inilah yang membuat ukuran payudaraku menjadi lebih 'besar' untuk ukuran seusiaku.

Suatu malam ketika aku hendak tidur, aku melepas braku dan mengenakan sebuah kaos serta celana pendek lengkap dengan celana dalamnya. Sialnya, AC kamarku malam itu tidak mau nyala sehingga dengan terpaksa aku tidur di dalam kamar yang cukup panas.

Di tengah tidurku, aku terbangun karena panasnya kamarku. Sampai-sampai kaosku basah kuyup oleh keringatku sendiri. Aku yang setengah sadar, secara reflek melepas kaosku dan kembali tidur.

Keesokan paginya, aku dibangunkan oleh mamaku. Aku kaget, karena aku baru sadar kalau semalam aku tidur dengan bertelanjang dada. Langsung saja kusilangkan kedua tanganku untuk menutupi ketelanjangan dadaku. Tapi tentu mamaku tidak diam begitu saja, pastilah dia bertanya-tanya kenapa aku tidur bertelanjang dada.

"Kamu ngapain sayang? Kok tidur gak pake baju?" tanya mamaku dengan penasarannya.

Lalu kujelaskan kenapa aku membuka kaosku malam itu.

"Oh... gitu... yaudah nanti mama panggilin teknisi AC buat benerin yah. Tapi lain kali, kalau kamu mau buka baju, jangan lupa kunci pintu ya... siapa tahu nanti adekmu masuk kamarmu, trus liat kamu kayak gini, kan gak lucu..." ujar mamaku sambil tersenyum.

"iya mah..." Kujawab dengan anggukan dan senyuman.

"eh, coba mama liat tetek kamu..." ujarnya sembari menyingkirkan tanganku dari dadaku. Aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh mamaku.

"tetek kamu bagus, kayak punya mamah waktu seumuranmu" puji mamaku sambil melihat dadaku dengan kagum.

"ah mamah bisa aja" jawabku malu-malu.

"udah sana pake lagi bajumu, nanti masuk angin lho".

"iya mah...".


***

Keesokan malamnya, AC kamarku masih belum bisa digunakan karena teknisi yang dipanggil tidak datang hari itu. Dengan terpaksa aku kembali harus tidur dengan kondisi kamar yang panas.

Aku sempat berpikir, apakah aku akan mengulangi kegiatan semalam atau tidak. Hingga aku putuskan untuk tidur bertelanjang dada seperti semalam. Namun kali ini aku tidak lupa untuk mengunci pintu serta menutup korden jendela.

Aku menanggalkan kaos serta melepas bra putih yang kukenakan, sehingga hanya meninggalkan celana pendek berwarna abu-abu serta celana dalam putih yang senada dengan bra.

Ketika aku mulai berbaring untuk mulai tidur, terbesit ide iseng lainnya. "kenapa aku gak sekalian bugil aja ya?" pikirku waktu itu. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung melepas celana pendek sekaligus celana dalamku dengan sekali tarik dengan posisi masih berbaring. Terlihatlah memiaw mungil yang sudah ditumbuhi bulu meski tidak lebat.

Aku senyum-senyum sendiri  melihat pantulan tubuh telanjangku di cermin lemari. Aku pun mulai mencoba tidur. Aku sengaja tidak menggunakan selimut. Karena menurutku percuma telanjang kalau masih pakai selimut. Namun sialnya aku malah tidak bisa tidur, dikarenakan aku horny gara-gara kegiatanku waktu itu! Ohya, sejak SMA aku juga sudah biasa melakukan masturbasi meski tidak terlalu sering.



Mulailah aku bermasturbasi malam itu, namun tidak perlu kuceritakan secara detail aktivitas masturbasiku. Sampai setelah aku orgasme, tidak lama kemudian aku tertidur.

Itu adalah pengalaman pertamaku tidur dengan kondisi telanjang. Namun meski aku suka kegiatan tersebut, tidak serta-merta aku melakukannya tiap hari. Aku hanya melakukannya jika aku ingin saja.

***

Suatu sore menjelang malam, aku baru saja selesai mandi. Aku hanya melilitkan handuk di tubuhku. Dibalik handuk tersebut tentu tidak ada pakaian lagi karena aku langsung memasukkan baju kotorku ke mesin cuci.

Setelah masuk kamar dan mengunci pintu, aku melepas lilitan handuk di tubuhku dan kugunakan untuk mengeringkan rambutku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata ada telepon dari sahabatku. Langsung saja aku angkat telepon tersebut dan memulai percakapan dengan sahabatku tersebut. Padahal aku belum mengekankan apa-apa waktu itu.

Jika aku telepon-teleponan dengan sahabatku, pasti tidaklah sebentar. Bahkan waktu itu, hampir sejam kami bercakap-cakap. Setelah aku menutup percakapanku di telepon, aku baru sadar jika dari tadi aku masih telanjang. Terbesitlah ide isengku untuk tetap telanjang sampai tidur. Namun rencana tersebut urung terancana karena mamaku memanggil untuk makan malam. Dengan terpaksa aku harus berpakaian, karena tidak mungkin kan aku telanjang di depan keluargaku saat makan malam.

Namun untuk mengobati rasa kecewa karena tidak jadi bertelanjang ria malam itu, aku melakukan hal lain yang cukup menarik. Aku akan memakai baju tidur sejenis babydoll yang tanpa lengan dan rok bagian bawahnya berada diatas lutut namun tidak terlalu pendek serta melebar. Yang membuat spesial adalah aku tidak akan memakai apa-apa lagi di dalamnya alias tanpa pakaian dalam.

Setelah memakai baju tersebut, aku mengecek penampilan tubuhku di cermin. Ternyata tidak terlalu mencolok dan tidak terlihat kalau aku tidak mengenakan apa-apa di dalamnya. Kecuali jika aku angkat bagian bawah baju tersebut, maka akan terlihat memiaw yang menggemaskan di antara paha yang putih mulus tanpa cacat.

Aku makan malam seperti biasa. Tidak ada anggota keluargaku yang curiga dengan pakaianku. Sampai ketika aku membantu mamaku untuk memindahkan piring-piring kotor ke dapur, mama menanyaiku.

"Jam segini kamu udah mau tidur sayang?" tanya mamaku.

"Belum kok mah, Nidia belum ngantuk." jawabku.

"Kok behamu udah kamu lepas? Biasanya kan cuma kamu lepas kalau mau tidur" tanya mamaku. Aku kaget mendengar perkataan mamaku. Dari mana dia tahu kalau aku tidak pakai bra?

"Nidia pengen aja kok mah... lebih nyaman gak pake beha soalnya... gapapa kan?" jawabku.

"Gak papa sih sayang.. kalau menurut kamu itu lebih nyaman... tapi hati-hati ya..."

"Hati-hati kenapa?" tanyaku penasaran.

"Hati-hati aja, di rumah ini kan ada cowoknya juga... Lagian adekmu juga udah gede, udah tahu hal-hal begituan..." kata mamaku.

"Emang aku keliatan banget ya kalau gak pake beha?" tanyaku.



"Inimu lho sayang..." senyum ibuku sambil mengarahkan jari telunjuknya ke dadaku, tepatnya ke putingku yang ternyata terlihat menonjol dari luar baju.

"oh iya..." jawabku cengengesan. "padahal tadi gak keliatan kok mah waktu aku liat di cermin..." kataku.

"kamu liatnya kurang jeli kali" kata mamaku.

"yaudah, aku ke kamar ya mah..." kataku mengakhiri percakapan kami.

Di kamar, otomatis aku langsung melepas baju tersebut setelah mengunci pintu. Setelah aku cek, ternyata memang putingku mengeras sehingga terlihat menonjol. Mungkin udara yang dingin membuat putingku yang sensitif ini menjadi keras.

Dan aku melanjutkan malam itu dengan telanjang. Mulai dari baca buku, chatingan, smsan, sampai masturbasi hingga akhirnya aku tertidur.


***

Semakin lama, kebiasaanku ini semakin menjadi saja. Waluapu tidak kulakukan setiap hari, namun aku semakin sering bertelanjang ria. Hanya saja kulakukan hal tersebut sebatas di kamar saja dan dalam kondisi pintu terkunci. Hingga akhirnya...

Waktu itu aku baru pulang sekolah. Aku mendapat telepon dari mamaku kalau dia sedang ada arisan di temannya. Otomatis rumah dalam kondisi kosong. Papaku baru pulang sore, sedangkan adekku sedang study tour keluar kota, kami juga tidak menyewa pembantu karena mamaku lah yang mengurus urusan rumah tangga dan dia mengajariku untuk hidup mandiri dan tidak manja.

Aku mendapat pesan dari mamaku jika kunci pintu ada di tempat biasa (tempat biasa kami menyembunyikan kunci jika semua penghuni rumah keluar). Mamaku juga berpesan jika setelah aku masuk rumah, pintu rumah dikunci dari dalam demi keamanan.

Setelah masuk rumah dan mengunci pintu, aku langsung menuju kamarku yang berada di lantai 2. Sama halnya apa yang biasa kulakukan setiap pulang sekolah, aku masuk kamar, mengunci pintu, dan melucuti seragamku. Kulepas baju OSIS beserta rok abu-abuku dan kulempar ke keranjang baju kotor. Kulepas juga tanktop putih serta bra pink sehingga hanya meninggalkan celana dalam saja.

Aku berbaring di kasur sambil menikmati dinginnya AC. Saking capeknya, aku hampir saja tertidur. Namun perutku tidak bisa diajak kompromi. Rasa lapar yang datang membuat aku langsung terjaga dan bangkit dari kasur.



Lalu terpikirlah ide iseng. "Bagaimana kalau aku keluar kamar cuma pakai kayak gini aja? Lagian rumah kosong dan udah dikunci dari dalem" pikirku. Dan tanpa pikir panjang, aku lansung keluar kamar dan menuju ruang makan hanya dengan memakai celana dalam pink. Rasanya begitu deg-degan tapi menyenangkan!

Sampai di meja makan, ternyata mama sudah menyiapkan makan siang untukku. Kusantaplah makanan mamaku itu.

Saat makan, aku berpikir "nanggung banget kalau aku cuma pakai cd aja. mending sekalian bugil aja, hehe". Akupun yang saat itu duduk di kursi meja makan, melepas celana dalam tanpa beranjak dari situ. Setelah celana dalamku lolos dari kakiku, kutaruh cd tersebut di meja makan, tepat di sebelah piring makanku. haha.

Aku masih sempat mencuci piring setelah makan. Tentu dengan kondisi masih telanjang, bedanya aku memakai celemek di tubuhku. Aku terlihat begitu seksi menggunakan celemek tersebut.

Setelah mencuci, aku putuskan untuk menonton tv di ruang keluarga sambil menunggu mamaku pulang. Aku tiduran di sofa depan tv. Tentu kesempatan ini tidak akan aku biarkan begitu saja. Momen tersebut aku manfaatkan untuk bermasturbasi. Itu adalah pengalaman pertamaku telanjang dan masturbasi di luar kamar. Biasanya aku hanya masturbasi di kamar ataupun kamar mandi saja.

Sejak kejadian tersebut, aku terbiasa bertelanjang di rumah jika rumah dalam kondisi kosong. Kebiasaan bertelanjang tersebut semakin menjadi-jadi dan terbawa sampai aku kuliah.

***

Akhirnya aku pun kuliah. Tempatku kuliah adalah di luar kota, dan mengharuskanku untuk nge-kos. Namun alih-alih untuk tinggal di tempat kos, aku lebih memilih untuk mengontrak rumah meskipun hanya dihuni oleh aku seorang.

Sebenarnya mamaku lebih menyarankan untuk kos saja, tapi aku bersikeras untuk tetap mengontrak rumah. Namun akhirnya mamaku luluh, karena percaya kalau aku bisa menjaga diri. Dan orangtuaku pun akhirnya menyetujuinya. Bahkan mamaku malah mencarikanku rumah yang cukup mewah meskipun terbilang kecil. Papaku juga membelikanku sebuah mobil, selain juga motor matic yang sudah kubawa sejak SMA. Ini tak lain karena keluargaku adalah keluarga yang berkecupukan dan juga kedua orangtuaku yang sangat menyayangiku.

Kenapa aku memilih untuk mengontrak rumah, tentu ada alasannya. Apalagi kalau bukan tentang kebiasaanku. Karena aku ingin menikmati ketelanjanganku di rumah tersebut.

Kuceritakan sedikit tentang rumah kontrakanku. Rumah ini memiliki 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, runag tengah yang nyambung dengan ruang tamu, dan sebuah garasi. Meskipun aku punya 2 pilihan kamar, aku lebih memilih untuk tidur di ruang tengah, tepatnya di depan tv. Kusediakan springbed di depan tv. Di tempat tidur itulah aku biasa guanakan untuk tidur, makan, hingga masturbasi.



Kamar mandiku sejatinya punya pintu, tapi pintu tersebut hampir tidak pernah kututup ketika kugunakan. Jika aku sedang mandi maupun buang air, aku tak pernah menutup pintu.

Semua jendela di rumah tersebut selalu tertutup, dan semua pintu selalu terkunci dari dalam. Selain untuk menjaga keamanan, tapi juga untuk menjaga agar aku tak terlihat dari luar.

Di sebelah pintu depan, terdapat sebuah gantungan baju. Biasanya disitu tergantung sebuah daster atau babydoll untuk berjaga-jaga jika aku kedatangan tamu. Jadi aku tak repot mencari baju lagi untuk menutupi ketelanjanganku.

Di bawahnya terdapat keranjang pakaian kotor. Ini karena setiap aku pulang kuliah, ketika masuk rumah aku akan selalu melepas bajuku dan langsung memasukkannya ke keranjang. Bahkan ketika aku masih sampai di halaman rumah, aku sudah mulai membuka kancing-kancing bajuku.

Tidak setiap hari aku bertelanjang di rumah. Meski lebih seringnya tanpa busana, terkadang aku juga memakai celana dalam saja, kaos saja, tangtop + celana dalam, bahkan sampai sweater + kaos kaki panjang selutut meskipun tanpa celana.

Begitulah aktivitasku tiap hari di rumah kontrakan baruku ini. Dan aku memiliki sebuah obsesi dimana aku ingin bertelanjang di alam bebas....

bersambung

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

1 komentar:

  1. keren nih critanya, demen gw ama crita nudist begini, syukur lanjut eksib, mantabs sist, ditunggu kisah lanjutanya

    BalasHapus