Reni: Eksi Berujung Ekse 5


"mah,aku berangkat dulu ya!"
"Lho,kamu enggak sarapan emang?"

"keburu telat mah.Pesawatnya berangkat jam 8" jawabku sambil menunjuk jam dinding yg menunjukkan angka 7.15

hari itu aku diminta paman aku di kota S untuk datang menghadiri hajatan saudaraku yang akan naik haji. papa mama tidak bisa hadir dikarenakan urusan pekerjaan,akhirnya akulah yang mengalah dan bolos kerja. tapi ini aku jadikan alasan untuk bisa sekali - sekali berlibur,karena aku juga mengajak serta pacarku,Reni,untuk ke kota pamanku. Reni baru kali ini aku ajak menemui keluarga besarku.kebetulan hari ini dia libur kuliah,dan besok aku suruh dia untuk membolos.

Reni adalah cewek yang periang dan agak centil.Dia menyukai traveling asal di sisinya ada aku,begitu katanya.Jadi saat dia aku ajak ke tempat pamanku,dia menyambutnya dengan antusias.

45 menit kami di dalam pesawat,dan akhirnya sampai juga di kota S.
aku telpon Indra,anak paman aku yang juga seumuran denganku untuk menjemputku sebelum aku sampai di bandara.

agak sedikit jengkel aku mencari-cari Indra,akhirnya tak lama setelah itu aku melihat pria gempal memakai kemeja biru dan celana jeans mendekati kami. itu Indra.
Aku menyapanya sambil berusaha menghilangkan kejengkelanku dengan tersenyum padanya.
"maaf mas,tadi ban mobilnya bocor" kata indra sebelum aku sempat menanyakannya perihal keterlambatannya.
"iya,ngga apa-apa.Ini kenalin,pacarku.Dia aku ajak ke sini supaya bisa kenal dengan keluargaku selain pakde dan budhemu (ayah dan ibuku-RED)"
"oo..gitu. saya Indra mbak.Wah cantik banget ya mas" kata indra berkenalan dengan pacarku



"makasih ya mas Indra." reni menjawab pujian indra
"kamu panggilnya dek indra aja.Biarpun umur dan wajahnya lebih tua dari kamu,tapi dia anak dari adiknya ayahku." candaku sambil merangkul Reni

"iya mbak,panggil indra aja ngga apa-apa.ayo mas,mbak,sekarang aja.Aku disuruh ibu buat beli beberapa bahan memasak soalnya." ajak indra sambil menenteng salahj satu tas yang reni bawa.
Dari kejauhan aku lihat mobil pick up hitam yang biasa digunakan paman dan indra saat bertani. Ya,keluarga pamanku adalah seorang petani di desa. Dari 7 anak dari kakek aku,anak kedualah yang paling sukses,yaitu papaku. Sedangkan anak yang lain hidup berkecukupan. Itu pula sebabnya saudara-saudara papa sering meminjam uang dari papa, termasuk pamanku yang akan naik haji ini. Beliau meminjam uang dari papa untuk mengadakan syukuran ini.

“mbak siapa tadi namanya?” Tanya Indra lagi memecah keheningan saat kami bertiga ada di dalam mobil. “Reni,Mas.” Jawab reni sembari tersenyum manis. Kami bertiga duduk berhimpitan,karena keadaan mobil yang sempit. Indra menyopir, reni duduk di tengah dan aku di pinggir jendela. Karena saat itu Reni hanya memakai rok pendek,sesekali tangan Indra tidak sengaja menyentuh paha reni saat memindah gigi transmisi, aku melihatnya dan aku membiarkannya. Reni pun menyadarinya,tapi terkesan cuek dan masih terlihat asik dengan twitter di Blackberry yang ia pegang.

“bapak ibu kamu sehat-sehat kan,Ndra?” kali ini aku yang mencoba untuk melepas keheningan.
“sehat,Mas. Kalau bapak nggak sehat ya nggak mungkin dong berangkat haji tahun ini.”timpal Indra

“ya siapa tahu masih sakit-sakitan. Terakhir kemarin kan katanya masuk rumah sakit gara-gara maag akut,kan? Sori lho,aku ngga bisa ikut jenguk,soalnya waktu itu lagi ada tugas kantor di luar pulau.” Kataku

“ngga apa-apa kok mas. Kan pakdhe sama budhe dah ke sini” jawab Indra menyebut papa dan mamaku.



Akhirnya sampai juga kami di pasar tradisional kota ini. Pasarnya terlihat ramai sekali sehingga Indra agak kesulitan mencari tempat parkir. Setelah mendapat tempat parkir,Indra mengeluarkan telpon dan menelpon seseorang mengatakan posisi parkirnya saat itu.
Tak lama berselang terlihat bapak tua menarik gerobak berisi berbagai belanjaan. Ternyata bapak itu adalah tetangga Indra yang membantu berbelanja,sedangkan Indra menjemputku di bandara. Aku bisa bernafas lega karena tak harus menunggu lama untuk berbelanja kebutuhan masak.
“mas,sini ada WC umum ngga?” tiba-tiba reni bertanya kepada Indra.
“ada mbak. Tuh di sana” kata indra sambil menunjuk gang masuk pasar.

“terus aja ke sana,nanti ada tulisannya besar kok ’TOILET UMUM’ “ lanjut Indra

“yaudah sama aku aja.” Aku menawarkan diri ke reni. Dan reni mengangguk.

Kami berdua berjalan menuju toilet umum dan Indra memindahkan barang belanjaan dari gerobak Bapak tua tadi ke bak mobil miliknya.

Karena Reni saat itu mengenakan rok mini dan berdandan bak artis, banyak orang di sekeliling kami yang mengamati kami dengan seksama, terutama para lelaki. Kami sangat sadar kalau pakaian reni saat itu mengundang decak kagum orang-orang ini. Tapi karena Reni benar-benar ingin buang air kecil,kami tak peduli.

Aku tunggu reni dari luar toilet. Selang beberapa saat dia keluar dari toilet dan mengeluarkan selembar 1000 rupiah untuk diberikan kepada ibu penjaga toilet umum itu.



“kok lama sih?” tanyaku.
“yah namanya cewek,selain kencing kan berbenah dulu.” Katanya

“mas,aku ngga pakai CD” bisik reni tiba-tiba saat kita berjalan keluar
“wow..” pekikku tertahan

“kenapa?kamu dah pengen?” tanyaku
“ngga tau nih. Rasanya kok horny diliatin orang-orang lewat” jawab reni lirih



INTERMESO, reni dulu adalah cewek periang yang tidak suka mengumbar tubuhnya. Tetapi sejak aku memiliki fantasi – fantasi sebelum kami melakukan seks,dia terbawa oleh fantasiku hingga kini. Aku menyukai fantasi tentang swinger, orgy dan exhibition. Dan hingga kini reni selalu menuruti keinginanku bahkan kadang dia berinisiatif sendiri. Seperti hari itu di pasar tradisional kota S.


“kamu mau jalan-jalan sebentar di pasar ini?” ajakku setelah mengetahui saat itu di balik rok mini, reni tak memakai celana dalam yang menutupi kemaluannya.
“OK. Mau banget.” Kata reni antusias

Kami menyusuri pasar dengan pura – pura melihat – lihat kanan kiri seperti orang akan berbelanja. Banyak ibu-ibu yang menawari kami barang dagangan mereka. Tidak terkecuali bapak pedagang makanan kecil di pojok pasar. Entah kenapa ada yang menarik kami untuk melihat-lihat ke sana. Mungkin karena bapak tersebut melihat kea rah kami terus sejak dari kejauhan.
“makanannya,Mbak,buat cemilan di rumah.” Kata bapak tersebut menawarkan jajanan pasar yang dia jual.
“berapaan ini pak?” reni bertanya sambil menunjuk roti bolu kukus di depannya
“itu 1 plastik Cuma 3 ribu,isinya 5.” Kata bapak itu sambil memegang plastic berisi kue bolu.



“yaudah ambil 3 aja,buat ntar di jalan.” Kataku yang disambut anggukan reni. Lalu aku keluarkan uang 10 ribu dan mengambil kembaliannya sambil berterima kasih pada bapak penjualnya.

“kenapa kamu beli?” tanyaku pada reni,karena aku tahu reni tidak pernah suka jajanan pasar
“karena bapak itu ngeliatin aku kayak penuh nafsu,mas. Aku jadi makin horny waktu deket dia.” Bisik reni sambil menuju pintu keluar pasar.

“dasar..” jawabku sambil tersenyum sinis

Kami bertiga masuk ke dalam mobil. Kali ini ada rasa menantang,karena reni tidak memakai celana dalam sedangkan tangan Indra pasti akan sering menyentuh pahanya saat mengganti persneling. Tapi seperti halnya saat pertama dijemput,Reni bersikap acuh tak acuh saat tangan indra berkali – kali menyentuh pahanya yg putih mulus itu.

Sesampainya di rumah paman,aku dan reni disambut sangat hangat. Di sana sudah ada beberapa saudara dari papaku dan beberapa tetangga sekitar yang membantu memasak untuk keperluan hajatan nanti malam. Aku mengganti pakaianku dengan yang lebih santai di kamar Indra. Reni beristirahat di kamar tanteku.

“wah mas,pacarnya mas Roy cakep banget lho.” Kata Indra di dalam kamarnya saat aku sedang mengganti bajuku dengan kaos oblong
“hehehe..banyak yang bilang gitu kok. Tapi emang dia pernah jadi model,ya pasti aja cantik.”

“dah berapa lama jadian,mas?”
“udah satu tahunan.” Jawabku



Lalu kami keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah berbincang dengan keluargaku yang laki-laki. Ada pakde aku, dan paman-pamanku lainnya. Mereka semua tinggal di kota ini. Hanya ayahku saja yang tinggal di luar kota,sehingga mereka pasti ada waktu untuk membantu di rumah itu.
“itu tadi pacarmu,Le?” Tanya om manto,adik ke empat ayahku.
“iya,Om.” Kataku sambil tersenyum. Dalam hatiku berkata,pasti nanti akan memuji Reni lagi.

“cantik lho. Kapan mau dinikahi?” gurau Om manto sambil tertawa kecil
“dia masih kuliah,Om. Nanti kalau dah waktunya pasti kita kabari” jawabku simple.

Lalu kita semua membicarakan hal-hal lainnya,diantaranya tata cara haji,bagaimana keadaan di sana, karena tetangga paman ada yang sudah pernah naik haji. Dia menceritakan pengalamannya.
Tak terasa hari sudah sore. Serta merta kami semua saling bantu membenahi rumah paman. Aku dan saudaraku Joko menggelar tikar dan karpet. Dan yang lain membersihkan seluruh penjuru rumah

Sekitar pukul 20.00 acara telah selesai. Aku capek sekali seharian tanpa istirahat.
“Tante,di sini ada tukang pijat nggak ya? Dah lama pengen pijat,capek banget nih badan.” Tanyaku tanteku
“ada kok.tapi agak jauh. Biar diantar Indra aja.”

“aku ikut mas.” Tiba-tiba reni nyletuk ingin ikut.
“kalau gitu saya sama reni saja,Tan. Di daerah mana ya, Tan?” tanyaku ke tante

“di Jl.Diponegoro. tau nggak? Ntar ada rumah gedong belok kiri. Ada tulisannya kok ‘pijat capek’ gitu.” Kata tante mengarahkan.



Lalu aku dan reni pergi ke tukang pijat dengan meminjam motor Indra.
“mas,aku pengen pijet juga yah.” Pinta reni saat kami menuju rumah tukang pijat yang diarahkan tanteku.
“itu kan pijet cowok. Kamu mau digerayangi ama kakek tua?” jawabku
“justru karena kakek tua aku ngga malu. Ya mas…” aku mengangguk mengiyakan

tok tok tok….
“permisi…”
Seorang lelaki setengah baya membuka pintu. Badannya tinggi,kurus dengan kantung mata yang menunjukkan berat hidupnya, kumis tebal yang menempel di bibir yang selalu dipaksakan tersenyum.

“bisa pijet pak?” tanyaku saat lelaki itu menanyakan kedatanganku
“udah malam sih,tapi ya masak rejeki mau ditolak.” Kata lelaki yang ternyata bernama Pak Agus itu. Mata pak agus tak pernah lepas dari reni saat dia menyiapkan minum untuk kami. Ada 2 tempat tidur untuk pijat di sana. Keduanya dibatasi oleh tirai.
“silakan diminum dulu tehnya. Siapa yang mau pijat nih? Mas ya?” Tanya pak agus sambil membawakan 2 gelas teh
“dia dulu pak,saya terakhir aja” kataku menunjuk reni. Reni memandangku sinis, dia tau aku ingin melihatnya digerayangi pria lain.
“saya yang mijitin ngga apa-apa,Mbak? Soalnya istri saya sedang keluar kota. Ke rumah kakeknya anak-anak” kata Pak agus menjelaskan keberadaan istri dan anak – anaknya.
“ngga apa-apa Pak. Udah sampai sini juga.” Kata Reni mengiyakan



Lali Pak agus menyuruh reni berbaring di kasur yang difungsikan khusus untuk pijat, dan pak agus menutup tirainya. Aku berada di ruang tamu sambil memainkan asap rokok dengan mulutku.
“Pak agus,saya ke warung depan dulu ya. Nanti kalau sudah selesai saya ke sini lagi.” Kataku dari balik tirai yang menutupi pak agus dan pacarku,Reni.
“iya mas. Nanti saya kasih tau kalau sudah selesai” jawab Pak agus sambil kepalanya dikeluarkan sedikit.
Aku tadinya berniat keluar,tapi aku urungkan. Aku ingin melihat apa yang dilakukan reni dan Pak agus di dalam. Perasaan cemburu dan nafsuku beradu. aku pura-pura berjalan keluar rumah dan menutup pintu depan. Lalu aku mencari tempat persembunyian agar bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam. Tapi aku tak menemukan tempat yang bisa melihat apa yang mereka lakukan tanpa diketahui oleh mereka berdua. Lalu aku nekat saja tiduran di kasur sebelah tempat reni dipijat. Kami hanya dipisahkan oleh selembar tirai. Karena saat itu pak agus menyalakan televisi di ruang tengahnya,aku bisa sedikit – sedikit menutup tirai tempat tidur. Aku tiduran di dalam sambil melihat kea rah kiri,tempat reni sedang dipijat.
“mbak mau pijat seluruh tubuh atau kaki saja? Kalau seluruhnya,mbak bisa lepas pakaiannya,tapi kalau kaki aja,ngga perlu buka” aku dengar suara pak agus bertanya kepada reni datar
“seluruhnya aja pak. Harus buka baju ya? Yaudah. Lalu aku lihat samar-samar reni berdiri membelakangi pak agus dan satu per satu dia melepaskan baju dan celananya. Sampai hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. aku melihatnya dari bawah tirai pembatas yang tak tertutup sampai bawah.

Lalu reni tengkurap di atas kasur dan pak agus mulai memijat kaki reni. Bau minyak pelumas untuk memijat terasa menyengat di hidungku. Sambil memijat,pak agus selalu mengajak Reni ngobrol
“itu tadi siapanya mbak?” Tanya pak agus
“itu pacar saya pak” reni menjawab sambil seperti menahan rasa sakit di bagian kaki yang dipijat.

“ooo…saya kira suami. Pantesan mbak masih muda kok dah nikah.”
“hahaha…kawin udah pak,nikah belumlah.” Jawab reni terkesan nakal

“jadi dah ngerasain ya mbak? Wah enak dong pacar mbak. Wong badan mbak bagus gini. Sering dirawat ya mbak?”
“paling aerobic sama mandi sauna”



“apa itu mbak?” Tanya pak agus yang mungkin karena tinggal di desa,jadi tidak mengetahui istilah-istilah tersebut
“ya pokoknya olah raga sama perawatan pak”

“ooo…mbak itu beha sama celana dalam dibuka aja ngga apa-apa kok mbak. Toh bapak dah tua ini.” Bujuk pak agus.
“gitu ya?” Tanya reni. lalu aku tak mendengar apa-apa lagi. Mungkin dia sedang melepasnya dengan posisi tetap tengkurap

“tuh kan bagus banget tubuh mbak…. Mbak siapa tadi namanya?”
“reni,Pak”

“oiya,mbak reni. Gini kan bisa leluasa mijitnya. Hehehe” aku dengar pak agus sedikit menggoda pacarku,Reni.
Sedikit cemburu sih…tapi semakin menarik buatku.

“Sebentar ya mbak,saya ke kamar kecil dulu”
“iya pak.” Jawab Reni

Saat pak agus keluar,aku menyelinap masuk bertemu reni. Pacarku terhenyak melihatku sambil mukanya merah padam.
“yang,dari tadi aku denger dan tau yang kamu lakuin. Aku sembunyi di sebelah” bisikku
“terus mau apa nih,Mas? Aku sendiri dah horny gini. Telanjang bulat di depan pria yang aku baru kenal. Tukang pijit lagi…”jawab Reni

“hmm… “ belum sempat menjawab,aku dengar suara derap kaki pak agus menuju ruang pijat reni lagi dan membuka tirai ruang pijat sebelah yang tadinya sudah aku tutup. Karena bingung, aku sembunyi di bawah ranjang yang ditiduri reni. Cukup untuk menyembunyikan tubuhku.
“udah pak? Puas? Hahaha….” Goda reni saat pak agus masuk lagi ke ruangan pijat dan aku lihat dari bawah kalau pak agus mengganti celana panjangnya dengan celana pendek dan yang pasti, kemaluan pak agus terlihat menegang dari balik celana pendeknya.



Lalu pak agus memulai lagi memijat reni. Dia masih memijat bagian kaki reni dan menjelaskan tentang titik-titik peredaran darah di kaki, yang sesekali diiringi pekikan tertahan reni.

Lama kelamaan pak agus memijat naik ke paha reni dan pantat reni yang padat itu.
“wah masih padat banget ya,Mbak” aku dengar pak agus meneruskan bicaranya,kali ini mengomentari pantat reni
“iya pak,saya suka menunggang kuda,jadi di daerah pantat jadi kenceng.” Jawab reni

“menunggang kuda atau ditunggangi kuda,Mbak? Hahaha….”
“kalau kuda ya kebesaran dong pak. Hahahaha…” bukannya merasa dilecehkan,reni malah menimpali rayuan nakal pak agus.

“auu… pak kok pegang situ sih?” Tanya reni
“ouh…maaf mbak,kepegang. Enak ya mbak?”

“huh bisa aja bapak nih ngeless nya” reni merajuk manja,seolah tak sadar aku mendengar setiap ucapannya yang justru malah menggida pak agus untuk melakukan lebih

Dan benar saja aku lihat dari bawah, kaki pak agus naik ke ranjang dan suara reni melenguh begitu keras seperti tanpa perlawanan. Aku tak tahu apa mereka sedang melakukan hubungan intim atau pak agus hanya memainkan vagina reni saja. tapi sepertinya hanya dimainkan pakai tangan saja,karena tidak ada gerakan naik turun dari keduanya.



“mbak reni suka ya diginiin? Kok ngga marah?” Tanya pak agus setengah berbisik
Tapi reni diam saja,mungkin dia hanya tersenyum atau merasa keenakan karena kemaluannya sedang dikobel tukang pijat itu. Lalu aku lihat kaki pak agus turun disusul dengan reni. Mereka berdiri berhadapan. Pak agus yang lebih tinggi dari reni agak menunduk dan sepertinya dia menjilat payudara reni,karena aku tak mendengar apa-apa selain suara lenguhan reni tertahan.

Lalu aku lihat reni berjongkok dan mengoral kemaluan pak agus. Posisi mereka bersampingan denganku. Dengan nakalnya reni mengulum penis pak agus sambil melirikku dan mengerlingkan mata padaku. Nafsuku benar-benar sudah di ubun-ubun.

Lalu pak agus menyuruh reni rebahan di tempat tidur. Kaki pak agus mendekatiku. Aku lihat dari bawah pak agus melakukan penetrasi di lubang vagina reni. Tukang pijat itu menyetubuhi pacarku yang cantik….

Sekitar 5 menit kemudian sperma pak agus keluar tak tertahankan.
“eh pak….jangan di dalam dong pak.” Teriak reni agak ngeri
“tenang aja mbak,ntar kalau ada apa-apa bapak rela memperistri mbak reni kok. Hahahahaha….” Tawa pak agus meledak. Sepertinya reni hanya pasrah saja tanpa perlawanan. Karena dia lagi-lagi tak bersuara.

Lalu pak agus mengenakan pakaiannya lagi dan menyuruh reni memakai pakaian karena dia akan memanggilku.
“maaf ya mbak cepet-cepet keluarnya,abisnya kalau ketauan pacar mbak bisa digebukin saya.” Kata pak agus sambil membereskan sperma dari tempat tidur reni.
Lalu dia keluar mencariku. Aku keluar dari persembunyianku dan duduk di teras saat pak agus kembali ke rumahnya.


“lho kok dah di sini mas?darimana?saya cariin di warung sana katanya mas ngga dari sana.”
“Saya dari tadi jalan-jalan sambil ngerokok ke sana pak” kataku menunjuk gang masuk perkampungan.

“yaudah masuk dulu mas,gentian saya pijit” kata pak agus seolah tidak pernah melakukan sesuatu di belakangku
“iya pak.” Lalu aku masuk bersamanya. Mataku menatap reni yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Sambil lalu,pak agus terlihat tersenyum kepada reni.

Malam itu belum seberapa,karena hanya 1 orang yang menikmati bersetubuh dengan pacar cantikku,Reni.

Bersambung…………..

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

1 komentar: