Nidia 2: Pengantar Gas


Sudah sejak SMA aku belajar untuk menjadi mandiri. Aku terbiasa untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Seperti halnya saat aku memutuskan untuk mengontrak rumah seorang diri, mau tak mau aku harus bisa hidup mandiri. Semua kegiatan mengurus rumah, aku lakukan sendiri. Seperti menyapu, mengepel, mencuci baju, hingga mememasak. Semua kulakukan sembari menikmati ketelanjanganku.

Seperti halnya hari itu, ketika aku pulang kuliah. Seperti biasanya, aku mulai menanggalkan bajuku setelah masuk rumah dan mengunci pintu. Lalu aku langsung menuju dapur karena aku berencana ingin memasak di siang itu.

Setelah kusiapkan semua bahan-bahannya, aku mencoba memanaskan penggorengan. Namun sialnya setelah kucoba nyalakan kompor gas, kompor tersebut tak dapat menyala. Rupanya tabung gas komporku sudah kosong.

Tak mau rencana memasakku gagal, aku langsung bergegas menelepon toko yang menjual gas yang merupakan tetanggaku sendiri agar mengantar gas yang baru.

Sekitar 10 menit kemudian, si pengantar gas sudah tiba di rumahku dengan memencet bel pintu. Aku pun bergegas membukakan pintu untuknya. Tetapi tentu aku tidak lupa untuk berpakaian dulu, karena tak mungkin aku menerima tamu dengan kondisi telanjang seperti ini.

Aku mengambil sebuah daster yang kugantung di gantungan baju sebelah di pintu. Daster yang kukenakan ini memiliki model babydoll yang tipis namun tidak transparan. Memiliki 2 buah tali yang melingkar di pundak. Belahan dadanya sendiri cukup rendah dan terdapat renda-renda disekitarnya. Untuk panjang roknya sendiri sekitar 20cm diatas lutut. Sementara didalam daster ini, aku tidak mengenakan apa-apa lagi.

Ketika aku membukakan pintu, ternyata pengantar gas tersebut adalah Farid, anak si pemilik toko. Farid ini anaknya supel banget. Sejak pertama kali pindah ke rumah kontrakan ini, dialah orang pertama yang kukenal di komplek perumahan ini hingga sekarang semakin akrab. Salah satu sebab kenapa aku bisa akrab dengannya adalah keberanian dia mengajak kenalan sampai seringnya bercanda untuk menggodaku ketika kami bertemu. Padahal dia masih duduk di kelas 2 SMP.


Pada saat aku membuka pintu, dia terlihat seperti kaget melihatku.

"Kenapa Rid? Ada yang aneh ya?" tanyaku sambil melihat apakah ada yang janggal dengan bajuku.

"oh, nggak ada kok kak. Cuman kakak keliatan cantik banget ini." gombalnya sambil cengengesan.

"Ih dasar... kecil-kecil tukang gombal... udah yuk ah masuk" gerutuku sambil mengusap-usap rambutnya.

Mungkin Farid baru pertama kali ini melihat aku memakai baju seperti itu. Biasanya jika kami bertemu di luar rumah, aku pasti sedang mengenakan celana panjang dan baju tertutup. Aku tahu baju yang kupakai ini dapat mengundang nafsu lelaki. Tapi aku tidak mengira kalau Farid yang masih terbilang kecil ini juga memperlihatkan ketertarikan terhadap tubuhku, terlihat dari caranya memandang tubuhku yang seakan sedang menelanjangiku.

Sampainya di dapur, segera kutunjukkan letak tabung gas yang berada di bawah kompor. Lantas di jongkok untuk meraih tabung gas yang letaknya agak didalam. Aku juga ikut jongkok di selebelahnya untuk melihat apakah dia kesulitan apa tidak.

Aku aja ngobrol dia agar suasana tidak sepi. Pada saat dia menoleh untuk menjawab pertanyaanku, tatapannya tidak mengarah ke mataku, melainkan ke arah kakiku. Dia sempat terdiam pada saat melihat kakiku tersebut, dan kembali memalingkan muka serta menjawab pertanyaanku dengan nada sedikit gugup.

Dalan hatiku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dia lihat? Apakah dia melihat daerah privasiku? Padahal aku yakin aku jongkok dengan kaki yang dirapatkan dengan harapan derah privasiku tidak terlihat. Lantas aku langsung berdiri.

Aku merasa gugup. Ntah apa yang kurasakan. Antara malu, takut, marah dan penasaran. Apakah dia benar-benar melihat daerah privasiku? Jika memang dia melihatnya, berarti dia melihat memiawku secara langsung yang tidak tertutup oleh celana dalam.

Suasana sempat hening beberapa saat sampai Farid bilang jika dia sudah selesai mengganti tabung gasnya. Aku mencoba sebisa mungkin menutupi kecangungan ini.



"bentar ya, aku ambil duit dulu" kataku sambil melenggang kearah kamarku. Farid hanya menganggukkan kepala, Terlihat dia juga sedikit canggung, karena biasanya dia sedikit cerewet.

Aku mengambil uang yang berada di dompetku. Aku membuka-buka dompetku yang terletak di atas tempat tidurku. Setelah aku menemukan uang yang cukup. Aku bermaksud kembali ke dapur. Namu aku cukup kaget karena Farid sudah berada di depan kamarku. Dan anehnya dia seperti berusaha berdiri tegak setelah melihat aku membalikkan badan, seperti bangkit dari duduk.

Aku tetap mencoba bersikap biasa, dan memberikan uang kepadanya. Tak lupa aku bilang ke dia untuk mengambil kembaliannya. Dia hanya bilang terima kasih dan seperti buru-buru keluar rumahku. Aku pun mengantarkannya sampai ke depan rumah. Dan mengunci pintu lagi setelah dia pergi.

Aku masih penasaran apakah dia tadi melihat daerah privasiku atau tidak. Aku pun mencoba mempraktekkan jognkok seperti tadi di depan cermin yang terletak di lemari pakaianku. Dan hasilnya cukup membuatku kaget. Ternyata memiawku dapat terlihat cukup jelas dicelah antara kedua kakiku. Memiawku jelas terlihat karena tertutupi oleh rambut kemaluan yang kontras dengan kulit puih kedua pahaku.

Perasaanku makin tidak karuan. Jangan-jangan pada saat Farid berada di depan kamarku, dia berusaha mengintipku? Aku memang berdiri memunggunginya, namun aku sedikit membungkukan badan pada saat membuat dompetku. Dan jika benar dia jongkok pada saat di belakangku, berarti dia sedang berusaha melihat pantatku.

Aku pun mencoba pada cermin seperti tadi. Dan ternyata memang jelas pantatku terlihat jika dia menundukkan kepala / jongkok di belakangku. Bahkan bukan cuma belahan pantat, samar-samar juga terlihat rambut kemaluanku muncul diantara belahan pantatku.

Berarti sudah jelas jika Farid mencoba melihat kemaluanku, bahkan sudah melihatnya. Namun setelah kupirkir-pikir, bukan salah dia jika dia bisa melihat daerah privasiku. Tapi aku sendiri yang berpakaian seolah-olah memang menawarkan pemandangan seperti itu kepadanya.

Aku pun menanggalkan bajuku, dan kembali ke aktivitas memasakku. Tapi aku tetap tidak dapat melupakan kejadian yang baru saja aku alami.

Hingga pada saat aku menikmati santapan hasil masakanku sendiri, aku masih tetap memikirkannya. Bahkan aku mulai merasa ada sedikit kebanggaan dan rasa senang setelah daerah privasiku dilihat oleh orang lain. Padahal sebelumnya aku merasa sangat malu dan marah. Namun semakin sering aku memikirkannya yang timbul malah rasa senang dan bangga. Aneh, karena seharusnya aku malu, tetapi aku malah bangga telah dilihat bagian intimku olehnya.

Dan yang paling aneh adalah, aku merasa terangsang setelah memikirkannya. Apalagi setelah kusentuh memiawku, ternyata sudah basah. Sebuah pengalaman yang unik, dimana libidoku naik setelah diintip oleh anak kecil. Hingga akhirnya, mau tak mau aku menuntaskannya dengan masturbasi di tempat makan.


****

3 hari kemudian... aku pulang kuliah mengendarai motor maticku. Saat itu matahari sedang terik-teriknya. Sialnya tiba-tiba ban motorku bocor. Padahal rumahku hanya berjarak 500 meter lagi. Dengan terpaksa, aku jalankan motorku pelan-pelan sambil mencari tukang tambal ban.

Tiba-tiba sebuah motor mendekatiku dari arah belakang. Ternyata itu adalah Farid yang juga baru pulang sekolah.



"Kenapa kak?" tanyanya sambil membuka kaca helmnya.

"Oh kamu rid. Kirain siapa. Iya nih, motor kakak bannya bocor."

"Mau dibantuin kak?" terlihat Farid sudah tidak canggung lagi setelah kejadian 3 hari lalu.

"Hmmmm.... ngrepotin gak?" basa-basiku.

Tiba-tiba dia turun dari motornya.

"Kakak pake aja motorku. Motor kakak biar aku yang tuntun. Di depan situ ada tukang tambal ban kok." katanya.

"Gakpapa nih? Bolehlah kalo begitu" jawabku girang.

"Yaudah sini motornya. Kakak duluan aja." katanya.

Akupun menaiki motornya dan jalan mendahului dia yang menuntun motorku. Tak lama kemudian, aku sudah sampai di tukang tambal ban. Sesaat kemudian disusul oleh Farid.

"Makasih ya Farid.... kamu baik banget sih.."

"Apa sih yang nggak buat kakak yang cantik ini..." gombalnya.

"Kakak kayaknya capek deh. mau aku anterin ke rumah?" katanya.

"Trus motorku gimana?" tanyaku.

"Udah.. nanti biar Farid aja yang ngambil... nanti aku anterin ke rumah kok" katanya.

"Beneran nih?" tanyaku kurang percaya.


Dia hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Dia pun langsung menyalakan motornya dan mempersilakan aku untuk memboncengnya. Tapi tak lupa aku memberi uang dahulu ke tukang tambal ban, agar nanti Farid tingga mengambilnya saja.

Singkat cerita, aku telah berada di jok motornya. Jalan menuju rumahku melewati jalanan perumahan yang sudah rusak dan berlubang dimana-mana. Aku berusaha untuk menjaga posisi dudukku. Tapi karena jalanan yang tidak rata, membuat posisi dudukku melorot ke depan. Berapa kali pun aku mencoba untuk menjaga jarak dengan Farid, posisi dudukku selalu melorot. Hingga akhirnya aku terlalu ke depan. Malahan kedua dadaku sampai menempel ke punggungnya.

Dia tidak bereaksi apa-apa. Tapi kurasakan jalannya motor menjadi oleng. Mungkin dia kurang konsentrasi gara-gara kedua gunung kembarku menempel ke punggungnya :)

Tak berasa aku sudah sampai di rumah. Farid langsung pamit untuk pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian dan berjanji akan ke rumahku lagi sambil membawa motorku.

***

Bel pintu rumahku berbunyi, pertanda jika Farid sudah datang. Aku yang masih telanjang, tak lupa untuk memakai baju. Aku memakai daster yang sama dengan yang kupakai 3 hari yang lalu.

Ketika pintu kubuka, terlihat Farid menunjukkan ekspresi yang sama seperti 3 hari yang lalu.

"Kakak gak pernah ganti baju ya? Kok bajunya sama kayak yang kemaren?" tanyanya memecah suasana.

"Aku ganti kok. Aku punya banyak baju yang kayak gini." jawabku.

"Emang kakak kalau dirumah pake baju kayak gini terus ya?" tanyanya terlihat penasaran.

"Hmmm... gak kok. Mungkin kamunya aja ngeliatnya pas aku pake baju." jawabku.

"Pas pake baju? maksudnya? emang biasanya gak pake baju?" tanyanya agak terkejut. Rupanya aku keceplosan.

"Gak gak gak... bukan gitu maksudku. Maksudnya kamunya aja ngeliatnya pas aku pake baju kayak gini." jawabku ngeles.

"Yuk masuk dulu. kakak mau ngasih sesuatu ke kamu." Ajakku sambil mempersilahkan dia masuk ke dalam.



Kuantar dia ke meja makan. Di meja tersebut sudah kusediakan mangkok berisi es buah yang kubeli tadi. Tadinya rencananya es tersebut mau kumakan sendiri. Namun karena aku sedang ingin memberi sesuatu ke Farid sebagai ucapan terima kasih, jadilah es tersebut kukasih untuknya.

Namun sebenarnya bukan hanya es yang kukasih ke dia sebagai ucapan terima kasih. Aku sudah merencanakan sesuatu. Semenjak kejadian 3 hari yang lalu, aku selalu terbayang-bayang ketika Farid mengintipku. Sampai-sampai saat aku masturbasi, aku membayangkan jika dia sedang melihatku melakukan aktifitas tersebut. Entah kenapa aku jadi suka untuk diintip olehnya. Oleh karenanya, aku ingin menunjukkan sesuatu ke dia.

"Duduk sini..." kataku sambil menyiapkan kursi untuknya.

"Nih tadi aku beli es buah di jalan. Makan gih..."

"Waaah... makasih ya kak..... trus es yang buat kakak mana?" tanyanya.

"Aku tadi cuma beli satu.." jawabku.

"Berarti ini es punya kakak dong? Kakak aja deh yang makan... kan kakak yang beli..." katanya.

"Udah... itu buat kamu... itung-itung sebagai ucapan terima kasih aku ke kamu yang udah nolongin aku hari ini..." kataku.

"Aku nolonginnya ikhlas kok kak, aku gak minta apa-apa dari kakak"

"Udah... makan aja... kakak suapin ya...." kataku sambil mengambil mangkok es yang berada di depannya.

Aku mengambil sesendok es dan menyodorkanya ke mulutnya. Namun karena dia duduk dan aku berdiri, alhasil aku harus menunduk untuk menyuapinya. Aku sengaja melakukan ini dengan tujuan agar dia melihat belahan dadaku. Apalagi dengan bajuku yang seperti ini.

"Ak ak ak, aeemm..."

Benar saja, matanya tidak berkedip saat melihat kearah belahan dadaku. Ketika sesendok es itu sudah dimulutnya, tiba-tiba dia tersedak sambil matanya melotot melihat belahan dadaku seperti terkejut dengan apa yang dia lihat. Aku penasaran dengan apa yg dia lihat. Aku pun mencoba melihat dadaku sendiri, dan aku pun juga ikut terkejut! Ternyata pada saat aku menyuapi Farid dengan tangan kanan, tali kecil daster yang berada di pundak sebelah kiriku turun dari tempat asalnya. Hasilnya dasterku ikut turun dan menampakkan puting sebelah kiriku!

"Uups!"

Menyadari putingku terlihat olehnya, aku langsung menaikkan lagi tali dasterku. Hal benar-benar diluar rencanaku. Aku hanya bermaksud menggodanya dengan memamerkan belahan dada, namun yang terjadi malah putingku ikut terpampang.

Keadaan berubah menjadi hening. Aku gugup dan salah tingkah. Sedangkan Farid hanya menunduk seakan tidak berani menatapku. Namun yang aneh adalah tubuhku yang tiba-tiba panas dan terangsang.

Aku pun segera mencairkan suasana.

"Habisin esnya rid" kataku sambil mendekatkan mangkuk es. Namun Farid hanya terdiam sambil tetap menundukkkan kepalanya. Aku lantas duduk di seberang meja makan dari posisi Farid sehingga sekarang aku duduk berhadapan dengan Farid.



"Ma.. maaf kak...." suaranya lirih.

"Maaf kenapa rid?" tanyaku.

"Maaf tadi Farid liat itunya kakak." katanya.

"itunya apa rid?" tanyaku pura-pura tidak tahu.

"Teteknya kakak..." katanya dengan nada gemeteran.

"Oh... aku maafin deh... lagian bukan salahmu kok..... lupain aja... habisin tuh esnya" kataku.

Farid pun langsung melahap es tersebut. Tatapannya sepertinya hanya fokus pada mangkuknya. Sepertinya dia memang tidak berani menatapku.

Sedangkan ditubuhku sendiri sedang ada gejolak. Aku benar-benar terangsan melihat ekspresi Farid ketika melihat payudaraku. Aku yakin jika miss V ku sudah basah karena kejadian ini. Aku yang sudah tidak kuat menahan gairah ini mencoba mencuri-curi kesempatan. Tanganku mencoba menyelinap ke dalam dasterku dan mencari miss v ku. Farid tidak akan melihat aktivitasku karena terlahang meja makan, apalagi posisinya yang dari tadi menunduk.

Tak pernah terbayang olehku. Aku bermasturbasi di depan seorang anak kecil yang sedang menimkati es buah. Andai saja Farid melihat ke bawah meja, pasti dia akan melihat sebuah alat kelamin wanita yang ditumbuhi bulu halus serta sudah basah oleh cairan yang dikeluarkannya sedang dimainkan oleh jari-jari pemiliknya. Terbesit di pikiranku untuk menyuruh Farid menonton aktivitasku ini. Namun hal tersebut terlalu gila untuk dilakukan.

"Udah habis kak". ucapnya tiba-tiba. Sehingga reflek aku menghentikan aktivitasku.

"Aku pulang dulu ya kak... makasih esnya..." katanya sambil berlalu meninggalkan meja makan. Sempat sekilas kulihat celananya menonjol pertanda jika penisnya sedang ereksi gara-gara kejadian tadi.

"Sama-sama ya rid.." jawabku.

Aku mengantarkannya sampai ke depan rumah. Namun sebelum dia meninggalkan halaman rumahku, kupanggil dia.

"Rid!" teriakku.

Farid hanya menoleh, kali ini dia berani menatapku.

"Jangan bilang siapa-siapa ya..." kataku sambil memberi isyarat dengan tanganku yang memegang payudara kiriku. Dia hanya mengangguk sambil berlalu dengan terburu-buru.

Setelah dia pergi, aku lansung menuntaskan hasratku yang tertunda. Sejak hari itu aku mulai menyadari jika aku tidak hanya memiliki kelainan sebagai nudist, namun juga eksibisionis.

bersambung

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

7 komentar:

  1. Mantab. Update terus gan. Klo mw sumbang cerita bs gak? Caranya gmn?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dmn gan fanpagenya? Kasii link dunk

      Hapus
    2. https://www.facebook.com/blog.eksibisionis

      Hapus
  2. Mantap., dpet foto" nya dri mna ?

    BalasHapus
  3. boleh sumbang cerita gak? aku punya kisah nyata sama nyokap. intinya nyokap suka pamer tubuh akunya suka pamerin tubuh nyokap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kirim kesini
      https://www.facebook.com/blog.eksibisionis

      Hapus