Kinanti 3: Aku Dipermalukan Kakakku

Credit to exotica


Namaku Kinanti, gadis Jawa yang biasa-biasa saja dan hidupnya pun biasa-biasa saja. Damai, tentrem, dan ndak neko-neko.

Namun semuanya berubah ketika aku menderita sakit usus buntu.

Gara-gara usus buntu, ya, semua bermula dari hal sesederhana itu.

Sudah beberapa hari aku opname setelah menjalani operasi usus buntu di RSUP dr K di kota S. Sebenarnya Oom Bram, pamanku yang orangnya cukup berada bersedia membayar seluruh biaya perawatanku, tapi Ibuk bersikeras bahwa dirinya cukup mampu untuk membiayai rawat inapku, walau di kelas yang paling sederhana.

Kadang Banyu yang menungguiku sepulangnya dia sekolah. Kami pun berbuat seadanya, berbincang, bergurau, bersenda, ya biasa saja. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami berdua.

Bila kuingat-ingat sekarang, rasanya jadi malu sendiri karena telah melakukan tindakan yang neko-neko sama sepupuku sendiri. Duh Gusti, hampir saja kami terpergok ketika sedang melakukan tindakan tidak senonoh! Waktu itu tahu-tahu saja Oom Bram dan rombongan perawat datang waktu kami sedang berasyik-masyuk melakukan kegiatan asusila! tanpa dikomando aku segera merapikan kembali jubah operasi dan rambutku yang acak-acakan. Banyu sendiri buru-buru membenahi posisi celananya lalu pura-pura membaca Kho Ping Hoo.

“Kamu sedang apa, Mbak?” Banyu tiba-tiba bertanya, sehingga lamunanku ambyar seketika.

“Ndak... ndak kenapa-kenapa....” jawabku dengan wajah agak bersemu.

Beberapa hari sudah berlalu, namun sikap Banyu sepertinya biasa saja, atau malah cenderung lempeng, seolah apa yang kami lakukan waktu itu tidak pernah terjadi sama sekali.

“Ndak sakit lagi, to?”

“N-ndak...,”

Sakitnya tuh di sini, ingin rasanya aku berkata begitu sambil menepuk dada, tapi kuputuskan untuk diam saja. Tanpa harus dibumbui dengan drama romantika, operasi usus buntu ini pun sudah menyiksa luar biasa!

Pertama aku merasakan menggigil yang luar biasa ketika pertama kali siuman, efek samping obat bius kata pak dokter, namun yang lebih parah ternyata setelah aku tersadar aku masih belum dipakaikan baju, jadi di balik selimut lurik khas rumah sakit, aku masih telanjang bulat. Benaran, aku serius berbicara, tidak dilebih-lebihkan pun juga tiada pula dikurangi! Oleh karena itu, kita harus mundur 3 hari ke belakang, di saat aku baru siuman setelah dioperasi...



3 hari yang lalu...



Mbak Kirana adalah orang yang pertama kulihat waktu aku sadarkan diri.

“Mbak...?” bisikku lemah, ketika samar-samar kulihat sosok ayu di sampingku Aku ingin menggerakkan tubuhku tapi kesulitan, dan aku merasakan menggigil yang luar biasa, efek samping obat bius kata pak dokter,

Sampai menjelang siang baru aku mengumpulkan seluruh kesadaranku, saat itu barulah aku tersadar aku masih belum dipakaikan baju, jadi di balik selimut lurik khas rumah sakit, aku masih telanjang bulat.

“Mbak kapan sampainya?

“Kamu itu bikin orang di kampung khawatir saja,” Mbak Kirana berkata dengan pinggang berkacak.

“Beginilah, Mbak... namanya juga musibah... “jawabku lemah. “Ibuk mana? Banyu? Oom Bram?”

“Banyu kan sekolah, piye to? Ibuk tadi pagi masih ada, tapi sekarang sudah balik ke kampung.” Mbak Kirana menjelaskan bahwa Ibuk sempat datang dini hari tadi, setelah aku menjalani operasi. Tapi belum sempat aku siuman, beliau sudah harus segera kembali ke kampung karena ada banyak order jahitan dari kantor kecamatan yang ndak bisa ditinggalkan. Aku sedikit nelangsa jadinya, tapi ya ndak apa-apa.

Sektar jam 10 pagi, datang perawat yang menyuntikkan obat ke dalam infusku, sampai tanganku terasa perih dan panas sekali. Lalu aku diperintahkan mengenakan baju khusus rumah sakit yang modelnya mirip seperti baju operasi hanya berbeda warna, tetap dengan bagian punggung dan bokong yang terbuka tanpa daleman untuk memudahkan perawatan. Mbak Kirana membantuku salin, diam-diam aku memperhatikan wajahnya yang tetap ayu. Aku tersenyum dalam hati, ingin sekali seperti kakakku itu, meski ndak bakal bisa walau cuma seupil hehe...



Kirana berarti kumparan sinar warna-warni yang mengitari matahari, cocok sekali dengan dirinya, pintar dan ayu, ndak seperti aku. Mbak Kirana memiliki wajah ayu luar biasa. Hidungnya mancung seperti bangsawan jawa, wajahnya tirus dengan dagu lancip bak mayang dengan bibir seranum delima, badannya tinggi semampai, langsing singset, beda sekali denganku.

Tidak sepertiku, Mbak Kirana pintar sekali! Sepanjang yang kuingat dia selalu menjadi juara kelas dari SD sampai SMP, tapi ya kok sayang sekali SMA-nya ndak diterusken. Mbak Kiran memilih menikah muda dengan Mas Herman, lelaki pujaan hatinya. Waktu itu aku tidak bisa ingat jelas karena aku masih kecil, namun aku sempat melihat Bapak dan Ibu mencak-mencak, tapi aku ya ndak mikir yang macem-macem, yang jelas tak lama kemudian, Mbak Kirana sudah resmi menjadi istri Mas Herman, anak pemilik perkebunan tebu di kampung sebelah. Meskipun dipersiapkan terburu-buru, resepsi perkawinan Mbak Kirana dihelat besar-besaran, sampai mengundang artis dangdut paling terkenal di Jalur Pantura.

Waktu itu aku hanya berpikir, orang tua mana yang ndak ingin anaknya menikah dengan lelaki tampan, mapan, berasal dari keluarga terhormat. Bibit, bebet, bobot, semuanya lengkap terpaket dalam sosok bak pangeran yang bernama Mas Herman itu.

Sementara aku yang tampangnya biasa-biasa saja ini harus tahu diri, menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ilmu itu kunci biar ndak melarat, kata Ibuk, biar bisa menerangi dunia, katanya lagi.

Mbak Kirana adalah matahari yang menerangi dunia, dan aku cukup puas menjadi lampu templok di pojokan yang mencoba menjadi sekelumit terang. Mbak Kirana yang punya segalanya, sedang aku ndak punya apa-apa selain rasa sayang buat mbakku yang satu itu. Aku cuma bisa mbrebes mili, (terharu), terenyuh sekali rasanya karena dia bersedia jauh-jauh datang cuma buat nengok adiknya.

Sepanjang hari itu, Mbak Kirana menemaniku sambil menonton telenovela di tv yang diletakkan di pojokan. Kulihat matanya begitu berapi-api melihat adegan ketika tokoh utama disiksa oleh antagonis yang jahatnya luar biasa. Kadang-kadang Mbak Kirana mengomel sendiri saking gemasnya, seolah lupa sedang menungguiku yang sehabis operasi.

Sambil mengemil oleh-oleh yang dimakannya sendiri (aku belum boleh makan, sampai aku kentut) Mbak Kirana bercerita tentang kehidupannya bersama suaminya, tentang betapa beruntungnya dia bisa menikahi pria semapan Mas Herman.

“Gerah banget toh, ya...” kata Mbak Kirana sambil mengipas-ngipas kepanasan. Ruangan tempatku dirawat memang ruangan kelas III yang tak berpendingin udara, hanya ada satu kipas angin, itupun sudah tak berfungsi. “Kalau Mas Herman sih ndak bakal rela istrinya dirawat ditempat seperti ini.”

“Oh iya, Bagaimana kabar Mas Herman, Mbak?”

Mbak Kirana terdiam sebentar, sebelum cepat tersenyum. “Mas Herman lagi ada kerjaan di kota S, kebetulan sekali to?” jawabnya sambil melebarkan senyum, namun entah kenapa aku menangkap ada yang hambar dari senyumnya. “Kamu sendiri? Kamu sudah punya calon, Dik?”

“Belum, masih sendiri saja, hehehe.”

“Mosok ndak ada cowok yang kamu taksir, to?”

Aku hanya tersenyum tersipu, malu rasanya aku memberitahu siapa lelaki idaman itu.

“Nd-ndak ada...”

“Bohong.”

“Benaran!”

“Mosok?”

“Iya!”

“Mbok ya cari pacar, Nanti jadi perawan tua baru tahu rasa,” kata Mbak Kirana lagi.

“Hehehe... saya belum kepikiran buat pacaran, Mbak. Jodoh itu sudah ada yang ngatur, lagipula saya masih konsentrasi studi.”

“Ah, Mbak sampai lupa kalau kamu orang kuliahan, bukan ibu rumah tangga kayak Mbak,” ucapnya sinis. “gimana kuliahmu?”

“Biasa saja, masih begini-begini saja.”

“Nilai-nilai mu?”

“Lumayanlah, cukupan.”



Mbak Kirana tersenyum kecil, setengah mencibir.

“Kamu itu to, Dik, kok ya pas cuma jadi orang ya biasa-biasa saja, ndak punya ambisi, ndak punya mimpi.”

Aku diam saja. Setengah diriku mengiyakan apa yang dikatakan oleh Mbak Kirana, tapi setengahnya lagi merasa terluka, entah kenapa.

“Mungkin karena saya cuma orang yang biasa-biasa saja, Mbak,” jawabku polos.

Terbit senyum lebar di bibir Mbak Kirana, tak jelas ekspresi lucu atau merendahkan. Ditepuk-tepuknya pundakku sambil menggeleng-geleng. Lagi, Mbak Kirana mengulang segala pencapaiannya selama ini: Suami yang mapan, Keluarga yang harmonis, hidup yang tidak pernah kekurangan.

“Kamu itu anak kesayangannya Ibuk, tapi sekarang lihat apa yang kamu punya? Sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya malah ngerepoti orang tua.”

“Saya memang ndak punya apa-apa, Mbak. Rasa sayang kepada Mbak, cuma itu yang saya punya.”

Mbak Kiran langsung terdiam seperti kehabisan kata, lalu dengan wajah memerah cepat-cepat dia memalingkan muka. Aku tak tahu mengapa, tapi sepanjang hari itu dia hanya menonton telenovela tanpa banyak kata.


* * * * * * * * * *

Jam satu siang Banyu datang menjengukku, masih dengan mengenakan baju seragam putih abu dia menenteng sekeranjang buah-buahan, tersenyum riang menyapa kami berdua.

Senyum manis langsung mengembang di bibirku begitu melihat siapa yang muncul di ambang pintu, dan aku berharap Mbak Kirana tak melihat perubahan rautku itu. Banyu menyalami Mbak Kirana, dan bercakap-cakap sebentar, basa-basi barang tak seberapa lama, sebelum kembali berbincang dan bersenda denganku sambil tertawa-tertawa kecil. Aku melirik ke arah Mbak Kirana yang menahan senyum melihat kelakuan kami.

Obrolan kami baru berakhir menjelang sore ketika perawat datang untuk memandikanku.

“Ya sudah, sekalian saya tak ke kantin dulu,” Banyu berkata. “Mbak Kirana sudah minum? Saya belikan di Kantin dulu po, Mbak?” katanya ramah, dan tak lama dia sudah menghilang di balik pintu.

Sepeninggal Banyu, Mbak Kirana tak bisa lagi menahan tawa. “Oh, jadi ini anaknya?”

“A-apa sih, Mbak?”

“Sudah, ndak usah malu-malu to... bilang saja, ndak papa!” desak Mbak Kirana, dan aku hanya menunduk malu dibegitukan.

“Jadi benaran?”

“K-kamu bilang apa to, Mbak? Nd-ndak... ndak ada apa-apa...” tergagap aku menjawabnya, terus merunduk-runduk seperti anak kucing tercebur got! Wajahku makin tersipu-sipu terlebih lagi karena aku kini bersiap untuk ditelanjangi.

Ya, yang paling ndak mengenakkan dari operasi usus buntu ini adalah kegiatan mandi dan buang air yang terpaksa dilakukan di atas ranjang karena aku yang belum kuat berjalan ke kamar mandi.

Lagi-lagi pembaca jangan berpikir ngeres dulu, to, soalnya sudah merupakan ketentuan dari rumah sakit yang ketat kalau yang boleh memandikan pasien adalah keluarga atau perawat dengan jenis kelamin yang sama.

Permasalahannya, ruangan tempatku dirawat adalah ruangan kelas III yang berbagi dengan 7 pasien lain! Dan untuk menunaikan hajat pribadi itu, aku hanya ditutupi oleh sampiran, yakni semacam tirai putih yang diberdirikan seadanya sebagai penghalang pandangan mata mereka. Entah cuma perasaanku saja atau memang sampiran itu terlalu kecil dan rendah, dan orang bisa leluasa melihatku dalam posisi memalukan!

Rasanya ndak sopan sekali melakukan kegiatan paling pribadi yang biasanya kulakukan sendiri di kamar mandi, kini terpaksa dilakukan di atas tempat tidur terlebih lagi di bawah tatapan mata orang lain!

“Ndak apa-apa, Sus. Ndak usah repot-repot, biar saya yang memandiken adik saya,” potong Mbak Kirana, yang tentu saja dijawab dengan anggukan lega dari perawat yang mungkin sedang banyak pekerjaan itu. Baskom berisi air hangat dan washlap pun beralih tangan kepada kakakku.

Mbak Kirana melepas simpul-simpul yang mengikat baju rumahsakit di bagian punggung, sehingga punggungku yang berwarna putih mulai menampakkan diri. Disibakkannya kain itu lebih jauh, sehingga bagian samping payudaraku, pinggul telanjangku perlahan tertampak.

“Jadi bener, to?” bisik Mbak Kirana di telingaku, sambil terus menelanjangiku. Diperintahkannya aku duduk di pinggiran ranjang dengan kaki menjulur ke bawah.

“B-bener apa to, Mbak?”

“Kamu naksir sama Banyu.”



Aku langsung menunduk malu, entah karena pertanyaan Mbak Kirana, ataukah karena aku sekarang sudah tak berbusana. Aku hanya bisa mendekap payudaraku dengan lengan kiriku yang diinfus sementara tanganku yang satunya menutupi memekku yang kini mulus tanpa bulu, sambil terus menunduk.

“Ndak usah malu to, kita kan sedulur,” kata Mbak Kirana. Diusapkannya washlap hangat itu ke atas kulitku yang lengket karena keringat, pelan di sepanjang tulang belakangku, mengusap turun sampai ke sepasang bongkahan pantat montok yang lengket, kemudian digosok-gosok dengan telaten.

“Ah, cuma perasaan Mbak Kiran saja.”

“Massa?” ia tersenyum genit, sambil menusuk-nusukkan jarinya ke lubang pantatku.

Aku menggeliat geli. “Apaan to, Mbak!”

“Mbak ini sudah lebih berpengalaman.” Mbak Kirana mencelupkan washlap ke airhangat, memerasnya. “Mbak tahu dari cara kalian berbicara, dari cara kalian saling tatap, sudah jelas, las!”

Wajahku semakin bersemu. Apalagi ketika kakakku itu memerintahkanku untuk tidak menekap payudaraku agar ia bisa membersihkan kulit yang lengket terkena keringat karena ruangan di kelas III tak berpendingin udara. Diperintahkannya aku mengangkat tinggi-tinggi kedua lenganku, melipatnya dibelakang kepala, agar dia bisa leluasa mengelap ketiakku dengan kain yang telah dibasahi air hangat.

“Gimana, Dik?” bisiknya setengah mendesah di telingaku. Mbak Kirana sekarang berdiri di depanku, tepat di antara kedua pahaku yang membuka. Tanganya sekarang sedang sibuk mengusapi ketiak dan bagian samping tubuhku, terus turun sampai pinggul, sehingga posisi kami mirip orang yang sedang berpelukan.

“Kinan juga ndak tahu, Mbak,” jawabku polos.

“Maksudmu, kamu ndak tahu perasaanmu sendiri?”

Aku diam saja, mungkin aku memang tidak mengerti perasaanku sendiri, mungkin saja. Aku terlalu bingung untuk berpikir, karena perasaanku benar-benar campur aduk.

Mbak Kirana membersihkan perutku daerah sekitar bekas operasi yang ditutup perban. Aku merasakan washlap hangat itu bergerak turun ke perut bawah, memijat-mijat di sekitar memekku yang mulus. Aku menahan nafas, merasakan tangan Mbak Kirana mulai bergerak turun, namun tak lama ia kembali mengusap pundakku kemudian kembali ke ketiak.

Beberapa keluarga pasien berlalu di balik tirai, melirik sedikit ke arah kami. Aku hanya memejam dengan wajah merah padam menyadari betapa menggairahkannya poseku saat ini: aku duduk di tepi tempat tidur besi dengan tubuh tak tertutup sehelai benang pun selain perban yang menempel di tangan dan perutku. Lenganku yang dilipat di belakang kepala, membuat sepasang payudaraku membusung indah, terpampang ke seantero ruangan. Aku benaran tak yakin tirai itu bisa menghalangi pasien lain di ruangan itu untuk bisa melihatku, melihat bokong montokku dan badanku yang sekel dari belakang, ataukah paha mulus dan dada bulat yang sedang diuleni begitu rupa dari arah sebaliknya.

Aku malu sekali, melihat Mbak Kirana tersenyum kecil waktu melihat tingkahku yang aleman malu-malu kucing, juga putingku yang mulai tegak berdiri. Tangannya bergerak dalam gerakan melingkar mengelilingi bukit indahku, sebelum diakhiri dengan gerakan memilin pelan pada puting yang membuatku menggelinjang kecil. Sepertinya ia ikut menikmati ekspresiku yang malu namun mulai bernafsu, ataukah ia menikmati tubuh adiknya menjadi bahan tontonan keluarga pasien di sebelahku yang hilir mudik memenuhi ruangan dan sesekali melirik ke arahku yang sekarang sedang merem-melek keenakan.

“Gimana...”

“Uuuh... Kinan... Kinan...” aku benaran tidak bisa berpikir jernih. Meski malu mengakui, enak sekali rasanya susuku dibeginikan!

“Kamu... suka... kan?” lagi, dipelintirnya putingku “... sama Banyu?”

“Kinan... Banyu... uunhhh..”

“Ndak usah ditahan-tahan... perasaan itu harus diungkapkan.”

“Kinan... Kinan... cuma... hhh... Kinan... cuma merasa nyaman... bahagia... kalau sama Banyu...”

Mbak Kirana mendengus mendengar perkataanku barusan, gerakan tangannya di dadaku berhenti seketika.

“Mbak?”

Mbak Kirana tak menjawab hanya menatap mataku dalam-dalam, namun aku menyadari perubahan air mukanya. Ia menggelengkan kepalanya sambil berdecak. “Kamu itu mbok ya tahu diri...”

Aku bingung.

“Kalau mimpi itu mbok jangan ketinggien, kamu dan Banyu itu ibaratnya langit dan batu kerikil, ibarat butocakil dan srikandi! bahkan buat bermimpi bersanding sama bayu saja kamu ndak pantes,” tambahnya lagi, menekankan sekaligus merendahkan.



Aku tak bisa menjawab, sakit sekali rasanya mendengar perkataan kakakku itu, tega sekali ia berkata seperti itu, meski dalam hati aku juga tidak bisa membantah bahwa aku sama sekali ndak pantas buat Banyu.

Tiba tiba pintu terbuka dan Banyu yang muncul membawa tas keresek berisi teh kotak dingin sedikit terkejut melihat posisi kami yang sedikit mesum. Banyu cepat-cepat ingin mohon diri, tapi segera ditahan oleh Mbak Kirana.

“Ndak papa... masih sedulur, toh..” katanya, sambil melirik penuh arti ke arahku.

Banyu hanya bisa berdiri rikuh, serba salah melihatku dimandikan oleh Mbak Kirana. Meski ia pernah melihatku telanjang, tetap saja aku merasa malu diperlakukan seperti ini!

Aku melihat senyum puas di wajah cantik Mbak Kirana, seolah sengaja memamerkan kondisiku yang memalukan kepada Banyu, tapi sepertinya dia tidak berhenti sampai di sini.

“Jangan ditutupi to, aku kan susah jadi bersihkennya,” Mbak Kirana membersihkan pahaku sekarang, diperintahkannya aku membuka pahaku lebar-lebar, jadi posisiku sekarang duduk mengangkang menghadap selasar, dengan tangan kiri yang diinfus menekap payudara, dan tangan kanan menutupi memekku yang terpampang ke arah orang-orang yang berlalu-lalang meski terhalang sampiran.

Banyu pun hanya bisa menunduk dengan wajah merah padam melihat pemandangan serba mesum itu! Malu sekali aku dilihatnya dalam posisi memalukan ini!

Muncul gelinjang-gelinjang kecil di pinggulku yang menggeliat keenakan namun berusaha kutahan sekuat tenaga, ketika handuk hangat itu bergerak membelai sepanjang paha dalamku, pelan, perlahan ke arah selangkangan, namun tak sampai kena mememekku tangannya sudah digerakkan lagi ke arah lutut, terus begitu berkali-kali seolah mempermainkan hasratku.

Entah apa yang ada di pikiran Mbak Kirana, aku merasa dia aneh sekali! Tidak seperti biasanya! Karena kuperhatikan Mbak Kirana melirik licik ke arahku yang mulai blingsatan dan wajahku yang mulai merah sayu tidak karuan. Mungkinkah ia.... cemburu?

Ingin aku menghentikannya, tapi bibirku hanya bisa membuka setengah, mengeluarkan enggahan-enggahan nafas yang pasrah namun menggoda.

“Kamu kenapa je, Dik?”

Aku menggeleng, pura-pura biasa saja, padahal dalam hati birahiku sudah ke ubun-ubun gara-gara diperlakukan begitu rupa. Aku hanya tidak ingin tampak memalukan di depan pria yang diam-diam kutaksir.

Mbak Kirana tersenyum kembali, penuh rahasia. Ia memasukkan washlap ke dalam baskon berisi air hangat dan memerasnya. Lalu dengan penuh perasaan dibersihkannya daerah kewanitaannku. Sengaja berlama-lama di sana, menggosok-gosok selangkanganku dengan washlap, sambil jarinya curi-curi membelai kelentitku.

“Mbak... jangan di sana... jangan... ah... aaah... aah,,,,.” rintihku pelan, sambil berusaha mendorong tangannya yang kini berlutut di antara ke dua pahaku, namun tangan dan seluruh tubuhku seolah kehilangan tenaga akibat setruman-setruman kenikmatan yang mendadak melanda. Nikmat, sekaligus malu luar biasa!

Aku sudah tak sanggup melihat ke arah Banyu yang semakin serba salah menonton ekspresiku yang dimabuk birahi dan rasa malu.

Mbak Kirana hanya melihatku dengan tatapan nakal. “Kok basah, Dik...” cukup keras untuk didengar Banyu.

Plas! wajahku langsung memerah, aku benar-benar tak kuat lagi menahan malu Banyu mengetahui aku sudah becek! namun sensasi ini justru menambah kadar setruman-setruman kenikmatan yang semakin bertumpuk, berkumpul, berdenyut-denyut dan menuntut untuk dipuaskan, apalagi ketika beberapa keluarga pasien lewat di depan sampiran, menyempatkan melongok melihatku yang sedang mendesah sambil terengah-enggah, entah apa yang dilakukan Mbak Kirana di bawah sana, rasanya enak sekali! sehingga tanpa sadar aku mencengkeram pundak Mbak Kirana dan pahaku semakin mengangkang, mengait di pinggulnya. Perutku terasa perih seiring kontraksi otot-otot tubuhku dan puncakku yang segera tiba, namun Mbak Kirana tahu caranya menyiksaku lebih lanjut lagi. Sengaja dihentikannya gerakannya tiba-tiba. Birahiku digantungnya dengan keji.

Mbak Kirana mengerling puas ke arah Banyu yang kini sibuk memperbaiki posisi celananya. Di bibir sensualnya mengembang senyum kemenangan yang tak bisa ditahan-tahan lagi. Mbak Kirana menyandarkan dirinya di tembok sambil tersenyum sendiri, diperhatikannya aku yang masih tergolek telanjang tak berdaya, menahan perih dan birahi yang membuncah. Aku jadi teringat adegan di sinetron Noktah Merah Perkawinan, di mana tokoh antagonis membatin dalam hati, menyusun renana untuk menyiksa tokoh utama lebih lanjut.

Air mata menitik di pipiku, bukan karena aku dijahati, bukan! Aku hanya tak ingin kakakku yang kusayang menjadi tokoh jahat, karena bagiku ia adalah tokoh utama yang selalu kukagumi.



* * * * * * * * * * *

Seharian itu aku terbaring gelisah. Birahi yang tadi dibangkitkan oleh Mbak Kirana ternyata belum juga mereda. Mememekku berkedut-kedut gatal minta digaruk, dan putingku mencuat tegang yang rasanya geli sekali. Setengah mati aku melawan keinginan untuk menyentuh diri sendiri, berusaha mempertahankan sedikit harga diri yang masih tersisa.

Apalagi ketika malam harinya teman-teman kuliahku datang menjenguk, birahiku semakin menjadi-jadi. Aku mencoba ndak berpikir macem-macem, meski wajahku yang tadinya pucat pasi pasti kini bersemu kemerahan karena beberapa kawan lelaki mencuri-curi lihat ke arah sepasang titik mencuat yang perlahan membayang di balik baju tipisku ku.

Karena aku masih demam dan tubuhku masih lemah, Mbak Kirana yang meladeni teman-temanku. Seperti tipikal gadis Jawa yang nggrapyak (rame), supel dalam bergaul, tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk mengakrabkan diri dengan kawan sebayaku. Banyu sendiri barusan pulang dijemput Oom Bram, besok ada ulangan, katanya.

Perutku terasa semakin sakit, dan aku merasakan desakan di perut bawahku, entah ingin buang air kecil atau apa, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.

“Dik, kamu kenapa?” kata Mbak Kirana sambil mengusap-usap rambutku, berpura-pura menjadi kakak yang baik.

“Ndak tahu...” jawabku sambil meringis-ringis.

“Lha, Piye?”

“Kinan pengen pipis nih....”

Mbak Kirana memanggil perawat yang kemudian menyuruh teman-temanku menyingkir sebentar. Karena belum kuat berjalan, aku disarankan pipis di atas tempat tidur saja. Perawat itu kemudian mendirikan sampiran dan meletakkan alas plastik di atas tempat tidurku. Aku diperintahkan membuka baju rumah sakitku agar tidak belepotan, katanya. Lalu sebuah pispot berbahan metal diletakkan di bawah pantatku, dan kini aku siap menunaikan hajat.

Pipis di atas tempat tidur dengan pispot itu rasanya benaran aneh! Aku harus mengangkang di atas tempat tidur dengan pispot yang diletakkan di bawah pantatku, rasanya kok ya ndak sopan, ndak pantes sama sekali! Berkali-kali aku ngeden tapi kandung kemihku kok ya rasanya membatu.

“Piye, Dik?”

“Ndak ngerti mbak...,” ucapku dengan ekspresi mengejan dan wajah merah padam. “Ndak mau keluar...” mungkin karena pipis di tempat yang tidak seharusnya, dan menyadari di balik sampiran itu banyak ada teman-temanku, menyebabkan aku menjadi tegang.

“Lha, Piye...”

Aku menggeleng dengan ekspresi kebingungan, menguak labiaku dengan polosnya berharap agar pipisku bisa keluar dengan dibegitukan.

“Ya sudah, tak panggilkan suster ya....”

“Ndak usah, Mbak...”

“Wis to, ndak usah ngeyel.”

Mbak Kiran tiba-tiba membuka sampiran, pura-pura memanggil suster, tapi aku tahu, dia ingin mengerjaiku dengan mempermalukanku di depan teman-teman.

Panik, aku langsung menutupi dadaku yang ranum dengan lengan kiri yang masih diinfus, sementara tangan kananku menekap memekku, malu sekali rasanya.

“Mbaaaa!!!” erangku tanpa daya, berharap kakakku kembali menutup tirai kain tersebut, namun belasan pasang mata sudah keburu menyaksikanku yang telanjang dan mengangkang dengan memek tembem yang mulai mengucurkan air seni.

Aku langsung menekap memek kuat-kuat sambil berusaha menutup paha rapat-rapat, namun pipisku keburu muncrat dan merembes dari sela-sela paha dan jari.

“Auuuuhhhhhhhh.... nnnnnnnhhhhhh......” Aku mengatupkan geligiku, hingga bibirku cuma bisa mengeluarkan suara yang tersamar entah tangisan atau rintihan. Aku kelonjotan, kepalaku mendongak, seluruh tubuhku menegang karena malu yang luar biasa karena pipisku menyemprot seperti kuda kencing sambil ditontoni orang-orang.

Aku bisa melihat wajah teman-teman lelakiku seolah takjub melihat tubuh montokku, sementara setengahnya jengah melihat pemadangan porno di depannya, bahkan ada yang memalingkan wawah, tak tega melihat pemandangan super mesum itu.

Aaaaaaaah.... pinggulku melejang beberapa kali diiringi rintihan lirih dari bibirku yang setengah terbuka ketika memekku menyemprotkan pipis untuk terakhir kalinya. Aku membenamkan wajahku di bantal, tak punya muka melihat ekspresi teman-temanku. Menutupi dada dan auratku sebisanya, malunya luar biasa! Aku hanya bisa mendengar gumaman-gumaman memalukan yang membuatku menangis! Duh, Gusti, teganya aku dipermalukan seperti ini!


“Kamu itu pipisnya sampai muncrat-muncrat! Ngisin-ngisini wae!” Mbak Kiran mendelik sambil berkacak pinggang, meski aku tahu hatinya girang bukan kepalang melihat aku yang tergolek tak berdaya dengan memek dan paha yang belepotan lendir.

Mbak Kiran pura-pura membersihkan ceceran kencing dan lendirku dengan handuk kecil, tapi aku tahu dia hendak mengerjaiku lebih lanjut! Sengaja diusap-usapnya kelentitku, sambil jarinya yang lain digosok-gosok di belahan memekku yang licin dan becek, slllph.... sllllllph.....

“Mbak... jangan... Mbak....” bisikku lemah, tapi yang keluar malah rintihan-rintihan seksi, karena seperti ada yang berusaha hendak keluar dari memekku dan rasa itu semakin menggelelora dan menebarkan gelinjang kenikmatan ke sekujur tubuhku.

Pinggulku menggeliat pelan, dan seluruh tubuhku gemetaran menahan antara birahi dan rasa malu yang luar biasa besarnya. Aku hanya menatap nanar ke arah langit-langit, dan meremas bantal kuat-kuat, berusaha tidak menggelinjang dan menyuarakan puncak kenikmatan yang sebentar lagi tiba...

“Sudah to... kamu mbok ya nurut wae,” kata Mbak Kiran sambil tersenyum licik, sambil mengusap perut dan pahaku dengan washlap, tapi satu tangan kirinya diam-diam mencubit kelentitku, sambil satu jarinya merogoh ke dalam memekku, menggaruk dinding becek yang penuh saraf-saraf kenikmatan...

Sedetik kemudian cairan kenikmatanku menyemprot untuk kali kedua, diiringi oleh pinggul dan pantatku yang melejang-lejang tapi kutahan sekuat tenaga hingga bekas operasiku terasa sakit luar biasa,

Duh Gusti, apa salahku hingga aku dipermalukan seperti ini? Batinku sambil menangis, aku terisak pelan, tapi yang keluar malah dengusan-dengusan kenikmatan dari bibirku yang membuka...

Hatiku sakitnya bukan main, nelangsa bukan kepalang, baru pertama kali dipermalukan oleh orang yang benar-benar aku sayang.

“Kamu itu piye to, Dik? Tanganku malah dipipisi!” kata kakakku sambil mengangkat tangannya yang belepotan lendirku. Matanya mendelik, seolah menyimpan dendam kesumat yang siap dilampiaskan setelah dipendam bertahun-tahun.

Plakkk!!!! Aku ditampar.

Karena suasana yang semakin tidak enak, teman-temanku langsung undur diri satu persatu, meninggalkan aku menangis sesengukan. Aku tak habis pikir, kok ya tega sekali Mbak Kirana melakuukan semua ini

“17 tahun...” Mbak Kiran berkata dengan suara gemetar. “17 tahun aku jadi bayang-bayangmu, Dik... 17 tahun aku capek dibanding-bandingken karo kowe... Kinan yang nurut, Kiran yang bandel... Kinan yang sekolah tinggi-tinggi, Kiran yang ndak lulus SMA... Kinan yang alim... Kiran yang hamil di luar nikah.....” Mbak Kiran menggerutu panjang lebar seolah kini tak jelas siapa yang menjadi angsa, dan siapa yang menjadi itik buruk rupa. “Kamu tahu apa yang dibilang Ibuk sama aku...? aku... dibilang... lonte...”

“Ndak Mbak... Ndak...” kataku sambil memegangi bahunya. “Mbak Kirana itu luar biasa... Mbak itu cantik... ayu-nya luar biasa... Saya selalu ingin menjadi seperti Mbak Kiran,, tapi saya tahu... ndak bakal bisa...” aku berkata dengan mata berkaca-kaca, betapa aku sangat mengaguminya, betapa aku mengidolakannya. “Dan yang paling penting... Kinan sayang sama Mbak Kir-“ tanganku ditepis sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.

“Gara-gara kamu, Dik... gara-gara kamu....,” Mbak Kiran terenggah di antara amarah dan tangis yang hendak pecah, “ Gara-gara kamu... aku.... ndak pernah dianggap anak sama Ibuk!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena mataku penuh dengan linangan air mata. Pipiku memang sakit, perutku memang perih luar biasa, tapi tak ada yang lebih hancur selain hatiku. Mimpiku tentang kakak cantik yang selalu menyayangiku hancur, runtuh satu persatu bersama air mata yang tak henti-hentinya menetes.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar