Firza: Eksib Saat KKN 1


Aku tidak pandai menulis,aku hanya menceritakan pengalaman yang pernah terjadi padaku tentang eksibisi yang aku lakukan. Kali ini adalah cerita bersambung,tidak semua cerita yang aku tulis ini nyata,karena kejadiannya sudah terlalu lama,sehingga terlalu banyak hal yang aku lupa. Aku cuma mengembangkan beberapa sesuai imajinasiku agar cerita ini tetap menarik saja. Ada beberapa nama yg aku samarkan,untuk menutupi privasi orang lain yang ada dalam cerita ini.

Ini adalah cerita sekitar 5 tahun lalu,saat aku masih duduk di bangku kuliah. Saat itu universitas tempatku belajar mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana mahasiswa – mahasiswa diperbantukan ke desa – desa sekitar untuk belajar bersosialisasi sekaligus memajukan desa setempat dengan beberapa program yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Aku kebetulan mendapatkan bagian di suatu desa di selatan kotaku. Sebut saja di desa Rambutan. Desa ini berada di lereng pegunungan,sehingga udaranya dingin, setidaknya dibandingkan dengan kota tempat tinggalku yang panas sekali. Sampai-sampai hari – hari pertama di desa ini aku dan beberapa temanku selalu terkena flu karena udaranya yang dingin. Walaupun siang hari,beberapa lokasi di desa ini masih berkabut. Sekitar 1 minggu kemudian,aku dan kawan – kawan sudah dapat membiasakan diri dengan udara di desa rambutan.

Aku dipilih menjadi wakil koordinasi desa atau disingkat “wakordes”. Sedangkan Kordes di tempatku adalah cowok bernama Reza, anak Nusa tenggara Barat yang kuliah di jurusan Teknik Industri. Sedangkan aku sendiri saat itu mahasiswi fakultas ekonomi. Dalam 1 desa,tim KKN kami terdiri dari 4 laki – laki dan 6 perempuan,yang berasal dari fakultas yang berbeda pula. Aku,Silvi,Ria,Nike,Reni,Siti,F irman,Reza,Herman dan Rahmat

Ada 3 kamar di dalam rumah tersebut. Perempuan menempati 2 kamar dan laki-laki menempati 1 kamar. Diantara 6 perempuan yang ada,menurutku hanya aku dan temanku silvi yang tergolong modis dan hmm...bisa dibilang menarik. Beda penampilan kami berdua adalah dia memakai jilbab dan aku tidak. Tapi walaupun berjilbab,silvi bukan merupakan anak pendiam dan sok suci. Sejak KKN,kami berdua sangat dekat. Dia memiliki hobi dan kebiasaan yang hampir sama denganku yaitu renang dan suka godain cowok. Tapi dia bukan perempuan yang suka eksibisionis,karena itu saat aku cerita tentang pengalaman-pengalaman gilaku dia hanya kaget dan tertawa. Karena tidak pernah sekalipun dia melakukannya.

“kalau gitu jangan dekat-dekat aku,nanti kamu tertular” kataku

“ngga mungkin! Hahahahaha...” tertawanya keras suatu hari saat aku cerita tentang kebiasaan eksibisiku. Dalam hati aku berpikir,pasti banyak cowok yang suka ngeliatnya,karena silvi mempunyai kelebihan daripadaku,yaitu dia berjilbab,sehingga pasti cowok lebih penasaran dengan silvi.

HARI PERTAMA KKN. 8:00

“Ndut,kamu ntar tidur sama kita ya” kata silvi pada Ria,mengajaknya 1 kamar denganku dan silvi saat perjalanan menuju desa rambutan.

“jangan panggil ndut dong” kata Ria cemberut,menunjukkan pipi chubby nya semakin menggelembung. Tubuh Ria pendek tapi tumbuh ke samping alias gendut. Dia paling gendut diantara kami berenam,tapi dia selalu marah kalau dibilang gendut. Pada dasarnya dia juga anak yang asik. Mukanya yang oriental bikin gemes kami berenam sehingga kami selalu mengolok-oloknya meski tetap menghormatinya.

“iya,Ya,ntar kalau ternyata ngga cukup ranjangnya,kamu pindah ke kandang aja.biar dikira babi Hahaha....” seru Herman cowok hitam yang sejak awal selalu menjengkelkan dengan olok-olokan pedasnya.

Kami semua hanya diam mendengar olok-olokan jahatnya. Herman dan Ria sudah kenal sejak SMA. Mereka berasal dari kota dan SMA yang sama sehingga sudah terbiasa mengolok-olok Ria yang menurutku sangat jahat.

“udah jangan berisik. Nanti kalau udah sampai,jangan langsung ke rumahnya,kita mampir ke pak lurah dulu” kata Reza menenangkan suasana sambil tetap fokus menyetir mobil.

Akhirnya sekitar 1 jam kemudian,sampailah kami ber10 di desa rambutan. Saat itu pukul 9 pagi tapi suasana desa masih sangat sepi. Aku dan reza sebelumnya sudah pernah observasi ke desa ini untuk meminta izin ke kepala desa,jadi tidak terlalu kaget dengan suasana desa yang lebih banyak ditumbuhi pohon karet daripada rumah penduduk. Dengan sangat pelan kami menelusuri jalan desa yang becek mungkin karena malamnya hujan.

Aku hanya teringat film horor dimana ada beberapa anak muda yang bertamasya ke sebuah desa berhantu dan selalu dihantui hantu-hantu di sana. Aku memang orang yang penakut,tapi suka sekali menonton film-film horor.



“wah kalau malam jangan ada yang jalan sendirian nih,serem tempatnya” celetuk Agung yang duduk di depan menemani Reza,sambil melihat-lihat sekeliling.

“apalagi buat cewek. Soalnya kata pak carik (sekretaris desa) di hutan-hutan ini memang sepi sekali kalau sudah larut malam. Penduduk lebih suka berada di dalam rumah karena udara yang dingi banget kalau malem” Reza menimpali. Aku dan silvi yang duduk di jok tengah saling berpandangan ngeri membayangkannya.

Akhirnya kami sampai di rumah Pak lurah,yang bernama Anshori. Rumah pak anshori terbilang kecil sekali untuk ukuran seorang kepala desa. Mungkin karena di desa tidak mengenal korupsi,sehingga relatif pemimpinnya lebih sederhana,pikirku.

“permisi...assalamualaiku m!” teriak Reza saat kami sudah berada di depan pintu rumah pak anshori. Reza beragama kristen,tapi tetap melakukan salam karena kata Pak Lurah, semua penduduk desa Rambutan beragama islam. Toleransi.

“iya walaikumsalam!” dari dalam terdengar suara wanita menyahut . setelah keluar,aku tahu kalau dia adalah bu lurah,karena kami sudah pernah bertemu 1x saat aku dan reza observasi desa.

“bu,kita tim KKN yang kemarin sudah meminta izin untuk tinggal di desa sini” kata reza membuka obrolan

“iya,tadi bapak sudah pesan kalau ada anak KKN di ajak ngobrol dulu,sekarang bapak lagi besuk saudara jauh yang sakit di kota.” Jawab bu lurah yang kemudian mempersilakan kami duduk

Bu lurah adalah wanita setengah baya,usianya sekitar 40an,dan sudah dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Anak pertama baru lulus STM dan sekarang sedang mencari kerja di jakarta,anak ke 2 masih SMP kelas 3. Dia bersekolah di kota,yang jaraknya sekitar 20 km dari desa.

Lalu kamipun dipersilakan duduk. Sambil menunggu bu lurah membuatkan minuman,aku dan kawan-kawan melihat – lihat sekitar. Beberapa warga sekitar memandangi kami dengan penuh tanya. Karena kami saat itu mengenakan jaket KKN,mereka akhirnya pun mengerti kalau kami adalah tim KKN. “mbak,KKN di sini ya?” tanya seorang ibu dengan nada agak berteriak karena jarak kami yg cukup jauh. “iya,Bu.” Jawabku sambil tersenyum ke arah ibu yang sedang menggendong anak kecil itu. Kami serasa selebritis masuk kampung,karena semakin lama terlihat beberapa orang yg memandang kami sambil tersenyum menyapa ke arah kami. Orang di sini ramah,pikirku.

Tak lama bu Lurah keluar sambil membawa nampan berisi air teh hangat. Saya teman – teman kembali ke ruang tamu. Sambil mengobrol dengan bu lurah,kami menunggu pak lurah datang.

Ternyata waktu itu pak Lurah pulang sore sehingga kami langsung diantarkan bu Lurah ke lokasi kami akan menginap. Kami menginap di salah satu rumah penduduk,kami para perempuan dikagetkan dengan kondisi rumah penduduk yang kami tumpangi. Karena rumah Pak Lurah tidak memiliki cukup tempat untuk kami tumpangi,kami harus menumpang di rumah salah satu penduduk yg terbilang mampu di desa ini. Rumah tersebut memang sedang tidak dihuni karena pemiliknya mempunyai rumah lain di desa seberang.

Awal masuk rumah tersebut kami terkejut dengan kondisi kamar mandi yang ada benar – benar tidak layak. Karena terletak di belakang rumah dan tidak ada atap serta penutupnya hanya selembar handuk yang sudah agak usang. Kami para perempuan awalnya menolak tapi karena tidak ada tempat lain yang dapat kami jadikan tempat tinggal,maka kami hanya bisa pasrah. Dan karena udara di sana sangatlah dingin,aku hanya mandi 1x sehari,yaitu saat siang hari, dimana airnya sudah tidak terasa dingin. Pemilik rumah ini yang bernama Pak Sukur tinggal tak jauh dari desa ini. Kata bu Lurah biasanya pemiliknya datang seminggu sekali untuk membersihkan sekitar rumah. Pak sukur mempersilakan rumahnya ditempati oleh anak-anak KKN karena daripada rumah dibiarkan kosong lebih baik dimanfaatkan secara positif,kata bu Lurah mengulangi perkataan Pak Sukur.Lalu bu Lurah pamitan dan membiarkan kami bersih-bersih dahulu dan beristirahat.

Untuk makan,tiap harinya bu Lurah akan memasak untuk kami. Pastinya kami patungan untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak oleh bu Lurah nantinya.

Aku langsung meletakkan tas pakaianku di dalam kamarku. Aku ambil handuk dan pergi mandi. aku sedikit risih melihat handuk yang menjadi “pintu” penutup kamar mandi. Benar-benar sudah usang. Tapi aku cuek saja. Aku masuk kamar mandi terbuka itu. Mandi di sana serasa mandi di alam terbuka! Aku bisa lihat langit dan semilir angin dingin yang menerpa dari atasku. Di dalam kamar mandi itu ada pompa air tradisional,jadi sebelum mandi aku harus memompa airnya dulu. Dengan tanpa memakai sehelai benangpun aku memompa air. Saat itu aku horny dibuatnya,karena kamar mandi itu tidak terlalu tinggi,sehingga kalau kita berdiri,setengah kepala kita bisa terlihat dari luar,jadi aku yang ada di kamar mandi pun bisa melihat ke arah luar. Sambil memompa air,aku melihat teman-temanku yang sedang bersih-bersih halaman belakang rumah. Takut juga sih kalau-kalau ada yg melihatku sedang memompa dalam keadaan bugil. Tapi itu justru membuat darahku semakin berdesir. Horny.

Setelah mandi,aku keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang aku lilitkan. Aku sudah biasa melakukannya di rumahku sendiri,tapi saat itu kondisiku itu membuat teman-temanku laki-laki melotot dan ada yg bersiul. “wah seksinya yang habis mandi!” ledek Firman yang sedang menyapu. Aku hanya tersenyum dan berlari kecil masuk ke kamar. Sedikit malu sih,ternyata hal itu tidak biasa buat teman-temanku. “wow...berani amat sih kamu,Fir?” tanya Silvi yang ada di dalam kamar melihat aku hanya berbalut handuk , menenteng pakaian dan peralatan mandi. “dah biasa aku kayak gini di rumah,Vi.” Jawabku sambil menutup pintu kamar. Lalu aku buka handukku di depan silvi, dia terlihat risih melihatku telanjang total di depannya. “kenapa kamu,vi? Kan kita sama-sama cewek.” Kataku sambil mencari-cari kaos oblong di tasku,masih dengan kondisi telanjang.



“ya belum terbiasa aja kali ya... pantat kamu gede banget,Fir?” kata Silvi akhirnya memaksakan diri untuk terbiasa melihatku bugil.

“ya standar lah,Vi. Hehehe...” memang sudah banyak orang yg bilang begitu sehingga itu bukan hal baru di telingaku.

Setelah aku memakai pakaian,aku keluar membantu teman-teman lainnya untuk bersih-bersih rumah. Aku lihat Herman dan rahmat saling berbisik dan cekikikan sambil melirik ke arahku,aku cuek saja. Hmm..di timku ngga ada cowok yg ganteng,pikirku. Silvi yang berada di belakangku menarikku saat aku hampir menginjak tai ayam. Buset...tai ayam di dalam rumah.

12:30

Bu lurah datang ke posko KKN kami dengan membawa rantang berisi makanan. “mas,mbak,ini makan siangnya. Yang laki-laki minta tolong dong ambilin nasi di rumah ibu.” suara bu lurah terdengar berada di ruang tengah. Aku yang sedang tiduran dan mendengarakan musik langsung berlari ke ruang tengah,laperrr. “wah enak nih kayaknya,Bu. Kalau mau masak lagi,ajak saya ya bu,saya juga bisa masak kok” pintaku ke bu lurah. Bu lurah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda setuju.

Tak berapa lama kemudian reza dan firman datang dengan bakul nasi di tangan mereka. Makan siang pertama kami saat KKN,benar-benar berasa banget. Apalagi yang dimakan adalah makanan dese,baru pertama kali aku merasakannya,karena seumur-umur aku selalu tinggal di kota,di tengah keluarga yang terbilang berada.

16:00

Pak lurah berkunjung ke posko kami. Karena tadi pagi kami belum bertemu beliau. Pak lurah adalah pria berwajah agak garang,dengan kumis tebal di atas bibirnya,sangat bertolak belakang dengan istrinya yang murah senyum,pak lurah selalu berbicara dengan nada tegas dan berwibawa. Tapi aku justru suka dengan pria yang seperti itu,sayang beliau sudah berkeluarga.

“tadi ke sini naik mobil itu ya?” tanya pak lurah kepada reza sambil menunjuk mobil innova milik reza

“iya pak,soalnya kami bawa barang banyak”

“iya,ngga apa-apa. Cuma tanya aja kok”

Setelah berkenalan dengan kami semua dan berbincang – bincang mengenai keadaan desa ini dan apa saja yang mungkin bisa kami bantu,pak lurah pulang.

Lalu kami mengadakan rapat kecil,dan memutuskan untuk melakukan beberapa hal,termasuk diantaranya penyuluhan dan mengajar orang lanjut usia yang buta aksara.

23:00

Aku,silvi dan ria masuk ke kamar kami. Kami bercengkerama tentang segala hal termasuk kebiasaan aksibisionisku yang tentunya bikin 2 di depanku tercengang. Semakin malam,aku ngerasa semakin merinding,tapi tiba-tiba aku pengen pup ke kamar mandi. Aku ajak silvi,tapi silvi ngga berani Cuma berdua,akhirnya kita bertiga ke kamar mandi bareng. Di luar sudah sepi banget. Cowok-cowok juga udah pada tidur.

Setelah sampai kamar mandi,aku masuk kamar mandi lebih dulu. Airnya dingin banget. Setelah itu gantian 2 temanku itu. Tiba-tiba si silvi nantangin,”Fir,berani ngga kamu topless dari sini menuju kamar?katanya suka eksib?” “berani...siapa takut...”

Lalu aku perlahan berjalan menuju kamar diikuti teman-temanku di belakangku,lalu saat melewati kamar cowok yang saat itu pintunya ngga ditutup,jantungku berdegup,takut kalau ada yang belum tidur dan melihatku topless,karena saat itu lampu di ruang tengah menyala terang sekali. Dan benar saja saat aku lewat,Firman kaget dan setengah berteriak,”tuh siapa ya?”aku lari menuju kamar,teman-teman cewekku yang ada di belakangku cekikikan

Aku dengar dari kamar, firman tanya ke silvi,”siapa tadi?firza ya?ngga pake baju?”

“iya,tadi bajunya basah,jadi keluar ngga pake baju,dikira dah pada tidur,eh ternyata kamu belum tidur” jawab Ria

“wah mau dong liat lagi” kata firman


Aku yang sudah memakai kaos,kaget saat firman nyelonong masuk ke kamar.” Eh gila loe!untung dah pake baju” hardikku agak bernada tinggi

“owh,dah pake baju,ngapain tadi fir,ngga pake baju.kaget aku liat ada gunung berjalan.hahahaha..” canda firman sambil berjalan keluar

“sialan...” jawabku tersipu malu

Sejak saat itulah bukan hanya ria dan silvi aja yang tau kalau aku suka eksib,tapi semua teman KKN tau.dan sejak itu ngga tau gimana firman,reza dan herman seperti semakin ndeketin aku. Hmm....ada udang di balik sempak kayaknya.hahaha...

 

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar