Evelyn, My Naughty Wife 10: The Lust

 Credit to intimates



PoV : Evelyn

“Oughhh…. Stop…” desahanku semakin keras saat kurasakan getaran dildo yang sedang tertancap di vaginaku semakin keras, tapi bukannya berhenti, Papa justru semakin menekan dildo itu agar semakin dalam memasuki liang vaginaku. Ya, inilah “pembayaran” yang diinginkan Papa mertuaku, entah bagimana bisa dia telah mempersiapkan dildo berukuran jumbo ini.

“Pembayarannya simpel kok Lyn. Papa kasih kamu pilihan deh, kamu sepong papa lagi atau kamu masturbasi sendiri?” masih terngiang pilihan yang diajukan Papa mertuaku beberapa menit yang lalu. Aku yang sempat bingung memilih akhirnya dengan mantab memilih untuk bermasturbasi di hadapan mertuaku ini.

Kemeja yang kukenakan kini sudah sangat berantakan dengan kancing telah terbuka seluruhnya, sedangkan posisi dudukku sudah seperti orang mengangkang sehingga memamerkan vaginaku yang ditumbuhi rambut2 halus dan rapi. Kaca mobil yang gelap seolah mengurangi rasa cemas yang telah bercampur aduk dengan birahi yang menggelora. Aku sudah tanpa malu lagi mendesah dan berkata tidak karuan, kini nafsu telah menguasai diriku sepenuhnya.

“Ga rugi Papa punya menantu seksi seperti kamu Lyn, udah gitu murahan lagi.” Papa masih terus melecehkan diriku dengan perkataannya sejak kita berangkat tadi. Tetapi entah kenapa aku justru semakin bernafsu mendengar perkataan2 Papaku yang terus saja melecehkanku. Kuarahkan tangan kiriku ke bulatan payudara kiriku sedangkan tangan kananku kini menggerakan dildo yang masih tertanam di vaginaku yang sudah sangat basah.

“Iyah.. Lyn cewe murahan Pa… Lyn pengen kontol besar Papa…” aku benar2 sudah kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Sekarang ini aku hanya ingin mencapai orgasmeku untuk meredakan birahi yang meledak2 ini.

“Arghh…” aku kembali mendesah keras saat kurasakan tiba2 Papa memelintir puting payudara kananku.

“Enagh Pa… Puaskan Lyn Pa… Perkosa Lyn… Siksa Lyn..” tanpa sadar aku kembali meracau memohon untuk dipuaskan sambil tangan kiriku semakin kuat meremas payudara kiriku.

“Oughhhhh…” aku menjerit sambil tubuhku bergetar hebat saat akhirnya kuraih orgasmeku, orgasme hasil dari masturbasiku di samping Papa mertuaku sendiri. Melihat aku orgasme, Papa hanya tertawa lepas dengan pandangan seolah menghinaku.

“Tenang aja Lyn, nanti malam kontol Papa pasti bisa menikmati jepitan memekmu. Hahahah.” ucap Papa dengan santai sambil tangan kirinya masih terus memainkan puting payudaraku. Aku yang sangat lemas hanya bisa terdiam sambil memejamkan mata menikmati sisa2 orgasme yang baru saja melandaku.

“Aku tidak mau hanya diperlakukan seperti boneka seks, aku akan membuat Papa yang memohon untuk bisa menyetubuhiku.” tiba2 kembali terlintas niatan untuk menikmati hal tabu ini dengan Papa, dan aku yang akan memgang kendali atas semua ini.

Aku masih terus terdiam di sisa perjalanan menuju tempat pertemuanku dengan Pak Tono. Dan akhirnya setelah 10 menit berlalu kami telah tiba di tempat parkir pasar, akupun segera merapikan kembali pakaianku yang telah terbuka. Setelah merasa rapi, akupun segera membuka pintu mobil dan hendak turun dari mobil.

Tapi…..

“Papa yakin bisa menikmati vagina Lyn?” tantangku sambil tersenyum manis kepadanya yang tampak terkejut dengan ucapanku. Seolah tidak puas hanya mengejutkannya dengan ucapan, aku dengan sengaja mengarahkan tanganku untuk membelai penisnya yang masih terbungkus celana kolornya. Setelah kurasa cukup, akupun langsung meninggalkannya yang masih tampak terkejut dengan apa yang terjadi. Dengan menahan tawa, akupun berjalan menuju gerbang masuk pasar. Tetapi baru beberapa langkah aku merasakan pandangan para pria semua tertuju ke arahku, terutama pada bagian dadaku, dan akupun langsung menyadari apa yang mereka lihat. Mereka pasti melihat tonjolan putingku yang masih tampak jelas tercetak di kemejaku karena memang putingku masih mengacung tegang akibat masturbasiku di mobil tadi. Akupun dengan reflek segera mendekap tas tanganku di bagian dada untuk menyembunyikan fakta bahwa aku sedang tidak menggunakan bra di balik kemeja putihku ini.

Perasaan senang setelah mempermainkan Papa mertuaku kini perlahan digantikan oleh perasaan cemas saat beberapa pemuda mulai menggodaku, mereka memang tidak menghampiriku tetapi mereka terus menggodaku dengan ucapan2nya.

“Aku berani taruhan itu cewe ga pake beha bro.” ujar salah satu dari pemuda itu. Aku yang mendengar diriku dibuat taruhan entah kenapa justru membangkitkan birahi yang sempat padam beberapa saat lalu. Dan entah setan apa yang merasuki diriku, aku yang berpura2 tidak mendengarkan ucapan mereka justru sengaja menurunkan tanganku sehingga bagian dadaku kini tidak lagi terlindungi oleh tas tangan ku. Lalu dengan gerakan menggoda aku gunakan tangan kanan ku untuk mengibas2kan kerah kemeja putihku sehingga putingku kembali mengacung tegak karena tergesek dengan kain kemeja yang bergerak2. Keringat yang mulai mengucur karena panasnya cuaca dan panasnya api birahi semakin melengkapi pemandangan yang kupamerkan kepada mereka, kini kedua puting payudaraku benar2 terlihat jelas di balik kemeja putih yang mulai sedikit basah, bahkan bentuk dan warna putingku kini dapat terlihat dengan jelas. Tapi senekat apapun diriku, aku hanya berani sampai sebatas ini, aku tidak berani berbuat lebih, aku tidak ingin hal buruk terjadi kepadaku karena aku menuruti nafsu ku saja. Kulihat wajah pemuda2 itu tampak melongo terkagum2 dengan suguhanku, kulihat hampir kesemuanya menelan air liur mereka. Beberapa saat kemudian terdengar mereka mengeluh saat aku kembali menutupi area dadaku dengan tas ku lagi, bisa gawat kalau aku menggoda mereka lebih lama lagi. Entah kenapa dengan memamerkan tubuhku seperti barusan membuat vaginaku sangat basah dan gatal, kalau saja aku sedang berada di kamar tidur bersama dengan Alvin pasti aku akan langsung mengajaknya bercinta.

Apakah aku pecinta eksibisionis?

Apakah ini benar2 diriku?

Aku seolah tidak mengenal diriku yang sekarang ini, aku yang dulunya sangat setia dengan suamiku, kini telah mendapatkan kenikmatan dari beberapa lelaki lain dan parahnya aku sangat menikmatinya dan bahkan hati kecil ku mengharapkan lebih. Aku benar2 seperti wanita liar yang selalu haus dengan kenikmatan.

“Maaf Bu Evelyn, nunggu lama ya?” terdengar sapaan sopan Pak Tono yang tiba2 muncul dari belakang, sapaan yang tidak sesuai dengan kelakukannya. Bagaimana bisa dia berkata dengan sopan sementara tangan kanannya mengelus punggungku dan kemudian turun ke arah pantatku seolah sedang memeriksa apakah aku menuruti perintahnya dengan tidak menggunakan pakaian dalam.

“Terima kasih Ibu Evelyn sudah memenuhi permintaan saya.” kembali terdengar ucapannya yang masih sok sopan seperti biasa, padahal wajahnya sangat mesum. Tanpa menunggu jawabanku, dengan santainya Pak Tono merangkulku selayaknya sepasang suami istri dan menuntunku memasuki area pasar yang bisa terbilang agak kumuh. Setelah beberapa saat berkeliling di dalam pasar tanpa tujuan seolah hanya ingin memamerkan diriku, akhirnya kami berhenti di depan penjual sayuran. Penjual sayurannya adalah seorang pria tua, kurus, dan tidak bergigi, dia menjual sayurannya di lantai dengan hanya beralaskan kain plastik tipis.



“Bu, tolong pilihkan terong donk Bu, yang panjang dan besar ya.” katanya santai dan penuh makna. Baru saja aku hendak protes, tiba2 Pak Tono mengambil paksa tas yang sejak tadi kugunakan untuk menutupi area dadaku, sehingga kini aku berdiri di hadapan bapak tua penjual sayuran itu dengan puting yang tercetak jelas di kemejaku. Tapi hal itu bukanlah masalah terbesar, karena untuk memilih terong yang diminta Pak Tono aku harus berjongkok dan hal itu pasti akan membuat penjual sayuran itu dapat melihat vaginaku yang tidak terlindungi celana dalam. Akhirnya dengan perasaan berdebar akupun dengan perlahan berjongkok di hadapan penjual sayuran, dan dengan bersikap seolah tidak terjadi apa2 aku pun memilih terong yang diinginkan Pak Tono. Aku tidak berani menatap ke arah si penjual sayuran, aku terlalu malu untuk menatapnya, tapi sekilas dapat kulihat penisnya ereksi di balik celana kolornya, membuatku yakin bahwa dia sangat menikmati suguhan tubuh indahku.

Tapi kembali aku justru menjadi bernafsu saat tubuhku dipamerkan seperti ini, dipamerkan kepada orang yang tidak kukenal, dipamerkan kepada orang yang statusnya jauh dibawah ku. Puting payudaraku semakin tercetak dengan sangat jelas, vaginaku yang sudah basah terasa berkedut gatal. Aku sangat menikmati momen2 seperti ini, bahkan ketika sudah mendapatkan terong yang diinginkan Pak Tono, aku tidak langsung berdiri kembali, tapi justru memilih terong yang lain lagi, dan bahkan gilanya aku semakin membuka pahaku, memang tidak lebar tapi aku yakin bahwa ini cukup untuk membuat bapak tua di hadapanku ini melihat belahan vagina basahku.

“Berapa Pak terongnya?” suara Pak Tono menyadarkanku dari kegilaanku membuat aku dengan reflek merapatkan kembali pahaku.

“Pak, berapa terongnya?” Pak Tono kembali bertanya karena si penjual sayuran tadi tidak menjawab pertanyaannya.

“Eh maaf Pak.. Kenapa? Tadi ngelamun.” jawabnya singkat sambil matanya tetap menatap erat ke arah selangkanganku.

“Terongnya berapa Pak? Istriku ingin terong nih.” Pak Tono mengulang lagi pertanyaannya dengan memberikan penekanan pada kata “terong” sambil tersenyum mesum.

“Buat Lyn gratis boleh Pak?” tiba2 aku mengucapkan perkataan yang tidak sempat kupikirkan sambil kembali membuka sedikit paha ku, kembali memamerkan belahan vaginaku. Kali ini aku dengan nafas berat memberanikan diriku menatap wajahnya sambil tersenyum manis dan menggigit ringan bibir bawahku. Bapak tua itu terlihat melotot sambil terus melihat area selangkanganku sambil mengangguk setuju untuk memberikan terongnya secara gratis.

“Terima kasih ya Pak.” ucapku sambil segera berdiri dan bergegas menggandeng tangan Pak Tono untuk meninggalkan penjual sayuran yang masih terlihat kaget dengan rejeki yang dia dapat hari ini.

“Hahaha Ibu Evelyn nakal sekali ya.” bisik Pak Tono sambil tangannya meremas bongkahan pantatku. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang telah membuatku berubah sejauh ini, aku sadar bahwa ini bukanlah diriku, tapi entah kenapa pengalaman dilecehkan tanpa sepengatahuan Alvin dan eksibisionis seperti ini selalu sukses membangkitkan sisi liar di dalam diriku.

“Aku mau pulang Pak.” ucapku singkat yang hanya dibalas dengan anggukan kepalanya.

“Saya antar Ibu pulang, tapi sebelumnya mampir ke rumah kontrakan saya dulu ya Bu.” balasnya yang sontak membuatku bergidik membayangkan apa yang akan terjadi disana nanti. Tapi aku sudah sangat malu disini, jadi aku putuskan untuk menyetujui ajakannya. Akhinya kami pun meninggalkan pasar tradisional itu dengan menggunakan sepeda motor milik Pak Tono. Sepanjang perjalanan kulihat banyak sekali pengguna jalan lain yang menatap ke arahku atau lebih tepatnya berusaha mengintip ke dalam rok mini ku yang semakin terangkat ke atas karena posisi dudukku yang menyamping.

Setelah sekitar 15 menit akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah tua kecil yang tampak sepi, dan Pak Tono segera membuka pintu pagar dan kemudian menuntun masuk sepeda motornya, akupun hanya bisa berjalan di belakangnya mulai memasuki halaman rumah kontrakannya itu. Setelah membuka kunci rumah, Pak Tono dengan layaknya seorang lelaki sejati mempersilahkanku masuk duluan ke dalam rumah kontrakannya. Kulihat kondisi rumahnya sangat rapi, benar2 di luar perkiraanku.

“Istrinya dimana Pak?” aku mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikiranku.

“Istriku bekerja di pabrik dekat sini Bu, nanti sore baru pulang.” jawabnya singkat sambil mengunci pintu rumah dan berjalan menghampiriku. Aku yang sudah menduga apa yang akan terjadi disini hanya bisa pasrah saat dia memelukku sambil mulai menciumi leher dan telingaku, sedangkan tangannya telah menyelinap masuk ke dalam rok miniku. Aku yang memang sejak pagi terus dibayangi oleh nafsu menggebu2 akhirnya memutuskan untuk menikmati permainan dosa ini. Aku yang baru saja memutuskan untuk menikmati permainan dosa ini dengan hendak membuka celana panjang Pak Tono, tiba2 dikagetkan dengan suara pintu diketuk. Hal ini spontan membuat aku dan Pak Tono sangat kaget dan Pak Tono segera melepaskan pelukannya dan kamipun segera merapikan diri kami masing2.

“Ah kalian bikin aku kaget aja.” maki Pak Tono saat dia membuka pintu dan melihat kedua temannya berdiri di depan pintu.



“Lho… Siapa ini No? Cantik banget.” ujar salah satu temannya sesaat setelah masuk rumah dan melihat ku sedang berdiri di ruang tamu.

“Simpenan ku Din.” balas Pak Tono dengan bangga sambil menghampiriku dan kemudian merangkulku.

“Kalian mau ngajak main kartu lagi khan? Tapi aku lagi bokek nih.” lanjut Pak Tono kepada kedua temannya yang masih tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Kedua temannya masih tidak menjawab pertanyaan Pak Tono, mereka masih sibuk memandangiku dari atas hingga bawah terutama pada bagian dada ku yang tampak jelas sedang tidak menggunakan apa2 lagi di balik kemeja putihku.

“Gimana kalau Ibu Evelyn jadi taruhanku? Kalau aku kalah, Ibu Evelyn akan buka 1 pakaiannya.” ucap Pak Tono sambil menoleh kepada ku. Ucapannya kali ini sudah di luar batas, aku tidak bisa menerimanya lagi, tapi aku masih khawatir Pak Tono akan mengirimkan “paket” lagi seperti kemarin, akhirnya setelah berpikir cepat akhirnya aku hanya bisa menundukkan kepalaku, aku tidak bisa mengambil resiko yang membuat Alvin mengetahui apa yang selama ini terjadi kepadaku.

“SETUJU” teriak kedua lelaki yang mungkin seumuran dengan Papa mertuaku itu hampir bersamaan sambil tersenyum lebar.

Akhirnya mereka bertiga duduk di ruang tamu dengan meja kecil di tengah2 mereka, dan tampak Pak Tono mulai membagikan kartu pertanda perjudian yang melibatkan diriku akan segera dimulai. Belum juga kartu selesai dibagikan tiba2 salah satu dari temannya yang akhirnya kuketahui bernama Udin menghentikan pembagian kartu.

“Ton, itu Ibu Evelyn pasti mau nurut kalau kamu memang kalah? Ga percaya ah. Gimana kalau kamu kasih DP Ton.” seru Pak Udin dengan senyum mesumnya disusul anggukan kepala dari Pak Pri seolah sependapat dengan usulan Pak Udin. Melihat Pak Tono yang tampak bimbang, akhirnya Pak Udin memberikan usulan lagi untuk mempermudah Pak Tono mengambil keputusan.

“Gimana kalau DP nya kita dibolehin grepe2 toketnya sebentar Ton.” usul Pak Udin lagi.

Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Pak Tono menyetujui usulan kedua temannya itu tanpa meminta pendapat sama sekali kepadaku. Sejujurnya aku benar2 merasa terhina, bagaimanapun aku bukanlah seorang pelacur yang bisa dijadikan bahan taruhan seperti ini, apalagi yang mereka pertaruhkan adalah uang sejumlah 10 ribu rupiah, bagaimana bisa para lelaki tua ini mempertaruhkan diriku dengan uang sejumlah kecil itu. Tapi sekali lagi yang bisa kulakukan hanyalah terdiam mengingat memang kondisiku sangat tidak menguntungkan untuk melawan keinginan Pak Tono. Melihatku yang hanya terdiam sambil menundukan kepala, kedua teman Pak Tono itupun seolah tidak ingin membuang kesempatan lebih lama lagi, mereka secara bersamaan segera menghampiriku. Kini aku telah berdiri di tengah2 antara Pak Udin dan Pak Pri, dan tidak butuh waktu lama bagiku untuk dapat merasakan remasan kasar tangan mereka di kedua bongkahan payudaraku yang hanya terlindungi selembar kain kemeja ini.

“Ini toket super banget ya Pri, putingnya mancung banget nih.” ucap Pak Udin sambil mulai memelintir putting payudara kananku. Mendapat rangsangan seperti ini mau tidak mau mulai membangkitkan nafsu liarku, desahan pelan pun mulai keluar dari mulutku. Saat aku mulai terhanyut dalam permainan tangan kedua lelaki tua ini, tiba2 Pak Tono menghentikan aksi mereka dan mengajak untuk memulai perjudian mereka.

Akhirnya kartu telah dibagikan secara rata dan mereka memulai perjudian yang melibatkan tubuhku ini, tubuh indah yang hanya dibandingkan dengan uang 10 ribu. Aku yang tidak begitu memahami dengan permainan kartu itu hanya bisa berharap agar Pak Tono dapat memenangkan permainan ini, sehingga aku tidak perlu membuka pakaian ku di hadapan para pria mesum ini, pria yang baru saja aku tahu namanya. Tiba2 di tengah permainan Pak Tono menarik lenganku dan membisikan sesuatu kepadaku.

“Ibu harus goda mereka, biar mereka tidak konsentrasi kalau Ibu tidak mau telanjang di hadapan mereka.” bisiknya sambil sesekali menjilati daun telingaku. Mendengar bisikannya itu aku hanya bisa terdiam, bagaimanapun aku bukanlah seorang wanita penggoda, aku tidak bisa melakukan perbuatan hina ini pada mereka, akhirnya aku memutuskan untuk tetap diam berdiri sambil berharap agar Pak Tono berhasil memenangkan permainan ini.

“YEAHHH…” teriak Pak Pri sambil membanting kartu terakhirnya, dilihat dari raut wajahnya saja sudah dapat aku pastikan bahwa dia telah memenangkan permainan ini. Seketika rasa cemas dan takut langsung membungkus diriku sepenuhnya, tapi anehnya di antara rasa cemas dan takut itu juga bercampur rasa penasaran dan birahi yang selalu muncul setiap aku dipaksa memamerkan tubuh indahku.

“Ayo Bu dibuka bajunya, atau buka rok nya juga gapapa.” ucap Pak Pri tampak tidak sabar untuk dapat melihat tubuhku dengan lebih jelas. Tampak Pak Udin juga begitu antusias mendukung ucapan Pak Pri, bahkan dengan kurang ajarnya dia menawarkan bantuan kepadaku untuk membuka kemeja putihku. Akhirnya dengan tangan gemetar akupun mulai membuka perlahan kancing kemejaku, setelah seluruh kancing terbuka aku pun membalikkan badanku dan kemudian melepaskan satu2nya kain pelindung tubuh bagian atasku itu, aku terlalu malu bila harus bertelanjang dada di hadapan mereka secara langsung. Akhirnya kain kemeja putih itupun terjatuh di lantai di samping kaki ku, dengan perasaan malu akupun menyilangkan kedua tanganku untuk menutupi bongkahan payudaraku yang tidak bisa kusembunyikan seluruhnya. Terdengar tawa dan siulan dari ketiga lelaki bejat yang berada di belakangku ini, sesekali juga kurasakan tangan Pak Tono dengan usilnya mencolek punggungku yang sudah terpampang jelas dihadapan mereka. Belum habis rasa maluku, tiba2 ada sepasang tangan muncul dari belakang dan langsung membelai perut rampingku, kemudian kembali terdengar bisikan serupa yang tadi sempat kudengar.



Akhirnya terdengar ajakan dari Pak Udin untuk melanjutkan permainan, aku yang masih berdiri bertelanjang dada membelakangi mereka terus berpikir apa yang harus aku lakukan. Diantara perang batin yang sedang kuhadapi, tiba2 muncul sebersit ide gila, bagaimana kalau aku tidak membantu Pak Tono? Entah kenapa tiba2 muncul fantasi bagaimana bila aku bertelanjang bulat di hadapan mereka bertiga sekaligus? Memikirkan itu semakin membuat vaginaku membanjir, bahkan aku dapat merasakan bahwa cairan kewanitaanku mulai meleleh keluar hingga ke paha bagian dalam ku. Tapi aku rasa aku belum memiliki cukup keberanian untuk mewujudkan fantasi gilaku itu, tapi hati kecilku menuntut untuk mewujudkan fantasi liarku itu.




Apakah aku harus mewujudkan fantasi liar ku?


Apakah aku harus menggoda mereka?


Bagaimana aku menggoda mereka?





To be continue…

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar