Evelyn, My Naughty Wife 12: The Past

 Credit to intimates


PoV : Evelyn

“Oughh… Terus Pak…” erangku menikmati gesekan terong dengan dinding dalam vaginaku. Bapak tua penjual sayuran itu semakin bersemangat menggerakkan terong yang dipegangnya untuk keluar masuk vagina ku yang terpampang jelas di hadapannya. Dengan posisi berjongkok serta kedua paha terbuka lebar di hadapannya seperti ini benar2 memudahkan Pak tua itu untuk melancarkan aksinya. Dapat kurasakan vaginaku benar2 terasa penuh terisi oleh terong yang berukuran sangat besar itu, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa terong dengan ukuran sebegitu besarnya akan dapat terbenam seluruhnya dalam vaginaku yang sempit ini.

NIKMAT…

“Ohh.. Uhh…” eranganku semakin cepat dan keras seiring dengan gerakan terong di dalam vaginaku ini.

“Bu… Maaf Bu.. Kita sudah sampai.” samar2 terdengar suara lelaki asing disertai dengan sentuhan pada bahu kanan ku yang perlahan mulai menyadarkan diriku. Dengan nafas masih memburu, perlahan kubuka mataku hingga akhirnya kusadari aku berada di dalam taxi yang terpakir di depan sebuah tanah kosong di dekat rumahku.

“SIAL… Ternyata mimpi.” umpatku dalam hati. Tapi… Tapi kenapa justru aku menyesali karena itu hanyalah sebuah mimpi? Apakah hati kecilku benar2 menginginkan mimpi barusan menjadi kenyataan? Aku segera menepuk kedua pipiku dengan tujuan menyadarkan diriku dari semua angan2 gila yang mengusikku. Setelah beberapa detik menenangkan hati dan pikiran, aku mulai memperhatikan kondisi diriku dan sekelilingku, dan apa yang kulihat langsung membuat tubuhku bergidik. Aku melihat diriku sendiri kini sedang duduk di kursi belakang sopir dengan posisi mengangkang dengan lebar, dan aku dapat meyakini bahwa sopir taxi yang kini masih berdiri mematung di samping kananku dengan pintu terbuka pasti dapat melihat sebagian besar paha ku dan mungkin bahkan dia bisa melihat vaginaku yang tidak terlindungi oleh celana dalam. Membayangkan itu semakin membuatku bergidik, tetapi ternyata bukan hal itu saja yang mengejutkanku. Dengan kedua tangan yang masih berada di kedua pipiku, aku dapat merasakan tangan sebelah kananku basah dan aroma yang tercium sangatlah aku kenal, aroma cairan kewanitaanku sendiri. Apakah mungkin aku bermasturbasi saat sedang bermimpi tadi?

“Stop.” teriakku dalam hati yang membuatku tersadar dengan kondisiku. Aku segera memasang wajah ramah seolah tidak terjadi apapun, dan mengatakan kepada sopir taxi bahwa rumahku masih beberapa meter di depan. Kulihat sopir taxi itu terdiam beberapa saat hingga akhirnya menutup kembali pintuku dan kembali masuk ke tempatnya untuk menjalankan taxinya menuju rumahku.

Kini aku benar2 telah sampai di depan rumahku yang terlihat sepi, dengan segera kubayar ongkos taxi yang tertera di argometer. Sebenarnya aku sempat bingung dengan biaya nya yang terbilang tidak wajar, biayanya benar2 mahal. Tapi aku saat ini terlalu malu untuk berdebat dengan sopir taxi itu mengingat semua yang terjadi tadi, dan kondisi pakaianku yang bisa dibilang setengah telanjang ini semakin memaksa ku untuk dengan segera masuk ke dalam rumah.

“Berapa lama dia berhenti tadi? Kok bisa sampai semahal itu?”

“Apa dia tahu yang terjadi padaku?”

Pertanyaan2 mulai terlintas dalam kepalaku untuk mencoba memahami apa yang terjadi saat aku tertidur. Semakin mencoba menebak, semakin aku penasaran, hingga akhirnya aku menemukan fakta dari segala pertanyaanku. Aku menemukan noda sperma pada kemeja putihku, tepat di daerah puting payudara kananku, dan aku yakin bahwa itu bukan sperma Pak Tono dan teman2nya.

Sopir taxi itu pasti beronani disampingku sambil menikmati pertunjukan yang kusuguhkan tadi.

Membayangkan kenyataan itu ternyata bukannya membuatku marah, namun justru membangkitkan gairah liar ku sebagai seorang istri yang tadi gagal mendapatkan orgasme dari ketiga penis lelaki tua yang bukan suaminya sendiri. Tanpa kusadari dan kuperintah, tangan kanan ku dengan gemetar mengusap sperma di kemejaku itu dan kemudian mengarahkannya kepada mulutku. Dengan perasaan berdebar2 akhirnya kujilati lelehan sperma di tangan kananku, sedangkan tangan kiriku kini sedang meremasi payudara kiriku sendiri.

Seolah tidak puas hanya dengan permainan tanganku sendiri, dengan tergesa2 aku segera berjalan menuju dapur sambil mulai menelanjangi diriku sendiri. Kondisi rumah yang sepi dan tidak ada orang lain membuatku memutuskan untuk bertindak dengan gila. Kemeja putih dan rok miniku kini telah berserakan di sepanjang jalan menuju dapur.

“Ada…….” girangku dalam hati saat membuka persediaan sayuran yang kemarin dibawa oleh kedua mertuaku. Kuambil dan kucuci bersih timun dengan ukuran sedang yang kini telah berada dalam genggaman tanganku. Mimpi tadi mengambil peranan penting dalam keputusanku untuk memuaskan diri dengan menggunakan timun ini, aku ingin menikmati sensasi yang tahun lalu pernah kurasakan itu.

Sambil menjilati timun dalam genggamanku ini, aku berjalan menuju sofa yang berada di ruang keluarga, aku sudah tidak mempedulikan lelehan cairan kewanitaan ku yang mengucur deras dari liang vaginaku. Begitu sampai di sofa, aku segera duduk dan menaikkan kedua kakiku ke atas meja yang berada di depanku dengan kedua paha terbuka lebar. Kugesekkan timun yang terasa dingin itu pada bibir vaginaku yang sudah basah kuyup. Tangan kiriku mulai meremasi payudaraku sambil sesekali bermain dengan putingnya.



“Ughhh…” erangku keras saat perlahan kumasukkan bagian ujung timun itu ke dalam liang vaginaku.

Kupejamkan mataku menikmati sensasi yang telah lama tidak kurasakan ini, pikiranku pun melayang mencoba mengingat kejadian gila setahun lalu.


================================================== ====================


“King or Slave?” tanya Alvin kepadaku yang sedang berbaring di tempat tidur kami dengan telanjang bulat. Permainan ini sering menjadi variasi dalam hubungan percintaanku dengan Alvin yang selalu mendapatkan ide2 nakal untuk memuaskanku.

“Slave.” jawabku pelan dengan wajah malu. Entah kenapa tiba2 kupalingkan wajahku ke samping dan kutarik selimut untuk membungkus tubuh telanjangku yang telah sejak tadi tersaji di hadapannya, aku masih saja malu untuk mengakui bahwa diriku lebih suka menjadi “Slave” yang harus pasrah menerima perintah dan perlakuan “King”. Aku dapat merasakan Alvin turun dari tempat tidur dan menuju lemari pakaian kami untuk mengambil sesuatu, aku yang penasaran tentang apa yang akan dilakukannya tetap terus menahan diri untuk tidak menoleh, aku menginginkan kejutan nakal dari suamiku ini.

“Ayo dipakai Lyn, my slave.” perintah Alvin sambil tangannya berusaha memakaikan blindfold hitam yang biasa dia gunakan saat tidur dalam kendaraan. Sesuai peraturan permainan ini, aku sebagai slave harus menuruti semua perintah Alvin sebagai king. Kuangkat sedikit kepalaku untuk memudahkan Alvin memasangkan blindfold yang menutup pandanganku dengan sempurna. Setelah blindfold terpasang, kudengar Alvin melangkah keluar kamar meninggalkan ku sendiri. Tidak berapa lama kemudian Alvin kembali ke dalam kamar, menutup dan mengunci kamar yang akan menjadi tempat kami berpacu mengejar kenikmatan.

Tiba2 tanpa bersuara apapun, kurasakan tangan dan kakiku diikat dengan menggunakan sebuah tali halus. Kini posisiku telah berbaring dengan mata tertutup di tengah tempat tidur dengan kedua tangan dan kakiku terikat ke keempat ujung tempat tidurku. membuatku berposisi seperti huruf X di tengah tempat tidur. Setelah dirasa cukup dengan ikatannya, kurasakan Alvin mengangkat pantatku dan meletakan sebuah bantal untuk mengganjal bagian bawah pantatku sehingga kini belahan vaginaku terpampang dengan jelas.

“Aku nda sendirian lho Lyn disini, banyak temen ku yang berdiri di sekelilingmu. Mereka bilang pengen lihat tubuh indahmu.” bisik Alvin di telingaku.

“Uhhh….” nafasku terasa berat saat mendengar suamiku sendiri berkata seperti itu, aku tahu Alvin hanya berbohong tetapi tidak dapat kupungkiri bahwa bisikannya telah membuatku berfantasi dan aku memutuskan untuk menikmati fantasi ini.

“Ayo Vin…” desahku berharap Alvin segera melengkapi fantasi ku ini.

“Pak Tono, ayo kamu puaskan putri dari boss mu ini.” ujar Alvin sengaja menyebutkan nama tukang kebun yang bekerja di rumah orang tua ku.

“OUGHHH…..” lenguhku keras saat kurasakan sebuah tangan mengelus bongkahan payudara kananku, elusannya terkadang disertai dengan remasan2 lembut namun tidak pernah sekalipun menyentuh payudaraku yang kini telah berdiri tegak. Dengan mata tertutup seperti ini, seluruh indra perabaku benar2 berfungsi dengan lebih baik dan lebih sensitif, setiap sentuhan2 nakal pada kulit payudaraku benar2 membuatku bergetar heboh, bagaikan wanita yang diberikan obat perangsang, aku benar2 menggeliat2 liar hanya karena sentuhan pada payudara kananku.

“Please Vin… Putingnya… Oughhh…” erangku berharap Alvin menghentikan siksaan kenikmatan ini dengan memberikan sentuhan pada putingku juga. Namun apa yang kudapat selanjutnya jauh lebih nikmat dari sekadar harapan sementaraku. Tiba2 kurasakan ujung lidahnya yang basah menyentuh ujung puting kiri ku, permainan Alvin malam ini benar2 membius diriku, permainannya benar2 terasa sempurna. Tanpa diperintah, kuangkat dadaku sehingga kini lidahnya telah menyapu puting kiriku seluruhnya. Jilatan dan bahkan gigitan ringannya pada puting ku benar2 terasa jauh lebih nikmat dibandingkan saat aku dapat melihatnya melakukannya.

Seolah tidak ingin aku beristirahat, Alvin segera menggerakan tangan kanannya yang tadi mengelus payudara kananku menuju ke vaginaku yang sudah sangat menuntut untuk dipuaskan. Tapi sekali lagi Alvin sengaja ingin mempermainkanku, dia hanya membelai dan mengelus lembut paha dalamku dekat area selangkanganku.

“Ayo Vin… Masukin.” erangku lagi setengah berteriak memerintah seolah lupa statusku sebagai slave saat ini. Tapi kali ini rupanya Alvin tidak berniat menuruti keinginanku, dia masih tetap membelai paha dalamku sambil sesekali sengaja membuat beberapa jarinya menyenggol klitorisku. Aku tidak bisa bertahan lagi menghadapi kenikmatan ini.

“ARGhhhhhhhh…” desahku sambil seluruh tubuhku terlonjak2 saat kudapatkan orgasmeku, aku mendapatkan orgasme dahsyatku hanya dengan permainan lidah dan jari tangannya, ini benar2 luar biasa nikmat.


Tubuhku masih bergetar menikmati sisa2 orgasmeku saat tiba2 kurasakan Alvin menyentuhkan penisnya di pipi kananku, aku tanpa diminta segera menolehkan wajahku ke kanan untuk mengejar penisnya, dan segera saja kujilati kepala penisnya yang terasa sangat kaku. Tiba2 sesuatu yang mengejutkan terjadi, aku merasakan sesuatu yang tumpul di pipi kiriku. Bagaimana bisa ada 2 penis menyentuhku bersamaan? Belum hilang rasa bingungku, tiba2 penis yang menyentuh pipi kiri ku menjauh, dan beberapa saat kemudian kurasakan penis itu telah menggesek bibir vaginaku yang telah basah.

“Vin??” tanyaku bertanya berharap Alvin paham maksud pertanyaanku.

Tanpa ada suara apapun, kurasakan penis itu dengan perlahan memasuki liang vaginaku. Teksturnya benar2 beda dengan penis suamiku, penis ini terasa sangat kaku, keras dan besar. Vaginaku benar2 terasa penuh saat ini.

“OUghhh.. Terus Pak Tono.. yang dalam.. enakkk pak…” erangku seolah lupa dengan kehadiran suamiku disini. Saat ini aku benar2 diperkosa dengan buas oleh “Pak Tono, tukang kebun orang tuaku”, aku sudah tidak malu lagi mendesah sambil menyebut nama Pak Tono sambil masih terus menjalankan tugasku mengulum penis suamiku sendiri.

“Terus Lyn… Aku mau keluar.” erang suamiku saat kurasakan otot2 penisnya semakin membesar menandakan dia akan segera ejakulasi.

“Sama Vin… Lyn juga mau keluar.” erangku sambil masih terus menikmati hujaman penis Pak Tono yang masih tetap kokoh bersarang di dalam vaginaku.

Tidak berselang lama, lenguhan ku dan Alvin pecah, kami berdua telah berhasil mendapatkan puncak kenikmatan luar biasa malam ini. Gerakan penis di dalam vaginaku pun terhenti seolah sengaja memberiku kesempatan untuk mengatur nafas. Tiba2 kurasakan Alvin membuka ikatan kedua tanganku, dan begitu terlepas aku segera mengarahkan tanganku untuk membuka blindfold yang sejak tadi menutupi pandanganku. Dan alangkah terkejutnya diriku saat melihat yang tertancap di vaginaku adalah sebuah timun dengan ukuran besar. Seperti penasaran, aku mengarahkan tanganku meraih timun yang masih tertancap di vaginaku, bukan untuk mencabut timun itu, tapi untuk menggerakan lagi timun itu. Kali ini aku bermasturbasi menggunakan timun di hadapan suamiku yang tersenyum puas. Akhirnya dalam beberapa menit kemudian aku berhasil meraih orgasme keduaku malam ini.

“Thanks ya Vin… Lyn puas banget.” ucapku sambil tersenyum dan kemudian mengarahkan timun yang sangat basah oleh cairanku itu ke dalam mulutku sendiri.


================================================== ====================


“Oughh… Aaghhh…” akhirnya kuraih orgasme ku di atas sofa ruang keluargaku yang telah basah oleh cairan kenikmatanku. Setelah beberapa saat mengatur nafas, aku segera bangkit dan membersihkan semua bekas2 masturbasiku barusan masih dalam keadaan telanjang.

“Kelihatannya seru banget Lyn.” tiba2 terdengar suara Papa mertuaku, karena terlalu asyik bermasturbasi aku sampai tidak sadar akan kehadirannya. Aku hanya bisa diam sambil berusaha menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tanganku dan bergegas meninggalkan ruang keluarga untuk menuju kamar ku. Begitu masuk dan mengunci kamarku, aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam orgasmeku barusan, entah kenapa diriku mengharapkan mendapatkan pelecehan dari lelaki selain suamiku untuk mendapatkan orgasmeku. Bahkan hati kecilku sempat kecewa saat kusadari Papa mertuaku tidak mengikutiku ke kamarku.




Apakah aku sudah sebegitu liarnya sampai menginginkan mertuaku sendiri?



Apakah aku benar2 ingin dilecehkan seperti saat di pasar tadi pagi?





To be continue…..

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

2 komentar: