Evelyn, My Naughty Wife 2: The Untold Stories

Credit to intimates


Point of View : Evelyn

"Baliii..." seruku sambil merentangkan tangan menikmati angin sepoi2 khas Pulau Dewata ini saat kami keluar dari pintu pesawat. Seolah2 semua beban dan perasaan bersalah kepada Alvin, suamiku hilang seketika. Yah, sejak keluar dari ruang pemeriksaan di bandara tadi pikiranku dipenuhi dengan rasa bersalah, tapi yang membuatku jengkel pada diriku sendiri rasa bersalah itu tanpa disertai dengan rasa penyesalan. Jujur kejadian di ruang pemeriksaan tadi benar2 sesuatu yang baru dalam hidupku, dan ternyata aku sangat menikmatinya.

"Woiii Lyn....." teriak suamiku. Aku yang kaget mendengar teriakannya langsung menoleh ke arahnya yang berada di belakangku.

"Apa sih Vin teriak2?" sahutku sambil memasang wajah cemberut karena suamiku ini telah mengganggu kesenanganku. Dia tidak menjawab, hanya memelototkan matanya untuk memberi kode kepadaku. Kuperhatikan tatapannya ternyata ke arah kedua payudaraku, akupun spontan menurunkan pandanganku ke arah payudaraku.

Dan...... "Upsss.... Kok Vin ga ingetin Lyn sih." reflek aku segera menyilangkan kedua tanganku di bagian payudaraku. Aku benar2 lupa kalau aku sedang tidak memakai bra. Kuperhatikan tank top ku tidak bisa menyembunyikan keberadaan kedua putingku ini, walau memang hanya terlihat samar namun jika diperhatikan pasti akan ketahuan kalau aku sedang tidak menggunakan pelindung apapun di balik tank top ku ini. Apalagi dengan merentangkan tangan seperti tadi, pasti tonjolan putingku semakin terlihat jelas. Ahhh hal itu benar2 membuatku malu, tapi..... entah kenapa bagian vagina ku tiba2 merasa basah membayangkan ada orang yang mengetahui bahwa aku tidak menggunakan bra.

Alvin tertawa saja melihat reaksi kaget dan maluku. Melihat suamiku tertawa seperti itu seolah2 aku merasa telah dimaafkan, aku tahu bahwa Alvin sangat mencintaiku dan tidak sanggup melihatku bersedih. Dalam hatiku aku berkata bahwa aku harus segera melupakan petualangan ku tadi demi suamiku dan diriku sendiri tentunya.

Saat akan memasuki ruang kedatangan, tiba2 suamiku menarik lenganku untuk memperlambat jalanku. Aku yang tidak mengerti alasannya hanya menurut saja, setelah kami berada paling belakang tiba2 "Lyn, lepasin dulu vibratornya, aku ga mau kejadian seperti tadi terulang lagi."

Ucapan suamiku ini benar, tapi entah kenapa pikiranku justru kembali melayang mengingat kejadian tadi. "Ga mungkin Lyn lepasin vibratornya di tempat terbuka gini Vin, lagipula Lyn sudah janji untuk pakai vibrator ini terus kan." aku sendiri kaget bagaimana bisa aku spontan menjawab seperti itu. "Lagipula kan kalau di bagian kedatangan tidak ada pemeriksaan badan yang ketat." lanjutku mencoba memberikan penjelasan yang logis. Aku tidak mau suamiku mengganggap diriku "nakal", dan memang diriku bukanlah wanita seperti itu.

"Oke" jawabnya singkat.

Aku pun bergegas memasuki ruang kedatangan dan menuju tempat pengambilan bagasi. 1 menit kutunggu, 3 menit kutunggu tetap saja koper kami belum terlihat. "Ah itu diaaa..." teriakku dalam hati ketika melihat tas kami. Ketika tas kami lewat di depan ku, aku pun segera membungkuk untuk mengambilnya dikarenakan memang posisinya hanya setinggi lutut.

Tiba2 saat membungkuk aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku, dan saat aku mengangkat kepalaku, di depanku ternyata telah berdiri seorang pemuda berusia sekitar 16 tahunan yang juga sedang menunggu kopernya. Kulihat dia sedang menatap tajam ke arah dadaku yang terekspos dikarenakan bagian leher tank top ku yang terbuka. Tatapannya seolah2 sedang menelanjangiku!

"Apa dia tahu aku tidak pakai bra? Apa dia bisa melihat belahan payudaraku? Apa dia bisa melihat putingku?" pikirku. Aku ingin menegurnya, namun apa yang aku lakukan selanjutnya justru sebaliknya. Setelah mengambil tas, aku justru membungkuk lagi sambil berpura2 memeriksa kondisi tas kami.

"Parahhh!" aku pun mengutuk diriku sendiri, tapi... aku benar2 menikmati sensasi ini.

"Ayo Lyn, aku sudah dapat taxinya." tiba2 aku dikejutkan panggilan suamiku dari arah pintu keluar.

Aku segera berdiri, menatap anak muda di depanku dan tersenyum kepadanya lalu berlari kecil ke arah suamiku.

================================

Akhirnya kami berdua telah sampai di hotel kami di Nusa Dua. Hotel ini lebih cocok disebut sebagai private villa dikarenakan hanya menyediakan 20 villa2 kecil yang saling terpisah. Di setiap villa tersedia kolam renang kecil, namun juga tersedia kolam renang besar dilengkapi dengan jacuzzi di tengah area hotel.

Begitu memasuki kamar villa, kulihat Alvin segera merebahkan diri di tempat tidur. Aku yakin dia pasti sangat kelelahan karena hanya sebentar saja dia sudah tertidur dengan kaki masih menggantung di bibir tempat tidur.

Karena menganggur, aku berencana untuk berenang di kolam renang di dalam villa kami. Aku segera bangkit dan melepaskan tank top, rok mini, serta CD ku. Saat melepas CD ku kulihat vibrator yang sejak pagi kupakai dalam keadaan basah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mengingat kejadian gila yang telah terjadi sepanjang hari ini.

Kubuka koper kami, dan kuambil bikini 2 piece yang memang telah aku siapkan untuk liburan kali ini. Kupakai bikini itu, sambil melihat kaca besar yang ada di tepi ruang kamar tidur, aku menatap tubuhku yang setengah bugil ini dengan rasa bangga. Payudara 34b dengan puting merah muda mengacung ku pasti akan membuat pria manapun menginginkan tubuh ku ini. Tanpa kusadari tanganku telah meremas2 payudaraku membuat putingnya semakin mengeras, tapi segera kuhentikan kegiatanku itu.

==============================

"Segarnyaaa..." gumamku ketika tubuhku yang hanya berbalut bikini hitam ini sudah terendam air seluruhnya. Akupun sempat berenang sebentar, setelah merasa agak capek, akupun keluar dari kolam renang dan duduk di bangku panjang di samping kolam renang.

Entah apa yang kupikirkan, tiba2 aku merasa horny. Tanpa kuperintahkan tangan kananku sudah menangkup dan meremas lembut payudara kananku. Seolah tidak cukup hanya bermain dengan payudaraku, tangan kiriku bergerak masuk ke dalam CD ku. Kurasakan vaginaku telah benar2 basah. Akupun menggesek2an jari tengahku di klitorisku.

"Ahh... Uhhhhhh... Pak Tono..." aku mendesah tak karuan, dan kenapa aku menyebut nama petugas bandara gemuk itu??? Apa yang kulakukan??? Aku masturbasi sambil membayangkan pria selain suamiku yang memuaskanku??? Aku ingin mengusir bayangan Pak Tono, tapi tetap saja selalu muncul bayangan penis hitamnya di pikiranku.

Akal sehatku pun akhirnya mengalah kepada nafsuku. Aku memejamkan mataku sambil mengingat setiap detil kejadian di ruang pemeriksaan tadi pagi.

==================================



*Ceklekk* kudengar pintu yang baru saja kumasuki telah ditutup dan dikunci. Ruangan ini seperti ruangan untuk interogasi yang sering kulihat di televisi, ruangan dengan meja ditengahnya dan kaca besar di sisi nya. Walaupun sempat cemas ketika diminta masuk ruangan sendirian dan meninggalkan suamiku di luar ruangan, aku akhirnya lega ketika melihat suamiku ada di seberang sisi kaca. Namun aku melihat suamiku seperti kebingungan, seolah dia tidak bisa melihatku.

"Silahkan duduk Bu....." kata petugas yang ternyata sudah duduk di sisi seberang meja.

"Evelyn" jawabku seraya duduk di kursi kayu yang tersedia.

Setelah itu dia bertanya2 tentang segala identitasku. Akupun mulai tenang karena kuperhatikan petugas bandara ini cukup profesional. Tapi ternyata dugaanku ini hanya bertahan beberapa menit hingga tiba2 "Silahkan Bu Evelyn berdiri dan melepas rok Ibu, karena saya curiga Ibu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di balik rok Ibu." Aku yang tadinya berusaha bersikap sopan dan tenang pun langsung meledak penuh emosi.

"Maksud Bapak apa? Lyn harus buka rok di hadapan banyak orang seperti ini?" maki ku sambil menunjuk kaca besar di sisi ruangan. "Jangan berani macam2 ya Pak, atau Lyn akan laporkan Bapak ke polisi." ancamku.

"Jadi kalau hanya dihadapan saya saja Ibu mau?" jawabnya sambil tersenyum mesum. "Baik kalau Bu Evelyn keberatan, saya bisa panggil polisi bandara dan mengatakan bahwa Ibu berusaha menyembunyikan sesuatu di balik rok Ibu, jadi kami berdua akan bersama2 memeriksanya." lanjutnya dengan tetap berpura2 sopan.

Aku hanya bisa tertunduk, kepalaku bagai dihantam palu besar, benar2 tidak bisa kugunakan untuk berpikir. "Bagaimana kalau polisi tahu ada vibrator di dalam CD ku? Bagaimana kalau ternyata ada wartawan dan memberitakan aku sedang di periksa petugas bandara dengan keadaan vibtator di dalam CD ku?" pikirku. Aku menatap ke suami ku yang masih tampak bingung dan berteriak dalam hati agar semoga suami ku itu segera menolongku.

"Jangan khawatir Bu Evelyn, kaca itu hanya bisa dilihat satu sisi yaitu dari dalam sini. Jadi suami Ibu tidak bisa melihat ke dalam sini." katanya seolah dia paham kekhawatiranku. "Baiklah, saya akan panggil polisi agar proses pemeriksaan bisa lebih cepat." Dia bangkit dari kursinya dan melewatiku menuju pintu seolah2 akan memanggil polisi.

Aku yang dalam keadaan terpaksa akhirnya menahan tangannya dan "Baiklah, Lyn hanya perlu melepas rok ini saja khan Pak?"

Petugas gemuk dan jelek itu tersenyum seolah telah memenangkan sesuatu yang sangat berharga. Dia dengan santainya duduk di atas meja di hadapanku sambil berkata "Sementara ini yang mencurigakan hanya bagian selangkangan Ibu." Dia mengatakan itu sambil memberikan penekanan pada kata "selangkangan" sambil tersenyum mesum.

Akupun mundur beberapa langkah, dan dengan tangan gemetar akupun mengarahkan tangan ke arah resleting rok ku di bagian belakang. *Sreeettt* akhirnya kubuka juga resleting rok ku, namun aku masih menahan rok ku dengan tanganku sambil melihat ke arah kaca untuk meyakinkan bahwa Alvin tidak bisa melihat apa yang terjadi disini. Setelah cukup yakin bahwa Alvin tidak bisa melihat ke dalam sini, akupun melepaskan genggaman tanganku pada rok miniku.

Rok ku pun langsung meluncur jatuh hingga ke mata kaki. Aku benar2 malu akan keadaanku, seorang istri yang berdiri di hadapan pria tua yang bukan suaminya hanya dengan menggunakan CD mini merah dengan vibrator di dalamnya. Aku hanya bisa menundukkan kepala, aku terlalu malu untuk melihat petugas itu.

*Krikkk*

Suara itu pelan tapi seolah meremukkan semua tulangku, suara itu... pasti suara karena dia memotret ku menggunakan HP nya.

"Apa yang Bapak lakukan?" teriakku.

Lagi2 dia menjawab dengan ringan "Ini hanya untuk dokumentasi hasil pelaporan pemeriksaan Bu, semua barang bukti harus difoto."

Aku yang merasa tidak ada gunanya berdebat dengan dia terpaksa hanya diam dengan harapan pemeriksaan ini cepat selesai. Namun ternyata itulah kesalahan terbesar di dalam pemeriksaan ini. Petugas itu mengartikan bahwa diamnya diriku sebagai bentuk kepasrahanku.

Aku akhirnya hanya bisa menundukkan kepalaku membiarkan lelaki mesum itu memotret diriku dari berbagai sisi. Aku terus menunduk dan memejamkan mata ku hingga aku dikagetkan oleh sebuah sentuhan di CD ku, tepat di vibrator yang berada di antara lipatan vaginaku.

"Jangan kurang ajar pada Lyn, dasar pria mesum." makiku sambil mendorong tubuhnya untuk menjauh dari ku.

"Hehehehe... Aku mesum? Apa Ibu Evelyn yang seksi ini tidak mesum? Ibu memakai CD mini yang transparan dengan vibrator di dalamnya ini tidakkah lebih mesum dari diriku?" ejeknya. "Wah kalau aku panggil polisi dan wartawan kesini rasanya bakal asyik nih... Amoy cantik mulus memakai vibrator di ruang pemeriksaan bandara ditemani 3 pria sekaligus." lanjutnya.

Kembali aku harus terdiam mendengar ucapannya yang sudah mulai bersifat melecehkanku. Dan dia kembali tertawa penuh kemenangan melihatku menundukkan kepala lagi. Dia kembali mendekatiku sambil terus mengucapkan kata yang melecehkanku.

"Ahhhh...." desahku ketika petugas gemuk itu kembali memainkan jari2nya dari luar CD ku. Tidak dapat kupungkiri bahwa sentuhan2nya membuat ku terangsang, namun aku tetap berusaha menjaga kesetiaanku pada suamiku. "Aku tidak akan terangsang oleh pria selain suamiku, terlebih lagi oleh pria tua, gemuk dan jelek seperti dia." aku terus mengucapkan itu dalam hati untuk menahan gejolak birahi yang perlahan namun pasti mulai menguasai diriku.

Tiba2 petugas itu melepaskan tangannya dari selangkanganku dan kembali duduk di meja. Ketika itu juga aku sempat merasa ada yang hilang dari tubuhku, seolah tidak rela kehilangan kenikmatan yang baru saja aku terima.

"Bu, itu ukuran susu ibu kok besar sekali, saya curiga Bu Evelyn menyembunyikan sesuatu di balik baju Ibu." katanya mulai berani mengucapkan kata2 vulgar.

Aku yang sudah sangat terangsang, tanpa diperintah 2 kali langsung membuka tank top biru yang kukenakan. Dia kembali mendekatiku sambil memuji tubuhku yang sudah setengah bugil ini. Tanpa meminta ijin, dia langsung meremas payudara kiri ku yang masih terbungkus bra dengan kasar hingga membuatku merintih dan mendesah. Alvin, suamiku selalu lembut saat bermain dengan kedua payudaraku ini, namun remasan kasar ini memberikan sensasi yang berbeda, sangat berbeda, dan aku benar2 menikmatinya.

Kurasakan tangan kirinya telah berada di punggungku, tepatnya di kaitan bra ku. Dengan sekali gerakan dia berhasil membuka pengait kain pelindung atasku yang terakhir, namun aku segera menahan cup bra ku. "Pak, Lyn akan menuruti semua kemauan Bapak asal dengan satu catatan." aku mencoba mengajukan penawaran, karena percuma saja aku melawan keingingan pria mesum ini.

"Apa?" tanyanya sambil tangan kirinya mengusap2 pantatku.

"Lyn tidak mau sampai intercourse Pak." jawabku cepat sambil mengatur nafas yang mulai terasa berat.

"Interkos? Maksudmu ML? Ngomong gitu aja kok repot." ejeknya. "Oke tapi Ibu harus menuruti semua perintahku." lanjutnya.

Aku hanya mengangguk tanda memberikan persetujuan. Akupun melepaskan tanganku dari payudaraku sehingga bra itu pun lepas dan jatuh di lantai. Tiba2 petugas mesum itu mengambil bra merahku itu lalu menghirup dan menciuminya.

"Mulai sekarang panggil aku Tono aja Bu." katanya sambil tersenyum mesum. Dia berjalan mendekati kaca persis tepat di depan suamiku yang masih tampak gelisah. "Sini Bu, aku mau grepe2 Ibu di depan suami Ibu." serunya membuat aku terkejut dengan keinginannya. Tapi aku terpaksa berjalan mendekatinya karena aku yakin suamiku tidak bisa melihat apa yang terjadi di ruangan mesum ini.

Pria gemuk itu mendorongku hingga aku menungging dengan berpegangan ke kaca persis di hadapan suamiku. Belum sempat rasa malu ku hilang, tiba2 kurasakan suatu benda tumpul di antara kedua pangkal pahaku. Reflek aku melihat ke bawah dan alangkah terkejutnya diriku melihat sebuah penis hitam dengan ukuran yang besar, lebih besar dari milik suamiku.

"Pak Tono... ahhh.. apaa yang ahh... Bapak lakukan? Ahhh..." erangku merasakan nikmat di daerah selangkanganku ketika dia mulai menggerakkan pinggulnya.

Penis hitamnya dan vaginaku yang sudah sangat basah dan gatal hanya dipisahkan selembar kain segitiga mungil dan vibrator. Sesekali pria gemuk itu menampar pantatku, memberikan sebuah pengalaman baru padaku bahwa hal itu juga memiliki kenikmatan tersendiri.

Aku benar2 telah dikuasai nafsuku sekarang. Aku, Evelyn sedang "disetubuhi" oleh pria selain suamiku di hadapan suamiku sendiri. Tiba2 Alvin mendekatkan wajahnya ke kaca seolah ingin mengintip apa yang terjadi disini. Melihat itu aku bukannya takut, tetapi justru semakin bernafsu.

"Vin, lihat nih Lyn disetubuhi Pak Tono lhooo. Sorry ya Vin, tapi ini benar2 nikmat." aku mulai menggumam tidak karuan. Setelah beberapa menit di"setubuhi", aku benar2 sudah tidak tahan dan tanpa sadar tanganku sudah menarik CD ku ke samping sehingga vibrator yang sejak pagi berada di vaginaku terjatuh. Aku berharap agar aku benar2 mendapat sebuah persetubuhan sesungguhnya.

Tapi tiba2 "Ohhh.... Bu.. aku... keluar...!". Kurasakan cairan hangat menyembur tempat di bibir vaginaku.

Ketika itu juga perasaanku kacau, apakah harus bersyukur atau menyesal karena tidak bisa mencicipi penis hitam itu. Akhirnya akal sehatku berhasil membuat keputusan benar, aku tersenyum karena berhasil bertahan hingga akhir. Akupun bergegas merapikan kembali CD ku tanpa membersihkan lelehan sperma yang masih terasa hangat itu, karena di ruangan ini tidak tersedia tissue. Aku memaki rok miniku lagi secepatnya. Saat hendak memakai bra, aku tidak menemukan bra merahku, dan ternyata bra ku sedang dipegang oleh Pak Tono.



"Ini saya simpan untuk barang bukti pemeriksaan Bu." katanya sambil tertawa. Aku yang ingin segera keluar dari ruangan mesum inipun langsung memakai tank top ku.

Setelah merapikan rambut ku, aku langsung berjalan ke arah pintu, namun tiba2 Pak Tono menahanku, dengan posisi memeluk ku dari belakang dia mencoba memasukkan tangannya ke dalam rok ku langsung menuju CD ku. Belum sempat aku berontak, kurasakan dia mengembalikan vibratorku ke tempat yang "seharusnya".

"Heheheh.... Nyaris lupa ya Bu?." ejeknya. Aku cuek saja menanggapinya. "O iya Bu, tentang BH nya tenang saja lain kali pasti saya kembalikan. Sekalian mungkin saya mau diskusi mengenai foto dan video hasil pemeriksaan barusan." lanjutnya sambil menunjukkan HPnya. Ucapannya barusan benar2 seolah membuat duniaku menghitam. Aku langsung keluar dari ruangan dan ternyata suamiku sudah ada persis di depan pintu.

Melihat wajah Alvin yang cemas, aku segera mengambil keputusan. Keputusan untuk menceritakan kejadian barusan kepadanya, tetapi aku rasa harus ada beberapa atau mungkin tepatnya banyak yang harus aku sortir. Aku juga tidak berniat melaporkan kejadian barusan kepada pihak kepolisian, bagaimana mungkin aku melaporkan pelecehan yang aku alami tetapi aku sendiri juga menikmatinya.

==============================

"Ahhhhh.... Pak Tono..." erangku saat aku mendapatkan orgasmeku.

Perlahan aku membuka mata sambil berusaha mengatur nafasku, dan alangkah kagetnya diriku mendapati Alvin sedang duduk membelakangiku di tepi kolam renang.

"Gawatttt... Apa Alvin tahu kalau tadi Lyn masturbasi sambil membayangkan disetubuhi Pak Tono?" kataku dalam hati.

Tiba2 Alvin menoleh padaku sambil tersenyum. "Mau renang bareng?" ajaknya. Akupun bangkit dari kursi dan segera menghampirinya tanpa merapikan bikiniku yang sudah tidak pada tempat seharusnya.

"Love you" hanya itu yang bisa kubisikan padanya.


To be continue...

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

1 komentar: