Evelyn, My Naughty Wife 4: The Intersection

 Credit to intimates


"Kok bisa disini Dave? Sama siapa aja nih?" sapa istriku membuka pembicaraan dengan bayang2 masa lalunya itu. Dave, sapaan akrab dari David, langsung tersenyum sumringah ketika kami sudah berdiri di tepi kolam di dekatnya.

"Biasa, sama nyonya." jawabnya seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah kursi santai di tepi kolam. Kualihkan pandanganku ke arah yang dia tunjuk, dan akhirnya aku mendapatkan sedikit rasa senang yang sebelumnya sempat hilang sejak melihat Dave. Dapat kulihat seorang wanita muda dan cantik sedang tersenyum ke arah kami, senyuman yang dulu sering kulihat.

Wanita itu adalah Putri Rahayu, adik kelas ku saat masih kuliah dulu. Dia terlihat cantik seperti biasanya, dengan jilbab kuning yang dipadukan dengan kaos putih lengan panjang dan celana legging berwarna hitam. Kulihat Puput, begitu biasanya aku memanggil namanya, bergegas menghampiri kami.

Kami berempat pun mengobrol sebentar, kulihat istriku begitu sangat antusias dalam kegiatan kami ini. Kulihat Dave tidak terlalu banyak bicara, dia lebih fokus memandangi istriku dengan pandangan mesumnya seolah menelanjangi istri seksi ku ini. Saat aku sedang ngobrol dengan Puput, tiba2 kurasakan sebuah kain tebal menutupi kepalaku.

"Lyn berendam dulu ya Vin. Titip handuknya ya sayank." seru istriku.

Begitu aku menoleh, ternyata istriku sudah berada di dalam kolam jacuzzi bersama dengan Dave, terlihat mereka benar2 menikmati waktu mereka, mereka saling bercerita dan bercanda. Aku sempat cemburu melihat keakraban mereka. Seolah tidak mau tergulung dengan rasa cemburu yang semakin besar, akupun memutuskan untuk menikmati waktuku juga dengan Puput, wanita yang dulu sempat menyatakan padaku bahwa dia mencintaiku namun akhirnya aku menolaknya karena aku telah terlebih dahulu jatuh hati pada Evelyn.

"Kamu ga berenang Put? Ayo renang bareng, nda seru kalau renang sendirian nih." aku mencoba mengajak dia untuk berenang, menurutku itu ide yang lebih baik daripada sekedar duduk di tepi kolam.

"Maaf Kak, Puput ga bawa pakaian renang." jawabnya sambil tersenyum.

"Gapapa Put pakai pakaian itu aja, nanti pulangnya kamu bisa pakai bath robe ku deh." seruku setengah memaksa sambil menarik tangannya untuk berdiri.

Kulihat sempat ada keraguan di matanya, hingga akhirnya dia mulai berdiri sebagai tanda bahwa dia menyetujui ajakanku. Akupun segera membuka bath robe putihku, seolah memamerkan tubuh atletisku. Sejenak dia sempat terpana melihat tubuhku, begitu tatapan mata kami bertemu diapun segera menundukan wajahnya yang mulai bersemu merah.

Aku lebih dulu masuk ke dalam kolam, lalu diapun menyusulku. Begitu tubuhnya terendam air, pemandangan yang luar biasa indah segera terekam jelas oleh kedua mataku. Sosok Puput yang selalu berpakaian tertutup, kini seolah memakai pakaian transparan di hadapanku. Bra hitamnya benar2 tercetak jelas di balik kaos putihnya, bahkan aku bisa melihat motif rendanya. Melihat sosoknya ini, tanpa meminta persetujuan dariku, penisku langsung ereksi.

"Sudah donk Kak jangan dipelototin terus donk, Puput malu nih. Puput udahan aja ya." katanya sambil memegang bibir kolam renang seolah hendak membatalkan acara berenang kami.

"Eh sorry Put, bukan bermaksud kurang ajar sama kamu kok. Cuma aku tadi kaget aja melihat kamu seperti itu." bisikku sambil menahan tangannya.

Dia hanya tersenyum lalu mencubit lenganku. Kamipun mulai berenang, semakin menjauh dari area jacuzzi. Sesekali kulirik kearah istriku, kulihat semua masih wajar, istriku dan Dave duduk berseberangan dan tampak mereka masih terus bercanda. Sempat melintas perasaan khawatir dalam diriku, khawatir akan munculnya sifat nakal yang ditunjukkan istriku sejak pagi hari ini, aku khawatir terjadi hal yang bisa menodai pernikahan kami.

Saat diliputi rasa cemas itu, tiba2 kudengar Puput sedikit berteriak.

"Aduhhhhh.... Kaki Puput kram Kak." erangnya.

Aku segera menghampirinya dan reflek memegang tubuhnya agar tidak tenggelam. Aku berusaha membawanya ke arah pool bar yang ada di tengah kolam. Tampak pool bar itu sudah tutup, tapi kami masih bisa duduk di tempat duduk yang ada di dalam air.

"Kak, tangan Kak Alvin....." bisiknya lembut.

Entah kenapa bisikannya ini terdengar seperti desahan, aku yang masih tidak mengerti apa maksud bisikannya spontan melihat ke arah tangan ku. Ternyata tangan kananku berada di payudara kirinya. Entah apa yang kupikirkan, bukannya melepaskan tanganku, aku justru menggerakkan jari tanganku seperti gerakan meremas. Dapat kurasakan payudaranya sangat kenyal, dan lebih besar dari milik Evelyn.



"Ahhh... Kak Alvin nakal. Puput bilangin Kak Evelyn lho nanti." ujarnya yang sontak menyadarkanku. Segera kulepaskan tanganku dan meminta maaf pada dia, kujelaskan bahwa aku benar2 tidak sengaja.

"Untung Kakak yang sentuh dada Putri, kalau pria lain pasti Puput sudah teriak2 minta tolong." ucapnya sambil tersenyum pertanda dia menerima maafku.

"Emang kalau aku yang pegang gapapa ya Put? Kalau gitu minta lagi donk, tadi khan reflek jadi kurang begitu menikmati nih. Hahahaha...." tanyaku, tentunya aku bertanya hanya untuk mencairkan suasana tanpa berharap dia setuju akan permintaanku.

TAPI......

"Tapi sebentar aja ya Kak, Puput malu soalnya." dia menjawab dengan menundukan kepala.

Jawaban yang tidak kuduga ini membuat aku seolah2 akan meledak, penisku benar2 ereksi dengan maksimal sehingga tampak sangat menonjol di celana renang ku. Beberapa detik kemudian aku menyadari betapa payahnya diriku, aku meminta ijin menyentuh payudaranya namun aku tidak berani menyentuhnya saat dia setuju. Aku masih terdiam, terpaku menatap kedua bulatan payudaranya yang masih tertutup bra hitam dan kaos putih nya.

Hingga tiba2 kurasakan kedua tangannya meraih dan menuntun kedua tanganku ke arah payudaranya. Sekali lagi kurasakan kekenyalan payudaranya. Seolah tidak ingin waktu cepat berlalu, aku langsung meremas pelan payudara itu. Dapat kurasakan putingnya yang mengeras dari balik bra nya. Kutekan dan kumainkan bagian putingnya hingga mulai kudengar Puput mendesah.

"Sud...aahhh Kak... Nanti ke..li..hatan orang... lain." desahnya sambil berusaha menjauhkan tanganku dari payudaranya. Namun bukannya menghentikan aksiku, aku yang sudah sangat terbakar nafsu langsung mencium mulutnya. Puput yang awalnya menutup bibirnya rapat2pun perlahan mulai membuka bibirnya untuk memberi akses lidahku bermain di dalam mulutnya.

Posisiku saat ini tepat menghadap ke arah area jacuzzi, kulihat istriku dan Dave sudah tidak saling tertawa lagi, mereka hanya diam dan duduk bersebelahan. Aku tetap nekat melanjutkan cumbuanku pada Puput karena aku yakin mereka tidak bisa melihat kemari dikarenakan disini sedikit gelap.

Tidak puas hanya berciuman, kedua tanganku kembali beraksi. Kuarahkan tangan kananku untuk bermain di payudaranya, dan tangan kiriku ke selangkangannya.

"Sudah Kak, Puput tidak mau sejauh itu." serunya dengan tegas sambil tangannya mengusir tanganku menjauh dari selangkangannya. Aku seolah2 tersadar dari semua perilaku jahatku, akupun memundurkan diriku, menjaga jarak yang pantas untuk kami berdua.

"Maaf ya Kak." Puput mencoba membuka pembicaraan setelah cukup lama kami saling terdiam.

Sebenarnya, diamnya diriku bukan hanya dikarenakan penolakan Puput, tapi juga dikarenakan apa yang aku lihat di area jacuzzi. Kulihat Evelyn, istriku sedang duduk berhadapan di pangkuan Dave, mantan kekasihnya. Samar2 dapat kulihat tubuh Lyn bergoncang naik turun.

"Apakah Lyn sedang disetubuhi Dave?" teriakku dalam hati. Emosiku pun langsung memuncak. Aku harus segera menghentikan perbuatan gila mereka. Ketika hendak berenang ke arah jacuzzi, kurasakan Puput menahan bahuku dari belakang.

"Jangan menghentikanku Put, mereka telah berbuat terlalu jauh." seruku tanpa menoleh padanya.

Belum juga sempat beranjak dari tempatku, kurasakan sepasang tangan melingkar di dadaku, Puput memelukku. Payudaranya menempel erat di punggungku, tapi ada yang berbeda, kehadiran kedua puting payudaranya terasa begitu nyata pada kulit punggungku.

Penasaran, kubalik badanku untuk melihat dirinya. "Opssss...." pekikku ketika kulihat Puput sudah bertelanjang dada, kaos dan bra hitam berenda nya sudah mengambang di samping badannya.

"Puput bukan wanita nakal, Puput bukan wanita murahan, Puput bukan wanita tidak tahu malu, tapi Puput benar2 menginginkan Kak Alvin." ucapnya dengan suara pelan. Kulihat matanya berkaca2 seakan hendak menangis.

"Aku tahu Puput bukan wanita seperti itu." kataku sambil mengambil kaos dan bra nya lalu memberikan padanya.

"Pakai dulu Put, mungkin benar apa yang kamu katakan. Kita tidak boleh terjebak terlalu jauh." ucapku sambil mencium keningnya.

"Thanks ya Kak, tapi kalau Kakak ingin menikmati dada ini, Puput akan ijinkan, asal jangan minta untuk yang ini ya." katanya sambil menuntun tanganku ke arah vaginanya yang masih terlindungi leggings. Sekilas, ya hanya sekilas tanganku menyentuh bagian intimnya itu sebelum dia menarik menjauhkan tanganku lagi.

Entah karena nafsu, cemburu, atau perasaan ingin balas dendam, akupun perlahan mendekatkan wajahku ke payudara Puput. Kujilati payudara kanannya saat tangan kanan ku bermain dengan puting payudara kirinya. Kujilati dan kugigit kecil putingnya hingga membuat Puput mendesah tidak karuan.



Dengan posisi seperti ini dapat kurasakan kedua tangan nya yang halus sedang mengarah ke bawah, tangan kanannya mengarah ke penisku yang sudah mengacung tegang di balik celana renangku, sedangkan tangannya yang lain sudah terlebih dahulu tersembunyi di balik leggings nya sendiri.

"Besar sekali Kak... Beruntungnya Kak Evelyn memiliki suami dengan penis sebesar ini." pekiknya ketika dia berhasil meloloskan penisku dari celana dalam yang sejak tadi menyiksanya. Tanpa kuminta, Puput langsung menggerakkan tangannya mengurut2 penisku.

"Eitss..." serunya saat tangan kiriku mencoba menuju ke bagian vaginanya.

Ternyata Puput benar2 berbeda dari wanita lain, dia tetap mempertahankan batasan yang telah dia buat pada ku walaupun jelas terlihat dia sedang dipenuhi dengan nafsu yang menggelora. Akupun tetap ingin menghormati semua keputusannya.

Tidak lama kemudian, Puput mendapatkan orgasme hasil dari rangsangan ku di payudaranya dan permainan jarinya sendiri di selangkangannya. Beberapa kemudian saatnya bagi penisku untuk mengeluarkan semua amunisinya berkat permainan tangan lembut istri orang lain. Kamipun berpelukan beberapa saat hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali.

Aku memutuskan tidak marah kepada Evelyn dan Dave, bagaimana bisa aku marah kepada mereka setelah apa yang kuperbuat tadi. Kulihat istriku sudah berdiri di tepi kolam dengan bath robe sudah membungkus tubuhnya.

"Kemana aja sih Vin kok daritadi Lyn nda lihat." ucap istriku saat aku sudah keluar dari kolam renang.

"Ohhh Vin pasti sembunyi ya, hayo ngapain aja nih sama Puput? Apalagi Puput kelihatan seksi banget gitu." bisiknya di telingaku saat dia melihat pakaian Puput yang sudah berubah menjadi tembus pandang itu.

Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya bicara begitu setelah semua yang dia lakukan dengan Dave.

"Eh besok main watersport bareng yuk? Ntar aku yang atur semuanya deh." ajak Dave sesaat setelah kami semua berkumpul.

"Okeee..." sahut istriku cepat. Setelah berunding akhirnya kami sepakat besok akan bermain watersport bersama. Setelah kesepakatan itu, kamipun berpisah menuju villa kami masing2.

===============================

"Lyn mandi dulu ya Vin." teriak istriku. Akupun hanya mengangguk tanpa bersuara. Kulihat istriku membuka bath robe nya. Begitu bath robe nya terbuka, langsung kulihat tubuh bugil istriku. Aku hanya memperhatikan istriku menuju kamar mandi dengan perasaan yang mengganjal.

Hingga kusadari.....

"Kenapa dibalik bathrobenya, Lyn tidak pakai apa2 lagi?"

"Apakah sejak di jacuzzi tadi Dave telah menelanjangi Lyn?"

"Apa yang sebenarnya mereka lakukan?"

"Apakah Lyn benar2 bersetubuh dengan Dave di tempat terbuka seperti itu?"

Lamunanku terganggu ketika kudengar ada pesan BBM masuk di HP istriku. Iseng kuambil dan kubaca pesannya. Tertera nama Dave di kolom chat BBM, pesan yang di dalamnya melengkapi semua kebingunganku.

"Thx ya Lyn buat SERVICEnya tadi. Besok aku janji akan lebih seru dari yang tadi sayank. See you soon."



To be continue....

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar