Evelyn, My Naughty Wife 5: Another Sensation

 Credit to intimates


"Ahh.. Ter..us Vin, ji..la..tin memek Lyn. Ohhh..." erang istriku saat aku mulai menjilati vaginanya. Sempat terkaget aku mendengar istriku mengucapkan kata2 vulgar seperti itu, ya ini mungkin pertama kali aku mendengar istriku mengucapkan "memek" yang sebenarnya agak risih aku mendengarnya namun terdapat juga sensasi yang liar mendengar istriku mengucapkannya. Mungkin ini hasil konversi dari sekian banyak rangsangan yang dia terima sejak pagi. Dimulai dari vibrator, pemeriksaan di bandara, eksibisionisnya di pantai, dan kemesraannya dengan Dave di kolam pasti memicu nafsunya hingga puncak bagaikan efek bola salju yang terus membesar.

Iseng, sambil memainkan lidahku di vaginanya yang telah sangat basah aku mencoba mencari jawaban atas segala rasa penasaranku atas apa yang terjadi di kolam renang tadi.

"Tadi Lyn ngapain aja sama Dave? Kelihatannya seru banget tadi." pancingku.

"Aahhhh... Ohhh fuck... Enak banget lidahmu Vin." hanya erangan yang keluar dari mulutnya.

Tidak mendapat jawaban atas rasa penasaranku, sengaja kuhentikan permainan lidahku di vaginanya. Kembali kuajukan pertanyaan serupa kepadanya sambil kubelai lembut paha bagian dalamnya.

"Kok berhenti sih Vin jilatinnya. Ayo donk Vin." paksanya sambil menekan kepalaku agar kembali mendekat ke area selangkangannya. Sengaja kutahan kepalaku, aku harus mendapatkan jawaban atas rasa penasaranku.

"Lyn ga ngapa2in sama Dave, hanya berendam aja kok." jawabnya singkat. Kulihat dia mulai meremas sendiri kedua payudaranya, terlihat sekali bahwa istriku ini benar2 sedang diselimuti nafsu yang sangat besar. Seolah tidak puas dengan jawabannya, aku hanya terdiam tanpa berkomentar.

"Jilatin lagi Vin, please. Lyn akan ceritain sambil Vin jilatin memek Lyn." rayunya.

Ini dia, inilah yang aku inginkan. Dengan segera kuarahkan kepalaku kembali mendekat ke arah vaginanya, kuberikan permainan lidahku di klitorisnya yang tampak sudah membesar.

"Vin tahu khan seperti apa Dave itu, dia selalu menggoda Lyn setiap saat. Dia selalu menemukan cara dan alasan yang tepat untuk dapat menyentuh tubuh Lyn." istriku memulai bercerita dengan nafas yang terasa sangat berat.

"Tapi Lyn berhasil menjaga diri kok. Dave tidak mendapatkan apa yang dia inginkan." tambahnya singkat sambil melirik ke arahku yang masih setia berada di selangkangannya.

"Kalau Lyn tidak berbuat apa2 sama Dave, kemana bikini yang Lyn pakai ketika berangkat ke kolam?" aku mengajukan pertanyaan lain karena aku yakin Lyn menyembunyikan sesuatu dariku. Entah kenapa dibalik rasa cemburu ini, kudapati gelombang birahi yang seolah menginginkan Lyn berbuat liar. Mungkin otakku sudah mengalami gangguan, tapi membayangkan tubuh istriku dinikmati oleh lelaki lain telah menimbulkan sensasi yang belum pernah kudapatkan pada hari2 sebelumnya.

Lyn masih belum menjawab pertanyaanku, hanya desahan yang terus keluar dari mulutnya, kulihat tubuhnya mulai berkeringat. Aku yang sudah tidak tahan melihat dirinya yang sangat seksi ini segera merangkak naik, dan dengan pasti kuarahkan penisku ke arah vaginanya.

"Ahhhhhh...." seru kami nyaris bersamaan.

Kurasakan seluruh penisku telah bersarang dalam vaginanya. Setelah beberapa saat akupun menggerakkan pinggulku, mulai menyetubuhi wanita yang sejak pagi telah mengalami banyak rangsangan baru ini.

"Dave memberikan bikini Lyn pada karyawan hotel. Memang kurang ajar banget itu Dave, padahal itu kan bikini pemberian Vin." ujarnya singkat.

Deggg..... Jantungku bagaikan berhenti berdetak mendengarnya. Karyawan hotel? Apa hubungannya dengan karyawan hotel? Apa yang sebenarnya terjadi di area jacuzzi tadi? Rasa penasaranku bukannya terjawab justru semakin menumpuk begitu mendengar pengakuan istriku ini. Dan parahnya istriku mengatakan itu tanpa rasa bersalah, dia seolah lebih kecewa karena merasa kehilangan bikini pemberianku itu.

Kupercepat gerakan pinggulku seirama dengan nafsu yang meledak2 dalam diriku. Malam ini aku benar2 BERGAIRAH. Beberapa menit kemudian kurasakan penisku seolah ingin meledak, ejakulasi ku mulai mendekat.

"Ahhhhhhh Lyn nakal!" erangku sambil menyemburkan spermaku ke dalam rahimnya.

"Vin jangan keluar duluuuu.... Lyn masih belum nih." susulnya sambil melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku seolah melarangku yang hendak mencabut penisku dari vaginanya.

"Sorry Lyn..." hanya itu yang terucap dari mulutku. Aku begitu malu, aku yang biasanya selalu bisa memuaskannya, malam ini telah dibuat tidak berdaya oleh nafsu yang menggebu2. Tubuhku seolah tidak bertulang, setelah menepis kaki mulusnya, akupun langsung berbaring di samping istriku yang terlihat masih belum puas.

Kulirik istriku berusaha sendiri mendapatkan orgasme yang belum sempat aku berikan, 2 jari tangan kanannya mengambil peranan penting dengan telah terbenam di dalam vaginanya. Sedangkan tangan kirinya tidak dibiarkan menganggur, dia arahkan tangan kirinya meremasi payudaranya dan sesekali bermain nakal di putingnya yang begitu tampak menggoda.

Beberapa saat kemudian kulihat istriku bangkit dan menuju ke arah koper yang memang belum sempat kami tata, dan dia mengambil sesuatu lalu kembali ke arah tempat tidur. Evelyn kembali melanjutkan permainan terhadap dirinya sendiri. Samar2 kudengar bunyi sesuatu seperti suara benda bergetar. Penasaran, akupun memiringkan badanku ke arahnya, ingin segera mengetahui apa yang dilakukan istriku.

Sempat terkejut, kulihat istriku dengan mata terpejam sedang masturbasi dengan dildo yang bergerak liar menancap di dalam vaginanya. Pemandangan yang benar2 erotis, namun kelelahan yang menumpuk membuatku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menonton istriku yang sedang bermasturbasi di atas tempat tidur yang sama denganku.

"Ohhh... Dave... Terus Dave... Setubuhi Lyn... Puaskan Lyn." desahan yang terdengar di tengah2 masturbasinya. Sial, itu nama lelaki lain kedua yang disebut dalam masturbasi istriku dalam 1 hari ini. Aku tidak berhak menghentikan imajinasi liar istriku setelah tidak sanggup memuaskannya. Aku hanya tetap menikmati show yang diperankan Lyn malam ini. Hingga tiba saat aku tidak sanggup lagi membuka mataku, rasa lelah telah memaksaku untuk memejamkan mataku dan tertidur.

===============================



Point of View : Evelyn

"ALVIN PAYAH!" umpatku dalam hati. Alvin yang biasanya selalu bisa membuatku terkapar lemas, kini telah gagal memuaskanku dan membiarkanku menggantung dengan nafsu yang masih tinggi. "Lyn harus menuntaskan ini." kataku dalam hati sambil tanganku mulai bergerak liar menyusuri setiap inci tubuh mulusku. Kumasukkan jari tanganku ke dalam vaginaku sambil tangan lainnya meremasi payudaraku, benar2 nikmat, tapi I NEED MORE!

Sadar membutuhkan kenikmatan yang lebih, akupun mengambil dildo yang kusimpan di dalam koper kami dan segera kulesakan ke dalam vaginaku yang terasa sangat gatal. Kunyalakan dildo itu ke level tertinggi, getarannya seperti batang penis lelaki sedang bergerak liar di dalam vaginaku.

Tanpa kusadari, aku begitu menikmati masturbasiku kali ini. Aku membayangkan sedang disetubuhi oleh lelaki lain, dan lelaki yang muncul di pikiranku adalah Dave. Yaaa, aku masturbasi di samping suamiku sendiri sambil membayangkan mantan kekasihku. Nakal, binal, liar mungkin itulah sebutan yang tepat ditujukan kepada diriku saat ini. Kupejamkan mataku dan mengingat kembali kejadian gila yang baru saja terjadi beberapa saat lalu di kolam renang.

================================

"Lyn kita seperti anak kecil yang sedang berantem yah, duduk jauh2an. Hahahah." seru lelaki yang sedang duduk berendam di depanku, Dave.

"Hahaha... Mana ada anak kecil semesum kamu Dave. Lyn takut deket2 kamu, apalagi Lyn pakai bikini seksi begini." godaku sambil sengaja menggoyangkan tubuhku sehingga membuat kedua payudaraku berguncang. Entah keberanian ini kudapat darimana, aku sedang menggoda mantan kekasihku saat suamiku berada di satu area kolam renang yang sama denganku.

Kulihat Dave hanya melotot sambil menelan ludahnya sendiri. Melihat godaanku sukses, aku seolah terlecut untuk menggodanya terus sambil sesekali mengejeknya.

"Awas itu air liur netes, bikin airnya tercemar aja nih. Padahal cuma lihat Lyn goyang, belum lihat yang lebih seru." godaku lagi.

Aku menggodanya bukan karena aku menginginkan dirinya, tapi sepenuhnya hanya untuk menggodanya saja. Daripada dia menggodaku, lebih seru kalau aku menggodanya terlebih dulu, begitulah yang kupikirkan.

Kulihat Dave memasukkan tangannya ke dalam air, dari gerakan tubuhnya aku dapat menebak bahwa dia sedang membetulkan posisi penisnya. Aku tertawa keras melihat aksinya. Dave terlihat malu, kemudian dia mulai lagi meminta padaku untuk duduk di sampingnya.

"Kalau mau ya Dave aja yang kesini duduk di samping Lyn." seruku sambil menepuk2 air di sampingku. Tanpa diminta 2 kali, diapun segera berdiri dan berjalan ke arahku. Dapat jelas terlihat tonjolan penis bengkoknya di celana renang hitamnya. Gantian, aku yang harus menelan ludah kali ini, pikiranku sekilas melayang membayangkan bentuk penisnya yang tidak terhalang kain parasit tipis itu.

"Mau Lyn?" tanyanya sontak membuyarkan lamunanku. Kulihat dia sudah berdiri di depanku, dengan penisnya yang masih terbungkus celana renang itu persis sejajar dengan kepalaku. Aku yang masih terpana, hanya bisa mengangguk tanpa berpikir terlebih dulu. Menyadari kebodohan yang kulakukan langsung membuatku malu. Dave hanya tertawa lepas melihatku yang masih grogi.

Belum hilang rasa maluku, kurasakan kulit lengan kami saling bergesekan. Dave duduk disamping kiri ku, dekat, bahkan sangat dekat hingga kulit kami saling bersentuhan. Dengan santai dia raih tangan kiriku dan diletakkannya di paha kanannya.

"Bagaimana kalau kamu berkenalan langsung dengannya?" ucapnya dengan mata melirik ke arahku.

"Dave gila ya. Ogah. Lyn ga tertarik dengan yang kecil2 gitu." ujarku berusaha membuatnya percaya bahwa aku tidak tertarik.

Tentu saja aku hanya berbohong untuk sekadar menutupi rasa kagumku, bagaimana mungkin penis bengkok seperti itu bisa dikatakan kecil. Penis bengkok yang tadi kulihat itu begitu tampak panjang dan kekar. Dengan mengejeknya, aku berharap dia menyerah untuk menggodaku namun ternyata aku salah, membuatku teringat bahwa Dave tidak akan pernah menyerah untuk menggodaku.

"Kok kamu bisa bilang kecil padahal kamu kan belum kenalan langsung dengannya? Bagaimana kalau kamu kenalan sekarang?" rayunya sambil menuntun tanganku ke arah selangkangannya. Akhirnya, dapat kurasakan tekstur batang penisnya seolah celana renang yang dia kenakan tidak berhasil menyembunyikannya. Penisnya begitu keras, berurat dan besar.

Sekarang ini hanya 1 yang kuinginkan.

Hanya 1.

Aku hanya ingin merasakan nikmatnya penis itu di dalam vaginaku yang telah gatal.

Kukaitkan jariku ke pinggiran celana renangnya, aku mau menelanjanginya. Aku mau melihat penisnya. I WANT IT BADLY, namun Dave menahan tanganku.

"Bagaimana kalau kita taruhan Lyn, kita main suit, yang kalah harus melepas 1 pakaian renangnya." usulnya sambil melepaskan tanganku dari celana renangnya.

"Shit... Dave banyak maunya." umpatku dalam hati, suara hati yang membuatku terkejut, aku seolah tidak mengenali diriku sendiri.

"Oke, Lyn nda takut." jawabku yang kembali menjawab tanpa berpikir.

Kulihat Dave sudah mengangkat tangan kanannya menunjukkan bahwa dia sudah siap memulai pertaruhan ini. Kulihat tangannya yang masih di atas kepalanya membuat tanda gunting, seolah menunjukkan dia akan mengambil gunting sebagai pilihan. Akhirnya kedua kepalan tangan kami turun, menandakan permainan sudah dimulai. Aku memilih "batu", ternyata Dave memilih "kertas". Arghhh dia menipuku. Kembali kudengar Dave tertawa.

"Silahkan dibuka Lyn, terserah Lyn mau buka yang mana." ujarnya berlagak sopan.

Bagaimana mungkin aku membuka bikini ku di hadapan lelaki lain saat suamiku berada di kolam renang yang sama dengan ku. Kucoba menyapukan pandanganku mencoba mencari tahu lokasi Alvin berada, namun tidak kutemukan dia. Beberapa lokasi kolam renang memang sangat gelap, aku menebak mungkin Alvin berada disana.

Akhirnya aku menurunkan tubuhku sehingga terendam air menyisakan leher dan kepalaku di bagian atas air. Bagaimanapun aku tetap malu bila harus bertelanjang dada di tempat terbuka seperti ini. Aku mulai membuka ikatan bikini merahku di bagian leher dan punggung. Kuperhatikan Dave terkesima, tentu dia bisa melihat payudaraku yang tersembunyi di dalam air yang jernih.



"Ayo mulai lagi." tantangku, namun dia masih tidak bergerak seolah terhipnotis oleh kedua bulatan payudaraku yang masih tersimpan di dalam air. Melihatnya seperti itu membuatku jengkel, akupun reflek melemparkan benda yang kupegang di tangan ku. Tanpa sadar aku melempar bikini atasku ke arah wajahnya. Dave seolah tersadar, dia meraih bikini ku itu dan merentangkannya ke atas sambil tersenyum.

"Dave... Lyn malu tahu, turunkan bikininya atau kita udahan aja deh." ancamku.

Kulihat dia segera menurunkannya, mengarahkan ke arah wajahnya lagi dan menghirup dalam2.

"Aku akan segera mendapatkan apa yang kain ini sembunyikan sejak tadi." selorohnya membuat aku merinding, merinding karena nafsu yang mulai membakar diriku.

Kembali dia mengangkat tangannya sambil jarinya membentuk tanda gunting. Belum sempat berpikir apa tujuannya kali ini kudengar dia berkata "Kali ini beneran gunting Lyn. Kalau aku rubah, aku rela deh permainan ini dihentikan."

Kulihat wajahnya serius mengucapkannya. Akhirnya aku akan memenangkan pertaruhan ini. Kuangkat tanganku tinggi2, aku akan memilih "batu". Ketika tangan kami berhadapan, kulihat Dave memang tetap memilih "gunting", namun aku terkejut dengan tanganku dan hati kecilku. Aku memilih "kertas", hati kecilku memilih agar aku DITELANJANGI, hati kecilku memilih untuk memberikan Dave pemandangan terindah malam ini.

Ini salah, benar2 salah, begitulah kata otakku, tapi hatiku begitu berbunga dan berdebar ketika dengan perlahan kubuka kaitan bikini yang melingkar di kedua pinggangku. Berbeda dengan tadi, kali ini aku membukanya sambil berdiri. Aku benar2 melakukannya secara perlahan layaknya melakukan striptease di hadapan Dave. Juga berbeda dengan tadi, kali ini dengan sengaja kulemparkan bikini bawahku itu ke arahnya.

Kulihat Dave begitu terpana melihat mantan kekasihnya ini berdiri di hadapannya dengan keadaan telanjang bulat. Dia raih bikini bawahku dan kembali dia hirup dalam2 pada bagian kecil dimana tadinya berfungsi menyembunyikan vaginaku. Tak berhenti sedikitpun, Dave terus memuji dan memuji diriku.

Aku, Evelyn akhirnya menyerah pada nafsuku. Aku langsung menghampirinya dan duduk di pangkuannya, kuraih kepalanya dan kuarahkan ke payudaraku. Tanpa perlu kuminta, Dave langsung menjilati kedua payudaraku, sedangkan jari tangan kanannya sudah tenggelam di dalam vaginaku. Dave benar2 menyerangku dengan kasar.

Bukannya menghentikan aksinya yang terbilang cukup kasar, aku justru sangat menikmati perlakuannya, perlakuan kasar kedua dalam hari ini, dan semuanya dilakukan oleh lelaki yang bukan suamiku. Gigitan kecil di putingku, remasan tangannya di bongkahan pantatku, dan gerakan kasar jarinya di dalam vaginaku benar2 telah membuatku haus, haus akan kenikmatan yang lebih, kenikmatan akan penisnya yang masih tersimpan di balik celana renangnya.

Segera kubuka celana renangnya, akhirnya dapat kulihat langsung penis yang sejak tadi menggoda imanku, menggoda iman seorang istri lelaki lain. Sesuai dugaanku, penis itu begitu besar dan panjang. Urat2 kekar di batang penisnya menambah kegagahan dari penis bengkok itu.

Seolah teringat kehadiran suamiku, aku kembali menyapukan pandanganku mencari suamiku, tapi tetap saja tidak kutemukan dia.

"Ohhhh......." erangku tertahan ketika kurasakan Dave mengangkat pinggulnya tiba2 sehingga penisnya langsung melesak ke dalam vaginaku.

"Dave... Apa2an... ini? Ada... sua..mi Lyn disi..ni." ucapku dengan suara terputus2 merasakan kenikmatan yang kudapat.

Tiba2 Dave menghentikan gerakannya, dia hanya membelai2 payudaraku. "Oke" jawabnya tanpa beban.

Namun kembali kegilaan terjadi, aku menggerakkan pinggulku sendiri. AKU MENYETUBUHI DAVE, ya mungkin itulah ungkapan yang tepat. Aku seperti pelacur murahan yang sedang menyetubuhi pelanggannya. Aku sudah tidak malu lagi untuk mendesah dan mengerang.

I LOVE THIS...

"Pak kesini sebentar..." teriak Dave memanggil karyawan hotel yang kebetulan lewat di seberang kolam.

"Gila ya kamu Dave." aku segera hendak mencabut penisnya dari vaginaku, namun Dave menahan pinggulku. Sekarang sudah terlambat untuk mencabutnya, karyawan itu sudah terlalu dekat dengan kami.

Ketika sudah berdiri di tepi kolam jacuzzi kulihat wajah karyawan itu langsung merah, dia pasti dapat melihat diriku dan Dave sedang bersetubuh.

"Aku pesan kopi susu ya Pak. Eh tidak jadi Pak, kopi saja deh. Susunya saya sudah bawa sendiri." ujarnya kepada karyawan itu sambil menekankan kata "susu". Aku yakin karyawan itu paham maksud dari Dave ini. Karyawan itu segera mengangguk dan meninggalkan kami.

Entah kenapa aku menjadi semakin bernafsu, mendapati diriku disetubuhi lelaki selain suamiku di hadapan lelaki yang tidak aku kenal. Aku kembali melanjutkan gerakan pinggulku, menyetubuhi Dave.

Tidak lama kemudian, karyawan itu terlihat tergesa2 menghampiri kami sambil membawa nampan berisi pesanan Dave. Karyawan itu meletakkan secangkir kopi pesanan Dave itu di atas meja di tepi kolam dan segera berjalan menghampiri kami.

"Kopinya saya letakkan di meja Pak. Saya permisi dulu." katanya singkat.

Aku yang sudah merasa tanggung tidak menghiraukan keberadaannya, aku terus saja bergerak liar menaikturunkan pinggulku, seolah mengejar waktu sebelum Alvin kembali kemari.



"Pak, istri saya seksi nda?" ujar Dave tiba2 dengan berpura2 mengakui aku sebagai istrinya sambil mengangkat pantatnya membuat tubuhku terangkat keluar dari air seluruhnya. Kulirik karyawan itu hanya melotot memandangiku.

"Apaan sih Dave?" teriak sambil memukul ringan dadanya.

"Seksi Pak, seksi sekali istrinya." karyawan itu menjawab dengan nafas yang tidak beraturan.

"Wah terima kasih Pak. Ini tips buat Bapak." ujar Dave sambil menyerahkan 2 lembar kain berwarna merah. Dia menyerahkan bikini merahku kepada karyawan hotel??? Hal gila apalagi yang coba dia berikan padaku. Ini sudah terlalu liar.

"Ahhhh......." erangku saat kurasakan orgasme dahsyat yang menerjangku. Belum selesai gelombang orgasme yang kudapat, kurasakan dorongan sperma memenuhi rahimku. Dave ejakulasi di dalam.

AKU PUAS...

Karyawan hotel itu tersenyum dan segera meninggalkan kami dengan membawa pergi bikiniku.

"Ah Dave selalu nakalin Lyn." kataku lemas sambil tersenyum.

================================

"Arghhhh...." kudapatkan orgasme yang tadi tidak sempat diberikan oleh Alvin. Kucabut dildo yang masih bergetar itu dan kuarahkan ke mulutku yang terbuka. Aku melakukannya sambil membayangkan sedang membersihkan penis Dave yang basah karena cairan vaginaku.

Tanpa merapikan diri, aku pun segera memeluk Alvin yang tampaknya sudah tertidur.

"I'm still yours, Vin." ucapku pelan dan lembut di telinganya.




To be continue...

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar