Evelyn, My Naughty Wife 6: Watersport

 Credit to intimates


“Lelahnyaaaa….” teriakku sambil melepaskan seluruh pakaian basahku. Aku baru saja kembali dari bermain watersport bersama dengan Lyn, Dave, dan Puput. Permainan yang sangat menguras tenaga dan emosi. Menguras emosi? Ya, perasaanku sedikit terganggu dengan beberapa permainan yang kami mainkan tadi, karena beberapa kali kulihat Dave sengaja menggoda Lyn dan bahkan sesekali mencuri kesempatan untuk dapat menyentuh tubuh istriku. Aku yang tidak ingin merusak suasana terpaksa berpura2 tidak melihat apa yang Dave lakukan selama itu semua masih dalam tahap wajar.

Kulihat Lyn juga melakukan hal yang sama denganku, dengan posisi membelakangiku kulihat Lyn dengan perlahan membuka pakaian basah yang dia kenakan, sangat perlahan, seperti pertunjukan striptease bagiku. Setelah semua pakaian luarnya terlepas dan menyisakan bra hitam transparan dan gstring mini dengan warna senada, tanpa perlu diperintah aku segera memeluknya dari belakang. Kucium tengkuknya sambil tangan kanan ku meremas lembut payudara kanannya yang masih terbungkus bra tipisnya. Tidak butuh waktu lama untuk membuat istriku ini mendesah dan mengerang, suara desahannya terdengar seperti penyemangat bagiku untuk terus melakukan lebih. Kuarahkan tangan kiriku yang sejak tadi mengelus lembut perutnya yang rata ke arah selangkangannya, kuberikan permainan jariku pada klitorisnya dari luar gstring nya. Setelah kurasakan cukup untuk merangsangnya, kutuntun dia masuk ke arah kamar mandi, kutuntun dia ke arah shower.

“Jangan dibuka Lyn, aku mau lihat kamu mandi dengan pakaian dalam terpasang begitu.” pintaku saat melihat istriku ini hendak membuka kaitan bra nya.

“Vin mintanya aneh2 ah…” protesnya tapi tetap saja menuruti permintaanku, dia membatalkan membuka bra nya dan mulai menyalakan shower.

Aku hanya bisa terpana melihat istriku sedang mandi di bawah shower dengan bra transparan dan gstring masih terpakai. Tanpa sadar aku mulai mengurut penisku, tidak tahan melihat pemadangan indah di depan ku. Tiba2 muncul ide nakal di kepalaku, aku ingin melihat istriku masturbasi di bawah shower dengan hanya menggunakan pakaian dalam. Aku pun segera masuk kembali ke kamar dan mengambil dildo yang kemarin malam digunakan Lyn untuk menggapai orgasmenya.

“Lyn…” panggilku sambil memberikan dildo yang bergetar karena sudah kunyalakan.

Seperti paham apa yang aku inginkan, Lyn mengambil dildo yang kuberikan dan langsung memberikan show yang aku harapkan. Lyn menjilati dildo itu seolah sedang menjilati penis sesungguhnya, dan lalu mengarahkannya ke arah selangkangannya. Dengan gerakan erotis dia menyingkap gstringnya ke samping dan langsung memasukkan dildonya ke dalam liang vaginanya yang tampak sudah sangat basah.

Hari ini kulihat Lyn bermasturbasi dengan lebih heboh dibandingkan tadi malam, tidak tahan melihat ini semua akupun segera menghampirinya. Kuambil alih vibatornya, kugerakkan keluar masuk vaginanya sehingga membuat Lyn semakin mendesah tidak karuan. Hanya butuh beberapa menit untuknya mendapatkan orgasmenya, tubuhnya mengejang dan bergetar menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat mengatur nafas, tiba2 Lyn menangis sambil memelukku.

“Ada apa Lyn? Aku salah ya?” tanyaku yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Istriku ini tidak menjawab pertanyaanku dan masih terus menangis. Akhirnya aku melepaskan semua pakaian dalamnya dan mulai memandikannya, mandi yang sebenarnya. Setelah tubuh kami berdua bersih, akupun menghanduki tubuh kami hingga kering dan menuntunnya ke dalam kamar.

Masih terdengar tangisan ringan istriku, saat aku mulai memilihkan pakaian untuk istriku. Kupakaikan celana dalam mini warna merah ditutupi dengan tank top putih dan hotpants pendek berwarna hitam. Setelah berpakaian, kubaringkan Lyn di tempat tidur sambil aku memeluknya dari belakang. Kami berdua masih terdiam, saling tidak mengucapkan kata2.

“Maafin Lyn…” ucapnya membuka pembicaraan sambil tetap membelakangiku.

Aku yang masih tidak mengerti apa yang terjadi hanya diam tanpa memberikan jawaban padanya. Aku masih diam untuk memberinya kesempatan menjelaskan apa masalahnya.

“Maafin Lyn, Lyn sudah menjadi istri yang buruk.” lanjutnya yang membuatku semakin bingung. Aku merasa mungkin istriku ini mengingat kejadian yang kemarin malam terjadi antara dirinya dan Dave.

“Yang kemarin sudah nda perlu diingat lagi Lyn. Kemarin hanya kecelakaan kecil dan aku yakin kok Lyn tidak menginginkan itu semua terjadi.” jawabku berusaha menenangkannya sambil mempererat pelukanku.

Kulihat Lyn hanya menggelengkan kepala lalu kemudian memutar badan sehingga sekarang kami saling berhadapan. Terlihat matanya masih berkaca2 seolah siap menangis kembali. Aku yang tidak bisa melihat Lyn menangis hanya tersenyum kecil sambil membelai rambutnya.

“Lyn mau cerita sesuatu tapi Alvin harus janji tidak boleh marah.” ucapnya kembali memecah ketenangan yang sempat tercipta beberapa saat. Aku hanya bisa mengangguk, aku pasti bisa memaafkan apapun pengakuannya, karena aku yakin tidak akan ada yang lebih buruk dari kejadian kemarin malam.

Walau mendapat persetujuanku, Lyn tampak masih sedikit ragu2 untuk mulai bercerita seolah takut aku akan marah kepadanya. Aku masih terus membelai rambutnya sambil memasang senyum kecil untuk menenangkannya yang tampak sangat khawatir.

“Tadi…” Lyn memutus cerita yang baru saja dia mulai.

“Tadi Lyn digodain lagi sama Dave.” lanjutnya sambil menundukkan kepalanya seolah tidak ingin menatap mataku.

“Dave sih sudah biasa godain kamu kan Lyn. Tenang aja, asal semua nda kelewat batas.” jawabku menenangkannya.

“Tapi godaannya tadi sedikit kelewat batas Vin, dan….. Lyn menikmatinya.” perkataannya seolah menghancurkan pikiranku. Sejenak aku tidak bisa berpikir, kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan2 tentang apa yang dilakukan Dave sehingga Lyn menikmatinya. Aku berusaha menahan emosiku yang meledak karena aku telah berjanji padanya, dan yang terpenting aku tidak ingin melihat Lyn menangis lagi. Tapi di balik emosi yang menggerogoti diriku, terdapat sedikit rasa penasaran dan ketertarikan untuk mengetahui apa yang telah terjadi.

“Di mobil saat kita berangkat tadi, Dave mulai menggoda Lyn, dia mengelus paha Lyn.” ucapnya singkat. Aku sempat terkejut karena Dave telah berani menggoda Lyn padahal kami berada di dalam mobil yang sama. Aku mencoba mengingat posisi duduk kami di dalam mobil, aku duduk di depan, sedangkan Dave duduk di belakang dengan diapit istriku dan Puput. Lyn duduk tepat di belakangku, jadi aku tidak bisa melihat apa yang Dave lakukan padanya, padahal tidak jarang aku menoleh ke belakang untuk mengobrol dengan mereka.



“Lyn cuek karena memang mengelus paha Lyn bukanlah hal baru bagi Dave, Alvin tahu khan dia sering sekali menemukan cara untuk melakukannya. Tapi….. Itulah kesalahan Lyn, harusnya Lyn tidak boleh memberikan Dave kesempatan sedikitpun.” istriku mulai menceritakan lebih detail seolah paham akan rasa penasaranku.

“Lyn tidak sadar saat tiba2 tangannya telah bermain di daerah vagina Lyn. Walaupun Dave melakukannya dari luar legging, tapi apalah artinya legging tipis itu. Lyn seperti merasakan tangannya langsung menyentuh dan bermain di vagina Lyn.” kembali dia melanjutkan ceritanya. Aku yang seharusnya marah mendengar cerita istriku malah telah dikuasi oleh nafsu birahi, tanpa sadar aku telah mengarahkan tangan kananku ke area selangkangannya, kuraba dan kuelus lembut bagian paling sensitifnya itu.

“Apa seperti ini rasanya Lyn?” tanyaku sambil terus memainkan jari tanganku. Lyn hanya menggelengkan kepala, dapat kulihat perasaan kalut yang tadi menyelimutinya perlahan mulai larut digantikan oleh nafsu yang semakin terlihat jelas.

“Yang tadi lebih kerasa banget Vin.” jawabnya dengan diiringi desahan lemah dari mulutnya. Aku yang seolah ingin tahu secara detail langsung memasukkan tanganku ke dalam hotpantsnya, kembali kumainkan jariku di vaginanya yang masih terhalang celana dalam.

“Ohhh… Iya Vin seperti ini.” seru Lyn sambil mulai menggerakkan sendiri pinggulnya membuat seolah terlihat Lyn sedang menyetubuhi tanganku. Dapat kurasakan celana dalamnya sudah sangat basah oleh cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vaginanya. Tanpa meminta persetujuan segera kulepas hotpants yang sejak tadi mengganggu keleluasaan tanganku. Sekarang Lyn sudah setengah telanjang, hanya mengenakan tank top putih yang tidak sanggup menyembunyikan tonjolan putting payudaranya dan celana dalam merah yang telah basah pada bagian bawahnya. Tanpa malu dan sungkan, Lyn mulai meremas sendiri payudaranya dengan kedua tangannya, tampak sesekali dia mencubit putingnya sendiri dengan agak kasar. Sedangkan aku sendiri telah meloloskan semua pakaian yang kukenakan hingga telanjang bulat. Kusentuhkan penisku yang telah ereksi secara maksimal pada pahanya yang mulus sambil tangan kananku kembali melakukan tugasnya di vagina Lyn. Beberapa menit berlalu hanya desahan yang keluar dari mulut mungil Lyn, dia masih belum melanjutkan ceritanya.

“Apa hanya itu yang terjadi Lyn?” aku mencoba bertanya terlebih dahulu, entah kenapa aku mengharapkan ada hal lain yang terjadi. Dan jawaban kuterima dari gerakan kepala Lyn yang menggeleng.

“Lyn ga tau apa yang Lyn pikirkan, tiba2 tangan Lyn sudah menuntun tangan Dave untuk masuk ke dalam legging yang Lyn pakai. Sorry Vin tapi bener Lyn nda sadar.” ujarnya.

Aku yang sudah sepenuhnya diselimuti nafsu, bukannya marah dan cemburu malah menjadi semakin bersemangat, segera kumasukkan tanganku ke dalam celana dalam nya dan segera kumainkan klitorisnya. Aku benar2 sudah kehilangan akal sehat, aku justru menikmati pengakuan istriku yang mengalami pelecehan tepat di belakang ku dengan jarak tidak lebih dari 2 meter. Aku benar2 sudah tidak bisa menahan diri lagi, sedikit keangkat tubuhnya agar berada di atas ku, dan seolah paham yang aku inginkan Lyn langsung bangkit dan berjongkok di atas pinggulku. Dia raih penisku yang tegak mengacung dan dia posisikan tepat pada liang vaginanya yang telah terbuka dengan menarik ke samping celana dalam mininya. Tanpa kuminta, Lyn langsung menggerakan pinggulnya dengan gerakan yang lebih liar dari malam2 kami sebelumnya. Lyn benar2 menguasai diriku sepenuhnya, Lyn menyetubuhiku dengan buas seperti dia sedang memperkosaku. Aku yang tidak mau kalah langsung mengarahkan kedua tanganku ke kedua payudaranya yang masih terlindungi oleh tank top putih. Kuremas sedikit agak keras payudaranya, dan ternyata respon yang ditunjukkan Lyn sangat positif, Lyn ternyata suka diperlakukan dengan sedikit kasar.

“Apa Dave menyetubuhi mu Lyn?” tanyaku yang masih penasaran. Aku tahu pertanyaan ini konyol, bagaimana mungkin mereka bersetubuh di dalam mobil yang sama denganku tanpa kusadari, tapi aku iseng menanyakannya untuk menyemangatinya yang masih terus bergerak liar di atas tubuhku. Tapi jawaban yang kuterima benar2 membuatku hampir tidak bisa bertahan.

“Iyaahh…. Tapi… bukan di… mobil…” erangnya terputus2 diselingi desahannya.

Jadi…. Selain di dalam mobil itu, Dave juga mengganggu istriku di tempat lain? Dimana? Kapan? Kenapa aku tidak mengetahuinya?

“Kapan dan dimana Lyn?” kembali kuhujani dia dengan pertanyaanku.

“Di dalam… toilet… umum… Oughhh…” jawabnya masih dengan nafas yang berat.

Aku mencoba mengingat, memang saat selesai bermain watersport, aku sibuk dengan pengurusan pembayaran biayanya, jadi aku tidak terlalu memperhatikan keberadaan mereka.

“Tapi khan toiletnya berpintu, kok bisa Dave masuk?” tanyaku yang merasa aneh bagaimana Dave bisa berduaan di dalam toilet umum dengannya. Kembali kuremas kasar payudaranya sedangkan tangan yang lain memelintir putingnya yang semakin menonjol di balik tank topnya. Belum ada jawaban dari pertanyaanku tiba2 kurasakan otot2 vaginanya berkontraksi diikuti dengan gerakan tubuh Lyn yang bergetar hebat, aku telah berhasil memberikannya orgasme. Lyn ambruk di atas tubuhku. Aku yang masih belum tuntas langsung membalik posisi kami, sehingga sekarang aku berada di atas tubuhnya yang masih meresapi nikmatnya orgasme yang baru dia dapatkan.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku, membuat Lyn kembali mendesah. “Gimana Dave masuk?” tanyaku lagi.



“Sebenarnya bukan Dave yang memaksa ikut masuk, tapi Lyn yang ajak Dave kesana.” jawabnya singkat dengan mata terpejam menikmati vaginanya yang kembali dijejali penisku.

“Lyn benar2 ga tahan, Dave terus menggoda Lyn mulai dari mobil bahkan ketika di dalam air pun Dave terus menggoda Lyn. Seperti saat tercebur ketika bermain banana boat, Dave berpura2 menolong Lyn padahal di dalam air tangannya telah dimasukkan ke dalam legging dan bahkan di dalam gstring Lyn. Waktu bermain seawalker juga, Dave menahan tangan Lyn agar berjalan di belakang Alvin dan Puput dan dengan diam2 dia meremas payudara Lyn sambil sesekali meremas pantat Lyn.” terangnya dengan lebih detail.

Aku yang sudah semakin dekat dengan klimaks akhirnya menyerah begitu mendengar penjelasannya, kucabut dan kuarahkan penisku ke mulutnya, dan Lyn tanpa ragu2 langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya untuk kemudian menyambut semburan sperma ku.

Aku benar2 puas…. Tapi apa yang membuatku puas? Apakah aku puas karena bersetubuh dengan istriku? Atau aku puas karena bersetubuh sambil mendengarkan istriku dipermainkan di belakangku? Aku sudah tidak sanggup berpikir apa2 lagi.

Hari ini adalah hari terkahir kami di Pulau para Dewata ini, besok sore kami harus sudah kembali ke kota asal karena alasan pekerjaan. “Biarlah kegilaan ini hanya terjadi saat liburan ini.” kataku dalam hati berusaha menerima pengalaman baru yang telah terjadi sejak kami berangkat.

Akupun memeluk Lyn yang tampak kelelahan setelah bersetubuh denganku. Baru saja kami hendak memejamkan mata, tiba2 terdengar panggilan masuk di HP ku. Istriku tidak mengindahkan panggilan itu, dia terlalu capek untuk bangkit dan mengambil HP nya, akhirnya aku berinisiatif mengambilkannya. Kulihat “Unknown Number” tertera sebagai nama penelepon, istriku pun sempat bertanya siapa yang menelepon sebelum akhirnya dia terima panggilan itu.

Saat menerima panggilan itu, kulihat mata istriku melotot, tampak perasaan takut dan khawatir di wajahnya. Lyn hanya diam, tidak berkata apa2 hingga telepon itu ditutup.

“Siapa Lyn?” tanyaku dengan penuh penasaran. Namun yang kudapatkan hanya gelengan kepala dan senyuman yang terkesan dipaksakan. Akhirnya aku yang memang sudah lelah memutuskan untuk bertanya lagi nanti. Kembali kupeluk Lyn, sambil perlahan mata kami mulai terpejam ditaklukan oleh rasa lelah.



Tapi hati kecilku masih penasaran siapa penelepon barusan? Kenapa Lyn tidak menjawab apa2? Kenapa Lyn tampak sangat terkejut?

Apa yang sebenarnya terjadi?





To be continue…..

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar