Evelyn, My Naughty Wife 7: The New Beginning

 Credit to intimates


PoV : Evelyn

“Lyn keluar cari angin sebentar Vin. Lyn akan pulang secepatnya.” kuketik dan segera kukirimkan pesan BBM singkat ke Alvin, suamiku yang tadi sedang tertidur setelah persetubuhan singkat kami. Aku sendiri sekarang berada di dalam taxi yang sedang menuju ke sebuah diskotik terkenal di area Kuta. Aku bukanlah seorang wanita yang suka dengan gemerlap malam sebuah diskotik, tapi kali ini terpaksa aku harus datang ke tempat yang menurutku tabu itu. Masih teringat jelas isi pesan dari telepon tadi sore, telepon yang seolah mampu menghancurkan seluruh tulangku, telepon dari seorang pria gemuk yang berusaha kulupakan, Pak Tono.

Dengan entengnya Pak Tono mengatakan, bahkan lebih tepat disebut memerintahkan aku untuk datang ke diskotik untuk menemani temannya menghabiskan malam hanya dengan sekedar minum2, dan dia melarangku untuk menggunakan pakaian dalam apapun. Aku yang saat itu berada di samping Alvin terpaksa tidak bisa mengajukan penolakan akan keinginannya itu, apalagi dengan ditambahkan ancaman yang dapat merusak kehidupan rumah tanggaku. Karena sangat terkejutnya, aku bahkan tidak bisa mengingat siapa nama orang yang harus kutemui.

Malam ini aku menggunakan dress terusan simple berwarna hitam untuk membalut tubuh ku yang hanya menggunakan celana dalam mini dengan warna senada. Yah, memang Pak Tono melarangku menggunakan pakaian dalam, tapi aku terlalu malu bila harus keluar malam sendirian hanya dengan menggunakan dress sederhana tanpa pakaian dalam apapun. Bagiku sendiri apa yang kulakukan malam ini sungguh membuatku cemas, pergi ke suatu tempat asing hanya menggunakan dress yang pasti akan mengundang banyak pasang mata menuju ke arahku.

=================================

Tanpa kusadari aku telah berdiri di pintu masuk diskotik, walau sempat ragu akan apa yang akan terjadi di dalam sana akhirnya aku tetap melangkah masuk ke dalam. Begitu masuk kulihat suasana remang yang cenderung gelap diselingi dengan permainan lampu yang tidak cukup untuk menerangi ruang luas yang dipenuhi dengan manusia. Kulihat di atas panggung ada beberapa dancer yang berpakaian sangat minim sedang meliuk2an tubuhnya dengan erotis, seolah menyemangati beberapa kaum pria yang terlihat asyik berteriak2 di tepi panggung. Aku yang tidak familiar dengan tempat seperti ini sempat kebingungan dengan apa yang harus kulakukan hingga akhirnya kulihat ada sebuah tempat kosong di area pojok ruangan. Akupun segera duduk di barstool yang terbilang cukup tinggi, membuatku harus membuka lebar kedua pahaku untuk bisa menaikkan tubuhku untuk bisa duduk. Tapi dengan keremangan ini, aku yakin tidak akan ada yang dapat melihat ke bagian dalam pahaku yang sempat terbuka lebar tadi, apalagi dengan posisiku yang ada di pojok ruangan yang kurang mendapat perhatian seperti ini.

Sudah 5 menit berlalu tanpa aku melakukan apapun, aku hanya duduk terdiam memandangi sebotol mineral water yang telah tersedia di atas meja kecil di hadapanku. Kekosongan dalam keramaian ini terus kurasakan dalam 5 menit berikutnya, hingga aku akhirnya mengambil keputusan untuk pulang ke hotel. Namun baru saja turun dari barstool, kulihat 3 orang pemuda lokal melambai dan menuju ke arahku.

“Tante Evelyn ya?” sapanya sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Kekhawatiranku yang menggunung tadi entah kenapa sedikit berkurang begitu mengetahui orang yang harus kutemani adalah “hanya” tiga pemuda yang usianya dibawahku, kutebak usia mereka mungkin sekitar 18 tahun. Dari segi penampilanpun, mereka jauh lebih rapi jika dibandingkan dengan Pak Tono.

Setelah beberapa detik terbelenggu dalam pemikiranku, aku segera menjabat tangannya tanpa berkata apa2. Memang usia kami tidak terpaut jauh, tapi kubiarkan saja mereka memanggilku “Tante” dengan harapan agar posisiku lebih menguntungkan dengan mengingatkan bahwa aku lebih tua dibandingkan mereka. Acara perkenalan itupun berlalu dengan cepat, dan dari sana kuketahui nama mereka masing2. Dan dari perkenalan itu pula kuketahui bahwa Alex, pemuda yang pertama mengajakku berkenalan adalah keponakan dari Pak Tono.

“Om Tono bilang kalau Om ada teman yang sedang liburan di Bali dan butuh ditemani minum malam ini.” ucapnya berusaha memecah kecanggungan yang terjadi di antara kami berempat yang masih saja berdiri saling berhadapan.

“Dasar tua bangka sialan, dia mengatakan seperti itu seolah Lyn yang berharap ditemani.” umpatku dalam hati mengutuk perbuatan Pak Tono sambil berusaha tersenyum seolah2 semua memang dalam kendaliku.

“Wah barstool nya hanya ada 1 ya? Tante duduk aja, nanti diambil orang lho.” ucap Hendy, pemuda yang lain memulai menu percakapannya.

Seolah setuju dengan ucapannya, aku segera hendak duduk kembali namun masalah yang tadi aku hadapi saat hendak duduk di barstool tinggi ini terulang lagi, bahkan kali ini lebih bermasalah dikarenakan ada ketiga pemuda yang berdiri di hadapanku yang dapat kupastikan mereka akan dapat melihat pangkal pahaku bila aku memaksa untuk menaikkan kaki ku di injakan barstool ini. Namun kembali kenakalan dalam diriku yang semakin menjadi2 belakangan ini kembali muncul, entah karena tujuan apa aku dapat merasakan gairahku perlahan mulai bangkit hanya dengan membayangkan celana dalamku terlihat oleh ketiga pemuda yang baru saja kukenal. Dan tanpa dapat kutahan, kaki kananku mulai kuangkat menuju injakan barstool yang cukup tinggi membuat kedua paha ku terbuka lebar di hadapan mereka bertiga. Dan bukannya segera menaikkan tubuhku dan segera duduk, aku malah sengaja memperlambat kegiatan mesumku ini seolah sengaja memamerkan kemulusan pahaku. Memang kondisi disini cukup gelap, namun dari raut wajah ketiga pemuda itu aku yakin bahwa mereka dapat melihat jelas bagian dalam pahaku.

“Hayoo.. Matanya itu lihat kemana ya?” godaku yang semakin membuatku semakin tidak mengenali diriku sendiri. Bagaimana bisa diriku yang tadi sore baru saja menangisi ketidaksetiaan pada suamiku, sekarang sedang menyuguhkan kemulusan pahaku untuk dinikmati oleh mata ketiga pemuda yang baru kukenal ini.

Tetapi perang batin ku ini tidak berlangsung lama, aku justru *tertawa saat melihat wajah mereka bertiga yang menunduk malu mendengar pertanyaanku. Setelah beberapa saat mengobrol, kurasakan obrolan mereka sedikit demi sedikit mulai ditujukan untuk menggodaku, dan tentunya Alex selalu menjadi provokator bagi teman2nya untuk semakin menggodaku dan anehnya aku begitu menikmati digoda oleh pemuda yang bahkan usianya lebih muda dariku ini.

“Tante Lyn cantik banget hari ini, seksi lagi. Ya ga Mang?” pancing Alex kepada Komang yang segera disetujui dengan gerakan mengangguk. Diantara ketiga pemuda ini, Komang memang jauh lebih pendiam dibandingkan dengan Alex dan Hendy, dia lebih sering menundukkan kepala sambil sesekali menatap diriku, lebih tepatnya mungkin menatap bagian dadaku. Percakapan kamipun semakin mencair, perasaan khawatir dan takut yang tadi memeluk erat diriku kini telah sirna digantikan rasa santai dan enjoy, bahkan tanpa kusadari jarak antara kami sudah sangat dekat, mereka bertiga kini telah berdiri melingkariku seolah ingin mengurungku. Hingga tiba2 kurasakan sentuhan lembut pada punggungku, ya hanya sentuhan lembut dan singkat yang entah disengaja atau tidak namun telah dapat membuat seluruh tubuhku seperti tersengat listrik. Bukannya menoleh dan menegur Komang yang berdiri di belakangku, aku justru pura2 cuek dan tetap mengobrol dengan Alex yang berdiri di depanku. Entah kenapa aku merasakan ada yang hilang saat tidak merasakan kembali sentuhan di punggungku seperti tadi, aku justru menginginkan merasakan sentuhan2 pada tubuhku yang dilakukan oleh lelaki yang bukan suamiku. Dan yang kulakukan selanjutnya membuat diriku dan ketiga pemuda ini terkejut, aku sengaja membuka perlahan kedua pahaku yang kututup rapat sejak duduk tadi sambil terus mengobrol dengan Alex dan Hendy, dan semua itu kulakukan seolah2 aku tidak menyadarinya. Dapat dengan jelas kulihat bola mata Alex dan Hendy terus menatap kearah bagian dalam pahaku sambil mereka terus berpura2 menatap ke wajahku. Tapi dengan posisi ketinggian kami, aku merasa mereka tidak bisa melihat hingga celana dalamku, dan parahnya aku justru berpikir bagaimana agar mereka bisa melihat celana dalamku dan mungkin bahkan vaginaku yang mulai basah.

“Tante ga pakai Bra ya?” tanya Hendy singkat sambil matanya kini menatap lekat ke bagian payudaraku. Aku yang terkejut dan senang dengan pertanyaan ini segera menundukkan kepala ku untuk melihat bagian dadaku dan dapat kulihat dengan jelas tonjolan putting payudaraku pada dress ku yang memang terbilang cukup tipis ini.

“Wah.. Tante pakai nda ya? Kenapa nda Hendy yang cari tahu sendiri?” jawabku dengan dada yang bergemuruh, bergemuruh karena setan birahi telah berhasil membuatku kembali terjatuh dalam kekuasaannya.

Tapi kemudian hanya kekecewaan yang kudapatkan begitu mendapati Hendy hanya tersenyum sambil menggaruk2 kepalanya yang tidak gatal. Ya… Aku telah kecewa karena seorang pemuda tidak berani menyentuh payudaraku walaupun aku sendiri yang menawarkannya. Belum juga hilang rasa kekecewaan ini, tiba2 kurasakan sebuah telapak tangan telah berada di payudara kananku, dan kulihat tangan ini berasal dari belakang. Komang yang sejak tadi tidak banyak bicara justru menjadi pemuda pertama yang berani menerima tantanganku, dengan lembut dia remas payudara kananku sambil sesekali memainkan putingku. Melihat aku yang tidak memberikan tanda2 penolakan, Alex dan Hendy seolah tidak ingin ketinggalan, Hendy yang berdiri di sebelah kiriku langsung menyusul perbuatan tangan Komang pada payudaraku, sedangkan Alex dengan tangan yang agak gemetar mulai mengelus pahaku. Aku sendiri hanya bisa memejamkan mata sambil menahan diri agar tidak mendesah. Seolah bergerak sendiri, kedua tanganku kini berada di dadaku, di atas telapak tangan Hendy dan Komang, dan membantu mereka untuk meremas kasar kedua payudaraku.



“Ohhh… Ahhh… Kalian… Anak2 kurang ajar… Ughh..” kataku sambil terus mendesah menikmati pengalaman baru ku ini, pengalaman dipermainkan oleh ketiga lelaki sekaligus. Ditengah kenikmatan yang terus berlangsung ini, sekilas kulihat Alex member kode kepada kedua temannya untuk berhenti, dan dalam hitungan detik tangan mereka telah menjauh dari tubuhku, meninggalkan tubuhku yang masih terus ingin disentuh.

“Ternyata Tante Lyn nda pakai bra ya. Kalau celana dalam pakai nda ya?” tanya Alex dengan nada dibuat seperti melecehkanku. Tapi bukannya merasa terhina, aku justru merasakan vaginaku semakin membanjir. Aku yakin bahwa Alex pasti mengetahui bahwa aku menggunakan celana dalam, karena tadi tangannya telah bermain di luar celana dalamku tepat pada bagian vaginaku, tapi kenapa dia menanyakan hal yang sudah dia ketahui? Apa yang Alex inginkan?

“Kalian cari tahu saja sendiri.” ujarku cepat menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya, tapi kulihat Alex hanya menggelengkan kepalanya.

“Iya Tante pakai celana dalam kok. Puas?” lanjutku karena kulihat mereka tetap tidak bergerak, aku benar2 ingin merasakan lagi rangsangan yang mereka berikan tadi.

“Kalau gitu buktikan donk.” kembali Alex berusaha mempermalukanku sambil tersenyum mesum.

Aku tahu Alex ingin aku mengangkat bagian bawah dress ku untuk mempertontonkan area vaginaku yang masih terbungkus celana dalam hitam ini. Namun apa yang kulakukan selanjutnya justru jauh melampai apa yang dia inginkan, aku dengan gerakan perlahan mengangkat sedikit pantatku dari kursi dan kemudian memasukkan tanganku ke balik dress bagian bawahku. Kuraih karet celana dalam ku dan dengan gerakan erotis aku mulai menariknya turun hingga terlepas seluruhnya. Bahkan setelah itu aku masih terus menggoyangkan tubuhku dengan erotis dan kemudian kulemparkan celana dalam hitamku ke wajah Alex. Kudengar tawa Hendy dan Komang saat melihat Alex mulai menciumi celana dalam bekas pakaiku itu terutama pada bagian kain kecil yang tadinya melindungi vaginaku.

“Puas Lex ngerjain Tante?” ujarku sambil mencemberutkan wajahku. Belum juga mendapatkan tanggapan dari Alex, tiba2 aku merasakan Komang menarik tanganku ke belakang dan sekejap kemudian kurasakan tanganku bersentuhan dengan suatuh benda panjang, berurat, dan hangat. Tanpa menolehpun aku sangat yakin bahwa tanganku sekarang sedang menggenggam batang penis milik Komang, dan tanpa perlu dikomando segera kugerakkan tanganku mengurut batang penis yang belum kulihat itu. Kurasakan Komang mendekatkan wajahnya ke arahku, menciumi rambutku sambil terus mendesah tidak karuan. Melihat keberanian Komang, Alex segera menyingkirkan meja bar yang sejak awal menjadi pembatas antara aku dan dia. Jadilah sekarang ini aku duduk di tengah mereka sambil tangan kananku mengocok batang penis Komang. Hendy yang tampak sudah sangat bernafsu juga segera mengeluarkan penisnya dan kemudia kembali mengarahkan tangannya ke arah payudaraku. Seolah paham apa yang diinginkan Hendy, aku segera mengarahkan tangan kiriku untuk memanjakan batang penis pemuda 18 tahun itu. Sedangkan Alex kini sudah berdiri sangat2 dekat denganku, bahkan aku dapat merasakan nafasnya yang terdengar sangat berat.

Alex berusaha menarik bagian bawah dress ku ke atas dan aku membantunya dengan mengangkat sedikit pantatku untuk mempermudah aksinya menelanjangi bagian bawahku. Alex kemudian memaksa menurunkan kakiku dari pijakan barstool sehingga kini kakiku menggantung ke bawah. Dengan cepat Alex mengeluarkan penisnya dan memposisikan penisnya di antara kedua pahaku yang dia rapatkan. Alex kemudian menggerakan pinggulnya seolah sedang menyetubuhiku.

OHHHHH…. Aku benar2 menikmati ini.

Seolah menginginkan lebih, Alex segera membuka pahaku dan memposisikan diri untuk menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, namun aku segera menghentikan aksinya. Tiba2 logikaku sedikit memenangkan perang batin ku, aku tidak ingin vaginaku dimasuki penis lelaki yang baru kukenal, terlebih lagi di tempat seperti ini. Akhirnya Alex mengalah dan kembali "menyetubuhi" pahaku. Erangan dan desahan kami berempat semakin keras dan cepat seiring dengan gelombang kenikmatan yang mulai gencar melanda, hingga akhirnya Hendy membuka daftar peraih orgasme pertama bagi kami berempat. Tanpa merasa bersalah, dia menumpahkan semua spermanya ke arah lipatan dress bagian bawahku yang kini terlipat di pinggulku. Belum juga aku melayangkan protes, kurasakan paha bagian dalam ku juga disiram sperma milik Alex. Entah kenapa keinginanku untuk protes tiba2 hilang, aku lebih memilih menikmati semua hal ini, semua remasan dan belaian pada payudaraku yang sejak tadi terus dilakukan oleh Hendy dan Komang.

"Arghh... Ohhh... Vin, istrimu.. keluar... karena ketiga... pemuda ini..." aku mulai meracau tidak karuan saat aku mendapatkan orgasme dahsyatku. Tubuhku benar2 bergetar hebat dan kemudian hanya lemas dan lelah yang bisa kurasakan. Kocokan tangan kananku pada batang penis Komang yang belum juga ejakulasi sudah berhenti total, aku harus mengatur nafasku yang tersenggal2 ini.

"Kok berhenti sih Tante, aku belum keluar nih." terdengar protes dari Komang diiringi ejekan Alex dan Hendy. Komang berusaha menuntun tanganku untuk memanjakan penisnya lagi tapi aku benar2 telalu lelah saat ini hingga akhirnya kuajukan suatu penawaran untuknya.

"Kalian bawa mobil? Kalian antar Tante pulang ya, nanti Tante duduk di belakang sama Komang, kasihan nih dia." kataku yang langsung disetujui oleh Komang. Alex dan Hendy jelas tidak setuju, karena tentu mereka ingin menikmati tubuhku sekali lagi, tetapi minimal 1 orang harus mengalah untuk menjadi sopir kami. Akhirnya setelah perdebatan panjang antara Alex dan Hendy, diputuskan Hendy yang akan menjadi sopir kami.

Tanpa menunggu lama, Komang yang memang belum puas segera membantuku turun dari barstool. Setelah merapikan diri, kami segera berjalan keluar meninggalkan diskotik. Baru saja kami memasuki mobil, Komang langsung saja memaksa melepaskan selembar kain tersisa yang menutupi tubuhku. Karena tidak ingin dress ini robek terpaksa aku menurutinya dan bahkan membantunya untuk melepaskan dress hitam dengan noda putih sperma ini. Akupun segera mengarahkan tanganku untuk membuka celana panjang dan celana dalam Komang, aku harus segera membantunya menuntaskan masalahnya sebelum mereka bertiga berubah pikiran dan memperkosaku.

Mobil yang dikemudikan Hendy benar2 berjalan sangat lamban, seolah memberi banyak waktu kepada kami bertiga untuk saling memuaskan sekali lagi, namun waktu teruslah bergerak hingga akhirnya kami sudah memasuki area wilayah Nusa Dua. Karena belum ada tanda2 Komang akan ejakulasi akhirnya aku berinisiatif memberikan sesuatu yang lebih untuknya, sesuatu untuk memanjakan batang penis panjangnya ini. Aku merubah posisiku menjadi berjongkok di atas kursi mobil dan mengarahkan kepalaku ke batang penis Komang, sedangkan vaginaku otomatis menghadap ke wajah Alex.

Dengan memasang wajah genit dengan perlahan kumasukkan batang penis yang sejak tadi membuatku kagum ini ke dalam mulutku. Sedangkan di bagian vaginaku, kurasakan lidah Alex bergerak liar menikmati vaginaku yang sudah sangat basah sejak tadi. Bila saja aku tidak benar2 bertekad untuk menyelesaikan ini semua tanpa persetubuhan yang sesungguhnya, aku pasti sudah meminta dan bahkan memohon untuk diperbolehkan memasukkan batang penis Komang ini ke dalam vaginaku yang sangat gatal.

Kugerakkan kepalaku dengan cepat dengan harapan Komang akan mendapatkan ejakulasinya sambil sesekali kulirikan pandanganku mencari tahu apa yang dilakukan oleh Alex, kulihat dia sudah menggunakan tangannya sendiri untuk bermain di penisnya yang sudah kembali ereksi.

Seolah tidak ingin hanya seperti ini, aku mengarahkan tangan kiriku yang sejak tadi menganggur ke arah vaginaku yang masih asyik dijilati Alex, dan dengan diiringi desahanku aku pun mulai memasukkan jari tengahku sendiri ke dalam vaginaku untuk mengejar orgasmeku sendiri. Posisi mesum kami bertiga terus bertahan seperti ini hingga tanpa kami sadari, kami sudah hampir memasuki area hotelku. Aku harus cepat mendapatkan orgasmeku dan secepatnya memuaskan Komang sebelum mobil kami sampai di pos pemeriksaan hotel kami. Kupercepat gerakan kepalaku sambil menyapukan lidahku di penisnya diiringi dengan hisapan panjang, hingga akhirnya kurasakan usahaku mulai membuahkan hasil, kurasakan penisnya berkedut dan membesar.

"Arghh.... Telan nih pelacur." erang Komang sambil menyemburkan spermanya yang kental di dalam mulutku. Entah disengaja atau tidak, Komang terus menahan kepalaku di penisnya sehingga membuatku terpaksa menelan semua spermanya tanpa tersisa. Diperlakukan kasar dan disebut "pelacur" semakin membuat nafsuku meninggi hingga akhirnya aku juga menyusulnya mendapatkan orgasme keduaku malam ini.



"Uhhh.... Ahhh...." hanya desahan yang keluar dari mulutku. Tidak lama kemudian terdengar juga erangan dari Alex yang juga mencapai ejakulasinya sambil mengerang mengucapkan kata2 yang melecehkanku. Aku benar2 kelelahan seolah ingin segera tidur, namun mengingat akan memasuki pos penjagaan terpaksa aku menata kembali dudukku. Tetapi kembali kenakalan Alex dimulai, saat akan menggunakan kembali dress ku, Alex dengan sengaja merebut dress ku dan mendudukinya sehingga aku tidak bisa mengambilnya. Melihat waktu yang semakin sempit akhirnya aku segera duduk tenang seolah tidak terjadi apa2 saat jendela depan dibuka untuk pengurusan ijin memasuki kawasan hotel. Namun dewi fortuna kali ini berpihak padaku, petugas keamanan hanya berbicara sebentar dengan Hendy tanpa memeriksa bagian belakang tempat aku duduk.

"Kamu gila ya Lex." teriakku masih dengan suara manja saat kami sudah melewati pos keamanan.

"Tante Lyn menikmatinya khan?" tanyanya singkat sambil mencubit puting kiriku yang akhirnya kembali membuat aku mendesah.

Setelah memarkirkan mobil, Alex akhirnya mengembalikan dress ku dan akupun segera mengenakan dress hitam ku yang sudah penuh dengan bau sperma. Setelah merasa cukup rapi, aku mengeluarkan HP yang sejak tadi kusimpan di dalam tas tanganku dan kulihat banyak sekali pesan BBM dan misscall dari Alvin yang pasti sedang mengkhawatirkanku. Tidak ingin membuat suamiku lebih khawatir lagi aku segera keluar dari mobil dan meninggalkan ketiga pemuda yang hanya menatapku dengan wajah puas.

"Titip salam buat suaminya ya Tante Lyn seksi." kudengar Hendy berteriak, dan aku terus berjalan tanpa menoleh.

Ketika sudah sampai di depan pintu villa, aku benar2 bingung.

"Bagaimana kalau Alvin melihat Lyn dalam kondisi begini? Alasan apa yang harus Lyn katakan?" kataku dalam hati. Akhirnya dengan perlahan kucoba memasuki villa kami, dan akhirnya kulihat sosok Alvin yang tertidur di sofa ruang tamu. Kulirik jam dinding yang menunjukkan bahwa sekarang sudah jam setengah 1 waktu setempat. Dengan bergegas dan tanpa suara aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Lyn kamu di dalam? Darimana aja kamu Lyn?" Alvin berteriak kecil dari balik pintu kamar mandi.

"Lyn tadi jalan2 cari makanan. Habis Lyn laper tadi Vin." jawabku sekenanya tanpa berpikir dulu.

"Cari makanan kok lama banget Lyn?" tanyanya lagi terdengar seperti tidak percaya pada ku. Ya tentu dia tidak akan percaya, bagaimana mungkin mencari makanan selama ini dan selarut ini. Aku yang sudah kehabisan akal terpaksa hanya diam dan melanjutkan mandiku.

Dengan perasaan khawatir aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan semua sisa2 sperma yang menempel padaku selama berjam2 tadi. Tapi kembali kulihat sosok Alvin yang selalu menyayangiku hanya tersenyum manis ke arahku. Alvin tidak melanjutkan pertanyaan2nya tadi, dia hanya memelukku dan mengajaku tidur karena melihat raut wajahku yang tampak sangat kelelahan.

==================================

*Tulilutt Tulilutt*

Segera kuangkat HP ku tanpa memperhatikan nomor si penelepon.

"Wah Ibu Evelyn pasti sudah selesai liburan ya? Ibu Evelyn kemarin tidak menuruti permintaan saya untuk tidak pakai pakaian dalam ya?" tanpa basa basi langsung terdengar teguran dari seberang telepon.

"Mau kamu apa? Jangan macam2 sama Lyn ya. Kalau terus minta aneh2, Lyn akan lapor polisi." bentakku langsung kepadanya.

"Silahkan lapor Bu. Sebagai hukuman karena menentangku, saya sudah mengirimkan paket spesial di depan rumah Ibu. Ibu harus mengambilnya terlebih dahulu dibanding suami Ibu, kalau tidak saya tidak tanggung jawab lho Bu." katanya singkat kemudian menutup telepon.

Saat masih berusaha mengerti tentang apa yang telah terjadi, tiba2 kudengar Alvin berteriak memanggilku. "Lyn ayo masuk." Kulihat Alvin sudah di dalam mobil kami yang memang diparkir di bandara sejak kami berangkat dulu.

"Kamu gapapa Lyn? Kok tiba2 mukanya kusut banget?" Alvin mulai bertanya mengenai perubahan kondisiku. Aku tidak menjawab, aku terus memaksa otakku untuk menerka apa maksud "paket spesial" yang disampaikan Pak Tono tadi.

"Vin, Lyn capek banget, tapi di rumah nda ada makanan. Bisa nda kalau Vin antar Lyn pulang dulu terus Alvin keluar belikan makanan?" ujarku singkat setelah beberapa waktu memikirkan alasan yang tepat untuk mengatasi masalahku ini. Kulihat Alvin segera mengangguk sambil tangannya membuat tanda OK.

Setelah sampai di depan gerbang rumah, kuminta Alvin segera berangkat untuk membeli makanan untuk kami berdua. Dan setelah mobil yang suamiku kendarai itu hilang dari pandanganku, akupub segera memasuki gerbang rumahku, kusapukan pandanganku mencoba mencari "paket spesial" itu, tapi aku tidak menemukan apapun.

"Sial... Pasti aku dikerjain Pak Tono." umpatku dalam hati sambil membuka kunci pintu utama rumahku. Dengan perasaan lega aku segera membuka daun pintu rumah kami, namun tiba2 perasaan lega itu kembali digantikan rasa cemas. Kulihat ada dua pasang sandal yang bukan milikku atau milik Alvin di tempat rak sandal. Dengan perasaan cemas, aku memasuki rumahku sendiri sambil kembali mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Siapa yang memasuki rumahku?

Apa sebenarnya paket spesial yang dimaksud Pak Tono?

Apa yang akan terjadi padaku?





To be continue.....

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar