Evelyn, My Naughty Wife 8: Broken Angel

 Credit to intimates


PoV : Evelyn

“Papa… Mama…” sapa ku riang begitu melihat sosok mereka sedang duduk di ruang keluarga. Sirna sudah segala rasa cemas yang terus membayangiku sejak menerima telepon dari Pak Tono tadi. Ternyata Pak Tono hanya sedang mengerjaiku, membuatku sangat ketakutan. Kedua sosok yang sedang tersenyum ramah kepadaku sekarang ini adalah kedua orang tua Alvin yang sekarang juga menjadi orang tua ku. Mereka berdua adalah sosok penting yang sangat mendukung hubungan ku dan Alvin, mereka selalu memberikan saran dan masukan kepada kami disaat kami berdua menghadapi masalah, mereka benar2 merupakan sosok yang sangat aku sayangi dan hormati.

“Alvin mana Lyn?” Mama Linda bertanya sambil memeluk ringan tubuhku. Pertanyaan Mama seolah menyadarkan diriku akan keberadaan suamiku.

“Alvin masih keluar beli makanan Ma.” jawabku singkat sambil mengambil HP ku dan segera menelepon Alvin untuk memberitahu bahwa orang tuanya sedang di rumah dengan harapan Alvin juga memberikan makanan untuk mereka.

Setelah beberapa saat mengobrol dengan kedua orang tua kami, aku pun meminta ijin untuk mandi. Akupun segera menuju ke kamar tidurku dan mulai melepas semua pakaian luar ku menyisakan bra mini berwarna merah dan celana dalam dengan warna yang sama. Sejenak kuperhatikan bayangan tubuhku yang terpantul di cermin, kuperhatikan tubuh yang telah banyak membuat para pria menginginkan untuk menyentuhnya ini. Tanpa kusadari tanganku dengan perlahan mulai bergerak nakal mengusap perut rampingku dan menuju kearah kedua payudaraku yang masih terbungkus rapi dengan bra. Kedua tanganku terus meremasi kedua payudaraku dengan sedikit kasar sambil mendesah tidak karuan. Pikiranku kini sepenuhnya telah diisi oleh memori tentang pengalaman mesum ku selama liburan di Bali, mulai dari pelecehan yang dilakukan oleh Pak Tono hingga pengalaman terliarku dengan ketiga pemuda yang baru kukenal.

“Perkosa Lyn… Pak Tono… Penismu besar banget Mang...” aku mulai meracau tidak jelas sambil membayangkan sedang disetubuhi beramai2 oleh Pak Tono, Alex, Hendy, dan Komang. Seolah tidak puas hanya bermain di payudaraku yang terlindungi oleh bra, aku segera melepaskan bra dan celana dalamku dan mulai membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku. Sambil membuka lebar kedua pahaku, aku segera memasukkan jari tengah ke dalam vaginaku yang sudah membanjir. Aku semakin mempercepat gerakan jari ku saat kurasakan gelombang orgasme semakin mendekat.
“Arghhh… KONTOL PAK TONO ENAKK..” teriakku tanpa dapat kukontrol saat tubuhku bergetar menikmati orgasme hasil masturbasiku kali ini.

Tapi…..

Tapi entah kenapa, aku merasa kurang puas, aku merasa ada yang kurang…

AKU MENGINGINKAN PENIS BESAR DAN KEKAR YANG SESUNGGUHNYA, PENIS MILIK PAK TONO DAN KOMANG.
“Astaga… Ada Papa dan Mama di rumah, apa mereka dengar aku berteriak tadi?” kataku dalam hati begitu teringat dengan apa yang telah kulakukan. Tanpa sengaja aku melirik ke arah pintu kamar tidurku yang tadi lupa kukunci, dan apa yang kulihat sangat membuat jantungku berdetak kencang. Aku melihat daun pintu kamar tidurku sedikit terbuka dan ada bayangan hitam yang berdiri di baliknya namun aku tidak bisa melihat siapa yang sedang mengintipku karena memang celahnya sangat sempit. Dengan posisi paha terbuka lebar menghadap ke arah pintu seperti ini, dapat kupastikan bahwa si pengintip itu pasti dapat dengan jelas melihat vagina basahku yang masih diisi oleh jari tengahku.

“Siapa?” teriakku sambil segera membungkus tubuhku dengan selimut. Dengan perlahan kulihat daun pintu itu mulai terbuka dan kudapati sosok Papa Adit berdiri di depan pintu dengan wajah menunduk.

“Maaf Lyn, Papa dengar Lyn teriak, Papa kira ada apa2 dengan Lyn.” Papa mulai membuka percakapan sambil tetap berdiri di depan pintu.

“Iya Pa gapapa, Lyn yang minta maaf. Tutup Pa pintunya, Lyn malu.” ujarku cepat berharap agar Papa segera menutup pintu dan pergi. Namun yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan ku, Papa memang menutup pintunya tapi Papa justru masuk ke dalam kamar tidur dan mendekat ke arah ku yang masih berusaha menyembunyikan tubuh telanjangku di balik selimut. Tidak butuh waktu lama, kini Papa telah berdiri tepat di samping tempat tidurku tanpa bersuara, Papa hanya memandang ke arah wajahku.

“Maaf ya Papa sudah ganggu kesenangan Lyn, kalau mau dilanjut aja gapapa kok Lyn.” katanya singkat sambil memberikan penekanan pada kata “kesenangan”, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku tidak kulihat keramahan dan kasih sayang pada raut wajahnya, aku hanya bisa melihat nafsu dan birahi pada wajahnya, aku benar2 tidak mengenali sosok yang kini berdiri di sampingku. Tapi entah kenapa, aku yang seharusnya segera mengusirnya justru merasakan vaginaku kembali basah, gatal dan berkedut. Dan dalam hitungan detik kemudian tanpa kusadari jari tengahku yang memang masih berada di dalam vaginaku sejak tadi mulai bergerak dengan liar untuk memuaskan nafsu yang telah membungkus diriku. Tanpa sungkan dan malu, aku mulai mendesah tidak karuan sambil bermasturbasi di hadapan Papa mertuaku sendiri, memang tubuhku masih sepenuhnya terbungkus selimut tapi aku yakin bahwa Papa dapat mengetahui apa yang aku lakukan di balik selimut putih ini. Aku terus saja mengocok vaginaku sendiri sedangkan tanganku yang lain kini telah bermain di payudaraku. Entah kenapa aku sangat menikmati mastubasiku kali ini dibandingkan masturbasiku yang sebelumnya, aku sangat menikmati mastubasi di hadapan Papa mertuaku sendiri.

Di tengah mastubasiku yang semakin liar, aku tanpa sengaja melihat ke arah Papa mertua yang sejak tadi dengan setia berdiri di sebelah kanan ku, dan aku sangat terperangah melihat kondisi Papa mertuaku ini. Papa telah mengeluarkan penisnya dari balik celana kolornya, dan ukuran penisnya ternyata sangat besar, seukuran dengan penis Pak Tono, penis “sesungguhnya” yang tadi sangat kuinginkan.



“PA, TOLONG KELUAR ATAU LYN AKAN MARAH.” teriakku pelan ketika logika tiba2 kembali hadir dalam diriku. Aku tidak ingin sesuatu yang jauh lebih salah terjadi, aku tidak ingin mengecewakan Alvin lagi. Kulihat Papa sempat terkejut dengan reaksiku, tapi dia menuruti saja keinginanku, dia segera memasukkan lagi penisnya ke balik celananya dan mulai melangkah menuju pintu. Namun ketika sampai di depan pintu, Papa berbalik dan melihat ke arahku sambil memasang wajah datar.

“Maaf ya Lyn Papa sudah kurang ajar. O iya, tadi waktu Papa datang, ada amplop besar di depan pintu rumah dan Papa mengambilnya.” ujarnya santai sambil tetap menatapku.

“Papa juga nda sengaja lihat isinya. Kalau Lyn ingin tahu isinya nanti ambil di kamar Papa ya.” lanjutnya sambil tersenyum lembut dan kemudian pergi meninggalkan ku yang masih shock dengan apa yang baru kudengar, tanpa sadar kedua mataku telah meneteskan air mata. Masih dalam keadaan menangis, akupun segera menuju ke kamar mandi, kuharap siraman air hangat di tubuhku dapat mengurangi beban yang kutanggung ini, tetapi ternyata hal itu sia2 saja, pikiranku terus memikirkan paket apa yang diambil Papa itu.

Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, akupun mengakhiri acara mandiku, dan dengan hanya berbalut handuk kecil aku segera keluar ke kamar tidur. Setelah mengeringkan tubuhku segera kuambil pakaian santaiku dan segera kukenakan. Kali ini aku mengenakan kaos putih dan celana jeans pendek untuk menutupi tubuhku yang hanya dilindungi celana dalam, aku memang terbiasa tidak menggunakan bra saat di dalam rumah. Dengan perasaan tidak menentu akupun keluar dari kamar ku yang berada di lantai dua ini dan menuju ke ruang makan di lantai satu yang terdengar agak ramai.

“Nah itu Lyn, ayo makan sama2 Lyn.” Papa mertua menyapaku dengan senyuman ramah, seolah tidak terjadi apa2 diantara kami berdua, seolah dia telah lupa bahwa dia baru saja berdiri di samping ku sambil melihat menantunya ini bermasturbasi. Akupun terpaksa membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala, aku tidak ingin Alvin dan Mama mertua mencurigaiku.

Acara makan malam pun berlangsung dengan cair, akupun perlahan mulai berusaha melupakan kecemasanku. “Tidak mungkin Papa berpikir aneh2 ama Lyn.” kataku dalam hati berusaha meyakinkan diriku sendiri akan kebaikan Papa mertuaku ini.

“O iya Lyn, Papa mau minta tolong sebentar bisa? HP Papa suaranya kecil sekali, tolong dibenerin ya.” katanya tetap dengan wajah tenang sambil menyerahkan HP nya. Akupun segera mengambil HP itu dari tangannya, dan ketika kubuka lock screen HP nya, aku hampir saja berteriak kaget. Aku seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat pada layar HP nya, aku melihat foto diriku sedang “disetubuhi” dari belakang oleh seorang pria gemuk yang tidak kelihatan wajahnya. Seketika itu juga aku dapat langsung menebak isi paket yang dikirimkan oleh Pak Tono, pasti dia mengirimkan foto2 mesum diriku dengan dirinya. Aku merasa duniaku seperti runtuh menimpaku, rasa cemas itu kini telah digantikan oleh rasa takut sepenuhnya, aku benar2 takut Papa akan marah dan melaporkan ini kepada Alvin, suamiku. Aku terus berpikir apa yang harus kulakukan dan akhirnya aku memutuskan aku harus segera meminta maaf dan menjelaskan ini semua kepada Papa.

“Kamu gapapa Lyn? Kok berkeringat gitu?” Mama menanyakan kondisiku yang memang berubah drastis. Dan dengan berusaha terlihat santai, aku pun membohongi Mama dengan beralasan bahwa aku merasa tidak enak badan karena terlalu capek setelah berlibur.

“O iya Pa, ini battere nya low batt. Temani Lyn ambil chargernya Pa.” aku berusaha menjauhkan Papa dari Alvin dan Mama sebelum dia menceritakan tentang nakalnya diriku kepada mereka semua. Akupun segera beranjak dan menuju ke arah kamar Papa yang letaknya tidak jauh dari ruang makan, dan kulihat Papa juga mengikutiku.

“Pa, tolong maafin Lyn. Lyn benar2 dipaksa saat itu Pa.” aku mencoba membuka pembicaraan ketika kami berdua telah berada di kamar tidur Papa dan Mama.

“Apa itu wajah orang yang dipaksa Lyn? Papa kecewa sama kamu. Papa harus menceritakan ini semua kepada Alvin. Kamu nda pantas untuk Alvin.” katanya berusaha terus menenkanku dengan tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskan apa yang terjadi. Aku hanya bisa menundukan kepala sambil menangis hingga kurasakan tangan Papa berada di pundakku, dan beberapa saat kemudian dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Papa beri kesempatan buat Lyn, Papa nda akan lapor ke Alvin asal Lyn mau nurut semua keinginan Papa.” bisiknya lembut. Mendengarnya seolah membuat bebanku sedikit lebih ringan, aku begitu lega mendengar Papa tidak akan melaporkan ini kepada Alvin. Aku segera mengangguk tanda aku menyetujui persyaratannya. Baru juga aku mengangguk, tiba2 Papa seperti kesetanan langsung memeluk tubuhku sambil tangan kanannya meremasi bongkahan pantatku sambil mulutnya menciumi leherku. Aku yang terkejut spontan langsung mendorongnya agar menjauh dari diriku.

“Papa gila ya?” aku mulai berkata dengan tidak sopan kepada lelaki yang dulu selalu kubanggakan itu. Namun Papa hanya tersenyum santai sambil mengangkat kembali HP nya seolah mengingatkan kembali akan posisiku yang memang tidak memungkinkan untuk melawannya. Kembali aku hanya bisa tertunduk sambil mulai menangis lagi saat kurasakan tangan kanannya telah hinggap di payudara kiri ku. Dia remas lembut payudaraku sambil sesekali mempermainkan putingnya yang mulai mengacung tegak.

“Susumu benar2 sempurna Lyn.” ucapnya setengah berbisik. Aku hanya bisa menjawabnya dengan desahan pelan yang mulai keluar dari mulutku.

“HP nya sudah beres Lyn?” teriak Alvin dari arah ruang makan tiba2 menyadarkanku. Aku mencoba menepis tangan Papa, aku khawatir Alvin akan menuju kesini, tapi Papa dengan santainya masih tetap memainkan payudaraku, bahkan dia juga mengarahkan tangan kirinya yang sejak tadi menganggur ke payudara kanan ku.

“Iya sebentar Vin, ini tombol HPnya agak rewel, jadi agak susah.” tiba2 Papa berteriak kepada Alvin sambil kedua tangannya memencet kedua puting payudaraku, hampir saja aku mendesah keras menikmati sensasi ini, sensasi dimana mertuaku sedang mempermainkan puting payudaraku sambil berbicara dengan suamiku. Sensasi ini membuatku sangat terangsang, bahkan hanya dengan permainan jari tangannya dari luar kaosku telah hampir saja membuatku mencapai orgasme ku hanya dalam hitungan menit. Ketika aku sudah sangat dekat dengan orgasmeku, Papa tiba2 menghentikan aksinya ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Dengan santainya pula Papa beranjak keluar kamar meninggalkanku sendiri, dan tidak lama kemudian kulihat Alvin sudah berdiri di depan pintu. Dengan perasaan khawatir aku pun segera bergegas meninggalkan kamar juga dengan melipat tanganku di bagian dadaku untuk menyembunyikan kedua tonjolan putingku yang tercetak sangat jelas di kaosku.



“Lyn istirahat dulu ya… Lyn capek banget.” ujarku meminta ijin untuk kembali ke kamar tidurku sesaat ketika aku tiba di ruang makan. Kulihat Mama dan Papa yang sedang duduk segera mengangguk sambil tersenyum tanda setuju, tetapi ada yang berbeda, senyuman Papa mertuaku barusan lebih seperti senyuman licik yang penuh arti, aku jadi merinding membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Papa yang selalu aku hormati dan banggakan, sekarang telah berubah menjadi lelaki buas yang menginginkan tubuhku, tubuh menantunya sendiri.

Ketika baru saja masuk ke dalam kamar, kudengar HP ku berbunyi menandakan ada pesan BBM masuk, dan sudah bisa kutebak, nama Papa tertera sebagai pengirimnya. “Akan banyak kejutan buatmu Lyn tersayang.” isi pesan BBM yang langsung memaksa air mata ku menetes membasahi kedua pipiku. Namun belum juga keterkejutanku berakhir, kali ini HP ku berbunyi lagi menandakan adanya panggilan masuk, dan nomor yang tertera disana semakin melengkapi penderitaanku petang ini. Nomor telepon yang tertera di layar HP ku benar2 nomor telepon yang tidak akan kulupakan, nomor telepon milik pria tua yang menjadi penyebab awal diriku terlilit dalam lingkaran setan ini.

“Sudah terima paketnya Ibu Evelyn?” suara Pak Tono terdengar ketika aku menerima panggilannya. Aku yang benar2 sudah hancur hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaannya, aku hanya bisa diam dalam tangisanku yang terus meledak.

“Ibu Evelyn sudah tahu kan kalau Ibu menentang saya? Saya dapat pastikan suami Ibu yang akan menerima paket selanjutnya kalau Ibu tidak menuruti permintaan saya.” lanjutnya tanpa merasa berdosa sama sekali. Pria tua dan gemuk itu belum mengetahui bahwa paketnya tadi telah menambah panjang daftar aib yang akan kuperbuat.

“Besok pagi Ibu temani saya jalan2 ya. Saya jemput jam 9 pagi di rumah Ibu. Jangan menolak kalau Ibu sudah paham posisi Ibu.” lanjutnya masih dengan nada santai namun penuh dengan ancaman dan lalu langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dariku yang memang sejak pertama hanya terdiam. Masih dengan menangis aku segera naik ke tempat tidur dan menyembunyikan seluruh tubuhku di balik selimut, selimut yang tadi kugunakan sebagai pembatas diriku yang sedang masturbasi dengan Papa dari suamiku sendiri.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Apa yang akan Papa lakukan?”

“Bagaimana aku mengakhiri ini semua?”





Tiba2 seolah bisikan setan hinggap di otak ku yang sedang buntu…

“Bagaimana kalau aku menikmati saja semuanya?”


Setelah beberapa saat merenung, akhirnya tanpa kusadari senyuman mulai menghiasi wajahku.



To be continue…

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar