Evelyn, My Naughty Wife 9: The Changes

 Credit to intimates



POV: Evelyn


“Oke”

Akhirnya setelah 5 menit terus memandangi layar HP ku dengan perasaan bimbang, kutekan juga tombol “Send” untuk mengirimkan SMS yang hanya terdiri dari 3 huruf itu. Dengan segala pertimbangan akhirnya aku terpaksa mengambil tawaran kedua dari Pak Tono, pria tua dan gemuk yang merupakan setan penghancur kehidupanku. Beberapa saat yang lalu aku meminta atau bahkan lebih tepatnya memohon agar Pak Tono tidak datang menjemputku di rumahku ini. Setelah beberapa saat berdebat dengannya akhirnya dia menawarkan sesuatu yang tidak bisa kutolak, tetapi juga tidak bisa kuterima dengan mudah.

“Oke Bu, saya tidak akan jemput Bu Evelyn di rumah Ibu, tapi saya akan jemput Ibu di tempat lain, tapi dengan 1 syarat. Ibu Evelyn hanya boleh menggunakan pakaian seksi tanpa menggunakan pakaian dalam apa pun.”

Masih teringat jelas penawaran yang terpaksa harus kusetujui itu, aku tidak mau Alvin sampai melihatku dijemput oleh Pak Tono. Memang Alvin biasanya berangkat kerja sekitar pukul 8 pagi, lebih pagi dari waktu yang dijanjikan Pak Tono untuk menjemputku, tetapi aku tetap tidak ingin mengambil resiko apapun, khususnya resiko yang dapat menghancurkan pernikahan kami.

“Pagi2 sudah bengong aja nih istriku.” suara lembut Alvin seolah menyadarkanku dari lamunanku. Belum sempat aku menoleh ke arahnya, tiba2 sudah kurasakan kedua tangannya telah merangkulku dari belakang dengan penuh kehangatan. Seketika itu juga perasaan kecewa terhadap diriku sendiri langsung membungkus seutuhnya diriku, bagaimana bisa tadi malam aku merencanakan untuk menikmati hubunganku dengan Pak Tono, bahkan dengan Papa mertuaku sendiri. Ya walaupun tidak dapat kupungkiri bahwa aku tidak akan bisa semudah itu menerima dan bahkan menikmati hubungan tidak bermoral itu, bagaimanapun aku sangat mencintai Alvin, tetapi aku harus menghibur diriku sendiri dengan berpura2 kuat.

“Aku berangkat kerja dulu ya Lyn.” katanya singkat sambil mencium lembut tengkuk ku.

“Iya hari ini berangkat agak pagian soalnya Mama minta diantarin ke rumah Tante Lusi dulu.” lanjutnya yang seolah paham dengan kebingunganku saat melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 7.

Dengan segera aku langsung menyiapkan beberapa keperluannya untuk bekerja hari ini, aku tidak ingin Alvin terlambat kerja karena memang jarak antara rumah Tante Lusi dan tempat kerja Alvin terbilang cukup jauh. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya semua persiapan untuk Alvin bekerja terlah siap. Tiba2 bayangan hitam kembali memenuhi pikiranku, mengutuk diriku sendiri yang akan menemui lelaki lain dengan pakaian yang mengundang hasrat setiap lelaki disaat suamiku sedang bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga kami.

“Maafin Lyn.” ucapku dengan sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar sambil memeluknya erat. Kulihat Alvin hanya tersenyum ringan sementara tangan kanannya mengacak2 rambutku. Akhirnya dengan diselimuti perasaan bersalah akupun mengantarkan suamiku ini ke pintu depan dimana kulihat Mama dan Papa sudah tampak menunggu.

“Bye Lyn… Bye Pa… Titip Lyn ya Pa.” dengan santainya Alvin berpamitan. Kulihat Alvin dan Mama tampak bercanda sebentar sambil berjalan menuju mobil, berbeda dengan diriku, aku benar2 sangat terkejut dengan keadaan ini, sebelumnya aku mengira Papa akan ikut ke rumah Tante Lusi.

“Papa nda ikutan?” tanyaku berusaha sopan berpura2 seolah melupakan kejadian kemarin petang.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Papa dengan santainya justru berjalan ke arahku dan kemudian berdiri di sampingku sambil menghadap ke arah Alvin dan Mama. Aku yang masih belum bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Papa kepadaku selama hanya berduaan di rumah nanti tiba2 merasakan kehadiran sebuah tangan di bongkahan pantatku. Dengan tanpa wajah bersalah, Papa melambaikan tangan kanannya kepada Alvin dan Mama yang menoleh ke arah kami, sementara tangan kirinya mulai meremasi bongkahan pantatku yang masih terlindungi oleh piyama dan celana dalamku. Aku sangat yakin Alvin dan Mama tidak akan bisa melihat perbuatan Papa ini dikarenakan Papa berdiri sangat dekat denganku, tetapi tetap saja aku sangat khawatir mereka akan mengetahui apa yang Papa lakukan terhadapku. Aku terpaksa tidak menepis tangan nakalnya karena aku tidak ingin melakukan gerakan apapun yang bisa membuat suamiku curiga. Tapi rupanya kediamanku ini diartikan lain oleh Papa, dia merasa bahwa aku memberinya ijin untuk berbuat lebih, dengan sangat yakin dia arahkan tangan kirinya masuk ke dalam celana piyamaku dan kembali meremas pantatku. Celana dalam ku yang tipis seolah tidak berarti lagi, walaupun Papa melakukan aksi mesumnya dari luar celana dalamku, tapi aku seolah dapat langsung merasakan kasarnya telapak tangannya pada kulit pantatku yang halus.

“Papa khan harus jagain kamu, Alvin sudah minta tolong Papa untuk jagain kamu, jadi Papa harus menurutinya.” ucapnya menjawab pertanyaanku tadi dengan tetap tanpa menoleh ke arah ku, berbeda dengan tangannya yang seolah ingin mengenal lebih jauh tubuh bagian bawah ku. Tangan kirinya semakin bergerak terarah, terarah ke bagian selangkanganku, dan beberapa detik kemudian dapat kurasakan jarinya mulai bergerak nakal tepat di bagian lipatan vaginaku. Entah kenapa diperlakukan dengan tidak sopan seperti ini, dan bahkan di dekat suamiku membuatku sangat mudah terangsang. Tanpa kuinginkan, kurasakan vaginaku mulai basah dan gatal. Rangsangan yang terus diberikan Papa mertuaku ini terpaksa membuatku mendesah pelan sambil memejamkan mata dan tanganku kini telah memegang lengan Papa dari suamiku sendiri ini, bukan untuk menghentikan aksi nakalnya tetapi hanya untuk aku berpegangan karena kurasakan kakiku mulai lemas.

Walaupun mobil yang ditumpangi Alvin dan Mama sudah hilang dari pandangan kami sejak tadi, aku tetap tidak menjauhkan tubuhku dari jamahannya, yang aku pikirkan sekarang adalah aku harus mendapatkan orgasmeku, kondisiku sekarang ini sudah sangat menggantung, tubuhku menuntut untuk dipuaskan.


AKU MENGINGINKAN PENIS KEKAR YANG KEMARIN MALAM KULIHAT SAAT AKU BERMASTURBASI…


Rasa kesetiaan yang tadi sempat muncul padaku kini perlahan namun pasti mulai hilang, digantikan oleh nafsu akan penis Papa mertuaku. Aku benar2 ingin penis kekarnya bersarang di dalam vaginaku, tapi aku masih terlalu malu untuk mengatakannya, bagaimanapun dia adalah Papa mertuaku sendiri. Sementara ini aku hanya bisa pasrah berusaha menikmati permainan jari tangannya di vaginaku yang masih terlindungi oleh celana dalam yang sudah sangat basah. Setelah beberapa menit masih bertahan dalam posisi kami, aku merasakan gelombang orgasmeku akan segera hadir, tetapi apa yang terjadi selanjutnya sangat mengecewakanku. Seolah mengetahui aku yang sudah dekat dengan orgasme ku, Papa justru dengan sengaja menghentikan aksinya dan kemudian berjalan memasuki rumah meninggalkanku sendirian dalam posisi tanggung seperti ini.



Dan untuk kesekian kalinya di pagi ini logikaku tidak berjalan dengan baik, bukannya segera masuk ke dalam rumah, aku justru memasukkan tangan kananku ke dalam celana piyamaku, bahkan langsung masuk ke balik celana dalamku, bersentuhan langsung dengan vaginaku yang dihiasi dengan rambut kemaluan yang tertata rapi. Tanpa menunggu lama langsung kumasukkan jari tengahku ke dalam vaginaku yang terasa sangat gatal.


AKU BERMASTURBASI DI DEPAN PINTU RUMAHKU SENDIRI…


Entah kenapa, mengingat kondisiku yang bermasturbasi di depan pintu rumahku sendiri seperti ini justru semakin menaikkan nafsuku. Perasaan ingin dipuaskan, perasaan khawatir dilihat para tetangga, perasaan menjadi nakal, menjadi satu melengkapi orgasme dahsyat yang kudapatkan pagi ini.
“Arghh…. Shit…” pinggulku tersontak2 saat aku mendapatkan orgasme terdahsyat yang pernah kudapatkan dari masturbasi. Aku benar2 menikmati orgasmeku ini, masih dengan mata terpejam dan tangan kanan masih tersembunyi di dalam celana piyama. Setelah beberapa menit beristirahat dan menemukan kesadaranku kembali, akupun memutar tubuhku untuk masuk ke dalam rumah dan apa yang kulihat membuatku terkejut sekali lagi. Aku melihat Papa berdiri beberapa meter di belakang ku sambil tangan kirinya memegang handycam yang tampak sedang merekam apa yang kulakukan, sedangkan tangan kanannya menggenggam dan mengocok penisnya sendiri yang sudah keluar dari celana kolornya.

Melihat Papa mertuaku sedang onani sambil merekamku bermasturbasi barusan kembali membangkitkan sisi liar dalam diriku. Bukannya marah dan berusaha merebut handycamnya, aku justru kembali merasakan dikuasai oleh nafsu yang sempat menurun sesaat setelah meraih orgasmeku barusan. Penis yang tadi sangat kuinginkan kini telah terpampang dengan jelas di hadapanku, penis yang aku yakini akan sangat terasa penuh di vagina mungilku. Dengan langkah gemetar, perlahan namun pasti aku berjalan mendekatinya yang masih asyik beronani sambil memandangku.

“Ini karena Lyn dipaksa. Lyn terpaksa menyenangkan Papa agar Papa menjaga rahasia Lyn.” kataku dalam hati berusaha memberikan pembenaran atas apa yang akan aku lakukan, walaupun aku mengetahui bahwa itu bukanlah alasan utama aku berjalan mendekati Papa sambil mataku terus tidak lepas memandang penis kekarnya.

“Boleh Lyn bantu Pa?” tanyaku dengan suara bergetar. Nafsu yang menguasaiku ini telah melenyapkan segala batasan2 ada, bagaimana bisa aku menawarkan bantuan untuk memuaskan Papa mertuaku sendiri. Masih dengan tatapan mataku yang terpaku pada penisnya, aku terus menunggu jawaban dari pertanyaanku.

“Mau bantu apa Lyn?” tanyanya dengan nada sedikit mengejek dan merendahkanku.

Aku yang sudah sangat bernafsu menghiraukan pertanyaannya, langsung kuarahkan tanganku ke arah penisnya yang tegang itu, tetapi Papa justru menepis tanganku dan kemudian mengulang kembali pertanyaan yang tadi belum kujawab.

“Bantu kocokin.” jawabku singkat dengan wajah memerah karena malu dan nafsu.

“Ah nda pantes, masa menantu kocokin kontol mertuanya.” Papa kembali menekanku dengan ucapan2nya membuatku semakin bernafsu. Entah apa yang terjadi padaku, sisi gelap diriku sangat menikmati dilecehkan seperti ini.

“Ya sudah Papa kasih ijin deh, tapi Lyn cuma boleh pakai mulut, nda boleh pakai tangan sama sekali.” lanjutnya kembali seolah2 terpaksa memberiku ijin untuk membuatnya merasakan kenikmatan.

Tanpa menunggu lama, aku segera berjongkok di hadapannya sehingga posisi penisnya tepat berada di hadapan wajahku, dan beberapa detik kemudian penis kekar itu telah tersembunyi di dalam mulutku. Penis itu begitu besar sehingga rasanya mulutku tidak sanggup menampung semua batang penisnya. Dengan cekatan kujilati seluruh penisnya dari kepala penisnya hingga kantungnya. Desahan yang keluar dari mulutnya seolah memacu diriku untuk memberikan kenikmatan yang lebih kepada Papa mertuaku ini. Aku sendiri yang mulai tidak tahan dengan nafsuku segera mengarahkan tangan kananku ke arah vaginaku, sedangkan tangan kiriku ke arah payudaraku. Aku merangsang diriku sendiri sambil memberikan oral sex kepada mertuaku, aku merangsang diriku sendiri dari luar piyamaku, aku masih terlalu malu untuk telanjang bulat secara terang2an di hadapannya.

“Seponganmu mantab Lyn… Apalagi memekmu, pasti lebih mantab…” erangnya sambil terus menekan kepalaku agar tidak menjauh dari penisnya.
Setelah sekian lama memainkan penisnya di dalam mulutku, kurasakan penisnya berkedut menandakan Papa akan segera ejakulasi. Aku yang juga merasakan akan segera mendapatkan orgasmeku semakin mempercepat gerakan kepalaku hingga akhirnya dapat kurasakan spermanya yang kental memenuhi rongga mulutku bersamaan dengan orgasme kedua yang kudapat hari ini.

“Argh… Lonthe.” erang Papa sambil tetap menekankan kepalaku pada selangkangannya. Aku yang mulai kehabisan nafas terpaksa harus menelan semua spermanya, sperma dari ayah suamiku sendiri.

Sesaat setelah Papa melepaskan tangannya dari kepalaku, aku langsung berlari menuju kamar tidurku, berlari dengan rasa berdosa yang kembali hadir dalam diriku. Aku segera masuk dan mengunci kamar tidurku, aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri dari godaan ini. Aku pun segera mandi dengan harapan kucuran air hangat dapat meredakan birahi yang belum hilang sepenuhnya dari diriku. Setelah agak tenang akupun menyudahi acara mandiku dan kembali ke kamar dengan hanya melilitkan handuk ku untuk menutupi tubuhku. Dan untuk kesekian kalinya aku harus terkejut, entah bagaimana Papa mertuaku ini bisa masuk ke kamar tidur yang aku yakini telah kukunci dan duduk dengan santainya di atas tempat tidurku tanpa mengenakan celana maupun celana dalam untuk menutupi penisnya yang tampak sudah tegang kembali. Aku yang terkejut dengan reflek langsung mengarahkan tanganku untuk menutupi bagian dada dan selangkanganku yang sebenarnya masih terlindungi oleh handuk yang kukenakan.

Melihat reaksi yang tampak malu, Papa hanya tertawa lepas sambil matanya masih terus menatap seluruh tubuhku dengan tajam seolah2 dapat melihat ke balik handuk yang kukenakan. Aku masih terdiam di depan pintu kamar mandi saat tiba2 HP yang kuletakan di atas meja di samping tempat tidurku berbunyi, dan dengan kurang ajarnya Papa langsung menerima panggilan itu dengan menyalakan loudspeaker dan mengarahkan HP itu ke arahku yang masih juga terdiam di posisi yang sama dengan sebelumnya.

“Halo Bu Evelyn… Nanti jam 9 saya tunggu di depan gerbang pasar tradisional dekat rumah Ibu ya. Jangan telat kalau tidak mau dihukum.” suara Pak Tono langsung saja membuat aku dan Papa kaget.

“Iya.” jawabku singkat agar telepon segera ditutup, dan untungnya harapanku itu terkabul.

“Lyn janjian ketemuan sama siapa? Sama selingkuhannya itu ya Lyn?” Papa mulai menginterogasiku dengan tatapan wajah menyelidik.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku segera berjalan menghampirinya dan merebut HP ku yang masih berada dalam genggamannya, namun bukannya melepaskan HP ku, Papa justru menarikku sehingga kini tubuhku yang hanya berbalut handuk jatuh tepat di atas badannya. Dengan gerakan cabul, Papa mulai merabai seluruh bagian tubuhku sehingga membuat ikatan handukku semakin kendur dan beberapa saat kemudian handuk yang sejak tadi melindungi tubuh bugilku itu terlepas sudah. Dengan ganasnya Papa langsung meremas kedua payudaraku sambil mulai berusaha menciumi bibirku. Mendapat perlakuan seperti ini tentu saja memaksa nafsuku untuk meninggi, tetapi waktu perjanjianku dengan Pak Tono sudah semakin dekat sehingga aku memaksakan diriku untuk menunda kenikmatan ini. Dengan usaha yang tidak mudah akhirnya aku dapat menjauhkan tubuh bugilku dari Papa yang sudah tidak menggunakan celana.

Dengan masih dibawah tatapan mata Papa mertuaku ini, aku menuju lemari pakaian dan mulai memilih2 pakaian yang akan kukenakan untuk memenuhi permintaan Pak Tono, aku harus menurutinya daripada dia semakin menghancurkan hidupku lebih parah lagi. Akhirnya aku memilih kemeja lengan panjang berwarna putih dengan bahan yang bisa terbilang tipis dipadukan dengan rok mini jeans berwarna biru muda untuk membungkus tubuhku yang tidak menggunakan pakaian dalam apapun. Aku sengaja memilih setelan ini karena aku merasa dengan setelan ini aku dapat memenuhi keinginan Pak Tono sekaligus keinginan diriku sendiri. Walaupun kemeja ini terbuat dari bahan yang agak tipis, tapi bayangan putingku tidak akan terlalu terlihat jelas karena memang kemeja ini sedikit agak longgar.



“Wah.. Wah.. Kamu nemui selingkuhanmu di pasar dengan pakaian seperti ini Lyn? Tanpa pakaian dalam lagi. Kamu mau pamer tubuh seksimu ini ya Lyn?” Papa mulai melecehkanku dengan kata2nya dan tanpa kusadari dia telah berdiri tepat dibelakangku dan tangannya untuk kesekian kalinya dalam pagi ini meremasi bongkahan pantatku. Aku yang memang sedang buru2 terpaksa cuek akan tindakannya. Setelah sedikit berdandan akupun siap untuk berangkat, tapi tiba2 Papa memanggilku.

“Ayo Lyn Papa antar pakai mobil Papa.” tawarnya yang segera saja kusetujui dengan anggukan kepalaku daripada aku harus naik taxi dengan pakaian seperti ini.

“Tapi nanti di mobil ada bayarannya lho ya Lyn.” lanjutnya sambil tersenyum licik. Kali ini tanpa menunggu jawabanku, Papa telah menggandeng tanganku dan menuntun ku ke arah mobil yang terpakrir rapi di dalam garasi sejak kemarin malam.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kami berdua telah bersama di dalam mobil yang mulai berjalan pelan menuju tempat perjanjianku dengan Pak Tono. Namun baru saja kami keluar dari gerbang rumah, tangan Papa mulai meminta “bayaran” yang tadi dia katakan. Dengan santainya tangan kirinya diarahkan ke payudara kananku sementara tangan kanannya masih memegang kemudi mobil. Remasan kasar yang kemarin malam sempat kurasakan akhirnya kini kembali kurasakan, remasan yang sempat membuatku melayang.

Aku yakin permainan tangannya ini hanyalah sebuah awal, sebuah awal dari “pembayaran” yang harus aku penuhi , sebuah awal dari kenikmatan yang harus kuberikan, sebuah awal dari aib yang semakin memperkeruh hubungan kami.

Dengan mata terpejam, aku hanya bisa pasrah sambil menikmati permainan tangan mertuaku sendiri yang masih terus saja bermain di payudaraku. Tiba2 terbesit perkiraan2 yang akan terjadi selanjutnya pada diriku.


“Seberapa banyak aku harus “membayar” bantuan Papa mertuaku ini?”


“Apa yang diinginkan Pak Tono padaku?”


“Apa yang akan terjadi di pasar nanti?”





To be continue…

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar