Nidia 3: Tamu Tak Diundang


Hari minggu, adalah hari dimana biasa aku gunakan untuk bermalas-malasan. Seperti halnya hari itu, karena pada hari tersebut tidak ada kuliah dan agenda apapun, aku berencana hanya ingin berdiam diri di rumah.

Pagi itu, aku terbangun dari tidurku di kasur di ruang tengah. Kondisiku waktu itu adalah telanjang bulat, sedangkan selimut yang kugunakan sudah tidak berada di posisinya semula sehingga menampakkan tubuh polosku.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi untuk buang air. Karena aku masih mengantuk, hampir saja aku tertidur diatas WC duduk kamar mandi rumahku. Setelah cukup lama aku berada di kamar mandi untuk menuntaskan hasrat buang airku, aku kembali ke ruang tengah. Aku menyalakan TV dan kembali tiduran di kasur depan TV. Dan akhirnya, aku kembali tertidur di depan TV yang menyala.

Sekitar jam 10, barulah aku terbangun. Rasa lapar mau tak mau menyadarkanku dari tidurku. Tetapi meski aku lapar, rasanya aku malas untuk keluar membeli makanan. Bahkan untuk sekedar membuat telur dadar aku pun malas. Rasanya ingin tetap malas-malasan di kasurku ini. Jangankan keluar mencari makanan, untuk memakai baju saja aku malas... hehe.. Ingin rasanya ada seseorang yang mengantarkanku makanan. Bahkan bila perlu, mau sekalian menyuapiku... haha

Aku putuskan untuk memesan makanan lewat delivery order. Tapi aku sedang tidak ingin makan fast food. Alhasil aku mencari info tentang rumah makan yang menyediakan layanan delivery dengan menanyakannya ke temanku.

Akhirnya aku mendapat kontak sebuah rumah makan padang dari temanku. Segera kuhubungi rumah makan tersebut, dan memesan menu yang aku inginkan. Setelah telepon kututup, aku masih tidak beranjak dari tempat tidur. Kulanjutkan menonton TV sambil menunggu si pengantar makanan datang.

Setengah jam kemudian, bel rumahku berbunyi. Aku bangkit dari tempat tidurku untuk mengeceknya. Karena jika itu bukan si pengantar makanan, aku tidak ingin membukakan pintu. Aku sedang tidak ingin menerima tamu. Aku mengintip lewat jendela dan memastikan jika itu adalah si pengantar makanan.

"Iya sebentar..." teriakku ketika bel rumahku masih terus saja berbunyi.

Entah karena aku sedang malas atau karena niat isengku, aku berencana untuk tidak mengenakan baju pada saat menerima tamuku ini. Aku hanya mengikat rambutku yang berantakan setelah bangun tidur.

Aku membuka pintu sedikit dan hanya memperlihatkan kepalaku. Sedangkan tubuh telanjangku bersembunyi di balik pintu.

"Permisi mbak, saya dari rumah makan *** mau mengantarkan pesanan atas nama Nidia. Apa benar ini kediaman mbak Nidia?" kata pengantar makanan tersebut ramah.

"Oh iya betul mas..." jawabku senang karena akhirnya pesananku datang.

"Silahkan mbak, totalnya jadi dua puluh satu ribu.." katanya sambil menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya.

Aku pun menerimanya dengan mengeluarkan tangan kananku.

"Maaf ya mas... lagi gak pake baju soalnya... hehe... aku ambil dulu uangnya..." kataku sembari meraih bungkusan makanan dari tangannya. Aku sengaja berkata tersebut untuk menggodanya. Setidaknya meski tidak dengan memamerkan tubuhku, dengan berucap begitu pasti dia akan tergoda dan langsung membayangkan tubuhku. Dan jika memang dia membayangkan tubuhku tanpa sehelai benangpun, maka yang ada di pikirannya adalah benar.. haha.



"Oh iya mbak, gapapa..." jawabnya dengan agak gugup.

Setelah mengambil bungkusan pesananku, aku masuk ke kamar untuk mengambil uang. Aku meninggalkannya dengan kondisi pintu yang masih terbuka sedikit. Dan jika si pengantar dengan sengaja membuka pintu sedikit lebih lebar dan memasukkan kepalanya, maka dia bisa melihat pantat mulus seorang gadis telanjang sedang berjalan menuju kamarnya.

Namun ketika aku kembali setelah mengambil uang, aku melihat pintu masih dalam keadaan yang sama ketika aku meinggalkannya. Itu berarti si pengantar makanan tidak berbuat apa-apa selama aku tinggalkan.

Aku kembali ke pintu depan, kali ini dengan melilitkan handuk. Namun lilitannya sengaja tidak kubuat kencang. Bahkan terkesan apa adanya. Aku merasakan kalau pantatku tidak tertutup. Tapi tak apalah, yang penting bagian depan tubuhku tetap tertutupi handuk. Aku hanya memegang lilitan handuk tersebut agar tidak terjatuh.

Kali ini aku membuka pintu agak sedikit lebar. Setidaknya kali ini si pengantar makanan bisa melihat tubuhku meski tidak seluruhnya. Ekspresi mukanya terlihat biasa saja. Tidak terlihat  terkejut melihat penampilanku ini. Aku pun sebenarnya tidak bermaksud untuk memerkan tubuhku. Aku begini semata-mata karena aku malas berpakaian. Aku langsung menuntaskan transaksi dan kembali menutup pintu.

Aku melepaskan handuk yang kupegang memakai tangan kiri. Sehingga handuk tersebut jatuh begitu saja menampakkan tubuhku. Aku biarkan saja handuk yang tergeletak di lantai tersebut. Aku langsung berjalan menuju meja makan untuk menyantap makananku.

****

Kemalasanku berlanjut siang itu. Sekitar pukul 2, kuhabiskan waktu dengan bermasturbasi. Aku memiliki kebiasaan berlama-lama dalam melakukan masturbasi. Aku terbiasa untuk menahan orgasme dan menikmati lebih lama setiap sentuhan-sentuhan pada tubuhku. Seperti halnya hari itu, aku menikmati masturbasi sambil menonton FTV. Sebenarnya siang itu aku sudah mengalami orgasme sekali. Namun karena jari-jariku tidak berhenti bermain-main di area sensitifku, libidoku pun kembali naik.

Ditengah-tengah kenikmatan masturbasiku, tiba-tiba ada yang menggangguku. Bel rumahku berbunyi, pertanda kalau ada yang sedang bertamu. Aku mencoba untuk tak menghiraukannya dan berpura-pura sedang tidak ada di rumah. Namun sebuah suara salam dari seorang anak kecil merubah keputusanku. Entah kenapa tiba-tiba aku excited dengan kedatangan anak kecil tersebut. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mencoba melihat seperti apa tamuku ini. Aku mengintip lewat jendela, dan melihat jika tamuku ini memang anak kecil seumuran SD, memakai baju koko, peci dan membawa map.

"Pasti mau minta sumbangan" pikirku.

Aku pun membuka pintu sedikit dan memperlihatkan kepalaku, sama seperti ketika aku menerima tamu pengantar makanan paginya.



"Iya, ada apa ya?" tanyaku pada anak tersebut.

"Maaf kak, saya dari panti asuhan ....." ucapnya yang segera kupotong. Ternyata benar dugaanku. Anak ini mau meminta sumbangan.

"Oooo iyaiya.. bentar ya dek..." kataku sambil langsung bergegas menuju kamarku.

Tiba-tiba aku bersemangat untuk "pamer" pada anak ini. Maka akupun mencari baju yang akan kugunakan untuk "pamer".

Aku memilih menggunakan kaos longgar berbahan tipis. Sedangkan dalamnya dan bawahannya aku tetap tidak mengenakan apa-apa.

Aku pun mencoba kaos tersebut, dan melihat pantulan tubuhku di cermin. Kaos terebut memiliki v-neck yang cukup lebar, sehingga belahan dadaku cukup terlihat. Karena tipisnya bahan kaos tersebut, akan terlihat siluet tubuhku jika aku membelakangi cahaya. Putingku tercetak sangat jelas, karena kondisi putingku yang sedang mengeras akibat masturbasi, namun cukup tersamarkan oleh motif yang ada di kaos tersebut. Sedangkan dibawahnya, panjang kaos tersebut hanya sekitar 10cm dibawah pangkal pahaku.

Dengan rasa cukup percaya diri, aku kembali menemui tamuku. Namun sebelum itu, aku mengelap dulu selangkanganku yang memang sedang basah-basahnya.

Saat aku kembali membuka pintu, aku terkejut karena dia tidak sendirian. Namun bersama 1 orang lagi yang lebih tua, mungkin seumuran SMA. Mereka juga nampak terkejut melihat penampilanku.

Padahal awalnya aku mengira hanya ada anak kecil tadi, maka dari itu aku bersemangat untuk "pamer". Dengan adanya 1 orang lagi yang lebih tua, aku sedikit agak ragu untuk melanjutkan aksiku. Namun karena sudah terlanjur melihat penampilanku, maka show must go on.

Aku pun mempersilakan mereka masuk. Sialnya, di meja tamu dan sofaku masih berserakan bajuku. Bahkan terdapat celana dalam dan juga bra yang bekas aku kenakan. Aku memang terbiasa untuk melempar begitu saja pakaian yang aku lepas ketika masuk rumah. Dengan sigap aku langsung membereskan bajuku agar mereka tidak melihatnya. Namun sepertinya mereka masih bisa melihatnya dengan sekilas.

Aku lantas mempersilakan mereka duduk.

"Sebentar ya, aku buatin minum dulu..." kataku sambil melenggang ke dapur.

"Gausah repot-repot mbak, kami cuma mau....." kata si anak yang tua. Ucapannya memang terhenti karena aku memang pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan menuju dapur.

Aku membuatkan sirup untuk mereka. Kesempatan tersebut juga aku gunakan untuk kembali mengelap selangkanganku yang kembali basah. Memiawku tidak henti-hentinya mengeluarkan cairan seiring dengan gairahku yang sedang naik.

Setelah minum siap, aku kembali ke ruang tamu untuk menyajikannya pada mereka. Pada saat menyajikan minuman ke mereka, aku sengaja membungkuk ke arah mereka. Aku yakin dengan belahan kaos yang longgar ini, mereka dapat melihat dua buah payudara bergelantungan dengan bebas karena tidak ada yang menahannya. Aku pun  mencoba melirik untuk melihat tatapan mata mereka. Dan benar saja, tatapan si anak yang tua tak bisa lepas dari lubang kaosku, sedangkan si anak yang kecil lebih tertarik melihat minuman yang kusajikan.



Ketika aku duduk pun, tatapan si tua tak bisa lepas dari pahaku. Apalagi ketika aku berusaha mengatur posisi dudukku. Aku benar-benar kesulitan dalam mengatur posisi dudukku saat itu, tidak lain karena ujung kaosku yang tidak bisa menutupi seluruh pahaku. Alhasil aku mencoba menarik ujung kaosku agar bisa menutupi pangkal pahaku ketika aku duduk. Namun yang terjadi malah belahan dadaku semakin terlihat, dan putingku semakin tercetak jelas seiring dengan kaosku yang kutarik kebawah. Akhirnya kugunakan bantal sofa sebagai penutup pahaku.

Jika dilihat dari samping, jelas sekali terlihat kemulusan pahaku. Bahkan bongkahan pantatku juga terlihat dengan seksinya. Namun jika dilihat dari depan, atau dari arah si anak yang tua, pahaku tidak akan terlihat karena tertutup bantal sofa yang berukuran sekitar 40cm x 40cm.

Aku memecah keheningan dengan mempersilakan mereka minum. Sebagai basa-basi, aku ajak ngobrol mereka. Dan kuketahui, si anak yang tua bernama Andik sedangkan si kecil bernama Ahmad. Mereka mengaku berasal dari sebuah panti asuhan, dan bermaksud mau meminta sumbangan. Entah mereka benar-benar dari panti asuhan atau tidak, namun yang jelas mereka akan benar-benar menerima 'sumbangan' dariku.

"Kami mau memohon sumbangan seikhlasnya dari mbak buat yayasan panti asuhan kami..." ujar Andik mengutarakan maksudnya.

Aku tidak serta merta mau begitu saja menyumbang mereka, tapi aku sedikit mengintrogasi mereka. Bukannya pelit, tapi percakapan ini adalah kesempatanku untuk berbuat eksib.

Selama mengobrol dengan mereka, perlahan posisi pahaku melebar. Pada awalnya kedua pahaku merapat dan tertutup bantal sofa diatasnya, namun dengan perlahan kubuka kedua pahaku namun dengan bantal sofa yang tetap menutupinya. Jadi meskipun selangkanganku mengangkang lebar, Andik tetap tidak dapat melihat miss V ku karena tertutup bantal. Namun tentu saja Andik melihat posisi kakiku, dan pasti dia akan penasaran dengan apa yang ada dibalik bantal ini. Terbukti selama percakapan tatapan Andik selalu tertuju pada bantal ini.

Tidak cukup disitu saja, perlahan tangan kananku masuk ke balik bantal. Setelah tanganku berhasil menyentuh memiawku, jari-jariku mulai membelainya. Ya! Aku masturbasi didepan 2 anak yang tidak dikenal dan sambil mengobrol dengannya!

Mungkin mereka juga menyadari ada sesuatu yang bergerak-gerak dibalik bantal ini. Selama mengobrol pun sesekali aku menggelinjang kenikmatan dengan sentuhan tanganku sendiri. Dan jika Andik sudah pernah menonton bokep, pastilah dia tahu apa yang sedang aku lakukan meskipun dia tidak melihatnya secara langsung.

Andik terlihat gelisah, sepertinya dia mulai terangsang. Dan tiba-tiba dia meminta ijin untuk ke kamar mandi. Tentu aku tahu tujuannya dia. Dengan senang hati, aku berdiri untuk mengantarkannya ke kamar mandi rumahku. Setelah aku sedikit merapikan posisi ujung kaosku saat berdiri, aku berjalan menuju kamar mandi dan membiarkan Andik berjalan mengikutiku. Dengan gerakan sedikit kubuat-buat, kubiarkan dia menikmati bongkahan pantat yang tidak tertutup sempurna oleh ujung kaosku.

Sesampainya di depan kamar mandi, kupersilahkan Andik masuk. Setelah Andik masuk dan mengunci pintu kamar mandi, aku tidak beranjak dari depan pintu tersebut. Aku ingin mendengar apa yang dilakukan Andik di dalam kamar mandi. Dan benar saja, aku tidak mendengar suara kucuran air kencing dari dalam. Bisa kupastikan kalo Andik sedang melampiaskan hasratnya setelah kugoda lewat aksi tadi.

Tak mau melewatkan kesempatan, kupastikan kalau Ahmad masih berada di ruang tamu. Dengan begini, kuangkat ujung kaosku dan mulai melanjutkan masturbasiku sambil berdiri tepat di depan kamar mandi. Kubayangkan jika Andik sekarang sedang mengocok penisnya, begitu pula dengan aku yang sedang mengobok-obok memiawku.



Andik cukup lama berada di dalam kamar mandi, hingga akhirnya kudengar suara Andik menyiram air. Itu pertanda Andik sudah mengalami ejakulasi, dan dia menyiram ceceran sperma miliknya. Mendengar itu, aku langsung beranjak meninggalkan tempat itu. Meskipun barusan adalah kesempatan untuk melanjutkan masturbasiku, tapi aku belum sampai orgasme. Aku bergegas langsung kembali ke ruang tamu. Namun aku juga sempatkan mengambil beberapa lembar sepuluh ribuan untuk kusumbangkan ke mereka.

Di ruang tamu, Ahmad masih duduk ditempat seperti sebelum aku meninggalkannya, hanya saja gelas minumannya sudah berkurang. Pada saat aku hendak duduk, dengan sengaja aku sempatkan mengangkangkan posisi dudukku, namun setelah itu selangkanganku langsung kututup oleh bantal. Pasti Ahmad dapat melihat memiawku dengan jelas. Kini posisi dudukku sama seperti tadi, dengan tangan yang mulai bergerilya lagi. Setelah itu, barulah Andik kembali ke ruang tamu.

"Maaf mbak, perut saya sedikit mules" alasan Andik kenapa dia lama di dalam kamar mandi.

"Oh gakpapa, ini uang sumbangan dari aku untuk panti asuhan kalian" aku menunjuk uang yang sudah tergeletak di meja.

Andik terlihat mencatat sesuatu ke dalam map yang dibawanya. Sedangkan aku masih melanjutkan masturbasi di balik bantal.

Ketika aku merasa aku hampir orgasme, tiba-tiba mereka minta pamit. Andik tiba-tiba menyodorkan tangan untuk berjabat. Dengan terpaksa aku mengeluarkan tangan kananku dari balik bantal dan menjabat tangan Andik. Padahal tangan kananku saat itu sedang basah kuyup oleh cairan yang keluar dari memiawku. Mungkin Andik juga sedikit mengujiku dengan mengajak jabat tangan tersebut. Anggap saja cairan memiawku ini adalah oleh-oleh terakhir untuknya.

Pada saat mereka beranjak dan mulai meninggalkan rumahku, kusingkirkan bantal penutup selangkangan dan menuntaskan kegiatan di memiawku ini. Dan akhirnya aku mengalami orgasme hebat pada saat itu.

Pada saat aku orgasme, Andik yang sudah berada di luar depan pintu rumahku tiba-tiba membalikkan badan! Dan tentu saja dia dapat melihat aku dengan posisi mengangkang lebar serta dengan memiaw yang sedang mengeluarkan cairan kenikmatan. Kami sama-sama kaget. Tapi aku tidak langsung menutupi selangkanganku, aku malah membiarkannya. Aku malah melempar senyum pada Andik dan melambaikan tangan padanya. Dengan canggung, Andik langsung memalingkan muka dan beranjak pergi.

Sifat eksibisionisku semakin menggila!

bersambung

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. lanjutkan dong min serial nidia

    BalasHapus
  3. andik? hahha
    lanjut lagi min

    BalasHapus
  4. lanjut min, mantap ceritanya

    BalasHapus