Ranty: Aku Malu, Tapi Mau 1

  Credit: bramloser


Hai, Namaku Ranty. Umurku 16 tahun dan sedang duduk di kelas 2 SMA. Kata teman-temanku aku ini cantik, tapi emang benar kok. Udah cantik, pinter, baik hati lagi. Banyak yang naksir ^o^

Aku senang sih banyak cowok-cowok yang memuji dan lirik-lirik kepadaku. Dari teman-teman sekolah yang ganteng dan tajir, sampai satpam sekolah yang udah punya istri. Kalau hanya melirik sih biasa, tapi gak tahu deh kalau mereka juga punya pikiran-pikiran mesum. Sering tuh aku ngedapetin mereka melihat mupeng ke arahku. Dasar cowok! Pikirannya selangkangan mulu! Mereka kira aku ini bahan onani apa!? Huh! Meski aku sedikit risih, tapi aku gak mau ambil pusing juga. Biarin aja mereka mau mikir seperti apa, tetap aja mereka gak bisa ngapa-ngapain aku. Kalau lagi iseng aku kadang malah membalas tatapan mereka dengan tersenyum manis, tentu aja membuat tuh cowok makin belingsatan. Makan tuh mupeng!

Meski banyak yang naksir, aku sampai saat ini belum punya pacar. Pilih-pilih juga sih, lagi pula mama rajin bener nasehatin untuk rajin belajar dan gak pacaran dulu. Ya udah, jomblo dulu deh. Meski gitu, ada yang sering banget traktirin dan anterin aku, Kevin namanya. Kasihan juga kayak PHP-in dia, padahal baik banget. Liat ntar aja deh gimana kedepannya hubungan kami.

Kalau urusan sekolah, aku ini lumayan pinter juga lho. Gak pernah juara 1 sih, tapi selalu sepuluh besar kok, hehe. Aku sekolah di sekolah satu atap, maksudnya yang SD, SMP, dan SMA nya dalam satu komplek gitu. Kebetulan mama adalah salah satu guru di sekolah SMPnya. Jadi tiap pergi dan pulang biasanya aku bareng sama mama. Tambah gak ada kesempatan untuk pacaran kan namanya!?

Walaupun aku belum pernah pacaran, tapi tentu aja aku tau kalau pacaran itu ngapain aja. Ada yang hanya pegangan tangan, sampai ada yang bobok satu ranjang juga, iya kan? Kadang pengen juga sih ngerasainnya, tapi mama bisa marah ntar anak gadisnya diperawanin orang, hihihi. Hmm… entah kenapa aku juga sering horni gara-gara sentuhan tanganku sendiri, biasanya sih waktu sabunin badan ketika mandi. Sampai akhirnya aku pelintir-pelintir puting susu dan ngobel-ngobel meki. Rasanya kok enak banget yah??

Aku jadi ketagihan dengan yang namanya masturbasi itu. Kalau lagi ditinggal sendiri di rumah, aku bahkan ngelakukannya gak hanya di kamar mandi atau kamarku, tapi nekat melakukannya di ruang tv, ruang tamu, bahkan di kamar papa mama, dengan telanjang bulat! Saat aku masturbasi aku sampai ngebayangin kalau aku melakukannya sambil dikelilingi dan ditonton banyak cowok, entah kenapa khayalan itu membuat vaginaku semakin gatal dan banjir, tapi tentu saja itu hanya khayalan, gila aja kalau beneran terjadi >_<

Siang ini aku pulang lebih cepat dari mama, soalnya mama ada rapat guru. Bagus deh, soalnya aku lagi horni, jadi aku pengen cepat pulang aja. Kalian pasti tahu kan aku bakal ngapain sendiri di rumah? ^o^
Tapi ternyata tiba-tiba mama malah nyuruh aku ngawasin ulangan remedial murid-muridnya. Duh…. Mamaaaa! gangguin aja sih!?

“Mau kan sayang? Tolongin mama sedikit yah?” pintanya lagi yang tidak peduli aku sedang bete.
“Tapi kan Ma… kenapa gak mama aja sih?”
“Mama kan mau rapat sayang”

“Kalau gitu diundur aja Ma” balasku.
“Kalau diundur takut gak ada waktu lagi. Mumpung ada kamu yang bisa mama mintai tolong, jadi tolongin mama yah….”

“Ta-tapi kan Ranty banyak pe-er Ma” ujarku berbohong, padahal aku pengen masturbasi di rumah.
“Tolongin mama dulu dong… gak lama kok… Mau yah?”
“Ihh…. Mamaaaaaa” rengekku berusaha menolak, tapi akhirnya terpaksa aku iyakan juga. Mama ini maksa banget sih!?

Sebenarnya dulu pernah juga sih aku bantuin mama ngawasin anak muridnya ujian, tapi waktu itu bareng mama, gak sendirian seperti yang akan ku lakukan sekarang ini. Ah, ya udah deh. Ku terima saja dan setelah itu cepat pulang. Huh!

Sambil membawa lembaran soal yang diberikan mama, akupun menuju ke gedung SMP tempat mama mengajar. Jam sekolah yang sudah usai karena guru-gurunya sedang rapat, membuat suasananya menjadi sepi. Hanya satu-dua orang murid yang terlihat berlalu lalang. Ruang kelas yang diberitahukan mama untuk ujian remedial ini sendiri terletak di lantai dua, tentu saja lantai atas ini lebih sepi.

Ketika aku sampai, di sana sudah menunggu 4 orang murid. Ih, ternyata hanya empat orang aja yang remedial! Cowok semua lagi. Dungu banget nih mereka kayaknya. Setahuku mama kan pemurah kalau kasih nilai. Tapi yang bikin aku pengen ketawa itu ekspresi mereka melihat aku datang. Gak nyangka mungkin kalau yang bakal ngawas mereka ujian adalah kakak-kakak cantik. Sekalian aja ku pasang senyumku yang paling manis sambil melangkah masuk. Makin bengong deh mereka, hihihi…

“Cuma kalian aja?” tanyaku kemudian membuyarkan bengongan mereka.

“I-iya kak, cuma kita berempat” jawab yang paling kurus.
“Buk Reno kemana kak? Kok kakak yang datang?” tanya murid yang lainnya.

“Mama ada rapat, jadi kakak yang disuruh gantiin” jawabku sambil duduk di bangku guru.
“Ohh…. Kakak ini anaknya buk Reno ya?”

“Iya, kenapa?”
“Eh, nggak… itu… kakak cantik banget. Namanya siapa sih kak?” tanya yang paling item. Gila nih bocah, kecil-kecil udah pandai ngengombal!

“Ranty” jawabku sekenanya sambil tersenyum. Ku topang daguku dengan tangan sambil melihat tampang-tampang mereka. Lusuh semua -_-
“Eh, kalian bodoh ya? Kok bisa remedial sih?” tanyaku iseng kemudian.



“Enggak kok, pintar kok kak”
“Iya kak, kita pintar kok, hehehe”
“Pintar pala lu! Cari muka di depan kak Ranty yah lu? Hahaha”
“Kampret lu gangguin aja”
“Kalau aku waktu itu sakit kak, jadi aku sebenarnya ini ulangan susulan, bukan remedial kayak mereka. Aku gak pernah remedial” jawab yang berkacamata.
“Sialan! Sombong banget lu Mir!”
“Iya, sombong banget, gue beri juga lu ntar!” balas yang lain yang sepertinya tersinggung. Tapi sepertinya mereka tidak benar-benar marah. Ah, kok malah ribut gini sih? Aku kan pengen cepat-cepat selesai biar bisa cepat pulang.

“Udah udah… Diam! Jangan ribut! Kita mulai ujiannya” ujarku kemudian menenangkan mereka. Duh, gayaku udah kayak mama aja. Mungkin aku cocok nih jadi guru, hihihi.

Ujianpun dimulai. Mereka mulai mengerjakan lembaran soal matematika itu. Tapi selagi mengerjakan, mereka terus aja melirik-lirik kepadaku. Dasar, kecil-kecil udah pandai ngelihatin cewek! Ya sudah, sekalian aja aku tebar pesona. Akupun mondar-mandir berkeliling di antara mereka layaknya sedang mengawas sambil menghafal nama mereka berempat.

“Bisa ngerjainnya?” tanyaku pada Amir saat berhenti di sampingnya.
“Bi-bisa kak” jawabnya.
“Oh… bagus deh” Ku hadiahi dia senyum manisku. Sepertinya di antara mereka berempat, memang Amir lah yang paling pandai dan rajin. Sedangkan yang lain terlihat kesusahan mengerjakan soal. Meskipun begitu, tetap juga ku tanyakan hal yang sama pada murid yang lainnya.

“Kalau Anto, Dino, Surya, bisa nggak?” tanyaku kini pada yang lainnya.
“Susah kak….” Jawab Surya yang disetujui Dino dan Anto.

“Lho, kan tadi katanya pinter, gimana sih? hihihi” balasku sambil tertawa renyah menggoda mereka. Membuat mereka jadi cengengesan dan garuk-garuk kepala.

~~



Sudah lima belas menit berlalu, baru sebentar saja aku sudah merasa bosan. Mana keinginanku untuk bermasturbasi juga harus tertunda lagi. Lagian mereka ini, bukannya mengerjakan soal dengan serius, tapi malah asik ngelihatin aku.

“Cepetan dong kalian ngerjainnya” suruhku pada mereka. Aku kan ingin cepat selesai biar bisa cepat pulang.

“I-iya kak… susah sih…” jawab mereka santai. Duh, kayaknya mereka memang sengaja ingin berlama-lama di sini, bukan ngerjain ulangan dengan benar tapi malah ngecengin aku. Kurang ajar banget. Tapi kok aku malah suka ya? Tatapan mereka berempat yang sering melirik ke arahku malah membuat aku semakin horni. Duh… vaginaku makin becek aja. Suasananya jadi ganjil gini, aku horni sendirian dikelilingi tatapan nanar bocah-bocah SMP !

Semakin lama aku di sini dan ditatapi mereka, aku jadi semakin horni. Aku sampai melihat-lihat ke bawah takut-takut cairan vaginaku menetes jatuh ke lantai. Namun entah datang dari mana, aku tiba-tiba memikirkan ide gila supaya ulangan ini cepat selesai, sekaligus memuaskan fantasi erotisku.

“Eh, kalian!” Panggilku pada mereka.
“Ke-kenapa kak?”

“Kakak tahu kalau kalian liatin kakak dari tadi, iya kan??”
“Eh, i-itu… nggak kok kak”

“Nggak apanya? Jangan bohong deh… kalian pasti mikirin yang nggak-nggak kan ke kakak?” tanyaku lagi yang membuat mereka tertunduk malu karena ketahuan. Ternyata benar kalau mereka memang mikirin hal mesum ke aku dari tadi. Tapi kok aku malah senang yah?

“Kalian mikirin apa? Ngayal kakak gak pake baju? Ngayal kakak telanjang di depan kalian? Atau ngayal bisa genjotin kakak?” tanyaku kemudian sambil senyum-senyum manis. Terlihat mereka menelan ludah karena mendengar ucapanku barusan. Jelas banget mereka mupeng berat, hihihi. Rasain!

“Eh, i-itu… nggak kok kak…”
“Beneran?”
“Beneran kak”

“Oh… sayang banget yah, padahal kalau iya kakak mau kok wujudkan” godaku.
“Hah???” Sontak mereka kaget bukan main mendengarnya. Seorang kakak-kakak cantik bersedia mewujudkan khayalan mesum telanjang bulat, gimana gak kaget coba? Hihihi.

“Iya… kalau tadi beneran kalian ngayal kayak gitu, kakak mau deh wujudkan”

“Eh, itu… iya kak, kita tadi ngayal begitu” ujar mereka. Huh, dengar aku ngomong kayak gitu baru mereka mau ngaku, dasar. Aku sendiri tidak percaya bisa berkata seperti itu. Mana pernah aku bertelanjang di depan orang lain sebelumnya. Tapi aku sungguh penasaran dengan sensasinya. Duh, membayangkannya saja aku sudah horni berat. Aku sampai berdebar-debar karenanya.

“Hmm? Ngayal begitu gimana sih?” tanyaku kembali menggoda mereka. Tampak mereka memerah mukanya, sepertinya malu untuk mengatakan hal yang tidak sopan seperti itu kepada aku yang lebih tua dari mereka.

“Hayoo… kok diam?”

“I-itu… Ngayal kakak buka baju di depan kami, telanjang bulat” jawab Amir malu-malu membuat aku jadi senyum-senyum sendiri.
“Iya kak… pengen lihat kakak bugil” jawab Surya lantang yang terlihat lebih berani. Duh, kurasa si Surya ini yang paling mesum di antara mereka.



“Kalau kamu Nto? Dino?” tanyaku pada dua yang lain.
“Sama kak, hehehe” jawab mereka cengengesan.

“Sama gimana sih?” tanyaku lagi.
“Pengen lihat kak Ranty telanjang juga”

“Oh…” Duh, mendengar mereka meminta hal cabul seperti itu sungguh membuat aku makin horni.
“Tapi ada syaratnya ya…” ujarku kemudian.

“Apa kak?”
“Syaratnya apaan kak?”

“Kalau kalian bisa selesaikan ulangan sebelum jam 1, kakak bakal wujudkan fantasi kalian itu” jawabku tersenyum manis sambil meraba-raba kancing kemeja seragamku, menggoda mereka seakan ingin membukanya. Tentu saja membuat mereka lagi-lagi menelan ludah, hihihi.

“Beneran kak? Kakak mau telanjang di depan kami??”
“Iya… tapi hanya telanjang aja yah”

“Yang genjot-genjotin kakak itu nggak yah kak? Hehehe” ujar si Surya mesum. Tuh anak betul-betul cabul!

“Nggak! Enak banget kalian kalau yang itu iya juga… Kalau banyak minta gitu gak usah aja nih ya!?” ancamku kemudian.
“Hehehe, bercanda kok kak, jangan marah dong… tapi janji yah kak? Kalau selesai sebelum jam 1 kak Ranty bakal buka baju?”

“Iya janji… Buruan deh kalau gitu, cuma 15 menit lagi lho sampai jam 1” ujarku kemudian kembali duduk di bangku guru. Merekapun langsung terbirit-birit mengerjakan sisa soal yang belum diselesaikan. Dari yang ku lihat sih cukup banyak, aku gak yakin mereka bisa menyelesaikannya tepat waktu. Ya… aku sebenarnya gak serius juga sih pengen benar-benar membuka semua auratku di hadapan mereka. Setengah diriku ingin kalau mereka gak berhasil menyelesaikannya, tapi setengahnya lagi juga sungguh penasaran kalau aku beneran telanjang di depan mereka. Ughh…

Dan akhirnya setelah beberapa saat kemudian…
“Selesai kak!”
“Aku juga kak!”
Duh, mereka selesai! Aku tidak menyangka kalau mereka bisa menyelesaikan soal-soal yang tersisa secepat ini. Mereka sepertinya antusias banget pengen lihat aku telanjang. Entah jawaban yang mereka bikin itu sudah benar atau hanya asal-asalan aku juga tidak tahu. Kayaknya sih sebagian besar emang dibikin asal-asalan saja.

“Jawabannya kok sembarangan gini sih? Ini kan rumusnya salah” kataku melihat kertas jawaban mereka.

“Lah, kan tadi katanya kalau bisa selesaikan sebelum jam 1, bukan kalau bisa jawab yang benar semuanya, hehehe” balas Anto cengengesan yang diiyakan oleh yang lain. Benar juga sih omongannya. Tapi… glek, masa aku beneran harus telanjang di depan mereka sih?

“Kalian ini… pandai banget alasannya! Kepengen banget yah lihat kakak telanjang!?” ujarku pura-pura bete.
“Iya kak, kan kak Ranty udah janji”
“Iya kak, janji harus ditepati lho, hehe” desak mereka.

Duh, gimana nih? Beneran harus buka baju kah? Sepertinya sih telanjang di depan anak-anak SMP seperti mereka gak berbahaya, tapi mereka udah ngerti hal begituan juga kan?? Apalagi si Surya jelas banget mesumnya. Kalau mereka nekat macam-macam gimana dong? Binguuung…

“Ayo kak Ranty, buka dong bajunya”
“Iya kak…buka” desak mereka lagi. Ahhh… Ya sudah deh kalau gitu. Ku turuti saja. Aku juga penasaran sih rasanya gimana.

“Oke deh kakak penuhi janjinya, tapi inget gak boleh macam-macam tanpa seizin kakak yah?”
“I-iya kak…”

“Janji?” tanyaku sambil tersenyum manis dengan wajah diimut-imutkan.
“Ja-jan-ji kak, sueer!” jawab mereka serentak terbata-bata.

“Hihihi, udah mupeng aja nih…” godaku sambil mulai menarik keluar kemeja dari rok, ikat rambutku juga ku buka membiarkan rambut panjangku terurai. Aku yang tadi masih terlihat rapi, kini sudah kusut, tentunya itu sangat menggoda di mata mereka ^o^

Aku kemudian meraih kancing paling atas kemejaku.
“Pintunya ditutup dulu dong…” suruhku pada mereka sebelum melanjutkan.

“I-iya kak…” merekapun langsung menuruti.

“Eh, kalian ngadap ke belakang dong…” pintaku lagi.
“Yaaaah, kita pengen lihat kak…”



“Hah? Kenapa? Lebih deg-degkan yah kalau lihat prosesnya? Hihihi” godaku.
“I-iya kak, boleh yah?”
“Iya deh, dasar kalian ini”

Akupun lanjut membuka kancing kemejaku. Ku lakukan dengan tetap berusaha tersenyum semanis mungkin pada mereka di tengah jantungku yang semakin berdetak cepat. Ku rasa bukan hanya aku saja yang jantungnya berdetak cepat saat ini, tapi juga mereka. Mata mereka sepertinya juga tidak mau berkedip dari tadi melihat pemandangan ini.

Satu persatu kancing kemejaku terlepas, hanya tinggal satu kancing lagi yang belum terbuka. Aku godain mereka lagi ah ^o^

“Eh, tadi siapa yang pertama selesai?” tanyaku.
“Aku kak” jawab Surya bersemangat. Duh, kenapa harus si mesum ini sih? Tapi biar aja deh.

“Kalau gitu kamu kakak kasih bonus deh. Tolong bantu lepasin kancing ini dong… Bantu telanjangi kakak” pintaku manja menunjuk satu kancing terakhir yang masih terpasang.

“I-iya kak” Dengan girangnya diapun mendekat, meraih kancing yang paling bawah lalu berusaha membukanya. Tampak ketiga temannya iri berat karena Surya kedapatan bagian.

Akhirnya seluruh kancing kemejakupun terbuka. Bra, belahan dada, serta perut rataku jelas terlihat oleh mereka semua.

“Tolong bantu lepasin kemeja kakak juga yah…” lanjutku lagi meminta tolong pada Surya, yang tentunya membuatnya semakin girang sedangkan teman-temannya semakin iri. Diapun segera menuruti dan mulai melolosi kemeja itu dari tubuhku. Dia tarik perlahan hingga pundak kirikupun terpampang. Sungguh gila sensasi yang ku rasakan. Aku membiarkan diriku ditelanjangi sambil ditontoni rame-rame!

Setelah membuka yang sebelah kiri, selanjutnya yang kanan. Sekarang kemeja itu benar-benar terlepas dari badan. Hanya bra saja yang masih melekat di bagian atas tubuhku. Tapi tentu saja ini belum selesai.

“Okeh, makasih yah…” ucapku pada Surya.
“Gak lanjut bukain yang lainnya kak? hehe”

“Huuu… maunya. Gak usah”
“Yaaah, kirain”

Dengan masih deg-degkan, kini akupun mulai membuka rok abu-abuku. Tentunya dengan terus tersenyum manis ke arah mereka berempat. Ku turunkan perlahan rok ku hingga rok itupun juga lolos ke lantai. Sekarang aku hanya mengenakan dalaman saja! Bra dan celana dalam berwarna hitam.

“Udah cukup kan? Segini aja yah?”
“Yaaah…kak Ranty, dalamannya kan belum dibuka. Buka juga dong…” pinta mereka memelas.

“Dalamannya juga? Kakak kan udah buka seragamnya” ujarku senyum-senyum.
“Tapi kan tadi katanya telanjang” balas mereka ngotot. Duh, kecil-kecil nafsunya udah gede rupanya, hihihi.

“Hmm… iya deh kakak buka, tapi ngadap ke belakang dulu gih…” pintaku.
“Tapi janji buka semuanya yah kak? Hehe”

“Iya iyah… kakak bakal buka semuanya khusus untuk kalian. Jangan berbalik sebelum kakak suruh” jawabku mengiyakan yang disambut senyum sumringah. Mereka berempatpun menghadap ke belakang membelakangiku. Ugh, kali ini aku betul-betul akan bertelanjang bulat. Dengan cepat akupun membuka bra dan celana dalam yang masih melekat di tubuhku. Setelah ku lepas, akupun lalu menyuruh mereka menghadap lagi ke arahku. Namun sebelumnya tangan kananku sudah menutupi vaginaku, sedangkan tangan kiriku menyilang menutupi kedua putting susuku. Tapi sepertinya pose ini malah membuat mereka semakin mupeng melihatku.

“Wow!”
“Wahh… kak Ranty cantik banget! Putih muluuuuuss!”
“Gila cuy! Kak Ranty seksi abiss!” Seru mereka terpana melihat aku yang telanjang bulat polos di hadapan mereka. Aku senang banget dipuji mereka seperti itu, juga membuatku makin horni meskipun betul-betul malu.

“Puas?” tanyaku grogi meskipun aku horni berat. Ku rasa wajahku sedang bersemu merah saat ini. Aku sungguh deg-degkan. Ini betul-betul hal yang baru bagiku. Biasanya hanya di kamar atau di kamar mandi saja aku telanjang bulat, tapi sekarang aku telanjang bulat di ruang kelas sambil ditontonin rame-rame.

Sungguh suasana yang mesum. Aku, seorang gadis SMA sedang telanjang bulat dikelilingi bocah-bocah SMP yang menatapku dengan nafsu! Tidak ada satupun yang menempel ditubuhku, kecuali cincin perak pemberian Kevin, gebetanku. Duh, aku jadi merasa bersalah sama dia. Yang penting dia gak tahu deh. Aku juga gak kebayang kalau mama melihat keadaanku sekarang. Anak gadisnya yang masih perawan, telanjang dikelilingi murid-muridnya.



“Duh… kak Ranty…” gumam mereka tak henti-hentinya menyebut namaku sambil matanya terus menjelajahi tubuh telanjangku dari atas hingga bawah.

“Kenapa? Gak tahan yah? Kalau gitu kakak pake baju lagi deh…”

“Eh, jangan kak!”

“Abisnya kalian gitu amat lihatnya. Kakak kan takut. Kalian berempat, sedangkan kakak sendirian cewek di sini, telanjang bulat lagi” Meskipun mereka masih SMP, tapi mereka itu kan cowok, badannya gak kalah gede dengan aku. Kalau mereka terbakar nafsu kan gawat juga.

“Kami janji gak bakal macam-macam kok kak” ujar Amir.
“Benar kak, kan udah janji tadi gak bakal macam-macam tanpa seizin kak Ranty” sambung yang lainnya. Huh, tentu saja mereka tidak ingin pemandangan ini cepat berlalu.

“Hmm… bagus deh kalian ingat janjinya” Walaupun aku takut, ku coba saja untuk percaya kalau mereka gak akan macam-macam. Akupun lalu membiarkan mata mereka puas-puas menjelajahi seluruh auratku. Arghh… aku semakin basah dibuatnya. Aku yakin mereka dapat melihat cairan vaginaku merembes dari balik tanganku. Si Surya bahkan berjongkok dan melihat lekat-lekat ke depan selangkanganku.

“Eh, mau ngapain?” tanyaku cemas.
“Tangannya dibuka dong kak… masak ditutupi gitu sih?” suruh Surya. Tampaknya dia sangat penasaran dengan ‘bagian’ itu.

“Apanya yang ditutupi?” tanyaku balik pura-pura tidak tahu.
“I-itu… memek kakak”
“Susunya kakak juga” jawab mereka vulgar. Ish, belajar dari mana sih mereka kata-kata itu.

“Emang kalian belum pernah liat?” tanyaku lagi.

“Kalau yang asli belum kak, cuma liat di warnet aja. Mau yah kak buka, kasih lihat memeknya, hehe”
“Jorok ih ngomongnya. Hmm… gak ah, gini aja”

“Yah… kak, buka dong… Cuma liat aja kok”
“Nggak!” tolakku. Selain karena aku malu, aku juga emang sengaja bikin mereka penasaran terus, hihihi.

“Yaaah… kalau gitu kita boleh nggak ngocok?” pinta Dino.
“Hah? Gila kalian!?”
“Ayo dong kak… masak gak boleh semua sih?” ujar yang lain ikut-ikutan. Duh, gawat nih, mereka makin ngelunjak mesumnya. Tapi kalau gak diturutin gawat juga, masih untung cuma pengen onani aja. Biarin aja deh… aku juga penasaran pengen lihat.

“Hmm… ya udah. Segitunya banget sih kalian, hihihi” ujarku membolehkan. Merekapun tampak senang banget. Gimana gak senang coba? Beruntung banget pastinya bisa onani sambil melihat cewek cantik putih mulus telanjang bulat di depan mereka, hihihi.

Merekapun mengeluarkan penis mereka dan tanpa menunggu lagi langsung mengocok penisnya beramai-ramai di depanku, sungguh cabul! Namun sensasi dijadikan objek onani secara langsung ini betul-betul membuat tubuhku gemetaran, dan tentunya juga membuat vaginaku makin gatal. Argh… aku sampai tidak sadar kalau sudah menggesek-gesekkan tanganku di permukaan vaginaku.

“Kenapa kak?” tanya Amir heran melihat gelagatku. Entah mereka tahu atau tidak kalau aku sedang horni berat saat ini.

“Eh, ng-nggak… nggak kenapa-kenapa kok. Kalian enak ngocoknya?” ujarku balik bertanya.

“Enak kak… Ugh… kak Ranty” erang mereka sahut menyahut. Betul-betul enak mereka ini, tiap kocokan penis mereka selalu ditemani senyum manis dariku. Tapi duh… aku kan pengen enak juga, tapi gengsi kan ikut-ikutan masturbasi di hadapan mereka.

Selama beberapa menit kemudian, meski rasa geli pada vaginaku semakin menjadi-jadi, ku biarkan saja mereka terus melakukan aksi mesum mereka itu di hadapanku. Tapi akhirnya aku gak tahan lagi, dengan cepat ku duduki sandaran lengan kursi di dekatku, tidak peduli kalau mungkin tadi sekilas vaginaku terlihat oleh mereka.

Akupun melakukan hal yang tidak kalah mesumnya, aku menggesek-gesekkan vaginaku di sana, di sandaran tangan kursi! Kursi yang biasa diduduki oleh mama sewaktu mengajar kini aku gesek-gesekan pada vaginaku sehingga membuat sandaran tangan kursi itu basah oleh cairanku.
“Arghh… Maaaaa, maafin Ranty” batinku dalam hati.

Sambil terus menggesek, tanganku tetap berusaha menutupi kedua putting payudaraku. Tapi aku tidak terlalu peduli lagi kalau putingku akan bisa terlihat oleh mereka. Tutupan tanganku sekarang lebih longgar dari sebelumnya.

Melihat apa yang aku lakukan, tentu saja membuat mereka jadi terheran-heran. Sungguh pemandangan yang cabul tentunya, apalagi dari mata-mata bocah-bocah SMP yang sedari tadi mupeng berat kepadaku. Masa bodoh ah, mereka pikir mereka aja yang pengen enak, aku kan pengen juga. Tapi aku tidak menyangka kalau akhirnya aku malah bermasturbasi di hadapan bocah-bocah SMP mesum ini.



“Kak Ranty… seksi bangeeeet… arghhhh….”
“Cantik… kak Ranty cantik”
“Kak Ranty…. Pengen ngentotin kakak” Racau mereka semakin menjadi-jadi. Gila, bahkan sampai nyebut hal sevulgar itu kepadaku. Betul-betul kurang ajar! Tapi aku justru semakin horni dibuatnya. Malah aku membalas dengan tatapan sayu yang mengundang pada mereka semua. Tentunya membuat mereka semakin belingsatan, kocokan penis mereka semakin cepat!

Suasana semakin memanas. Aku bahkan tidak berusaha menutup-nutupi lagi putingku. Ku biarkan saja mata mereka melalap mulusnya buah dadaku. Tubuhku juga membusung ke depan seiring gesekan vaginaku yang makin lama semakin kencang menggesek sandaran lengan kursi ini. Wajah keempat bocah ini tampak begitu berantakan, jelas kalau mereka sudah hampir sampai.

“Keluarin aja, gak usah ditahan” ucapku mendesah, lalu tersenyum semanis mungkin. Jurus mautku itu sukses membuat mereka tidak tahan dan muncrat sejadi-jadinya!

“Arghhhh… kak Rantyyyyyy”
Crooott… croooot…. Sperma mereka berhamburan serentak menembak bertubi-tubi. Bahkan ada di antara mereka yang muncrat sangat kencang hingga mengenai kakiku. Baru pertama kali aku dipejuin begini.

Akupun juga mencapai klimaksku. Bermasturbasi sambil ditonton cowok-cowok begini membuat orgasmeku terasa jauh lebih nikmat dari yang pernah aku rasakan sebelum-sebelum ini. Sungguh memalukan, tapi rasanya sungguh luar biasa. Ahhhhhh……. Kursi dan lantai jadi becek banget karena cairanku yang mancur-mancur.

Aakhirnya rasa gatel di vaginaku hilang juga.

“Udahan kan? Udah lega kan?” tanyaku pada mereka setelah suasana mereda.
“Udah kak, makasih kak, enak banget” jawab mereka dengan nafas masih berat. Meski sudah muncrat, mata mereka masih saja tidak beranjak dariku. Tentu saja mereka kini lebih fokus ke putting serta vaginaku yang sudah tidak ku tutup-tutupi lagi.

“Hihihi, dasar kalian mesum!”
Ah, ku biarkan saja mereka menuntaskan rasa penasaran mereka dulu melihat bagian-bagian itu, terutama vaginaku. Mereka juga mulai berani pegang-pegang aku, yah… kalau hanya pegang tangan dikit gak apa lah. Tapi dasar si Surya cabul, dia nekat megang buah dadaku.

“Eh, hati-hati tangannya!” ujarku dengan wajah kesal.
“Maaf kak, penasaran, hehe” Ugh, beruntung banget dia bisa meremas buah dadaku!

“Gak boleh pegang-pegang yah! Udahan kan? Ayo sana beres-beres!” suruhku pada mereka.
“Yah… kak Ranty, tapi kapan-kapan boleh lagi kan kak?”

“Hah? Enak aja! Emangnya kakak ini apaan!? Sudah sana… hanya sekali ini saja”
“Yah…. Kita kan masih pengen ujian remedial sama kakak lagi, hehe“

“Hahahaha, kalian pengen ujian remedial sama kakak lagi? Berarti pengen nilai jelek terus dong? Gak belajar terus dong?”

“Iya kak, biarin deh ujian remedial terus asal kakak yang ngawasin, hehe”
“Dasar kalian ini. Hmm… liat ntar deh… Tapi ingat, jangan kasih tau mama kakak kejadian ini yah… awas lho” ujarku memberi harapan.

“I-iya kak…” sahut mereka girang. Dasar, kalau urusan begini semangat, disuruh belajar gak mau. Malah ngarepin remedial lagi sama aku. >_<



Akhirnya aktifitas cabul ini selesai. Ku suruh mereka cepat pergi, kalau nggak bakal keterusan dan tentunya bakalan gawat. Setelah mereka pergi, aku yang masih bertelanjang bulat membersihkan dahulu lantai dan kursi yang berceceran cairan vaginaku dan sperma mereka.

Saat akan mengenakan kembali pakaianku, aku tiba-tiba kepikiran ide iseng ingin berjalan bugil ke luar kelas. Duh, tapi kalau ada yang lihat kan bisa gawat. Tapi penasaran juga sih gimana rasanya bugil di tempat umum. Ku coba mengecek keadaan di luar dari celah pintu. Sepi sih… tapi belum tentu gak ketahuan juga, apalagi kalau ketahuan sama mama, mati aku.

Aku membayangkan keliling gedung sekolah ini dengan bertelanjang bulat. Terus masuk ke WC cowok dan masturbasi di lantai. Uh, ngebayanginnya aja membuat vaginaku gatal lagi. Tapi gak usah dulu deh, lain kali aja. Gede resikonya. Ngumpulin keberanian dulu….

Akhirnya akupun memakai pakaianku lagi dan bersiap-siap kembali. Saat aku turun ke bawah aku bertemu dengan mama! Dia bilang kalau rapatnya sudah selesai dan ingin mengecek aku ngawas ujian. Fiuh, untung saja ‘ujian remedialnya’ udah selesai. Bisa gawat kalau ketahuan sama mama.

“Gimana mereka ujiannya? Mereka gak bandel kan?” tanya mama padaku.
“Bandel Ma! Bandel banget!” ^o^

**** End of this chapter ***

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

1 komentar: