Ranty: Aku Malu, Tapi Mau 2

 Credit: bramloser


Hari sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Sedari pagi aku hanya tidur-tiduran saja sambil nonton tv di ruang tengah. Rasanya malas banget ngapa-ngapain, mumpung hari minggu, hehe. Papa Mama sejak pagi tadi sudah berangkat ke luar kota karena ada urusan dan baru pulang nanti malam, jadi seharian ini aku sendirian di rumah. Bebas mau ngapain aja. ^o^

Lama-lama bosan juga hanya tidur-tiduran sambil nonton tv. Aku kemudian memutuskan untuk mandi. Tapi… aku iseng membuka seluruh bajuku di sini lalu berjalan bugil menuju kamar mandi. Kalau orangtuaku melihatku seperti ini pasti mereka pikir aku sudah gila karena keluyuran gak pake baju, hihihi. Tapi rasanya asik banget, adem.

Ku perhatikan diriku di cermin kamar mandi. Hmm… Aku gak nyangka kalau pemandangan diriku bugil ini sudah ada orang yang melihatnya. Bukan oleh pacarku, tapi malah bocah-bocah SMP! Kalau mengingat kejadian kemarin aku jadi senyum-senyum sendiri. Nekat banget yah aku sampai mau bertelanjang bulat di hadapan mereka. Meskipun aku malu, tapi aku mau juga. Untung saja mereka memegang janjinya untuk tidak macam-macam, hanya sampai onani saja di depanku. Itu betul-betul pengalaman paling erotis yang pernah aku alami. Pengen banget ngulanginya lagi, sensasinya itu lho… rasa berdebar ketika tubuhku yang seharusnya tertutup dan gak satu cowokpun yang harusnya melihat, tapi malah dipelototin seenaknya oleh mereka, bahkan dijadikan objek coli secara langsung! Tapi… takut juga ah ngulanginya lagi.

Akupun mandi seperti biasanya, mandi sambil ‘sedikit’ bermasturbasi. Rasaya maniak banget sih aku pagi-pagi udah masturbasi. Biarin aja ah, gak ada yang tahu juga. hihi. Orang-orang sekitarku pasti gak bakal menyangka kalau aku ketagihan melakukan ini. Teman-temanku mengenal aku kan sebagai orang yang jaim, milih-milih kalau dekat sama cowok. Orangtuaku juga tahunya aku ini anak yang penurut dan gak suka macam-macam. Apalagi gebetanku Kevin, dia mikirnya aku kan cewek yang baik dan sopan. Apa jadinya kalau mereka tahu kenakalanku ini. Apa jadinya kalau Kevin tahu kalau gebetannya ini udah pernah telanjang bulat di depan bocah-bocah cowok SMP. Ugh… >_<

Selesai mandi, aku memutuskan untuk tidak memakai baju dan terus bertelanjang bulat, bahkan tidak mengelap kering badanku dahulu pake handuk. Dengan masih bertelanjang bulat, aku kemudian mencoba menyicil pekerjaan rumah yang dititipkan mama sebelum pergi tadi padaku. Malas memang, tapi kalau gak dikerjain ntar mama bisa marah. Lagian aku juga penasaran sih gimana rasanya ngerjain semua itu tanpa mengenakan pakaian satupun. Seksi banget yah kayaknya, hihihi. Menyapu, nyuci piring, nyuci baju dan lain-lain, aku kerjakan semuanya dengan telanjang bulat dan tubuh masih basah. Gak kebayang deh kalau tiba-tiba ada yang datang dan melihat pemandangan ini.

Aduuuh…. Aku kok jadi horni lagi... Masak masturbasi lagi sih?? Tapi rasanya gatel banget. Aku kemudian mengambil handukku lalu membentangkannya di lengan sofa. Kemudian ku duduki lengan sofa itu dan menggesek-gesekkan vaginaku di sana. Permukaan handuk yang kasar yang bergesekan dengan vaginaku memberi sensasi yang luar biasa. Ugh, bukannya menggunakan handuk untuk mengeringkan badan, tapi malah untuk hal beginian.

“Nghhhhhhh… sshhhhhh…. “ lenguhku keenakan membebaskan suaraku. Kalau ada orang di rumah mana bisa bebas melenguh seperti ini. Lagi-lagi aku melakukan ini sambil membayangkan kalau aku sedang dilihatin orang. Mereka ikut onani beramai-ramai, lalu membuang pejunya ke arahku hingga membuat seluruh tubuhku ini penuh ceceran sperma. Ah, betul-betul gila! Gak perlu waktu lama bagiku untuk klimaks. Sambil menekan vaginaku makin kuat ke lengan sofa beralaskan handuk itu, tubuhkupun kejang-kejang karena dilanda orgasme. “Aaahhhh…”

Setelah orgasme, bukannya lemas, aku malah kepengen lagi dan lagi. Duh, bisa-bisa sampai orangtuaku pulang kerjaanku beginian terus. Aku coba untuk menahannya, kalau nggak kerjaan rumah gak bakal selesai-selesai. Tapi pikiran nakalku masih saja belum berhenti. Saat aku pengen buang air kecil, aku malah pengen mencoba kencing di luar rumah. Aaaahh, apa sih yang ku pikirkan!?

Dengan dada berbebar-debar, akupun menuju pintu depan. Ku intip kondisi di luar sebelum membuka pintu. Ah, kenapa perlu diintip segala sih? Pagar rumahku kan lumayan tinggi dan gak bakal kelihatan dari luar. Aku kemudian membuka pintu dan melangkah ke halaman depan. Meski tidak ada siapa-siapa, tapi tetap saja aku deg-deg kan dibuatnya. Baru kali ini aku telanjang bulat hingga keluar rumah.

Aku lalu menuju ke pojok, berjongkok di sana dan mengejan untuk buang air kecil. “Seeerrrrrr” Argh… gila, aku benar-benar kencing di luar rumah sambil telanjang bulat! Betul-betul pemandangan yang tidak pantas bagi seorang gadis rumahan sepertiku. Untuk cebok, aku memutuskan untuk menggunakan keran air yang ada di sana, tapi letaknya ada di dekat pagar, bagian yang kalau ada orang menjinjitkan kakinya saja akan bisa melihat seluruh halaman depan rumahku. Kalau dari bagian dalam, aku bisa melihat keadaan di luar dari sini. Cukup sepi memang, tapi tunggu… ada seseorang yang menuju ke rumahku!



Akupun segera berlari ke dalam rumah sekencang-kencangnya, membuat kedua buah dadaku jadi berayun-ayun kencang. Tapi ternyata waktunya tetap saja tidak cukup, orang itu keburu masuk sebelum aku benar-benar menutup pintu rumah, bahkan mata kami sempat bertemu! Aduuuuuuhhhh…. Aku kedapatan bertelanjang bulat! Seorang gadis rumahan cantik, yang biasanya diketahui sopan oleh para tetangga baru saja dilihat ketelanjangannya!

Dari balik jendela aku mencoba mengintip siapa yang datang. Untunglah orang itu bukan tetanggaku. Hanya petugas PLN yang sepertinya ingin mengecek meteran listrik rumahku. Tampak mas-mas itu masih melongo dengan apa yang baru saja dia lihat, sepertinya dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, beruntung banget dia pastinya.

Aku sendiri juga masih shock karenanya. Kalau aku telanjang di depan cowok yang lebih muda aku mungkin masih berani, tapi kalau di depan cowok yang lebih dewasa itu benar-benar menakutkan. Untung saja mas-mas itu gak macam-macam, dia lanjut melakukan pekerjaannya mengecek meteran rumahku. Tapi dia melakukannya berlama-lama, sepertinya berharap untuk bisa melihat pemandangan itu lagi.

“Fiuh…” aku lega petugas PLN itu akhirnya sudah pergi. Tapi aku yakin dia pergi dengan titit ngaceng dan pikiran mupeng ^o^

~~~



Aku yang masih shock memutuskan untuk mengenakan pakaianku kembali, takut kalau tiba-tiba ada orang lain lagi yang ‘gak sengaja’ melihat aku bugil. Tapi aku hanya mengenakan baju kaosku saja, baju kaos yang cukup dalam hingga menutupi pahaku, tanpa dalaman apa-apa lagi. Yaaaa… cukup lah dari pada telanjang bulat, hehe.

Sambil mengatur kembali nafasku karena kejadian barusan, aku melihat pesan-pesan yang ternyata cukup banyak masuk ke hapeku. Pesan pertama dari mama yang ngingetin kerjaan rumah. “Mama ini cerewet banget sih? Iya maaaaaah….” Gerutuku sambil membalas pesannya.

Beberapa pesan dari teman-temanku yang ngajak main dan jalan-jalan. Pengen sih, tapi aku kan lagi disuruh jaga rumah dan bersih-bersih sama mama. Terpaksa aku tolak ajakan mereka T.T

Pesan yang lainnya dari… ugh, gak penting banget, dari si Aris, temannya gebetanku. Ngapain juga sih dia tanya-tanya kabarku lagi ngapain segala!? Dia ini dari dulu emang ngejar-ngejar aku terus, tapi dia kan tahu kalau sekarang aku lagi dekat dengan Kevin, temannya.

Tidak ku balas pesan dari Aris ini, tapi setelah beberapa lama datang lagi pesan masuk darinya. Ku baca isi pesannya,
‘Aku tahu lho kamu lagi ngapain di gedung SMP kemarin. Lagi ngawas ujian atau ngapain sih? Hahahaha’

DEGH!

….Apa-apaan ini !????
A-aksiku waktu itu ketahuan??

Tubuhku langsung lemas dibuatnya. Aku tidak menyangka kalau aksi nekatku telanjang bulat di depan bocah-bocah SMP kemarin ada yang melihat. Malah yang ngelihatnya si Aris lagi.

Kejadian selanjutnya aku sudah bisa menebaknya, pasti dia bakal ngancam aku untuk nurutin kemauannya, memerasku, paling buruk mungkin dia bakal minta ML denganku. Argh… kenapa bisa begini sih???

Aku coba membalas pesannya, pura-pura tidak tahu maksud perkataannya. Tapi ternyata dia memang melihat aksiku kemarin, bahkan mengatakan punya foto bugil diriku kemarin sebagai bukti. Aku tidak bisa mengelak lagi!



“Jadi mau lo apa sekarang?” tanyaku sewot akhirnya meneleponnya. Rese banget nih orang.

“Gak usah marah gitu dong Ranty cantik. Lo pasti tahu kan apa yang gue pengen? Hehehe” balasnya cengengesan. Tuh kan, ternyata dia memang pengen sesuatu dariku.

“A-apaan? ” tanyaku gugup.

“Gue pengen ngentot sama lo Ranty”
“Gila lo! Jangan macam-macam yah! Gue gak mau!” tolakku tentu saja. Yang aku takutkan tadi benar adanya, apa yang harus aku lakukan!? Aku jelas gak dalam posisi yang menguntungkan saat ini.

“Emang lo mau foto bugil lo itu gue sebar di sekolah? Gimana ya kata mama lo kalau ngelihatnya? Hehe”

“Please Ris, jangaaaan… gue mohon jangan disebar, pleaseeee. Gue bakal nurutin kemauan lo yang lain, tapi jangan gituan” ujarku memohon. Tidak ada cara lain memang selain memohon seperti ini, yang penting dia tidak menyebarkannya.

“Hehe, gue tahu kok kalau lo bakal mohon-mohon seperti itu”

“Ja-jadi gimana? Gue nurutin permintaan-permintaan loe aja yah…” tanyaku lagi.

“Hehe, contohnya?”

“I-itu… contohnya… gue bakal telanjang lagi khusus buat lo” ujarku gugup, dia hanya tertawa terbahak. Ah, memalukan banget menawarkan hal seperti ini kepadanya.

“Ja-jadi gimana? Please Ris jangan disebaaaar” mohonku lagi agar dia mau menerima penawaranku.

“Oke deh, kayaknya ini lebih asik daripada langsung ngentotin lo, hehehe”
Ah, dia setuju, aku cukup lega dia setuju. Gila aja kalau aku harus sampai ML dengannya. Aku masih perawan, ogah banget ngasih perawanku ke dia. Meskipun aku harus menuruti keinginan-keinginannya,tapi ku turuti saja dulu, aku tidak ada pilihan lain sekarang, sudah bagis dia setuju.

“Jadi lo pengen gue ngapain?” tanyaku pasrah.

“Pertama gue pengen lo berjanji dulu bakal nurutin apa yang gue suruh. Dan kalau gue bertanya, loe harus jawab yang jujur, oke? Hehe”

“I-iya… gue janji”

“Yang lengkap dong ngomongnya, hehe”
Sialan dia ini, sengaja banget ingin mempermainkanku.

“Gue, Ranty, berjanji bakal nurutin apa yang akan lo suruh, dan menjawab dengan jujur apa yang pengen lo tahu” ucapku lantang menuruti yang dia inginkan.

“Hahaha, bagus. Dari yang gue lihat kemarin kayaknya loe suka banget mainin memek yah?” tanyanya kemudian.

“Eh, i-itu…. I-iya gue suka” jawabku malu. Ah, sungguh memalukan mengakui hal beginian pada orang lain.

“Lo sering mainin memek lo kayak gitu?”

“Ng… i-itu…”

“Jawab yang benar dong!”

“Iya, gue sering mainin memek gue. Gue sering masturbasi sampai memek gue banjir. Gue gak bisa kalau sehari aja gak mainin memek gue!” jawabku. Walaupun aku bisa saja berbohong, tapi entah kenapa aku malah mengatakan yang sejujurnya dan terbuka seperti itu. Seakan betul-betul terikat janji padanya.



“Hahaha, gue gak nyangka kalau lo cantik-cantik suka mainin memek” ucapnya. Walaupun ucapannya itu seakan merendahkanku, tapi aku justru suka dipuji cantik olehnya!?
“Kalau gitu gue pengen loe gak mainin memek lo sampai besok. Ngerti?” suruhnya kemudian.

“Hah??”

“Iya… lo gak boleh masturbasi atau apalah namanya itu sampai besok gue suruh. Bisa kan? Hahaha”

Sungguh bejat dia ini melarang-larang aku seperti itu. Seenaknya saja. Aku iyakan saja dulu. Tentu saja aku tidak kepikiran untuk benar-benar menuruti perkataannya.
“O-oke….”

“Hahaha, bagus deh, sampai jumpa besok cantik”

“I-iyaaa” jawabku rada malas walaupun lagi-lagi tersipu disebut cantik olehnya. Teleponpun terputus.

Jantungku berdebar dengan kencang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku menyesal kenapa aku sampai nekat bertelanjang bulat kemarin di depan bocah-bocah SMP itu. Tapi sudah terlambat, ku lalui saja. Apa yang akan terjadi maka terjadilah. Mudah-mudahan dia memegang janjinya untuk tidak menyebarkan foto bugilku.

Meskipun itu mengganggu pikiranku, tapi aku tetap melanjutkan pekerjaan rumahku yang tertunda dan mencoba beraktifias seperti biasa. Pakaianku masih seperti yang tadi, hanya mengenakan kaos oblong lengan pendek tanpa memakai apa-apa lagi di baliknya. Akibatnya? lagi-lagi rasa horni itu datang lagi!

Akupun meraih vaginaku dan membelainya. Namun baru beberapa detik saja, aku teringat janjiku tadi pada Aris untuk tidak bermasturbasi sampai besok. Aku menarik kembali tanganku dari vaginaku! Aaaaaah…. apa yang aku lakukan? Dia tidak ada di sini kan? Dia tidak tahu kan? Kenapa aku benar-benar menurutinya?
Akupun membelai vaginaku lagi dan memainan klirotisku. Nikmat memang, tapi… aku merasa tidak nyaman. Aku jadi teringat terus janjiku tadi. Ah, sialaaaaaaan >_<

Aku yang bete sendiri akhirnya mengenakan pakaianku kembali lengkap-lengkap. Mudah-mudahan dengan begini aku jadi tidak mudah horni lagi. Meskipun ternyata rasa itu sesekali muncul, tapi aku benar-benar menahannya.

Kejadian inipun terus berlangsung sampai besok pagi. Aku hanya bisa menggesek-gesekkan kedua pahaku sambil menahan horni yang tak tersalurkan itu. Sungguh menyiksa, tapi kalau aku bermasturbasi, malah aku yang merasa tidak nyaman. Entah kenapa aku malah benar-benar menuruti kemauannya. Apa aku justru tertarik dengan permainannya ini? Apa aku senang jadi pesuruhnya? Ngghhhhh….

~~~

Bangun tidur keesokan harinya, aku langsung menghubungi Aris untuk menanyai apa aku boleh bermasturbasi pagi ini. Ditahan seharian betul-betul tidak enak.

“Belum, nanti saja di sekolah, tunggu gue suruh, hehe” balasnya. Argh… seenaknya aja jawabannya. Meskipun begitu, aku lagi-lagi tetap menurutinya.

Sebelum berangkat ke sekolah, tiba-tiba ada sms masuk dari Aris. Dia kini malah melarang aku memakai celana dalam. Gila! Betul-betul mempermalukanku. Tapi… aku memang harus menurutinya. Akupun kembali ke kamar. Tanpa melepaskan rok sekolah, ku turunkan celana dalamku hingga lolos dari kakiku. Rasanya sungguh aneh pergi ke sekolah tanpa memakai celana dalam seperti ini. Tapi kenapa aku juga jadi penasaran dan excited untuk melakukannya? Bahkan vaginaku jadi gatal lagi dibuatnya. Belum keluar dari rumah saja aku sudah merasakan kalau vaginaku basah. Ku harap nanti tidak ada yang cairanku yang menetes-netes jatuh. Ahh…. apa yang akan terjadi nanti di sekolah ya?



“Yuk sayang, kita berangkat” ajak mama.

“I-iya ma…”

“Kamu kenapa? Kok merah gitu mukanya? Sakit?”

“Eh, nggak kok… gak kenapa-kenapa kok” jawabku sambil tersenyum.

“Ya sudah, yuk pergi”

“Yuk Ma…”

Kamipun pergi barengan ke sekolah pakai mobil. Selama di mobil aku jadi grogi setiap kali diajak ngobrol sama mama. Gak kebayang deh kalau mama tahu kalau anak gadisnya ini tidak mengenakan celana dalam ke sekolah. Ketika sampai dan turun dari mobil, jantungku berdebar dengan kencang lagi. Benarkah aku harus beraktifitas di sekolah tanpa memakai celana dalam? Ini betul-betul baru bagiku. Belum lagi aku juga penasaran apa yang akan dilakukan Aris nanti padaku.

Ah, ku percepat saja langkahku menuju kelas. Gak nyaman banget lama-lama di luar, aku merasa orang-orang ini seperti tahu saja kalau aku tidak mengenakan celana dalam. Aku takut kalau cairanku benar-benar meluncur dari pahaku, ini rasanya udah banjir banget!

Di jalan, aku sempat bertemu dengan bocah-bocah SMP kemarin. Merekapun menyapaku, aku yang tidak ingin berlama-lama hanya membalasnya dengan tersenyum manis pada mereka. Aku yakin dengan melihat aku tersenyum begitu saja mereka udah berbunga-bunga.

Saat belajar di kelas, aku mencoba untuk tetap belajar dengan benar meskipun rasanya sangat tidak nyaman. Aku selalu merapatkan pahaku. Tapi tiba-tiba datang sms dari Aris, dia menyuruh aku masturbasi sekarang, di kelas!

Gila aja, masturbasi di kelas sewaktu guru menerangkan? Sungguh perbuatan yang gak pantas banget dilakukan. Haruskah aku menurutinya? Tapi aku benar-benar banjir sekarang, vaginaku betul-betul gatal dan pengen dielus. Aku memang lega dia akhirnya membolehkanku masturbasi, tapi gak di kelas juga! >_<

Namun akupun benar-benar melakukannya. Aku tidak yakin apa aku melakukan ini karena aku memang sudah horni, atau karena patuh dengan perintahnya.

Dengan tetap mengawasi keadaan sekitar, aku lalu memasukkan tanganku dari pinggang rok, langsung membelai permukaan vaginaku yang ternyata memang sudah sangat banjir. Ugh… rasanya enak banget. Tempat dudukku berada di barisan tengah namun mepet ke dinding sebelah kiri, teman sebelahku juga kebetulan lagi keluar kelas, jadi aku bisa cukup leluasa memainkan vaginaku. Yang penting tidak menarik perhatian guru dan teman-teman sekitarku saja.

Nghh… aku betul-betul murid yang kurang ajar. Masturbasi di kelas sewaktu guru menerangkan. Namun rasanya enak banget, sensasinya luar biasa. “Pak guru, teman-teman, lihat aku….. Aku cewek yang mesum, kalian gak pernah membayangkan kan kalau aku nakal seperti ini?” Batinku meracau dalam hati.

“Ngh.. shhh…” desahku pelan.
Tidak butuh waktu lama untukku merasakan ingin orgasme. Itu karena aku sudah menahan horni dari kemarin. Apalagi aku melakukannya di dalam kelas, sehingga memberikan sensasi berkali-kali lipat.

Pelintiran tanganku pada vaginaku semakin cepat dan kencang. Semakin lama semakin cepat. Aku… aku… sampeeeee…... “Crrrrt…..”

“NGHHHHHHHHH…….” Aku orgasme! Di kelas!

“Ranty, kamu tidak apa-apa?” panggil pak guru tiba-tiba padaku, teman-teman juga melihat ke arahku. Duuuuuh, aku tak kuasa menahan nikmat sampai melenguh kencang begitu.

“Ga-gak a-apa-apa kok pak…” jawabku terbata-bata karena masih merasakan sisa-sisa orgasmeku, serta gugup takut ketahuan kalau lenguhanku barusan karena aku baru saja orgasme.

“Kamu yakin?” tanya pak guru lagi mengernyit ke arahku. Duuuh, apa dia curiga? Ku lihat teman-temanku juga ada yang berbisik-bisik. Aaaahhh… aku yakin wajahku sedang bersemu merah saat ini. Bagian belakang rokku juga kurasakan basah karena cairanku. Betul-betul memalukan.

“I-iya pak, cuma sakit perut saja, tapi tidak apa-apa kok”

“Baiklah, kalau begitu kamu istirahat saja, kalau kamu mau ke toilet atau ke ruang kesehatan silahkan”

“I-iya pak, makasih”



Ah, sudah lah aku masturbasi dan orgasme di kelas, berbohong pada guru, bahkan aku membuat kotor bangku kelas dengan cairan vaginaku. Aku sungguh murid yang kurang ajar, aku cewek yang mesum. Aku betul-betul menuruti keinginan Aris. Dia betul-betul mempermalukanku, tapi kenapa aku mau? Apakah karena aku memang suka?

Akupun kemudian mengirim sms pada Aris kalau aku sudah menuruti perintahnya.

‘Udah aku lakuin, aku malu banget tahu nggak!’ tulisku padanya.

‘Hahaha, tapi lo suka kan? Nanti waktu jam istirahat kita bertemu ya… sampai jumpa nanti Ranty’ balasnya.

Argh… apa yang ingin dia lakukan? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tapi… kenapa aku malah senyum-senyum sendiri memikirkannya? >_<

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

3 komentar:

  1. Di tunggu kelanjutannya si Ranty...

    BalasHapus
  2. Om admin mana nih lanjutan ranty dah lama ditunggu blm ada aja

    BalasHapus