Dita 1: Selingkuh Pertama

source: http://antaraduapaha.blogspot.co.id



Terus terang di masa remaja aku sedikit ‘bebas’. Layaknya remaja seumuranku, internet berperan besar dalam pergaulanku. Sebelum berpacaran, internet sudah meracuni pikiranku. Racun itu mempengaruhi birahiku. Meraba daerah-daerah sensitif menjadi rutinitasku. Sampai akhirnya aku memiliki pacar. Saat berpacaran meraba bukan lagi tugasku, itu tugas pacarku.

Sebulan setelah ospek SMU, beberapa orang kakak kelas menyatakan cintanya padaku. Kuterima cinta salah satunya. Dia seniorku, anak eskul basket. Bersamanya pertama kali aku melakukan kontak fisik. Kontak fisik sebatas petting saja tentunya. Ciuman dan rabaan, tanpa melepas pakaian. Masa pacaran kami hanya bertahan  setahun. Setelah itu, beberapa laki-laki bergantian menjadi pacarku. Diantaranya petting juga denganku. Diantaranya bahkan bertelanjang ria denganku. Rata-rata berlangsung relatif singkat, sampai aku memasuki akhir masa kuliah.

“Sakit?”

Masih kugigit bibir bawahku. Aku membuka mata.

“Sedikit.”

Aku berbohong. Dibawah sana sakit sekali. Dibawah sana ada sebatang penis dalam vaginaku. Itu pertama kalinya aku disetubuhi. Keperawananku akhirnya kulepas saat semester ketiga. Laki-laki beruntung itu adalah Hendra. Laki-laki yang kini menjadi suamiku. Dia delapan tahun lebih tua dariku. Hubungan kami tidaklah begitu mulus. Ada pasang surut dan putus nyambungnya. Sampai menjelang kelulusanku, akhirnya kami menikah.


Menikah sedikit banyak meredam birahiku. Birahi tinggiku mampu dipuaskan oleh suamiku. Diawal pernikahan, tidak ada hari kami lewatkan tanpa seks. Berbagai gaya senggama kami praktekkan. Adanya penis dalam vaginaku kini menjadi kebutuhan. Seks membuatku kecanduan.

“Berapa lama Mama diklatnya?”

“Sebulan Pa.”

Tiga bulan menikah, aku diterima disebuah bank negeri. Sebagai pegawai baru aku diwajibkan ikut diklat. Suamiku tidak menghalangi. Dia mendukungku untuk berkarier. Apalagi saat itu kami belum memiliki anak. Tidak ada yang perluku khawatirkan, kecuali rasa kangen tentunya.

Malam sebelum keberangkatan kami berhubungan seks. Seks terlama yang pernah kami lakukan. Seakan kami sama-sama tidak ingin berpisah. Saat kami lelah, hari sudah menjelang pagi. Aku terpaksa tidur dalam pesawat.

***

Minggu pertama diklat tidak begitu berat. Ditengah jadwal diklat yang padat, teman-teman baru membuatku bersemangat. Memasuki tengah minggu kedua, gejolak birahi mulai mengganggu konsentrasi. Tidak pernah aku berpuasa seks selama ini. Phone sex bersama suami cukup mengobati. Demikian juga dengan masturbasi. Hanya saja aku butuh lebih dari semua ini. Aku butuh penetrasi. Aku tahu hal itu tidak mungkin terjadi. Walau penis suami terus membayangi, aku harus kuat menahan diri.

“Dita, kita sekelompok nih.”

Seorang laki-laki menghampiriku.

“Iya nih.”

Jadwal diklat dua hari lagi akan berakhir. Diakhir ada tugas yang harus kami selesaikan. Tugas ini wajib dibuat berkelompok. Panitia membagi kami menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang, dipilih secara acak.

Salah satu kelompokku adalah laki-laki yang menyapaku tadi. Sebut saja namanya, Edi. Selama pelatihan kami sudah cukup dekat. Dari awal dia kerap mendekatiku. Ada saja alasannya untuk bisa berbicara denganku. Instingku berkata dia tertarik padaku. Edi orangnya cukup lumayan. Selain dari tampilan fisik, juga dari sikap. Dia ramah dan supel. Dia juga pintar menghidupkan suasana dengan joke-joke nya.

“Bagaimana kalo bikin tugasnya sambil makan siang?”

“Aku sih mau aja. Bagaimana sama yang lain?”

“Tadi aku sudah ketemu sama Rina, dia mau. Cokro yang belum tahu nih.” Edi melirik kearah kerumunan orang didepan kami. “Nah, itu mereka.”

Dia berteriak memanggil dua teman kami. Mereka berdua lalu berjalan mendekati kami.

“Bagaimana kalo kita bikin tugas sambil makan siang? Aku tahu tempat yang pas buat kumpul.”

Edi kembali mengurakan idenya.

Setelah makan siang tidak ada lagi jadwal diklat. Jadwal diklat berikutnya adalah besok pagi. Saat itu peserta wajib mempresentasikan tugas kelompok mereka, termasuk kami tentunya. Setiap kelompok dipersilakan memilih sendiri tempat mengerjakan tugas.

Rina menjawab terlebih dahulu. “Aku sih oke-oke aja. Pengen keluar juga nih, mumet liat tempat ini melulu.”

Kami tertawa mendengarnya. Persetujuan yang sama juga diutarakan Cokro.

“Bagus deh. Yuk kalo gitu kita berangkat sekarang.”

Kami pun berada di dalam mobil Edi. Edi bukan peserta dari luar kota. Dia bisa dibilang peserta tuan rumah. Maka dari itu dia membawa transportasinya sendiri.

“Bagaimana enak kan Dit?”

Aku mengangguk. “Enak, cuma sambelnya agak pedes.”

Dia tertawa kecil melihat wajahku yang memerah.

Edi mengajak kami ke sebuah restoran bernuansa tradisional. Tempat makannya dibuat menyerupai bilik-bilik bambu. Satu bilik dengan bilik lain disusun terpisah-pisah. Suasananya sangat nyaman. Sepertinya dia mengenal pemilik restoran itu, sehingga kami bisa berlama-lama disana. Selesai makan, kami membahas tugas kelompok yang akan kami presentasikan. Hari sudah menjelang gelap ketika kami selesai. Kami pun meninggalkan restoran.



“Kita jangan langsung balik ke mess yuk, kita lanjut hang out aja gimana?” ucap Edi dari belakang kemudi.

“Aku ngantuk nih, mana gerah lagi.” sahut Rina.

Jawaban yang sama juga diberikan Cokro. “Sorry bro, gue juga tepar. Kebanyakan mikir nih, otak gue overload.”

Kami tertawa kecil mendengarnya.

“Kalo kamu gimana Dit? Mau beli oleh-oleh sekarang? Mumpung ada transport gratis nih.”

Aku bingung antara menolak dan setuju. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jika setuju, terlalu malam untuk berduaan dengan laki-laki. Jika menolak, apakah nanti akan ada waktu lagi untuk berbelanja. Diawal perkenalan, Edi memang menawari untuk mengantarku keliling kota. Sekedar melihat-lihat atau membeli oleh-oleh. Akan lebih nyaman jika kami berkeliling tidak hanya berdua. Bagaimana pikiran orang kalau melihat kami. Aku dan Edi kan sama-sama sudah berkeluarga. Tapi apa yang mau dikata. Keadaan yang membuat kami tidak bisa mengajak teman lain.

“Kalo ngantuk juga? Aku sih nggak maksa loh,” sambung Edi lagi.

“Hhmm boleh deh, tapi jangan jauh-jauh ya.”

Edi tersenyum. “Siap komandan.”

Selepas mengantar balik kedua teman kami, Edi langsung mengajakku ke sebuah toko souvenir. Aku tidak menemukan apa yang kucari disana. Mengetahui itu, Edi memaksa mengantarku ke toko yang lain. Aku menolak, tapi dia terus memaksa. Akhirnya kutemukan setelah memasuki toko ketiga. Aku sedikit malu dengan Edi, walau dia terus berkata tidak keberatan. Hari beranjak semakin malam. Dia sampai ditelpon istrinya. Dia berbohong sedang bersama rombongan peserta diklat. Aku juga ditelpon suamiku. Kukatakan kebohongan yang sama. Kebohongan pertamaku sejak kami menikah.

“Di deket sini ada night club asyik loh. Mau mampir nggak?”

“Nggak ah, udah malem nih.” tolakku.

“Ayo dong, bentar aja. Ada live band juga loh.”

“Pake pakaian gini?”

Kami memang belum berganti pakaian. Kami masih memakai seragam putih hitam. Ketika mengantar kedua teman tadi, aku tidak mengganti pakaian. Aku takut kalau mampir lagi ke mess, baliknya akan terlalu malam. Selain itu, kulihat juga Edi tidak membawa pakaian ganti.

“Emang kenapa kalau kita pake pakaian ini?”

“Ya nggak enak aja.”

Aku bingung harus menjawab apa.

“Ayo dong. Abis live band kita balik ke mess, janji.”

Aku luluh. Sejak menikah aku memang tidak pernah lagi hang out. Dalam hati ingin juga aku mengenang masa-masa itu. Mumpung ada kesempatan kenapa tidak, pikirku. Aku mengiyakan ajakan Edi. Dia menyambutnya dengan antusias.

Night club yang kami tuju ternyata cukup ramai. Kenangan masa muda langsung menyelimutiku. Aku langsung klik dengan suasana temaram dan hingar bingarnya. Edi tersenyum melihatku. Agaknya dia bisa menangkap kalau aku juga menikmati.

“Keren ya musiknya!”

“Iya keren!”

Kami sampai harus sedikit berteriak. Kerasnya alunan musik menghalangi suara kami.

Ditempat itu Edi juga memiliki beberapa kenalan. Sebuah mix martini diberikan pada kami sebagai welcome drink. Begitu memasuki kerongkongan, aku tahu kalau ada alkohol dalam campurannya. Bukan sebuah masalah buatku. Alkohol juga pernah mengisi hidupku dimasa kuliah. Melihat itu, Edi dengan sukarela merogoh dompetnya mentraktirku beberapa gelas lagi. Bukan minuman beralkohol tinggi tentunya. Aku juga tidak ingin mengalami sakit kepala saat terbangun besok. Aku masih cukup sadar, besok masih ada jadwal diklat yang harus ditempuh.

Live band mulai beraksi. Aku tidak begitu jelas mendengar nama band-nya. Aliran musiknya pop rock. Sang vokalis pintar memancing emosi penonton. Suasana menjadi semakin meriah.

“Gimana band-nya? Keren juga kan?”

“Iya nih, musiknya asyik,” ucapku sambil menggoyangkan tubuhku.

Beberapa kenalan Edi datang dan pergi. Sesekali kali ada yang ikut ngobrol dengan kami. Bahkan ada juga yang mentraktir kami minuman. Aku tidak bohong, aku benar-benar enjoy dengan suasananya. Rasa penat semalam mengikuti diklat sejenak menghilang. Ditambah Edi kerap membuatku tertawa dengan joke-joke segarnya. Belum lagi joke-joke porno yang mampu membuatku geli.

“Turun yuk.”

Edi berdiri dan menarik tanganku.

“Nggak ah,” tolakku.

“Ayo dong. Ayo,” desaknya lagi.



Untuk kesekian kalinya aku tak kuasa menolak. Aku mengikutinya. Kami pun berbaur dengan orang-orang lain. Awalnya aku canggung menggerakkan tubuhku, namun Edi bisa membuatku santai. Aku pun perlahan mulai menikmati alunan musik. Kami berdua bergerak luwes sambil menertawai gaya masing-masing. Sampai alunan musik DJ berubah menjadi slow. Edi memeluk tubuhku. Mendadak suasana menjadi sedikit panas, ketika Edi mendaratkan ciuman dibibirku.

Sejenak aku tersentak. Sekujur tubuhku kaget mencerna ciuman itu. Tiga minggu lebih tidak disentuh, membuat tubuhku sensitif. Pelukan dan ciuman Edi terasa begitu nikmat. Mungkin beberapa gelas alkohol tadi turut mempengaruhi reaksiku. Melihat aku terdiam, Edi mendaratkan ciuman kedua. Kali ini dia memagut bibirku. Gilanya, aku membalas pagutan itu. Kami berciuman dengan panasnya, tanpa memperdulikan sekitar.

Entah apa yang terjadi kemudian, tiba-tiba saja kami sudah di dalam mobil. Kami kembali berciuman. Kali ini tangan Edi ikut beraksi. Kedua payudaraku diremas-remasnya. Ini membuat kemeja yang kupakai kusut. Ini juga membuat celana dalamku basah. Sepertinya Edi menyadari itu, ketika tangannya merogoh masuk ke dalam rokku.

Puas mencumbuiku, Edi menyalakan mobilnya. Aku tak bertanya kemana dia akan membawaku. Aku terlalu malu. Malu sekaligus terlalu bergairah untuk berbicara. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dalam diam kami tahu, kalau ada dua gairah yang sedang membara.

Mobil yang kami kendarai berhenti di sebuah hotel. Hanya itu yang aku ingat. Sisanya, tahu-tahu Edi sudah menindihku di atas ranjang. Kami melanjutkan percumbuan kami yang sempat terputus. Birahi yang membara membuatku lupa. Aku lupa kalau laki-laki yang mencumbuiku belum lama kukenal. Parahnya lagi, aku lupa sudah terikat dalam tali pernikahan. Aku sudah dilanda gairah tingkat tinggi, dan itu harus segera dituntaskan. Itu saja yang terpenting.

“Sshh.. sshh.. sshh..”

“Sshh.. sshh.. sshh..”

Entah kapan pakaianku dilepas Edi. Aku tidak merasakannya. Yang kurasakan hanyalah cumbuannya. Kulumannya diputingku. Ciumannya disekujur tubuhku. Tarian  lidahnya di daerah selangkanganku. Puncaknya, hujaman penisnya di dalam vaginaku. Penis milik laki-laki lain, selain suamiku. Penis yang seharusnya tidak berada di dalam sana. Namun, kenikmatan yang aku rasakan mengalahkan segalanya.

“Aaahh.. aaahh.. aaahh..”

“Ooohh.. ooohh.. ooohh..”

Teriakan dan eranganku memenuhi seisi kamar. Demikian juga lenguhan Edi.

Tanganku menggenggam erat sprei, saat Edi menggarapku dalam posisi doggie. Entah berapa kali kami berganti posisi. Aku hanya merasakan posisi tubuhku berubah-ubah beberapa kali. Hujaman penis Edi makin lama makin nikmat kurasakan. Semakin cepat penis itu menghujam semakin aku menggila. Sampai akhirnya, muntahan orgasme melandaku.

“AAKKHH..!!”

Aku berteriak lantang. Tubuhku melengkung. Tubuh Edi mengejang. Bersamaan dengan itu semprotan hangat memenuhi rahimku. Tubuh kami ambruk di ranjang. Ketegangan berlahan mereda. Berlahan yang terdengar hanya tarikan nafas kami. Tarikan nafas yang semakin tenang.

Mataku menatap kosong ke langit-langit kamar. Otakku belum bisa mencerna apa yang baru terjadi. Sekujur tubuhku berteriak penuh kepuasan. Dahagaku akan seks baru saja terpenuhi. Tadi nafasku bak pelari yang baru mencapai finis. Perlahan kesadaranku pulih. Perlahan kusadari baru saja disetubuhi Edi. Aku menyesalinya, sekaligus menikmatinya.

“Kamu luar biasa Dita.”

Kalimat pertama yang bisa kucerna. Sebuah ciuman mendarat di pipi dan keningku. Ciuman itu berakhir dibibirku. Kembali aku tidak tahu harus bereaksi apa. Tubuh telanjang Edi sudah berada diatasku lagi.

“Kamu menikmatinya?”

Aku menatap matanya. Gilanya, aku menjawab dengan anggukan. Entah dimana akal sehatku. Dia tersenyum penuh kepuasan.

Tak berapa lama, kami sudah kembali bergumul. Untuk kali ini tidak hanya Edi yang aktif, aku pun melakukan hal yang sama. Bahkan, persetubuhan kedua diselingi kulumanku pada penisnya. Diselingi juga goyanganku dalam posisi woman on top. Birahi tinggiku telah menguasaiku sepenuhnya. Aku menggila.



“AAKKHH..!!”

Orgasme kedua kuperoleh menjelang tengah malam. Tetap tidak ada percakapan antara kami setelahnya. Hanya melalui tatapan mata, persetubuhan ketiga kami mulai. Disusul persetubuhan keempat dan seterusnya. Entah berapa kali kami melakukannya. Hari menjelang pagi, ketika akhirnya kami tertidur pulas.

Paginya aku terbangun mendengar nada ponselku. Aku terbangun telanjang dalam pelukan Edi. Langsung kusambar sebuah kemeja. Entah itu milikku atau milik Edi. Selesai memakainya, aku berhasil menemukan ponselku. Rupanya panggilan dari suamiku. Aku memang memintanya menelpon setiap pagi selama diklat. Sekedar menjaga-jaga agar aku tidak bangun kesiangan.

“Halo sayang,” ucapku parau.

Rasa bersalah langsung menderaku. Mengucapkan kata ‘sayang’ saat tubuh lengket oleh sperma laki-laki lain, membuatku risih. Mendadak aku merasa sebagai istri yang tidak bertanggung jawab. Belum genap enam bulan usia pernikahanku, aku sudah berselingkuh. Aku kesal dengan diriku. Kekesalanku bertambah saat kulihat lelehan putih dipahaku. Kusadari kalau semalam aku melupakan satu hal penting. Kondom.

“Kamu udah bangun?”

Terdengar suara suamiku diujung telpon.

“I-iya, baru aja.”

“Ya udah, kalo gitu buruan mandi. Sekarang diklat hari terakhir kan?”

“Iya sayang, makasi ya sudah nelpon.”

Sebuah kecupan jauh mengakhiri percakapan kami. Kulihat Edi masih tidur dengan nyenyaknya. Kami seharusnya tidak ada lagi ditempat ini. Jam segini seharusnya kami sudah di mess. Jika tidak buru-buru, maka kami bisa terlambat mengikuti jadwal diklat. Kugoncang-goncangkan tubuhnya sambil memanggil namanya.

“Edi, Edi, bangun!”

Akhirnya aku bisa membangunkan Edi. Dia juga panik ketika melihat jam tangannya. Untuk menghemat waktu kami masuk kamar mandi berdua. Toh, dia sudah melihatku telanjang jadi buat apa malu lagi. Pikiranku saat itu. Di sana baru kuperhatikan tubuh Edi secara jelas, khususnya bagian penis. Penis itulah yang semalam berkali-kali memberikanku kepuasaan. Seukuran suamiku, hanya diameternya lebih besar. Melihat tubuh polosku, Edi minta melakukan quicky sex.

“Nggak Di, nggak!”

Awalnya kutolak, tapi lagi-lagi aku dibuat tidak berdaya. Aku pun hanya bisa kesal dalam ketidak-berdayaan. Untuk kesekian kalinya penis itu ada didalamku. Disetubuhinya aku dari belakang. Hanya kali ini aku sempat mencegah spermanya mengalir dirahimku. Sesuatu yang sudah terlambat pastinya.

“Edi, balikin, balikin!”

Kesekian kalinya aku dibuat kesal olehnya. Sudah tahu kami akan terlambat, dia masih saja mempermainkanku. Dia menyambar celana dalamku. Dibuatnya aku berlarian berusaha merebut dari tangannya.

“Santai aja Dit, aku sudah nelpon tempat diklat bilang kita terlambat.”

“Kamu bilang apa?” tanyaku sambil memakai celana dalam.

“Aku bilang kamu mendadak sakit, jadi aku anter kamu dulu ke klinik.”

Harus kuakui selain ngeselin, Edi adalah sosok yang menarik dan cerdas. Kuakui juga kalau aku sedikit kagum padanya. Mungkin ini juga yang membuatku bisa jatuh kepelukannya.

Sesampainya di mess aku bergegas berganti pakaian. Beruntung tidak ada teman diklat yang memergoki kami. Saat diruangan juga tidak ada yang bertanya keberadaanku semalam. Sepertinya mereka terlalu sibuk dengan tugas kelompok masing-masing. Kulihat Edi sudah berganti pakaian juga. Entah dia meminjamnya dari siapa.

Presentasi kelompokku berjalan lancar. Sepanjang acara kami tidak lagi saling berbicara. Hari ini adalah diklat terakhir. Jadwalnya sedikit panjang dan berakhir menjelang malam. Saat peserta diklat bubar aku tidak lagi melihat Edi. Mungkin dia pulang kerumahnya, pikirku. Keesokan paginya, pada acara penutupan aku tidak melihatnya juga. Aku baru melihat sosok Edi di depan mess. Sepertinya dia memang menungguku. Melihat aku menarik koper, Edi melepar senyum.

“Hati-hati dijalan ya.”

Aku tersenyum canggung. Wajahku sedikit merona. Entah dia menyadarinya atau tidak.

“Ma-makasi.”

“Ini kartu namaku.” Dia menjulurkan tangannya. “Kalo kamu mau nelpon boleh, kalo nggak juga nggak apa-apa.”

Aku menerimanya. Dia membantuku memasukkan koper ke dalam taxi. Kami saling melambai. Itu terakhir aku melihat Edi, selingkuhan pertamaku. Dosa pertama atas janji suciku. Kartu namanya masih aku simpan, hanya saja aku tidak menelpon. Entah suatu hari nanti.

***



Sesampainya dikotaku sudah bisa ditebak. Saking kangennya kami bercinta di dalam mobil, begitu masuk garasi. Ruang tamu menjadi tempat berikutnya. Sebenarnya suamiku ingin menggendongku ke kamar. Ditengah jalan dia mengubah pikiran, sofa terasa jauh lebih menantang. Malam itu kami habiskan dengan persetubuhan panas. Aku memberikan service terbaikku guna menebus dosaku. Suamiku sampai heran dibuatnya. Heran sekaligus senang tentunya. Bahkan keesokan paginya aku harus menelpon kantor. Aku terpaksa meminta ijin, karena penis suamiku tidak mau lepas dariku. Itupun aku lakukan dalam posisi doggie. Kembali kami habisnya hari dengan bercinta, bercinta dan bercinta. Itu seperti bulan madu kedua kami. Seharian itu, kami tidak pernah sempat berpakaian.

Hasilnya, dua minggu kemudian aku positif hamil. Aku bahagia, begitu pun suamiku. Hanya saja dalam hatiku ada sebuah tanya. Apakah bayi ini benih suamiku, atau benih Edi. Pertanyaan yang akan terus menghantuiku. Sembilan bulan berikutnya, anak pertamaku lahir. Seorang laki-laki.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

1 komentar:

  1. ceritanya sih bagus tapi ilustrasinya wkwkwwkkwk
    ane tau sama ilustrasinya :hammer: cewek itu msh kuliah :D

    BalasHapus