Dita 2: Membantu Adik

source: http://antaraduapaha.blogspot.co.id 



Sejak malam itu, seks menjadi bagian hidupku. Malam saat kulepas keperawananku. Aku masih ingat benar momen itu. Aku hanya terbaring pasrah diatas ranjang. Menunggu pacarku, Hendra, berusaha memasukiku. Status perjaka membuatnya sedikit sulit melakukan itu. Kami masih sama-sama lugu saat itu. Akhirnya datang yang ditunggu. Penisnya menembus selaput daraku. Aku mengerang, dia mengejang.

Seminggu setelahnya, masih kurasakan perih dibawah sana. Itu tidak membuatku kapok. Kami melakukannya lagi untuk kedua kalinya. Disusul yang ketiga, keempat dan seterusnya. Perlahan aku menikmatinya, begitupun dia. Pacarku semakin suka menelanjangiku, akupun suka telanjang untuknya. Pacarku semakin suka memasukiku, akupun suka dimasukinya. Seiring waktu, seks pun jadi sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang penuh kenikmatan.

Kami bercinta dimana saja. Dimana kesempatan ada, disana kami bercinta. Salah satunya di rumah kontrakanku. Disana kami bebas melakukannya. Sampai akhirnya adikku, Rido, tinggal bersamaku.

Papa dan mama harus tinggal sementara diluar negeri. Kantor cabang baru perusahaan papaku butuh kehadirannya. Aku dan Rido tetap tinggal di Indonesia. Faktor studi menghalangi kami untuk bisa ikut. Kala itu aku masih semester awal, sedang Rido menjelang ujian akhir SMU. Untuk bisa saling menjaga, Rido pun diminta tinggal bersamaku.

“Sayang jangan, Rido ada di rumah loh.”

Kutepis tangan pacarku. Dia membandel. Lagi-lagi disentuhnya payudaraku.


“Dikit aja.” Dia nyengir.

“Tunggu adikku berangkat les dong,” bisikku.

“Udah nggak tahan nih.”

Tangannya tetap lincah, tanpa bisa kucegah. Kaitan braku dibuatnya terlepas.

“Sabar, sabar…”

Demikian yang terjadi setiap kali pacarku datang. Tidak ada lagi privasi untuk kami. Bercinta kami lakukan sembunyi-sembunyi. Itu pun terkadang tak lebih dari sekedar quicky.

***

Sampai disuatu hari, disuatu siang. Aku pulang dari kampus diluar jadwal. Dosen jam terakhir tidak mengajar. Cuaca panas membuatku memilih segera pulang. Saat memasuki ruang tamu aku mendengar suara aneh. Suara itu berasal dari kamar adikku. Kudekati berlahan. Semakin dekat suara itu terdengar mirip desahan dan erangan. Apakah adikku menonton bokep, tanyaku dalam hati. Sempat kubatalkan niatku membuka pintu. Hanya saja rasa ingin tahuku lebih besar. Perlahan kuputar knop pintu. Ketika terbuka kagetlah aku. Diatas ranjang adikku bersama seorang gadis. Keduanya telanjang. Mereka sedang bersetubuh.

“Kakak!”

Adikku menoleh kearahku. Masih dalam posisi memompa, tentunya.

“Sorry, sorry.”

Refleks aku menutup pintu. Diluar kamar pikiranku kacau. Apa yang baru kulihat tidak pernah kubayangkan. Tak lama berselang pintu terbuka. Adikku keluar sendirian. Dia sudah berpakaian. Wajahnya terlihat ketakutan. Kami saling memandang.

“Si-siapa itu?” ucapku memecah kebisuan kami.

“A-adik kelas kak.”

Saat itulah aku tahu segalanya. Kami berbicara banyak setelahnya. Ternyata adikku mengenal seks jauh lebih dulu dariku. Pertama kali dia melakukannya bersama kakak kelasnya. Diusianya yang baru tujuh belas. Gadis di kamar itu adalah pacarnya. Diperawaninya gadis itu sebulan yang lalu. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak berani menilai, apakah itu benar atau salah. Aku sendiri melakukannya juga. Akhirnya aku hanya mengingatkan dia tentang pentingnya save sex. Dia pun sudah mengerti hal itu.

Sejak itu kami saling menjaga rahasia masing-masing. Terutama kepada orang tua. Sebenarnya orang tua kami bukan tipe yang kolot. Kami sudah diajari pendidikan seks sejak kecil. Hanya saja sepertinya akan lebih baik kalau mereka tidak tahu. Disisi lain, kami jadi terbuka soal seks satu sama lain. Kami tidak lagi melakukan seks sembunyi-sembunyi. Aku biasa mengajak pacarku ke kamar, demikian pula adikku. Kami sama-sama tahu apa yang terjadi dalam kamar. Selama tidak saling ganggu, kami tidak mempermasalahnya.

***

Suatu hari, diakhir minggu. Adikku menemuiku di kamar. Wajahnya terlihat lesu. Rupanya dia ingin curhat tentang pacarnya.

“Kak, adek putus sama Desi.”

“Loh kok bisa?”

“Nggak tau, tiba-tiba aja dia mutusin adek.”

Kedua matanya berkaca-kaca. Aku tersentuh melihatnya. Kupeluk adikku dan dia pun menangis. Semaleman dia curhat denganku. Bahkan malam itu dia sampai tertidur di kamarku.

Sampai dua minggu setelahnya, adikku masih terlihat shock. Aku kasihan dengannya. Hampir setahun mereka berpacaran. Pacarnya pun sudah sering main ke rumah. Terkadang pacar adikku itu menginap. Tentu berat harus kembali menjalani semuanya sendiri.






“Dek, ntar malem nonton yuk.”

“Nonton film apa?”

“The Avengers. Mau nggak?”

“Iya deh.”

Pasca adikku putus, aku terus berusaha menghiburnya. Pada beberapa kesempatan kuajak dia keluar bersamaku. Sekedar agar dia bisa melupakan kesedihannya. Bahkan kukenalkan beberapa gadis kenalanku kepadanya. Berharap salah satu bisa klik dihatinya. Sampai kini usahaku masih sia-sia. Aku pun musti tetap membagi waktu antara adik dan pacarku.

Kini aku harus menjaga perasaan adikku kala pacarku datang. Begitu juga pacarku. Kami sedikit menahan diri saat bermesraan. Namun, tidak dihari itu. Hari itu pacarku datang ke rumah. Sudah hampir seminggu lebih kami tidak bertemu. Dia harus keluar daerah mengurus bisnisnya. Ini pun kami hanya bisa bertemu beberapa jam saja. Terbayang besarnya rasa kangen kami. Aku sampai bolos kuliah hanya untuk bisa melepas kangen. Sejak dia datang tadi kami pun bercinta, bercinta dan bercinta.

“AAKKHH..!!”

Entah ini adalah orgasmeku yang keberapa. Entah berapa kali juga kami sudah bersenggama. Dua pax kondom telah kami habiskan. Itu pun belum cukup kami rasakan. Hanya saja waktu membatasi kami untuk melanjutkan. Hari sudah menjelang malam. Kami sama-sama enggan berpisah. Andai tak ada pesawat yang musti dikejarnya, akan kutahan dia selama mungkin dalam pelukan.

“Kamu harus balik sekarang ya? Masih kangen,” aku merajuk.

“Aku juga, cuma ya gitu waktunya kan mepet. Maaf ya.”

Kurelakan dia mulai berpakaian. Aku sendiri berpakaian ala kadarnya. Kupakai hanya tanktop dan celana dalam, sisanya kuabaikan. Kami keluar kamar sambil tetap berciuman. Terus kami lakukan sampai di gerbang depan. Taxi sudah menunggunya disana. Kami masih saja berpelukan dan berciuman. Tak kami pedulikan sopir taxi yang mengambil koper pacarku.

“Udah dong. Kalo gini terus nggak berangkat-berangkat nih.”

Pacarku mentoel hidungku.

“Biarin.”

Kudaratkan lagi ciuman dibibirnya.

“Udah masuk sana. Bodi seksi kamu jadi pameran tuh.”

Pacarku melirik ke arah spion taxi. Aku ikutan melirik kesana. Kulihat pak sopir sedang menatap nanar kearahku. Entah menatap atasku yang tidak ber-bra, atau bawahku yang hanya bercelana dalam. Kumengerling nakal kepadanya.

“Dasar, mulai genit ya.”

Lagi-lagi ditoelnya hidungku.

“Makanya cepetan pulangnya, biar genitku nggak keburu kambuh.”

Kami berdua tertawa. Ciuman terakhir mengantar pacarku masuk ke dalam taxi. Kami saling melambai. Taxi itu pun perlahan terus menjauh.

Selepas kepergian pacarku, aku masuk kembali ke rumah. Kukunci pintu gerbang dan pintu depan. Kucek sekali lagi semua pintu dan jendela. Kumatikan beberapa lampu yang tidak diperlukan. Saat berjalan menuju kamar mandi, kulihat kamar adikku sedikit terbuka. Lampu kamarnya masih menyala. Aku melangkah mendekat. Tanpa mengintip lagi kedalam, kubuka pintu kamar.

“Adek?”

Aku terkaget, demikian pun adikku. Kupergoki dia duduk diatas ranjang.  Hanya memakai kaos oblong, tanpa celana. Tangan kirinya memegang penis. Dia sedang beronani. Melihatku, adikku panik. Dengan cepat disambar celana pendek disebelahnya. Buru-buru dipakai dan menutupinya dengan bantal. Dia menunduk, wajahnya merah padam. Percis seperti pertama kali kupergoki dia bercinta dulu. Dia terlihat kikuk.

“Nggak apa-apa dek.”

Aku tersenyum. Kudekati dia, dan duduk ditepi ranjang. Kupindahkan bandal diatas tubuhnya.

“Lagi horni ya?”

Dia ragu menjawab. “I-iya kak.”

“Kok bisa?”

“A-abis dengerin suara kakak dari dalam kamar.”

Rupanya ini karena diriku. Tersenyum aku mendengar kejujurannya.

“Maaf ya, harusnya kakak bisa nahan diri tadi.” Kulirik tonjolan dibawah sana. “Mau kakak bantuin?”

Entah apa yang ada diotakku. Tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja.

“Ban-bantuin apa?”

“Bantuin ngocokin itu,” kutunjuk selangkangannya.

Sepertinya dia kaget mendenganya. Dengan ragu dia mengangkat kepala. Ditatapnya mataku.

“Be-beneran kak?”

“Iya beneran dong.”




Aku berdiri, mengambil lotion dan duduk kembali. Kutarik celana pendeknya sampai sebatas paha. Adikku duduk pasrah, tanpa melawan. Penisnya mengacung kearahku. Sedikit menegang, tapi belum maksimal.

“Wao, ternyata gede ya,” godaku. Dia tersipu.

Kuoleskan lotion secara merata. Kuakui penis adikku cukup besar, dan panjang. Diameternya pas digenggaman. Kalo dilihat-lihat sih mirip seperti punya mantan. Gila, kakak macam apa aku ini. Membandingkan penis adik sendiri dengan mantan pacar.

“Nggak apa-apa kan kalo kakak pegang?”

Adikku mengangguk pelan. Pertanyaan apa itu, pikirku. Basa-basi banget. Mana pernah ada laki-laki menolak penisnya kupegang. Bodohnya aku. Mulai kulakukan gerakan mengocok. Naik, turun, naik, turun. Awalnya adikku masih terlihat canggung. Beberapa kocokan, penisnya belum juga mengeras. Kucoba mengajaknya mengobrol. Semakin adikku tenang, penis itu pun semakin merenggang.

“Mmhh.. mmhh.. sshh.. sshh..”

“Enak?”

Adikku mengangguk lagi. Lagi-lagi pertanyaan basa-basi. Dari ekspresinya, dia jelas menikmati.

“Mmhh.. mmhh.. sshh.. sshh..”

Sambil mengocok kulihat sesuatu menyelip dibalik bantal. Kuangkat sedikit bantal itu. Adikku berusaha mencegah, tapi terlambat. Benda itu ternyata sebuah celana dalam. Salah satu celana dalam milikku. Seharusnya benda itu ada di jemuran. Lagi-lagi adikku menunduk. Wajahnya memerah untuk kedua kalinya. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Tadi ngocoknya make ini?”

Dengan ragu, adikku mengangguk.

“Mau dikocok make ini lagi?”

Adikku tidak menjawab. Dia tetap tertunduk, membisu. Penis ditanganku kembali mengendur. Melihat itu kulanjutkan kocokanku. Kali ini dengan dibalut celana dalamku itu. Penisnya lagi-lagi kesulitan untuk mengeras. Kuajak lagi adikku ngobrol. Kutunjukkan kalau aku tidak marah. Marah karena dia ‘meminjam’ celana dalamku. Berlahan dia mulai tenang. Pelan-pelan penis itu pun membesar kembali.

Sekian lama kukocok, belum juga ada tanda-tanda ejakulasi. Kuat juga daya tahan penis adikku ini, pikirku. Pantas saja dulu pacarnya betah menginap. Vagina mana yang bisa menolak penis macam ini. Kecuali vaginaku, tentunya. Incest belum terlintas dalam imajinasiku.

Kuperhatikan beberapa kali adikku melirik dadaku. Tanpa kusadari putingku sedikit menegang. Mungkin sudah saatnya mempercepat permainan ini, pikirku.

“Mau megang ini?”

Pertanyaan retoris ketigaku. Kulirik payudaraku. Dia juga melirik ke arah yang sama. Sepertinya adikku malu menjawab. Hanya saja aku sudah tahu jawabannya. Kuangkat tangan kanannya, dan kubawa kebalik tanktopku. Tanpa komando tangan itu langsung meremas. Malu-malu mau rupanya. Kubiarkan saja adikku melakukan remasan demi remasan. Payudara kiri dan kanan bergantian. Aku sendiri berkonterasi dengan kocokanku.

Tak lama, adikku menarik tangannya. Aku sedikit heran, tapi kubiarkan saja. Tangan itu rupanya berpindah posisi. Mengincar kewanitaanku. Dirabanya celana dalam yang kukenakan. Dirabanya juga kedua paha dalamku. Tetap kubiarkan saja.

“Nakal ya.” godaku.

Wajah adikku merona. Dia tersipu.

“Kok belum basah kak?”

“Kita ini saudara, nggak mungkin dong kakak nafsu sama adiknya sendiri.”

“Tapi kok adek nafsu ya kak?”

Dia nyengir. Kujewer telinga kanannya. Dia meringis.

“Itu sih gara-gara kebanyakan nonton bokep.”

Kami berdua tertawa geli. Tertawa terhadap kegilaan kami lakukan ini. Mungkin kami satu-satunya kakak adik yang melakukan ini. Mungkin ada juga kakak adik lain diluar sana. Entahlah.

“Boleh ya kak? Pengen tau ada bulunya apa nggak.”

Ujung jarinya menyelip dikaret celana dalamku.

“Mulai ngelunjak ya.” Kali ini kutoel hidungnya. Dia nyengir lagi. “Ya udah, asal jangan dilepas saja celana dalamnya.”

Mendapat ijin dariku, tangannya terus menyusup masuk. Tahu sendirilah kelanjutannya seperti apa. Kini kami saling merangsang kelamin masing-masing. Kubiarkan adikku melakukan apa saja dibawah sana, kecuali memasukkan jarinya. Pada suatu kesempatan, adikku mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia ingin mencium bibirku. Kutarik wajahku menjauh. Aku takut kalau kubiarkan, akan terjadi hal lain yang lebih gila. Sepertinya adikku mengerti. Dia membatalkan niatnya.

Akhirnya kurasakan kedutan ditanganku. Kedutan disusul kedutan lainnya. Adikku menarik tangannya dari bawah sana. Tubuhnya terlihat mengejang. Dia memakai kedua tangan untuk menyangga tubuhnya.

“OOHHH…”

Penis itu pun menumpahkan isinya. Cairan putih kental. Celana dalam yang membalutnya dibuat basah. Begitu pula tanganku. Semburan demi semburan, penis itu terus mengkerut dalam genggamanku. Sampai pada semburan terakhir, tubuh adikku pun ambruk. Dia terlentang lemas dengan nafas terengah. Kuambil beberapa lembar tisue basah. Kupakai mengelap sprei dari tetesan sperma. Kupakai juga membersihkan tanganku.

Kucium pipi adikku. “Hayo bilang apa ama kakak.”

“Makasi banyak kak.”

Dia tersenyum. Kepuasan terpancar diwajahnya. Kuelus rambut adikku sebelum berdiri.

“Oya sebelum bobo cuci celana dalam kakak, taruh lagi dijemuran.”

Aku mengerling. Dia mengacungkan jempol.

“Kakak..”

“Iya, kenapa?”

“Lain kali disepong ya.”

Kuambil bantal, dan kulempar kearahnya.

“Huu, maunya tuh..”

Adikku tertawa, aku pun demikian.


 

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar