Dita 5: Daun Muda

source: http://antaraduapaha.blogspot.co.id

 

Ponselku bergetar diatas ranjang. Kuhentikan membaca novel, dan mengambilnya. Sebuah pesan Line masuk, dari daun mudaku. Sebut saja namanya, Leo. Dia masih berstatus mahasiswa.

Seperti kuceritakan sebelumnya, aku dan dia sudah bercinta. Kejadiannya dua minggu yang lalu. Kuiijinkan dia menyetubuhiku dua kali hari itu. Jujur aku menikmatinya. Kelihatan sekali dia sudah mahir memakai kelaminnya. Dia minta lebih, dan kutahu dia mampu. Hanya saja untuk pertama, dua kali kurasa sudah lebih dari cukup. Sejak itu kami tetap menjalin komunikasi. Tanpa sepengetahuan suami, tentunya.

‘Bobo sendiri lagi?’ Begitu isi pesan darinya.

Aku tersenyum. Sudah tiga hari ini Leo rutin menyapaku. Kali ini larut malam, selesai suami menelpon. Dia tahu suamiku sedang dinas keluar kota. Tentu itu juga berarti dia tahu kalau aku tidur sendirian. Berkali-kali dia menggoda untuk mengulang kejadian dua minggu lalu. Jujur aku sedikit tergoda, tapi otakku masih cukup berlogika.

‘Iya. Mau nemenin?’ balasku sekaligus menggodanya.

‘Pengen sih, tapi ntar pasti ngeles lagi,’ balasnya.

Dibuatnya lagi aku tersenyum. Aku memang sering menggodanya. Menggoda dalam pengertian membuat bergairah, alias horni. Berhasil membuatnya tergoda, akan kualihkan pembicaraan. Dia pasti akan protes. Nanggung nggak dituntasin, begitu gerutunya. Akan kubalas lagi dengan candaan. Lama kelamaan dia hanya bisa pasrah. Kesal, tapi pasrah. Seperti juga malam ini.

Kuobati kekesalannya itu dengan mengijinkan menelponku.

“Kakak lagi ngapain?”

“Lagi tiduran. Kamu?”

“Sama. Lagi pake pakaian apa?”

“Tanktop sama celana pendek.”

“Dalemnya?”

“Celana dalem doang. Abis ini pasti nanya warnanya apa.”

Terdengar suara tawa diujung telpon. Aku pun jadi ikut tertawa.

Disisa malam kami terus ngobrol. Leo terus berusaha mengggodaku. Kubalas pula godaannya. Tengah malam, obrolan mulai mengarah seputaran dada dan paha. Entah kenapa, hari ini godaan Leo terasa berbeda. Mungkin karena seminggu sudah aku tidak disentuh.

Semuanya jadi sensitif, atas dan bawah. Bahkan, gesekan guling pun terasa nikmat. Kulepas seluruh pakaianku. Satu per satu. Kunikmati sensasi gesekan itu, sambil mengobrol. Tangan kiri kugunakan menambah sensasi yang ada. Kutahu disana Leo pasti melakukan yang sama. Dengan tangan kirinya juga.

“Kak, aku pengen ngerasain memek kakak lagi.”

“Aku juga Leo. Aku pengen kontol kamu.”

Obrolan kami kian memanas. Kini mengarah ke seputaran kelamin. Mudah saja kami bayangkan kelamin masing-masing. Penisnya dan vaginaku pernah saling memuaskan. Melalui kalimat, kami rekayasa kembali persetubuhan hari itu. Refleks kumasukkan dua jari kedalam vagina. Kukocok sendiri secara perlahan. Kubayangkan itu adalah penis milik Leo.

“Oohh Leo.. Oohh..”

“Oohh Kak.. Oohh..”

Kami mulai berbagi desahan. Membayangkan kami saling menindih. Saling bergumul. Memang dua jari tidaklah senikmat penis. Hanya saja, mau tidak mau terpaksa harus kunikmati. Leo pun mengeluhkan hal yang sama. Genggaman tangan dirasanya tidak senikmat jepitan vagina. Yang dia maksud vaginaku, tentunya.

“Kak, aku keluar Kak..” serunya.

Sepertinya aku merasakannya juga. Dinding vagina terasa berkedut. Kupercepat kocokan jariku. Semakin kencang mengocok, semakin kencang pula desahanku. Kurasakan momen itu sebentar lagi tiba. Momen yang memang ingin kucapai.

“Aakkhh..!!”

Kami berdua berseru hampir bersamaan. Setelahnya aku ambruk diranjang. Nafasku berhembus tak karuan. Diujung sana juga hanya terdengar nafas menderu. Tubuhku terasa lemas sekali.

Perlahan semuanya terasa berat. Akhirnya semuanya menjadi gelap.

***



Keesokan harinya, aku terbangun kesiangan. Itu pun anakku yang membangunkan. Momennya sangat memalukan. Si kecil menemukanku terlentang telanjang. Iya, telanjang bulat. Dia sempat bertanya kenapa aku tidur seperti itu. Kujawab karena kemarin cuacanya panas sekali. Bersyukur dia menerima jawaban itu, dan tidak bertanya lagi.

Hari itu mandi kilat kulakukan. Selesai berdandan, kulihat anakku sudah sarapan. Beruntung aku memiliki pembantu yang cekatan. Tanpa sarapan langsung kusambar kunci mobil. Aku sudah sangat terlambat, demikian pula si kecil. Di mobil kutelpon kantor memberitahu keadaanku. Semoga saja pimpinan bisa mengerti, harapku.

Anakku tiba disekolah tepat waktu, tapi tidak denganku. Sampai dikantor, ruang tunggu nasabah sudah ramai. Itu membuatku panik. Langsung saja aku berlarian menuju ke ruangan. Saat duduk dikursi, nafasku masih memburu. Sisa hari kujalani separuh tenaga. Berusaha menyelesaikan pekerjaan menumpuk, sambil mengantuk.

“Tumben lu telat? Begadang kemarin?” tanya Putri disebelahku.

Putri adalah rekan kerjaku. Satu kantor, tapi beda divisi. Dari masa percobaan kami sudah dekat. Kami sharing berbagai hal, termasuk masalah pribadi. Putri sudah menikah, tapi belum dikarunai momongan. Dia menikah dengan seorang pengusaha. Suaminya sering berada diluar kota, atau diluar negeri untuk bisnis. Kami suka berangkat bareng kalau suaminya tidak ada. Kecuali hari ini, tentunya. Tadi pagi terpaksa dia naik taxi.

“Iya,” sahutku singkat.

“Susah kan nggak ada suami. Susah tidur kan jadinya.”

Putri mengerling. Aku hanya tersipu. Dia sering mengeluh susahnya tanpa suami. Kini hal itu bisa kurasakan sendiri.

“Udah berapa hari lu nggak ‘disuntik’ nih?”

“Seminggu.”

“Wih kalo gue udah sakaw tuh.” Putri terkekeh. “Napa lu nggak ngajakin Leo?”

Iya, Putri memang tahu affair-ku dengan Leo. Dialah yang mengenalkan kami. Dialah juga yang memanasiku mencoba daun muda, alias brondong. Putri jauh lebih berpengalaman soal daun muda. Suami yang jarang dirumah, membuatnya perlu ‘ban serep’. Itu istilah yang biasa dipakai Putri. Dia banyak memiliki kenalan daun muda. Leo bukanlah salah satunya. Saat itu, kebetulan Leo diajak salah satu kenalan Putri.

“Nggak ah. Gue udah komitmen ama Leo kalau hari itu cuma sekedar hubungan one night stand doang. Nggak lebih dari itu,” paparku dari belakang kemudi.

“Yakin? Terus kenapa lu ngasi nomor lu ke dia?”

“Ya itu salah gue sih.”

“Terus kapan terakhir lu ngobrol sama dia?”

“Kemarin malem.”

Putri terkekeh. “Pantesan lu begadang. Lu phone sex ama dia?”

Dibuatnya lagi aku tersipu. Sebenarnya aku malu untuk mengaku. Namun, kalau aku berbohong dia pasti tahu. Apalagi makan siang tadi dia sempat memergokiku chat dengan Leo. Dia sudah kenyang makan asam garam soal affair. Putri adalah ‘The Queen of Affair’. Demikian julukanku untuknya. Aku pun hanya bisa mengangguk.

“Gila muka lu merah banget. Biasain aja kale.” Terdengar lagi kekehannya. “Lu nggak ketemu Leo lagi, bukan karena dia nggak jago ‘gituan’ kan?”

Aku menggeleng. “Nggak kok, dia jago. Jago banget malah.”

“Serius? Kayaknya gue musti nyobain si Leo juga nih.”

Kali ini aku yang tertawa. Kugelengkan kepala mendengarnya.

“Dia pernah gangguin hubungan lu ama suami?”

“Nggak.”

“Pernah ngancem lu, neror lu, atau yang lainnya?”

“Nggak.”

“Nah, itu artinya dia ngerti tuh status hubungan kalian. Kalo menurut gue sih, nggak masalah kalo hubungan kalian terus dilanjutin.”

“Menurut lu gitu ya?”

“Ya itu sih menurut gue. Sekarang semuanya terserah lu aja. Lagian awalnya kan gue ngenalin lu ke Leo buat iseng doang, mana nyangka gue kalo akhirnya kalian ngentot.”

Mendengar itu, kudaratkan tepukan dibahunya. Putri malah tertawa terbahak-bahak.

“Next time, kita tukeran brondong deh. Lu pasti nggak bakalan kuat nolak, lu udah doyan.”

“Sialan..!”

Kudaratkan lagi tepukan dibahu Putri. Dan tawanya pun semakin menjadi. Dia membuat diriku seakan-akan sebinal dirinya. Namun, sepertinya sih memang demikian. Aku pun tak kuasa untuk ikut tertawa. Oh, dunia ini memang sudah gila.

***

Sudah menjelang malam, saat aku tiba dirumah. Rumahku kosong. Pembantu sepertinya sudah pulang. Sempat kutelpon mertua menanyakan kabar anakku. Mereka yang tadi menjemputnya ke sekolah. Mertua bilang si kecil minta ijin menginap. Besok hari Sabtu, dan dia memang libur. Jadi kuiyakan saja. Kukatakan nanti aku akan mampir membawa pakaian untuknya.

Didepan kaca, kulepas satu persatu seragamku. Kuperhatikan pantulan diriku disana. Raut kelelahan terpacar jelas diwajah. Membagi kesibukan antara kantor dan rumah tidaklah mudah. Apalagi seminggu ini kujalani semuanya sendiri. Ditambah tidak ada pelampiasan seks sebagai pengobat stres. Tanpa sadar kuraba puting payudara kiriku. Lanjut kuremas pelan. Oh, sungguh aku butuh seks saat ini. Benar-benar butuh.

Ketika sedang mengisi bathtub, kudengar suara ponselku. Sebuah pesan masuk. Tidak terburu aku menjawabnya. Setelah air penuh, baru aku beranjak keluar. Tidak kututupi ketelanjanganku. Toh dirumah tidak ada orang, pikirku. Kucek ponselku, rupanya pesan Line dari Leo.

‘Boleh nelpon?’ demikian isi pesannya.

Aku tersenyum. Kutimang-timang sebentar ponselku. Kupikirkan jawaban yang akan kuberikan. Mungkin sedikit obrolan santai tidak apa-apa, pikirku. Aku ketik sebuah balasan singkat.



‘Boleh.’

Tak lama ponselku kembali berbunyi. Kali ini nomor telpon Leo tertera dilayar.

“Lagi ngapain?”

“Lagi telanjang,” jawabku.

“Wao. Langsung to the point nih.”

Aku tertawa kecil. Terdengar juga tawa diujung sana.

“Beneran kok, baru mau rendeman air anget nih.”

Pembicaraan pun berlanjut dalam bathtub. Hangatnya air mampu mengurangi penatku. Namun Leo tidak tertarik dengan hal itu. Dia lebih tertarik dengan ketelanjanganku. Dengan puting payudaraku, dan juga bulu vaginaku. Saat kubilang putingku sedang mengacung, dia sontak bersemangat. Semakin bersemangat lagi, saat kubilang vaginaku sudah bersih dari bulu. Dia suka vagina polos tanpa pubish, sama seperti suamiku.

“Kontolku jadi ngaceng nih,” ucapnya.

Ucapan wajib cowok saat melakukan obrolan seks. Entah itu phone sex atau chat sex. Aku hapal betul dengan kalimat itu. Sepertinya dimata cowok, informasi itu penting untuk disampaikan.

“Mau dimasukin sekarang?” godaku.

“Dibuka lebar dulu dong kakinya.”

“Udah nih, udah dibuka.”

Memang sedang kubuka kakiku lebar-lebar. Sedang kuraba kewanitaanku dibawah sana. Andai saja ada seseorang diatasku saat ini, bayangku dalam hati. Desahan mulai keluar dari mulutku. Aku tahu Leo bisa mendengarnya.

Sedang asyik meraba, terdengar nada sambung lain. Ada yang menelponku. Kulihat layar ponsel, ternyata suamiku. Konsentrasiku mendadak buyar. Gairahku pun jadi menggantung. Kukatakan pada Leo kalau obrolan kami harus diakhiri. Dia pun mengerti.

Kuangkat telpon dari suami. Dia menanyakan kabarku dan si kecil. Kukatakan kalau aku baik-baik saja. Kubilang si kecil akan menginap dirumah mertua. Dia bertanya aku sedang ngapain. Kujawab persis seperti menjawab pertanyaan Leo. Suami sama antusiasnya saat tahu aku sedang berendam, telanjang. Suami mulai menggodaku. Dikatakannya kalau penisnya jadi tegang. Kami lanjut melakukan phone sex. Hanya saja, sensasi yang ditimbulkan berbeda.

Diakhir obrolan, gairahku tetap menggantung. Oh, aku benar-benar butuh seks.

***

Malam sudah semakin larut. Disinilah sekarang aku berdiri. Didepan kamar kos elit bernomor sebelas. Itu adalah alamat yang dikirim Leo padaku. Entah kenapa aku bisa berdiri disini. Tadi sepulang dari rumah mertua, mendadak kuputar arah mobil. Kebutuhan untuk sharing membuat logikaku padam. Aku butuh teman malam ini. Teman tidur, tepatnya. Leo adalah orang pertama yang terlintas dipikiranku.

Sudah lima menitan aku berdiri disini. Masih ragu untuk mengetuk. Bagaimana reaksi Leo nanti saat melihatku, salah satu alasan yang membuatku ragu. Akhirnya kubulatkan tekadku. Kutarik nafas sebelum bersiap mengetuk. Namun sebelum tanganku sampai, tiba-tiba pintu itu terbuka. Kini berdiri sosok Leo dihadapanku. Dia terlihat kaget, aku pun tak kalah kaget.

“Ka-kak Dita?”

“Hei.”

Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sama kikuknya aku dengan Leo saat ini. Kami mematung untuk beberapa saat. Disana kami hanya saling pandang.

“Ma-masuk Kak,” akhirnya Leo mampu berkata-kata.

Aku melangkah masuk. Kulihat sekeliling kamar. Berbeda sekali dengan yang kubayangkan. Kamar Leo sangatlah rapi, padahal aku datang mendadak. Semua barang tertata dengan teratur. Tidak hanya rapi, kamar itu juga wangi. Aku pun jadi semakin menyukai cowok muda ini.

“Aku bawain camilan,” kusodorkan tas plastik yang kupegang.

“Ma-makasi Kak.”

Diambilnya dan diletakkannya diatas meja. Selanjutnya kami kembali saling pandang. Saling menatap, namun membisu tanpa kata. Leo melempar senyum dan kubalas. Sedetik kemudian, tiba-tiba saja dia memelukku. Didaratkan ciuman dibibirku, lalu melumatnya. Deru nafas Leo terdengar sekali ditelingaku.

“Aku kangen sekali Kak.”

Tidak sempat aku merespon, bibirku kembali dilumatnya. Dia begitu bergairah. Wajar saja, ini adalah hasil tiga hari saling menggoda. Aku yang juga sedang bergairah, balik membalas lumatannya. Didorongnya tubuhku hingga mentok di dinding. Ditengah deru nafas yang beradu, kami saling menelanjangi. Leo sempat kesulitan membuka jeans ketat yang kupakai. Kami sempat tertawa karenanya. Setelah kubantu, celana itu berhasil terlepas.

Selesai menelanjangiku, Leo menggiringku terlentang diranjangnya. Dibukanya kedua kakiku lebar-lebar. Dihujamkan penisnya dengan sekali hentak. Dia tahu tidak perlu repot merangsang lagi. Vaginaku sudah jauh dari basah. Aku melenguh lirih. Rasanya sakit, tapi enak. Sungguh aku merindukan adanya penis di vaginaku. Oh, rasanya begitu nikmat. Semakin terasa nikmat, saat Leo mulai melakukan genjotan. Genjotan yang langsung keras dan kencang.

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

“Ooohh.. oohh.. oohh..”

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

Tidak kutahan lenguhan dan eranganku. Kulepaskan semuanya. Saat datang tadi, aku tahu kosan itu sedang sepi. Mengerang sekencangnya mampu mengiris gundahku. Apalagi dibawah sana, Leo memberi kemampuan terbaiknya. Diselingi pula remasan pada payudara. Sampai harus kugenggam erat sprei menahan guncangan tubuhnya. Sementara peluh kami terus bercucuran.

Kami berdua bak musafir yang kehausan. Persetubuhan ini ibarat oase ditengah padang pasir. Saking fokusnya beradu kelamin, kami sampai lupa mengganti gaya. Hingga menjelang ujung, kami tetap dalam posisi missionaris.

“AAKKHH..!!” Tubuhku mengejang. Aku sampai ujung lebih dulu.

Sementara Leo terlihat masih perkasa. Ritme genjotannya masih stabil, keras dan kencang. Aku hanya bisa terpejam. Tergolek lemas menerima genjotannya. Masih belum terlihat tanda-tanda kalau dia akan segera ejakulasi.

“Memekmu Kak, gila memekmu…” Dia merancau.

Beberapa menit berlalu, aku masih menerima genjotan Leo. Staminanya masih belum menurun sama sekali. Kuat sekali anak ini, keluhku. Bahkan, dia mengangkat kakiku ke bahunya. Dengan posisi ini pantatku ikut terangkat pula. Kini penetrasi penisnya jadi lebih maksimal. Terasa mentok, padahal terakhir seingatku tidak seperti ini. Kulihat dia memejamkan mata. Leo benar-benar menghayati gesekan kontolnya di vaginaku.

Kupejamkan juga mataku. Genjotan Leo semakin menggila. Aku yang sempat pasrah, kembali mendesah. Birahi perlahan kembali meninggi. Apalagi saat Leo membalik tubuhku. Diaturnya tubuhku dalam posisi doggie. Dihujamkan lagi penisnya tanpa ampun. Ditamparnya pantatku beberapa kali. “Plaak.. plaak.. plaak!”



Dan selang beberapa menit. “AAKKHH..!!”

Kudapatkan orgasme keduaku. Ternyata multiorgasme bukanlah mitos. Kini aku percaya hal itu. Rasanya sungguh luar biasa! Belum juga ada tanda-tanda Leo akan berhenti. Desahannya masih saja kencang, demikian pula kocokannya.

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

Sampai akhirnya, tanpa peringatan semprotan menghujani vaginaku. Leo menekan dalam-dalam penisnya saat berejakulasi. Sampai tetes terakhir, dia belum juga mencabutnya. Dibiarkannya penis itu mengecil didalam. Sepertinya dia sengaja melakukannya. Memenuhi rahimku dengan spermanya. Kusadari hal itu. Kusadari tak ada kondom antara kelamin kami. Namun, kubiarkan saja. Berdasarkan hitungan kalender, hari ini bukanlah masa suburku.

Leo akhirnya tumbang diatasku. Kami mulai mengatur nafas masing-masing. Tubuh kami masih menyatu dalam posisi missonaris. Kelamin kami sih tepatnya. Perlahan kami kembali bisa menguasai diri. Kami saling pandang, tersenyum, lalu berciuman. Kepuasan terpancar di wajah kami. Birahi yang sempat tertahan, kini telah tersalurkan.

Ditengah ciuman kami, terdengar suara telpon. Ringtone milik Leo. Dia tetap saja melumat bibirku. Sampai kudorong sedikit tubuhnya, hingga bibir kami berpisah.

“Telponnya nggak diangkat?”

“Biarin aja.”

Dia berusaha menciumku lagi, namun kucegah. “Ntar penting loh.”

Leo menghela nafas. Dia pun mengalah. Akhirnya kelamin kami pun berpisah. Leo turun dari ranjang dan mengambil ponselnya.

“Halo sayang..”

Itu yang kudengar pertama kali. Sisa percakapan terdengar samar. Mungkin pacarnya, tebakku. Kurasakan tenagaku kembali pulih. Kupikir aku perlu membersihkan diri. Terutama saat kulihat adanya lelehan sperma dari vagina. Aku pun turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Saat berpapasan, Leo menangkap tanganku. Ditariknya aku kepelukannya, lalu Leo mencium bibirku. Dia pindahkan ponsel dari telinga ke dada.

“Ronde kedua?”

Aku mengerutkan kening. “Urus dulu tuh pacarmu.”

“Ronde kedua ya. Please.” Dia tidak mengindahkan kata-kataku.

“Kamu ada kondom?”

Dia menggeleng. “Tadi kita nggak pake kondom kan?”

“Tadi itu bonus. Nggak ada kondom, nggak ada ronde kedua.”

Wajah Leo langsung cemberut. Geli aku melihatnya. Kutoel hidungnya dan lanjut menuju kamar mandi. Kulirik sebentar Leo sebelum menutup pintu. Kulihat dia melanjutkan ngobrol di telpon. Didalam, kubilas vaginaku dengan shower. Sisa sperma yang ada, sedikit demi sedikit meleleh keluar. Banyak juga ternyata, sesalku. Semoga saja perhitungan kalenderku tidak salah.

Tubuhku terasa lengket oleh keringat. Kuputuskan untuk membilas juga sedikit tubuhku. Sekujur tubuhku pun terasa segar kembali. Selesai membersihkan diri, kuambil handuk milik Leo. Kupakai untuk mengeringkan tubuh. Kupakai juga menutupi ketelanjanganku, sebelum keluar.

Saat kubuka pintu kamar mandi, aku terkaget. Leo menyambutku di depan pintu. Dia memegang sekotak kondom. Diacungkannya kearahku.

“Ronde kedua?”

Tak kuasa aku menahan tawa. Entah darimana kotak kondom itu berasal, tapi kuhargai usahanya. Kujawab dengan anggukkan kepala.

“Sekarang?”

Dan kuanggukkan lagi kepalaku.

Leo kontan bersorak gembira. Dia berlari mendekat. Digendongnya aku ke ranjang. Tertawa geli aku dibuatnya. Ditariknya handuk yang menutupi tubuhku. Pergumulan selanjutnya pun dimulai. Jauh lebih panas dari sebelumnya.

Aku tidak punya rencana menginap. Hanya saja, sudah menjelang subuh saat kami selesai. Itu pun karena stok kondom sudah habis.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

1 komentar: