Dita 8: Sekamar Bertiga

 source: http://antaraduapaha.blogspot.co.id




 Kuhembuskan nafas panjang. Sudah lama aku tidak datang ke tempat ini. Kusapu pandangan ke sekeliling. Masih sama seperti terakhir kali. Terakhir kali kesini, aku sempat menginap. Teringat bagaimana malam itu begitu panas, begitu bernafsu. Aku selalu tersenyum sendiri setiap kali mengingatnya. Akhirnya kuketuk pintu bernomor sebelas itu. Pintu terbuka. Kulihat sosok yang kukenal. Dia adalah Leo.

“Hei Kak..” Dia tersenyum.

Aku membalasnya. “Hei..”

Dipersilakannya aku masuk. Didalam kembali kusapu pandanganku. Masih rapi seperti terakhir kuingat, kecuali ranjang. Sprei penutup ranjang terlihat sedikit lecek. Dapat dimaklumi, karena kutahu pacar Leo ada disini. Pastilah mereka sempat bermesraan tadi. Aku kesini memang ingin bertemu dengan Mila. Itu adalah nama pacar Leo.

“Mila nya lagi mandi tuh Kak, ditunggu aja sebentar.”

Kuanggukkan kepala. Memang terdengar suara gemercik air. Kulihat Leo memakai lagi kaosnya. Tadi saat menyambutku, dia hanya bercelana pendek.

“Duduk aja Kak, bersih kok. Kita tadi nggak ML, cuma tidur-tiduran doang sambil nonton TV.”

Leo nyengir. Kubalas dengan tawa kecil. Sepertinya Leo bisa membaca pikiranku. Kulihat tidak ada kursi. Semula aku ragu untuk duduk diranjang. Dia tahu kalau aku suka kebersihan. Kami cukup tahu kebiasaan satu sama lain, meski jarang bertemu. Leo sempat menawariku minum, namun kutolak. Dia pun lalu duduk disampingku.

“Gimana kuliah kamu?” tanyaku.

“Lumayan, semester ini IPK udah 3,5. Abis sekarang udah punya dosen private cantik.”

Kali ini aku tertawa lebar. Pasti akulah yang dimaksudnya dosen ‘private’ itu. Dia mengambil jurusan ekonomi, sama sepertiku saat kuliah dulu. Kini percakapan kami via sosial media sudah berkembang. Tidak hanya membahas soal-soal mesum, tapi juga akademis. Bahkan kuberikan dia kuliah singkat, saat terakhir ada dikamar ini. Kubantu dia menyusun paper ekonomi mikro. Itu semua kami lakukan sambil telanjang, tentunya.

Ditengah obrolan, Leo memegang tanganku. Dia bilang kalau dia kangen menyentuhku. Kami berciuman. Disentuhnya tubuhku dan kubiarkan saja. Saat menyentuh payudara, dia bergurau kalau terasa makin besar. Tertawaku dibuatnya. Kubilang ukurannya masih sama. Dia memang tidak berbohong kalau dia kangen. Beberapa kali Leo mengajak bertemu, tapi tidak kupenuhi. Aku tidak mau kalau kami jadi terlalu dekat. Syukurnya Leo masih bisa mengerti. Mengerti akan situasi hubungan kami.

“Aku suka banget ngeliat kakak pake seragam kerja gini. Seksi, bikin horni,” ucapnya sambil mengelusi pahaku.

“Hei, hei..” Kutepis tangannya. Kuingatkan dia. Aku datang bukan untuk bercinta. Dia nyengir, sambil menggaruk kepalanya. Kelihatan kalau Leo mulai bergairah. Harus kuhentikan sebelum makin parah.

“Iya, iya deh Kak, tapi celana dalamnya boleh sekarang dong? Udah janjikan?”

Kutoel hidungnya. Dia pun nyengir lagi. Kemarin aku memang menjanjikan hal itu. Mila boleh kujemput, asalkan dibarter celana dalam. Terdengar sedikit aneh memang. Beberapa kali sudah Leo memintanya. Bahkan sejak pertama kali kami bercinta. Katanya sih untuk kenang-kenangan. Beberapa kali kuiyakan, namun belum juga kuberikan. Kubuka tas jinjing. Kuambil dari sana sebuah benda mungil berenda.

“Nggak mau ah yang itu.”

Dia menolak saat aku menyodorinya. Aku mengerutkan kening. Padahal kutahu itu adalah model favoritnya.

“Maksudnya?” tanyaku penasaran.

Leo lalu mengacungkan jarinya kearah rokku. “Aku mau yang ada di dalem sana.”

Tanpa menunggu tanggapanku, tangannya langsung bergerak. Diangkatnya ujung rokku sedikit. Berusaha dia memasukkan tangannya kedalam. Meski berupaya kucegah, namun akhirnya Leo berhasil. Dia berhasil menyentuh kain tipis yang ada disana. Masih berusaha kucegah kemauan Leo. Celana dalam yang kupakai nggak seksi, begitu alasanku. Dan itu benar adanya. Modelnya memang biasa saja. Namun, dia seakan tidak peduli. Dia terus memaksa. Akhirnya kuiyakan kemauannya, asalkan dilakukan pelan-pelan. Dia pun kegirangan.

Leo langsung jongkok ditepi ranjang. Kedua pahaku dibukanya lebar-lebar. Kini kewanitaanku tepat berada didepannya. Tangannya merogoh lagi kedalam. Dia tersenyum saat menemukan apa yang dicarinya. Pinggiran karet celana dalamku. Mulai ditariknya perlahan. Kain mungil itu terus melorot turun. Sampai akhirnya terlepas. Ditempelkannya ke hidung, sebelum dimasukkan saku.

“Wangi Kak. Isinya sama wanginya nggak ya?”

Berusaha dibukanya lagi kedua pahaku. Namun, kali ini bisa kucegah. Dia sudah dapat apa yang dia mau. Tidak akan kuberi lebih. Aku tahu kalau kulemah, kalau Leo mulai memainkan lidah.

“Leo, jangan Leo.. tolong jangan..”

Dia terus berusaha, berusaha dan berusaha. Akhirnya aku tidak lagi kuasa. Tidak kuasa untuk bertahan. Pahaku pun kembali terbuka lebar. Kepala Leo kini sudah ada dalam rokku. Kurasakan lidahnya mulai menyapu kewanitaanku. Terus menari-nari didalam sana. Sensasi geli-geli nikmat kurasa. Tubuhku lalu terjerembab diranjang. Terlentang pasrah tanpa perlawanan. Kupilih untuk menikmati saja sensasi itu.

Sedang asyik berdua, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. “Klek!” Kupalingkan wajah. Kulihat Mila berdiri didepan pintu. Dengan tubuh terbalut handuk. Ditambah ekspresi penuh kekagetan.

“He-hei Mila,” ucapku. Masih dalam posisi terlentang.

“He-hei Kak Dita.”

Suasana menjadi canggung. Kami berdua saling menatap beberapa saat. Sedangkan dibawah sana, Leo masih sibuk dengan lidahnya. Kuangkat tubuhku. Kutepuk-tepuk pundak Leo, sambil memanggil namanya. Kuminta dia keluar dari rokku. Dia pun menarik kepalanya. Tersadarlah dia kalau Mila sudah selesai mandi. Namun bukannya panik, dia malah nyengir. Dan melambai kepacarnya.

Ajaibnya, kecanggungan itu hanya berlangsung sebentar. Kemudian semuanya kembali normal. Normal seperti tidak pernah terjadi apapun. Leo membuatkan teh untuk kami bertiga. Mila berias dan memakai pakaian. Sedangkan aku menonton televisi. Cukup kagum aku dengan Leo. Entah bagaimana cara dia mengendalikan Mila. Sebagai cewek, aku cukup penasaran. Bagaimana Mila tetap terlihat santai, setelah melihat pacarnya dan aku. Melihat apa yang barusan kami lakukan. Perlu kucari tahu jawabannya nanti.

“Udah selesai Kak, berangkat sekarang?” ucap Mila padaku.

Aku berdiri dan mengambil tas. “Boleh. Yuk.”

“Yah, ditinggal sendirian deh.” Leo ikut berdiri dan merengut.

Mila dan aku saling pandang. Lalu melempar senyum. Kompak kami melambai ke Leo. Sempat pula kami lemparkan ciuman jauh. Rengutan Leo pun semakin menjadi.

***




“Wow, kamarnya luas banget Kak!”

Mila berseru sumringah. Langsung dia berlarian disekitaran kamar. Dia juga menuju ke balkon belakang. Disana dia menyerukan kekaguman yang sama. Begitu pula saat menghempaskan diri diranjang. Geli aku melihat tingkah konyolnya itu. Seperti itulah Mila. Aku belum mengenalnya lama. Tapi yang kutahu, dia memang sangat ekspresif. Apalagi untuk sesuatu yang membuatnya antusias.

“Aku mandi dulu ya Mil, kamu santai aja dulu.”

Kulihat dia mengangguk. Mila telah memegang remote televisi. Channel luar negeri bergantian muncul dilayar. Mulai kubuka satu persatu seragamku. Kubiarkan Mila melihatku menelanjangi diri. Toh kami sama-sama wanita, pikirku. Lagi pula dikosan Leo tadi, Mila juga melakukan hal yang sama. Dan dia tidak malu melakukannya. Setelahnya, kubalut tubuhku dengan handuk dan masuk kamar mandi.

Didalam aku tidak lama. Hari ini tidak ada tugas luar, jadi kurasa tubuhku masih cukup bersih. Hanya lama kubasuh betis dengan air hangat. Kuurut-urut pelan. Urat-uratnya terasa sedikit tegang. Mungkin karena tadi banyak berdiri memakai high heels. Kukeringkan tubuhku setelah selesai. Dan kupakai kimono sebelum keluar. Diluar kulihat Mila sedang tiduran. Dia kelihatan serius menonton film. Duduk aku ditepi ranjang. Mila menoleh dan tersenyum.

 “Kakak cantik loh, badannya juga bagus,” ucapnya

Aku tersipu. Belum pernah aku dipuji sesama wanita sebelumnya. Pernah sih, cuma tak sepolos ucapan Mila tadi.

“Ah, kamu juga cantik banget kok Mil.”

Gantian dia tersipu. Aku tidaklah berbohong. Mila memang gadis yang berparas cantik. Rambut panjang dicat pirang. Postur tubuh proporsional. Dia juga sangat fashionable. Idaman laki-laki normal pada umumnya. Mirip denganku kala mahasiswa dulu. Boleh dong sombong sedikit.

Saat itu kami ada disebuah kamar hotel. Hotel berbintang dipinggiran kota. Dua orang wanita cantik dikamar hotel? Eits, jangan berpikir macam-macam dulu. Kami berdua normal, bukanlah penyuka sesama jenis. Disini kami sedang menunggu seseorang. Dia memang bilang akan datang sedikit terlambat. Kesempatan itu kupakai untuk ngobrol dengan Mila.

“Kamu udah lama kenal sama Leo?”

“Udah hampir dua tahun lebih Kak.”

Obrolan berlangsung santai. Banyak hal yang akhirnya kutahu tentang Mila. Ternyata dia punya kehidupan yang sulit. Dikota ini dia tinggal sendiri. Kuliah adalah cita-citanya, namun ekonomi keluarganya kurang mampu. Karena itu dia harus bekerja demi biaya kuliah. Segala pekerjaan diambilnya. Sebagian adalah pekerjaan paruh waktu. Aku kagum mendengar semangatnya itu.

Disanalah lalu dia bertemu Leo. Leo membantunya mendapat beasiswa. Leo juga membantunya mendapat pekerjaan. Menjadi staf di perusahaan kenalan ayah Leo. Atas bantuan Leo itu, Mila menerima ajakannya berpacaran. Mila memang kerap memilih pacar berdompet tebal. Semata guna menyambung hidup. Konsekuesinya tentu saja ada. Bersetubuh salah satunya. Diakui Mila kalau Leo bukan laki-laki pertamanya. Namun bersama Leo, dia melakukan seks dengan cinta. Dia tahu Leo pacar yang setia. Maka ketika tahu Leo berselingkuh, dia cukup kaget. Hanya saja saat Leo mengenalkan diriku, Mila mengaku lega. Dia bersyukur Leo tidak tidur dengan wanita sembarangan. Begitu pengakuannya. Sejak itulah aku dan Mila menjadi dekat.

Sedang asyik mengobrol, bel pintu berbunyi. “Ting tong, ting tong..”

Bangkit aku dari ranjang, dan berjalan kepintu. Kuintip siapa diluar. Kuberi isyarat Mila untuk bersiap-siap. Bunyi bel kedua kubuka pintu. Disana berdirilah dia yang kami tunggu. Dia adalah suamiku. Dia tersenyum dan memelukku. Diciumnya pula keningku. Tak lama datanglah Mila membawa cake. Suami terlihat kaget mengetahui aku tidak sendirian.

“Happy birthday!” teriakku dan Mila bersamaan.

“Ma-makasi.” Suamiku kini mulai terlihat kikuk.

Aku dan Mila mulai bernyanyi. Kutarik tangan suami kedalam kamar. Walau masih kelihatan bingung, dia menurut. Usai bernyanyi kuminta suami meniup lilin. Saat lilin padam, mata suami belum juga lepas dari Mila. Aku tidak menyalahkan dia sih. Mila memang sosok yang menarik. Sampai aku berdehem, barulah pandangan itu teralihkan.

“Kenalin nih Pa, ini namanya Mila. Mila ini dia suami kakak.”

Mereka pun berjabat tangan. “Saya Mila Om, saya ‘kado’ ulang tahunnya Om..”

Suami mengernyit, sedang aku sendiri tersenyum geli. Tersenyum karena celetukan Mila yang to the point. Juga karena melihat ekspresi suami. Dan karena mendengar panggilan ‘Om’ dari Mila untuk suamiku. Lucu saja mendengarnya. Suami memandangiku penuh tanya. Baru aku hendak menjelaskan, Mila sudah melanjutkan kalimatnya.

“..Saya disuruh kak Dita buat nemenin Om bobo malem ini.”

Tambah bingunglah suamiku. Aku pun tidak bisa lagi menahan tawa. Gaya bicara ceplas-ceplos Mila mengingatkanku pada Putri. Salah satu rekan kerjaku di kantor. Gaya flirting-nya pun sama percis. Kalau keduanya bertemu mungkin bisa disangka kakak beradik. Malah pesta ulang tahun nyeleneh ini, sebenarnya adalah ide Mila. Sekalian kenalan dengan suamiku, begitu katanya.

Guna mencairkan suasana, kupesan makanan. Kami mengobrol sambil makan malam bertiga.  Situasi sedikit kaku diawal, namun kemudian perlahan jadi santai. Mila ternyata pintar sekali bersosialisasi. Suami yang semula kikuk, kini terlihat nyaman. Begitu pula saat kami pindah ngobrol di ranjang. Kulihat lama-lama wajah suami memerah. Birahinya mungkin mulai bangkit. Wajar saja, karena ada rangsangan hebat didepannya. Mila cuek duduk bersila, padahal tahu dia memakai rok pendek. Begitu pun saat merubah posisi kaki. Cuek saja dia membiarkan celana dalamnya terlihat. Belum lagi tonjolan dibalik tanktop ketatnya. Benar-benar menggoda mata.

Ketika Mila permisi ke kamar mandi, suami berbisik padaku. Aku tersenyum. Kuanggukkan kepala sebagai jawaban. Dan suami balas tersenyum. Sempat kutanya keadaan si kecil dirumah mertua. Suami bilang baik-baik saja. Sama sekali tidak rewel. Mungkin akan kutelpon dia nanti.

“Mil, waktunya buka ‘kado’ nih,” ucapku saat Mila keluar.

Sepertinya Mila mengerti maksudku. Dia tersenyum kearahku. Diangkatnya kedua jempol. Mila lalu berjalan mendekati suamiku, dan duduk disampingnya.

“Mila yang buka, apa Om yang buka?”

Lagi-lagi celetukan Mila membuatku tertawa. Suamiku ikut tersenyum. Benar-benar blak-blakan banget nih anak, pikirku. Ekspresinya begitu santai. Terlihat sekali kalau membuka pakaian didepan laki-laki, bukanlah hal asing buat Mila. Suami sepertinya tak kuat lagi menahan nafsu. Dipeluknya Mila, dan mulai dipagut bibir gadis itu. Mila melayani pagutan suami dengan baik. Bahkan saat suami memainkan lidah. Mila ikut mengadu lidahnya.

Suami meminta Mila berdiri. Setelahnya, suami mulai menelanjangi Mila. Diawali dari tanktop, lalu rok pendeknya. Suami sengaja melakukannya secara perlahan. Tersisa hanya pakaian dalam, suami berhenti sebentar. Dipandanginya tubuh sintal itu dari atas kebawah. Mirip banget dengan bodiku, demikian komentar suami. Tersipu aku mendengarnya, sekaligus merasa bangga. Tidak dapat kubantah komentar itu. Bukannya risih dipandangi kami, Mila malah dengan pede berpose. Dia bahkan berputar beberapa kali bak seorang model.




“Sini Mila bantu bukain bajunya Om. Mau disepong sekalian Om?”

“Bo-boleh,” sahut suami singkat.

Sungguh sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak. Mulailah Mila mempreteli pakaian suamiku. Saat Mila menurunkan boxer, penis suami langsung mengacung. Mila jongkok, dan memasukkan penis itu kedalam mulutnya. Mulai dia mengulum. Melihat Mila mengulum, aku jadi terangsang. Ini kali pertama kulihat adegan seks secara langsung. Dibalik kimono, sekujur tubuhku bergetar. Berdiri dan kudekati suami. Kudaratkan ciuman dibibirnya. Ciuman itu dalam sekejap berubah jadi panas. Suamiku pun harus berbagi konsentrasi. Antara ciumanku dan kuluman Mila. Sambil berciuman, tangannya membuka kimonoku. Terlepaslah kain mandi itu. Kini aku pun telanjang. Suami memainkan puting payudaraku.

Beberapa lama, suami meminta Mila berdiri. Dibukanya bra dan celana dalam Mila. Dan kami bertiga kini sepenuhnya telanjang. Suami merebahkan diri diranjang. Dimintanya lagi Mila mulai mengoral. Mila menurut. Melihat posisi pantat Mila yang terangkat, kuambil inisiatif. Kusentuh vaginanya dari belakang. Sejenak Mila menoleh, lalu melempar senyuman. Jujur ini kali pertama kusentuh vagina wanita lain. Begitu Mila lanjut mengoral, kurabai lagi vaginanya. Bahkan tak lama, mulai kumainkan lidahku disana. Rasanya aneh tapi menyenangkan.

“Om, masukin ya?” Kudengar suami berbicara pada Mila.

“Iya Om,” sahutnya singkat.

Mila bangkit dan mendekatiku. Aku yang duduk ditepi ranjang dibuatnya kaget. Mendadak dia mencium bibirku. Bukan ciuman pertamaku dengan sesama wanita. Hanya saja, terasa beda saat Mila yang melakukannya. Aku bukanlah lesbian, begitu pun Mila. Namun, ciuman Mila sungguh nikmat rasanya. Soal variasi seks macam ini, harus diakui aku kalah dari Mila.

“Makasi udah dibantu bikin basah Kak, yuk sekarang giliran.”

Tanpa menunggu jawaban, dibantunya aku terlentang. Dibukanya pahaku lebar-lebar. Berikutnya lidah Mila menari didaerah kewanitaanku. Sensasi geli pun langsung menjalari tubuhku. Dijilati pula pahaku dan daerah sekitarnya. Mila sendiri kini sedang digenjoti oleh suamiku. Digenjot dalam posisi dogie. Suamiku berdiri ditepi ranjang. Terlihat bersemangat dia menyetubuhi Mila.

“Mmhh.. mmhh.. mmhh..”

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

Desahan Mila terdengar tertahan. Tertahan oleh bibir vaginaku. Justru yang kini terdengar adalah desahanku. Desahan karena tusukan lidah Mila.

Tidak lama kami bertiga berganti posisi. Kini aku dan Mila sama-sama terlentang. Terlentang mengangkang. Selangkangan kami berada di tepi ranjang. Disana pula suamiku berdiri. Posisi ini memudahkan suami bergantian menggenjoti kami. Beberapa genjotan, penisnya ada di vaginaku. Beberapa genjotan lagi, penisnya ada di vagina Mila. Demikian seterusnya. Terus bergantian.

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

“Ooohh.. oohh.. oohh..”

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

Desahan kami bertiga terdengar makin keras. Sampai memenuhi penjuru kamar hotel. Menunggu giliran digenjot, Mila menatapku. Dia tersenyum dan kubalas. Diciumnya lalu bibirku. Masih tetap terasa nikmat seperti sebelumnya. Mila juga nakal menjilati telingaku. Salah satu dari titik sensitifku. Itu membuatku kian bergairah. Saat suami ganti menggenjot Mila, kusentuh klitorisku sendiri. Kuputar-putar karena terasa gatal. Cukup sebagai selingan, sambil menunggu giliran.

Gantian kini kucium bibir Mila. Ditengah ciuman, mendadak tubuhnya menegang. Desahan Mila mengencang. Rupanya suamiku mempercepat genjotannya. Mila sampai memejamkan matanya. Suami memegangi kedua lutut Mila. Dipakainya sebagai tumpuan. Genjotan suami kian cepat, dan terus makin cepat. Sampai terdengar sebuah erangan panjang. Suami sukses membuat Mila orgasme. Ditarik penisnya dari vagina Mila. Berganti masuk ke vaginaku. Sama seperti tadi, genjotannya juga cepat. Giliran aku dibuatnya bergelinjang. Kututup mata dan kugenggam erat sprei. Malam itu, suami seperti berada dipuncak birahi. Staminanya terasa benar-benar berbeda.

Selagi digenjot suami, kurasakan sentuhan dipayudara. Mila ternyata yang melakukannya. Dia sepertinya sudah tersadar dari orgasmenya tadi. Tidak hanya menyentuh, Mila juga mengulum putingku. Bergiliran kanan dan kiri. Tubuhku makin hebat bergelinjang. Diserang sensasi nikmat atas dan bawah. Rasanya sungguh luar biasa. Tak pernah kualami seperti itu sebelumnya.

“Aaahh.. aahh.. aahh..”

“Aaahh.. aahh.. AAAHHH..!!”

Kali ini desahanku mendominasi. Diselingi desahan suami. Sampai terakhir terdengar lenguhan panjang. Berasal dari mulutku dan suami. Kucapai orgasme yang kunanti. Mungkin itu pula yang dirasakan suami. Kurasakan semburan hangat dibawah sana. Lima sampai enam kali kurasa. Suami berejakulasi didalam sepertinya. Aku sedang ada dalam masa suburku. Tidak masalah sih buatku. Tidak masalah kalau akhirnya nanti aku terbuahi.

Aku dan suami terlentang lemas. Sama-sama kami nikmati pasca orgasme tadi. Nafasku belum sepenuhnya pulih, saat Mila mencium pipiku. Dia tersenyum. Aku pun demikian.

“Thank you ya,” ucapku.

“Sama-sama.” Begitu balasnya. “Mila tinggal ke kamar mandi dulu ya, Kak.”

Aku mengangguk. Mila pun beranjak turun. Kini tinggallah aku dan suami di ranjang. Kugeser tubuhku mendekati suami. Bergelayut manja aku dipelukannya. Dia sepertinya juga sudah bisa menguasai diri. Suami mencium keningku. Kami saling tersenyum.

“Ini bener-bener ulang tahun papa yang paling berkesan.”

Tertawa kecil aku mendengarnya. “Papa suka?”

“Suka banget dong. Oya, emang mama kenal sama Mila dimana?”

Kuhindari menjawab pertanyaan itu. Kuberalih mengelus penis suami. Momen ini kurasa kurang tepat untuk bercerita. Kurang tepat untuk mengungkap segalanya. Kalau aku bercerita tentang Mila, artinya aku harus bercerita pula tentang Leo. Tahu kalau istrinya telah ditiduri seorang mahasiswa, pastilah akan merusak mood suami. Perlu kucari waktu lain yang mungkin lebih pas.

Elusanku membuat penis suami kembali keras. Suami lalu berbisik manja padaku. Dia meminta ijin menyusul Mila ke kamar mandi. Kujewer telinganya, tapi lalu kuanggukan kepala. Dengan sumringah suami turun dari ranjang. Tak lama kudengar suara tawa dari dalam sana. Tawa suami dan juga tawa Mila. Terdengar pula beberapa kali erangan manja. Tertawa kecil aku dibuatnya. Kupakai lagi kimono guna menutupi tubuhku. Kuambil tablet dari tas. Sibuk kubalas beberapa email yang masuk. Begitu pula beberapa pesan di sosial media. Sampai suami mendongakkan kepala dari kamar mandi.




“Ma, gabung sini yuk ama kita.”

“Oke,” sahutku singkat.

Kutaruh kembali tablet kedalam tas. Kubuka kimono, dan masuk ke kamar mandi. Kulihat suami dan Mila berendam didalam jakuzi. Aku langsung bergabung. Awalnya kami hanya berbincang. Lama-kelamaan suasana kembali memanas. Diawali saat suami memintaku dan Mila beradegan lesbian. Kami turuti kemauannya. Aku dan Mila pun mulai saling raba. Saling meraba payudara. Dilanjutkan dengan berciuman, lalu mulai mengadu lidah. Lidah kami terus beraksi. Menjilati telinga, leher dan berakhir pada kedua payudara. Kami lakukan secara bergantian.

Tak kuasa menahan gairah, suami mengocok penisnya sendiri. Sebenarnya dia ingin menggarap kami langsung. Hanya saja, kami mencegahnya. Aku dan Mila ingin merampungkan lesbian show kami lebih dulu. Kami ingin memancing birahi suamiku makin tinggi. Bahkan menyentuh pun kami larang. Suami terlihat dongkol, namun hanya bisa pasrah. Sampai Mila menyodorkan vaginanya. Suami pun bersemangat menikmatinya. Disusul berikutnya dengan diriku. Demikian seterusnya, berulang beberapa kali.

Malam sudah sangat larut saat kami selesai. Kami bertiga ngos-ngosan diranjang. Suamiku ada ditengah, diapit aku dan Mila. Tubuh kami lemas, tapi benar-benar merasa puas. Ranjang sukses kami buat berantakan. Entah berapa kali kami berguncang diatasnya. Tubuh yang semula telah bersih, kini kembali lengket oleh keringat. Kali ini kami terlalu lelah untuk berbilas. Kami pun memilih untuk langsung beristirahat.

“Met bobo sayang.” Kupeluk dan kukecup pipi suamiku.

Mila melakukan hal yang sama. “Met bobo Om.”

Suami membalas kecupan kami berdua. Selanjutnya kami pun terlelap. Terlelap dalam kepuasan.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar