Shinta R.A.: Prelude

Credit to Faithia


“London!! Hahaha, sampai juga yang! Hihihi.” Seru seorang wanita yang sudah menemani gue dalam 4 bulan terakhir. Gue cuma bisa senyum ngeliat dia excited begitu kita touchdown setelah 16 jam dilangit + 1 jam transit di schiphol. Gue sampe sekarang masih nggak ngerti, perbuatan baik apa yang bikin gue bisa dapetin istri gue yang sekarang.

Ini sebenernya bukan honeymoon kita. Kita honeymoon udah ke Jepang sebelumnya. Perjalanan ini sebenernya adalah perjalanan bisnis karena gue ditugasin untuk menghadiri conference di London selama seminggu. Begitu tau gue harus ke London, wanita ini langsung secara sepihak minta ikut. Haha.

Gue kemudian ngeluarin kamera andalan gue dan mulai mengambil gambar wanita yang lagi setengah lompat-lompat. Dia emang kayak anak kecil kadang-kadang. Dan begitu dia sadar, dia langsung berpose peace dengan mukanya yang nggak bosen-bosen gue liat.

So here we are, ready to explore London. Anyway, karena gue extend stay disini lebih lama dari seharusnya, ada yang lagi-lagi secara sepihak membuat itinerary tambahan keluar kota London. Yep, ada yang tiba-tiba buat kegiatan di kota yang harus ditempuh sekitar 3 jam dari London. Dia buat acara nonton bola di Anfield. Oh well.

Seminggu berjalan dengan cepat. Nggak kerasa deh. Tapi sayangnya gue cuma bisa jalan-jalan jam 6 keatas. Karena jam segitu doang gue udah bisa bebas dari kerjaan. Istri gue sendiri mah jalan-jalan terus. Dan yang pasti belanja terus, #prayformycreditcard

Setiap malam kita jelajahin London mulai dari ujung ke ujung. Haha, nggak dari ujung banget sik, yang pasti masih dilewatin tube. Haha. Big Ben dkk mah masih dilewatin hehe. Tapi nggak enaknya gue nggak tahan dingin. Walaupun udah bulan maret, masih dingin banget untuk orang tropis macem gue haha.

Gue inget banget pagi itu gue dibangunin sama istri gue. Dia yang biasanya susah banget dibangunin, kali ini udah siap untuk pergi dengan segala peralatan Liverpoolnya. Gue yang masih ngantuk diganguin terus buat cepet-cepet bangun dan sarapan.

Hotel gue yang emang deket dari king cross station bikin kita jalan ke stasiunnya instead of naik uber ditengah angin yang bisa buat badan kayak ditusuk piso. Tapi gue bisa ngeliat kalo wanita disebelah gue ini terlalu happy untuk kedinginan. Haha.

Cukup 3 jam untuk sampe di Liverpool dari London. Sekali transit di crewe. Sebenernya sih bisa langsung. Cuma istri gue main ngebook aja tanpa liat kalo ada yang direct ada yang 1 stop. Ya sudahlah ya, namanya juga jalan-jalan.

Sampe di Liverpool lime street kita langsung ke mall Liverpool one. Disitu istri gue belanja banyak banget. Jadi ada Liverpool store dimana ada 2 lantai jualan segala macem peralatan dan accessoriesnya Liverpool. Yang lucu sebelahnya Everton store haha. Kita juga makan disitu.

Abis dari mall tersebut kita jalan ke chesire, beatles museum, world museum dkk. Kotanya indah banget menurut gue. Kayak Jogjanya inggris kali ya, classic banget, nggak terlalu banyak gedung tinggi, bangunannya khas inggris.

Dan akhirnya kita sampai juga di menu utama. Anfield. Mata istri gue kayak mau copot gitu begitu kita sampai di pager Anfield. Haha. Kita pun ngambil tour match day dengan harga tiket sekitar 400rb rupiah. Tour keliling Anfield ini cuma ada pas lagi ada pertandingan di Anfield. Kita keliling mulai dari dressing room, lapangan, sampe dengan famous this is Anfield sign.

Pertandingan hari itu sendiri adalah Liverpool vs Manchester City. Gue si berdoa Liverpool menang biar istri gue nggak bete. Nanti kalo bete bisa runyam semuanya.

“Kalo misalnya Liverpool menang lebih dari 2 gol aku bakal kasih kamu satu permintaan. Kalo Liverpoolnya kalah, kamu harus beliin aku tas yang tadi” Kata istri gue tiba2 saat kita udah ditempat duduk.

“You know you're bad at betting right? Like really bad.” Jawab gue.

“I know. But this is a win-win situation for me, hihi, grant you one wish but Liverpool win, or Liverpool lose yet I got a new bag.” Jawab dia sambil tersenyum lebar.

“Deal!” Kata gue semangat. Gue cuma mau dia seneng hari ini. Pikir gue dalam hati sambil mengusap-usap rambutnya.

Dan Lallana, Milner, ditambah Firminho yang mulai ok lagi ditangan Klopp menorehkan masing-masing satu gol yang membuat Liverpool menang dengan margin diatas 2. Ini berarti gue dapet satu permintaan, dan istri gue bisa pulang dengan mood yang bener-bener bagus dari Anfield.

Kita malam itu menginap diliverpool. Rencananya besok siangnya baru kita balik ke London. Kemudian pada saat kita udah di kamar gue menagih satu permintaan yang berhak gue dapatkan karena menang taruhan lagi, nggak tau deh yang keberapa.

“Aku mau permintaan aku malem ini!” Kata gue ke istri gue.

“Ok, kamu mau minta apa sih?” Kata dia dengan muka yang dibuat seksi, mata sayu dan gigit bibir bawahnya. Shit! Ini mah bisa bisa gue langsung tomprok!

Terus gue bingung, istri gue ini termasuk orang yang adventurous. Jadi udah sering ngabulin permintaan gue yang IYKWIM. Hmmm.

“Aku mau kamu bangunin rodrigo (nama penis gue)(iya kampung namanya) tapi kamu nggak boleh megang, nggak boleh buka baju, nggak boleh desah cuma boleh cerita atau ngomong atau dongeng.” tantang gue ke istri gue.

“He? Kamu aneh banget si? Hmmmm .. gimana ya?” jawab dia kebingungan. Hihi, imut banget mukanya.

“Oh aku tau, hihi, ummm, kamu tau kan kalo aku ummm,” dia kemudian terdiam cukup lama sambil tersenyum malu-malu.

“Apa apa apa?” tanya gue penasaran.

“Ummmm, aku eksibisionis. Kamu tau artinya eksibisionis itu apa?” tanya dia.

“Tau sih, tapi go on lanjut ceritanya.” jawab gue. This is going to be good.

“hihihi , udah tau kan, ummm, jadi yang suka itu lhoo ummm gitu deh! Hihi, jadi ceritanya tuh mulai dari aku SMA ... jadii … ” oh this is going to be a long night. And she succeeded raising Rodrigo that night, haha.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar