Naked Adventure 1: Vakansi yang Janggal

Credit to Jaya Suporno



Celana dalam lycra semi transparan adalah penutup tubuh terakhir yang dilepasnya. Sepasang sandal gunung, kutang, kaus dalam, dan terusan panjang berbahan wol putih sudah terlebih dulu terlipat rapi di dalam ransel. Wajah Kinan perlahan merona, menyadari bahwa kini tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh sintalnya selain sepasang anting dan ikat rambut yang digunakan untuk menggelung rambut ikal sebahunya ke atas.

Posisi matahari yang tidak lebih tinggi dari cakrawala memendarkan cahaya temaram pada lembah sungai di hadapannya, mewarnai aliran jernih dan batu-batu di dasarnya dengan gradasi ungu-kebiruan. Burung gelatik mulai terdengar berkicau, menyahuti ricik air dan gemeresek bilah-bilah bambu yang memanjakan indera pendengaran. Kinan menghirup nafas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara segar pegunungan.

Kinan tersenyum puas, membentangkan tangannya lebar-lebar sebelum menghambur riang ke dalam air. Sepasang payudara mengkalnya ikut berguncang, mengikuti gerak kaki yang melonjak-lonjak di tepian dangkal dan menampari permukaan air dengan jari-jarinya.

Perjuangannya terbayar sudah. Kinan harus membuat alasan menginap di rumah temannya di liburan caturwulan, sebelum pagi-pagi buta memacu sepeda motor Grand Astrea-nya menuju jurusan Gianyar. Ia harus melewati jalan tanah yang tak bersahabat, menuruni lembah-lembah curam sebelum memarkir motornya di bawah pohon besar. Jalan setapak kecil yang dipenuhi tumbuhan paku memaksanya berjalan kaki menuju sebuah sungai kecil yang sudah diimpi-impikannya sejak lama.

Persis seperti bidadari dalam cerita Rajapala yang dahulu diceritakan ibunya, Kinan bersimpuh di antara aliran air. Kinan tersenyum jenaka, menikmati ketelanjangannya. Dibiarkannya arus air sedalam mata kaki menari-nari di sela paha, dan tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benangpun dimandikan dengan embun pagi.

Penuh perasaan, Kinan meraupkan air dingin ke atas bongkahan bulat dadanya. Butiran air membulir di atas bukit dadanya yang belia, sementara cahaya matahari yang mulai membias dari sela-sela daun nyiur mengilatkan nuansa erotis di atas sepasang payudara ranum yang membongkah menggairahkan.

Kinan memejamkan mata. Menghayati air sungai yang membelai kulit telanjangnya. Desir angin terdengar bergemerisik, membawa pikiran Kinan mengembara jauh ke masa kecilnya....


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Sejak awal Kinanti Pramudhita Maheswari sudah menyadari ada yang salah dengan dirinya. Gadis yang baru saja naik kelas III SMA itu selalu menyukai berada dalam keadaan tanpa busana. Tidak hanya pada saat mandi atau berganti baju, tapi kapanpun dan dimanapun hal tersebut memungkinkan. Kenyataan bahwa gadis itu sedang dalam kondisi tidak dibalut sehelai benangpun di tempat yang tidak semestinya, —dan adanya kemungkinan kehadiran orang lain yang sedang melihat dirinya dalam kondisi tanpa busana— selalu berhasil membuat si kecil terangsang.

Kinan mulai tidur telanjang begitu mendapat kamar sendiri di paviliun di belakang garasi. Sejak itu, seluruh kegiatannya di dalam kamar dilakukannya dalam keadaan nirbusana, belajar, membaca majalah Bobo, atau sekedar membuat kompilasi pita kaset boyband kesukaannya. Barulah ketika seisi rumah sedang terlelap, Kinan kecil mengendap-endap di pekarangan rumah hanya dengan mengenakan pakaian kelahiran hanya untuk merasakan bertelanjang bulat di tempat terbuka.

Bertahun-tahun Kinan bergelut dengan kelainan ini, terjebak di dalamnya dan mencoba melepaskan diri dari rasa bersalah yang selalu hadir bersamaaan dengan rasa nikmat ketika melepaskan busana di depan umum. Merasa kotor tapi juga menikmati. Ingin berhenti tapi juga tergoda mengulangi. Sebelum akhirnya Kinan menyadari, dirinya hanya berputar-putar dalam labirin libidinal yang sama...


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Manjus, gek?” kehadiran seorang laki-laki paruh baya menginterupsi Kinan dari alam khayali. Aroma tembakau dari rokok klobot di bibir keriputnya segera menguar memenuhi udara.

Ng-nggih,” Kinan menjawab cepat. Buru-buru mengusap kulitnya dengan batu kali selayaknya penduduk yang sedang mandi, berusaha mengabaikan desiran ganjil di dadanya ketika menyadari bahwa ada orang asing yang tengah melihatnya tanpa busana.

Gek saking dija?”

Tiang saking Denpasar, kak. Melali ka umah timpal di Payangan,” jawab Kinan dalam bahasa Bali. Setengah berbohong, tentu saja.

Manjus, Gek? = mandi, dik?
Nggih = iya
Gek saking dija? = adik dari mana?
Tiang saking Denpasar. Melali ka umah timpal ring Payangan = Saya dari Denpasar. Sedang main ke rumah teman di Payangan

Kakek tersebut mengangguk ramah, mohon diri lalu berjalan ke arah hulu sambil menghisap rokok daun jagungnya.

Pertengahan 90’an. Pemandian di tempat terbuka masih menjadi pilihan utama bagi warga di pelosok nusantara. Beberapa penduduk berangkat mandi dalam balutan kemben. Sementara beberapa lagi menenteng keranjang berisi cucian melintas di jalan setapak di samping Kinan, menyapa ramah ke arah gadis manis yang tak berbusana itu. Dan gadis manis itu berusaha membalas dengan senyum sayu di atas wajahnya yang bersemu.

Wajah Kinan tergolong manis dengan sepasang lesung pipi dan tahi lalat di dagu kiri. Bibir penuh, hidung bangir, dan alis tebal yang mengaksentuasi, menunjukkan terdapat sekian persen gen Arab yang terikutserta dalam kromosom gadis kelahiran 18 tahun lalu itu. Rambut Kinan ikal tebal sebahu, dan saat ini digelung ke atas dan menampakkan tengkuk mulus yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

Tubuh Kinan berada di antara ideal dan montok, dengan pinggul semok dan sedikit lapisan lemak yang membungkus perut dan pahanya, mengkal kalau kata orang Jawa. Lengkap dengan kulit kuning langsat tanpa cela karena tak pernah alpa dirawat dengan lulur oleh ibunya.

Sepasang payudara berukuran cukup besar untuk gadis seusianya kini terpampang bebas pada siapapun yang melintas. Berikut sepasang aerola berwarna coklat muda dan tajuk-tajuk belia yang mengacung tegak di tengahnya. Dan kedalaman air yang hanya sebatas mata kaki mau tak mau memperihatkan bagian berbulu lebat di antara paha montoknya yang tengah bersimpuh.

“Aduh... adik cantik... aduh-aduh.... kenapa di sini mandi sendirian? Mari ikut ibu... kita mandi sama penduduk di sana....”

“Ndak perlu, bu... saya biar di sini saja...”

“Benar... kalau mandi sendirian di sini, tajutnya nanti diganggu sama anak-anak kampung sebelah yang bandel-bandel.”

Kinan menggeleng sopan, menolak untuk yang terakhir kalinya.



Jalan setapak di tepi sungai kecil itu agaknya memang menjadi jalur utama para penduduk desa menuju tempat pemandian umum yang berada di saluran irigasi di sebelah hulu. Sudah puluhan pasang mata barangkali yang menyaksikan tubuh telanjangnya. Hingga tak terasa dorongan alam dari arah perut bawah Kinan memanggil: Gadis itu ingin buang air kecil.

Kinan menebarkan pandang ke arah sekitar. Batu-batu tak cukup besar sebagai penghalang pandang. Dan semak-semak di sekelilingnya tak memadai untuk tempat berkemih, menyisakan Kinan dengan satu-satunya pilihan.

Sambil menahan malu, Kinan berjongkok di bagian air yang sedalam mata kaki. Namun saat ia bersiap-siap mengejan untuk mengosongkan kandung kemihnya, sekelompok pemuda tanggung melintas tepat di hadapannya.

Mbok... Mbok jegeg... ngudiang dini melalung pedidian?” seorang yang tampak paling tengil malah sengaja bersuit-suit menggoda gadis manis yang sedang berjongkok dalam keadaan telanjang bulat dengan belahan tembem montok yang tengah kencang-kencangnya menyemprotkan urin segar.

“Hush! Hush! Jangan lihat! Saya lagi pipis!” jerit Kinan panik sambil menggeleng kuat-kuat, namun justru disambut gelak tawa anak-anak itu.

Yeh, Mbok? Ngenceh, to?”

Mbok! Mbok! Pepekne mebulu, nok!

Nyonyone mentul masih! hahahahaha!

“Pergi sana!!!” jerit Kinan dengan wajah merah padam.

Mbok... Mbok jegeg... ngudiang dini melalung pedidian? = Kak... kakak cantik... kenapa telanjang sendirian di sini?
Mbok? Ngenceh, to? = kakak? Sedang kencing, yai?
Mbok... pepekne mebulu nok! = kakak memeknya berbulu loh!
Nyonyone mentul masih! = payudaranya juga besar!

Sekujur tubuh sintal Kinan gemetar menahan malu yang teramat ketika semprotan urin berwarna kuning bening menyembur kencang dan meleleh-leleh membasahi paha montok dan betisnya.

“Jangan lihat!!!!! Saya.... ungggh.... saya.... ” rintih Kinan menahan malu. “Saya.... lagiiiih.... pipisssh.... uuuuuhh....” Wajah manisnya dipenuhi rona-rona kemerahan, menyadari betapa mesum posisi dirinya saat: berjongkok di tempat terbuka dalam keadaan telanjang bulat dan melakukan kegiatan paling pribadi yang seharusnya dilakukan seorang diri.

Seorang demi seorang melecehkan Kinan dengan kata-kata cabul, membuat sekujur tubuh montok gadis itu mulai diwarnai dengan rona-rona kemerahan.

Woy! Megedi! Jeg ngae rusuh gen gaene!” seorang ibu berkebaya mengacungkan sandal jepit ke arah anak-anak nakal yang segera mengambil langkah seribu sambil tergelak-gelak.

Woy! Megedi! Jeg ngae rusuh gen gaene! = Woy, pergi! Bikin rusuh saja kerjanya!

“Mereka itu. Orang lagi mandi digangguin!” gerutu ibu-ibu berusia paruh baya. “Adik tidak apa-apa?”

Kinan mengangguk dengan wajah memberengut.

Bersungut-sungut, Kinan menceboki lubang kencingnya yang entah kenapa malah terasa merinding ketika bersentuhan dengan jari jarinya. Kinan bisa melihat lawan bicaranya juga sedikit canggung karena terpaksa melihat seorang gadis montok telanjang yang berjongkok dalam keadaan telanjang bulat dengan tangan di selangkangan.

“Gek, Sedang apa kamu di sini sendirian?”

“Mandi, bu...” jawab Kinan polos.

“Ndak baik mandi sendirian!” tegur ibu itu.

“Maaf , bu... saya saja yang salah... pipis ndak lihat-lihat....”

“Ndak apa-apa...Maksud saya... Tiang cuma mau bilang, jangan mandi sendirian. Ndak baik. Nanti diganggu sama anak-anak,” kata seorang ibu yang menggusung keranjang bambu berisi cucian kotor.

“Wah pantas... anak-anak tadi, menyebalkan sekali!”

Si ibu mengangguk. “Di sana saja ramai-ramai. Orang-orang dari kota juga kadang-kadang mandi di sana, kok.”

‘Ramai-ramai’ menjadi kata kunci yang menggerakkan sang gadis eksibisionis menuju tempat pameran selanjutnya. Kinan menyambar handuk di atas ransel dan menyambut ajakan itu sambil berdendang-dendang riang.

Hanya dengan berbalut handuk dan menyandang ranselnya , Kinan mengikuti langkah ibu itu menyusuri jalan tanah yang berujung pada sebuah parit irigasi dari beton di sebelah hulu sambil berdendang dan mengira-ngira: petualangan apa lagi yang bakal menantinya di tempat ini.


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Fajar merekah kemerahan dari arah tajuk-tajuk pegunungan di ufuk timur, menampakkan areal persawahan menguning dan bertingkat-tingkat indah yang dibelah sebuah jalan aspal. Di kiri-kanannya adalah saluran irigasi yang diperkuat dengan beton. Tak sampai 2 meter lebar, dibangun pada awal Orde Baru. Di dalamnya sudah dipenuhi manusia dari beragam usia dan bentuk tubuh yang merendam diri di sepanjang parit yang dialiri air jernih yang dibendung dari dam besar di arah hulu.



Kinan melihat dengan kepala sendiri penduduk desa, laki-perempuan, tua-muda mandi tanpa sehelai benangpun di sungai. Bahkan di jalan-jalan desa yang lebih kecil, penduduk lokal dengan santainya bertelanjang bulat, berjongkok di parit-parit irigasi di pinggiran jalan raya di mana kendaraan bermotor bebas berlalu lalang.

Perutnya langsung terasa mulas. Kinan ikut merasa malu, tapi entah kenapa juga birahi pada saat yang sama. Kewanitaannya meremang. Bukan karena memandangi tubuh telanjang wanita di pinggir jalani, bukan pula oleh tubuh berotot para pemuda, tapi karena membayangkan dirinya sendiri yang berada dalam posisi mereka, tanpa busana di parit di pinggir jalan, sementara orang-orang lain yang lalu lalang di pinggir jalan bisa bebas melihat lubang anus dan belahan tembem kewanitaannya....

“Ini... tempatnya?” tanya Kinan gemetar.

Ibu-ibu berkemben itu mengangguk.

“Nah, tas-nya ditaruh di sini saja,” kata sang ibu lalu melepas kembennya santai. “Di sini penduduknya sudah biasa.... tapi kalau adik malu mandi di pinggir jalan seperti ini, adik bisa mandi di saluran irigasi yang di tengah sawah sana... airnya juga bersih...”

“Ndak apa... saya... di sini saja... ndak apa-apa....” Kinan berkata pelan, berusaha terdengar tidak terlalu murahan.

Meski sudah lama berada dalam fantasinya, Kinan agak rikuh juga ketika dituntut untuk benaran mengeksekusi. Karena tepat di samping parit irigasi itu adalah jalan aspal yang ramai dilalui mobil bak terbuka yang mengangkut sayur dari jurusan Kintamani. Rasa gentar adalah hal pertama yang menghantui. Tapi Kinan sudah sampai pada tepi di mana ia tidak bisa kembali. Sekarang, atau tidak sama sekali, batin Kinan mempersuasi.

"Niki keponakan tiang saking Denpasar,” si ibu memperkenalkan Kinan sebagai keponakannya dari Denpasar.

“Nggih...” Kinan mengangguk kikuk pada kumpulan ibu-ibu yang menyambutnya ramah.

Handuknya sudah terlipat rapi di atas ransel. Kinan duduk telanjang di tepi saluran irigasi hanya dengan ditutupi bulir-bulir air yang membungkus tubuh sintalnya. Cahaya fajar sudah bersinar kemerahan di ufuk timur, ikut serta menimbulkan kilatan-kilatan eksotis di atas tubuh sintal Kinan ketika anak itu menyabuni payudara dan ketiaknya tepat di depan pengendara motor yang lewat sesekali.

Berusaha tetap tampak wajar di depan para penduduk yang polos, Kinan berjongkok di tepi saluran irigasi, pura-pura menceboki area bawah tubuhnya dengan sabun mandi. Khidmat, Kinan mengusapkan buih sabun pada lepitan tembem di antara kedua pahanya berikut lubang anus yang kini terpampang bebas pada para pengguna jalan.

Namun apa lacur. Sensasi yang diharap-harapkannya tidak kunjung datang. Sikap acuh tak acuh orang-orang di sekelilingnya, termasuk para pengguna jalan terhadap ketelanjangannya, membuat Kinan sama sekali tak merasakan sengatan nikmat pada klitoris yang diidam-idamkannya.

Hingga matahari tampak dalam jarak pandang, organ erektilnya tak juga terangsang. Gadis manis itu mendengus kesal sebelum mohon diri dan berpakaian.

“Sungai tadi kalau terus kemana tembusnya, bu?” tanya Kinan kemudian.

“Oh sungai kecil tadi... itu tembusnya ke....” sang ibu mengucap sebuah nama sungai besar.

“Ramai di sana?”

“Ramai. Banyak ada orang repting. Biasanya turis dari Jakarta.”

Mendengarnya, sudut bibir Kinan seketika terangkat. Rafting. Turis. Jakarta. Ketiga kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala sang gadis eksibisionis membayangkan apa yang akan ditemuinya di tempat itu nanti. Yang jelas, ini barulah awal dari petualangan telanjangnya!

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

2 komentar:

  1. Wah kayanya ini cerita karangan mas jaya s ko ga di cantumin pengarangnya min?

    BalasHapus
    Balasan
    1. scroll ke atas bro

      Hapus