Naked Adventure 3: Labirin Libidinal​

Credit to Jaya Suporno



Kinanti Pramudhita Maheswari tidak bisa dibilang tidak bahagia. Kinan terlahir dari keluarga ningrat yang hidup lebih dari berkecukupan. Didikan ayahnya lah yang represif terhadap sensualitas justru membuat sisi binatang Kinan menjadi bahaya laten yang bersembunyi di alam bawah sadar.

Kinan bisa saja beralasan, bahwa kelainannya ini semata-mata adalah pelepasan dari sisi binatang yang selama bertahun-tahun ditekan di alam bawah sadar. Atau sekedar acungan jari tengah terhadap adat istiadat yang represif terhadap kaum perempuan waktu itu. Siapa yang tahu? 18 tahun bukan waktu yang singkat bagi ambang batas seorang anak untuk meledak. Termasuk nekad bertelanjang bulat di hadapan orang-orang asing seperti yang dilakukannya kini.

Kinan bisa membayangkan gamparan keras ayahnya jika beliau mengetahui bahwa sang anak tengah terpergok sedang berbuat asusila di belantara antah berantah.

Tabik... Kami ndak bermaksud membuat adik risih.....” menyadari ketakutan Kinan, Sang pemandu menyapa ramah dalam bahasa Bali halus. Menanyakan apakah Kinan keberatan dengan kehadiran mereka.

Tak ingin kedoknya terbongkar, Kinan menjawab dengan bahasa Bali pula. Pemandu itu bertanya kenapa ia tidak pernah melihat Kinan sebelumnya, dan Kinan menjawab bahwa ia baru datang dari Denpasar, hendak menengok saudaranya di Payangan (Kinan tidak sepenuhnya berbohong dalam hal ini). Lawan bicaranya mengangguk percaya, lalu duduk mohon diri pada pada kliennya untuk mencari kelapa muda di dekat situ. Sang pemandu berjalan ke arah desa, menghilang di puncak tangga batu, meninggalkan Kinan dengan 8 orang anak-anak kuliahan dari jakarta, 5 orang lelaki, 3 orang perempuan yang kini menyegarkan diri di bawah pancuran bambu di pemandian itu.

“Lagi mandi?” seorang gadis kota mendekat dan ikut berjongkok mensejajarinya. Rambut pendek seperti artis Nike Ardilla, mengenakan celana pendek dan tank top hitam ketat di balik pelampungnya. Mungkin berusia tak jauh berbeda dari Kinan.

Kinan mengangguk.

“Kamu tinggal di sini?”

Kinan mengangguk lagi. Dan Gadis itu semakin berani mengamati tubuh telanjangnya dari jarak dekat. Kinan menunduk tersipu, semakin erat menekap bongkahan payudaranya yang tergencet di antara dada dan paha kini tampak makin menggairahkan.

“Siska,” ia mengulurkan tangan.

Lengan Kinan yang bergerak menjabat kini tak lagi melindungi sepasang bukit kenyal di atas dadanya, sehingga seperangkat aerola beserta putingnya kompak berdiri tegak. Siska mengekeh santai, menarik tubuh Kinan berdiri.

“Ayoh, nggak pegel jongkok terus? Hehehe...”

Gelagapan, Kinan menurut dengan canggung. Dan seketika mata Siska bergerak mengamati, menelusur lekuk tubuh Kinan yang mengkal-sintal bak seperangkat cello. Pinggul, pusar, sebelum pandangannya sampai belahan belia yang dirimbuni rambut tipis di pangkal paha yang kini alpa ditutupinya.

Siska tersenyum kecil. “Kamu sekolah? Kuliah?”

Kinan mengaku dirinya putus sekolah dan harus menjadi pembantu rumah tangga di Denpasar. Tapi ketika ditanya umur, Kinan menjawab, "18...."

“Wah, kita seumuran, dong! Hehehe. Aku baru pindah ke Denpasar, itu kakak aku Leo sama temen-temen kuliahnya di Bandung,” Siska menunjuk pada pemuda brewok yang asyik berbincang di tengah kelompoknya.

“Oh....,” Kinan hanya mengangguk-angguk polos.

“Bener kamu masih 18? Badan kamu bagus, loh. Nggak kelihatan kalau masih belasan, beneran!” puji Siska sambil mematut-matut payudara Kinan yang memang cukup besar (kalau tidak mau disebut abnormal) untuk anak seusianya.

Kinan langsung menunduk makin tersipu, kembali menyilangkan kedua tangan menutupi rimbunan bulu lebat kewanitaannya.

Kinan mencoba mengacuhkan kenyataan bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang tidak berbusana dalam kumpulan orang asing yang mengeliliginya berebutan mengajaknya berbicang-bincang. Berdiri telanjang di hadapan orang-orang kota ternyata terasa jauh berbeda dengan telanjang di hadapan penduduk desa tadi. Jelas sekali, Kinan menyadari pandangan-pandangan nakal pemuda dalam rombongan itu yang sesekali melirik ke arah pinggul montoknya. Wajah Kinan merona. Kinan berusaha tampil sedikit lebih sopan dengan menyilangkan tangan di depan dada dan telapak di daerah kewanitaannya ketika berdiri, atau duduk dengan menyilangkan kaki sambil tetap melipat kedua lengan di depan dada untuk menutupi kedua puting. Tapi Kinan tahu itu saja tidak akan cukup menghalangi pandangan-pandangan nakal yang menjamah jauh ke belahan sempit di antara pahanya yang sesekali mengintip ketika Kinan melangkah rikuh.

Belahan pantat montok dan aerola berwarna coklat muda mengintip malu-malu dari sela jari tangan tak luput dari lirikan-lirikan nakal para pemuda kota yang seolah ingin menjarah bagian-bagian tersembunyi tubuh Kinan. Hingga ketika Siska beringsut mendekat membawa sebuah kamera saku yang tadinya dibungkus kantung kedap air.

“Boleh foto bareng?” bertanya si gadis kota.

“Eh?”

“Udah lah, yuk!” tangannya digeret paksa ke arah rombongan yang antusias menyambut kehadiran si gadis bugil.

“Enggak usah,” tolak Kinan sopan.

“Nggak usah takut, ini cuma buat kenang-kenangan kita aja, kok, hehehe,” desak Siska lagi.

Awalnya Kinan hanya berpose malu-malu sambil tetap berusaha menyembunyikan bagian-bagian terpenting tubuhnya: sepasang puting dan kewanitaanya yang mati-matian ditutupinya dengan tangan. Namun Kinan tak bisa memungkiri, setiap lampu blitz menyala, ada bagian dalam dirinya yang merasa bahagia, entah kenapa.

Sehari-hari Kinan adalah gadis alim yang sama sekali tak pernah menarik perhatian. Tapi kali ini dengan jelas Kinan bisa melihat pemuda-pemuda kota itu berebutan mengajaknya berbincang atau hanya untuk duduk di sebelahnya.

Kinan sedang berada di daerah tak dikenal. Tak ada satupun di tempat ini yang mengenali Kinan sebagai murid alim cucu almarhum Haji Ahmat Mudakkir. Itu artinya kehadiran Kinan benar-benar anonim. Incognito.

Di tempat ini, dirinya bukan Kinan si gadis lugu baik-baik yang dikenal di sekolahnya. Di tempat ini, Kinan boleh mengeluarkan sisi liarnya, sang gadis eksibisionis yang selama ini dikurungnya di alam bawah sadar oleh didikan orang tuanya yang otoriter. Dan kali ini Kinan tidak bisa untuk tidak merasa sensual, dirinya adalah bintang porno yang berpura-pura menjadi seorang gadis desa.



Rileks, Kinan mulai berani menurunkan kedua lengan yang sedari tadi sibuk menutupi bagian-bagian terpenting tubuhnya, sehingga kedua payudara dan bagian pubis yang dirimbuni rambut lebat bisa bebas terpampang ke 8 pasang mata yang terpana melihat ketelanjangannya. Tertawa santai, Kinan kini sudah tidak lagi kikuk untuk berjalan hilir mudik tanpa harus menutupi puting dan kewanitaannya.

“Ini bahasa Balinya apa?” jahil, seorang pemuda menunjuk susu Kinan.

Nyonyo,” Kinan menjawab sambil menopang sepasang payudara berukuran masifnya dengan kedua telapak tangan.

Anak-anak cowok tergelak-gelak melihat kepolosan Kinan (yang hanya akting tentu saja), dan bertambah semangat untuk menggoda ‘gadis desa’ itu.

“Kalau ini?” seorang anak cowok sengaja menggoda menunjuk ke arah rimbunan bulu lebat di bawah perut montok sang remaja.

“Itu namanya ‘pepek’.” Kinan menjawab dengan wajah tersipu. “Kalau yang ini namanya ‘song jit’.” Kinan menunjuk pada lubang imut yang mengerucut tepat di bawah belahan memeknya. Saat itulah, sekilas Siska menangkap kilapan basah di liang kawin gadis montok itu....

“Eh? Kamu basah, yah?” tanya Siska.

“Basah? Basah gimana? Saya ndak ngerti,” Kinan pura-pura polos, memasang senyum manisnya yang merona.

“Nggak! Nggak apa-apa!” Siska menggeleng cepat, menghilangkan malu di wajahnya sendiri.

Hari itu Kinan kehilangan orientasinya akan waktu, ia sudah tidak ingat lagi berapa berapa pose seksi yang sudah dipasangnya untuk orang-orang asing yang mengabadikan tubuh telanjangnya dalam lensa. Bahkan ketika Siska meminta Kinan berpose dalam gaya yang paling aneh sekalipun seperti berjongkok atau menungging di atas batu. Kinan bahkan tidak berkeberatan tubuh diambil gambar ketika sedang buang air kecil. Hanya kali ini saja barangkali, sang gadis pemalu boleh menjadi seorang bintang porno.

Pemandu yang datang membawa konsumsi pertanda rombongan itu harus melanjutkan perjalanan.

“Yah, harus pergi, deh,” Siska mendengus kecewa. “Padahal masih kepengen ngobrol lama lagi.”

“Yaudah, mau gimana lagi, hehehe...”

“Kamu masih belum selesai mandi...?”

“Udah, sih. Nih udah mau balik,” Kinan beralasan, sambil membasuh rambutnya entah untuk kali yang keberapa.

“Hoooo... Kirain masih lama... habis dari tadi kamu masih telanjang aja sih...” Siska berkata ringan, lalu menyadari ada hal yang aneh dari Kinan, ‘sang gadis desa’. Mata Siska spontan melirik menyelidik ke atas batu, bawah dahan pohon, ceruk-ceruk tebing yang biasa digunakan penduduk untuk meletakkan pakaian, tapi ia tidak menemukan apa yang dicari.

“Oh iya, baju kamu mana?”

Wajah Kinan mendadak memucat. “D-di sana...” Gadis telanjang itu melirik pada sepasang sandal gunung yang diletakkan di atas batu.

Siska mengernyit. “Kamu dari rumah ke sini cuma pakai sandal? Nggak pakai apa-apa lagi?”

Dan Kinan tak bisa menemukan jawaban. “A-a-aku... e-eh... b-baju aku...”

Bola mata Siska memutar, dan senyumnya seketika melebar ketika anak itu berhasil menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.

“Hayooo... jangan-jangan kamu...”

“Bukan! A-aku... bukan...”

“Sssst...” Siska menempelkan telunjuknya di bibir Kinan. “Nggak usah diterusin. Aku udah ngerti, kok...” bisiknya penuh arti pada gadis telanjang di hadapannya yang kini hanya mampu menunduk bak tertuduh yang sedang diadili. “Nggak apa-apa...” bisik Siska menenangkan. “Kalau kamu panik tar malah ketahuan loh, hehehe...”

Kinan menarik nafas dalam-dalam. Menunggu kata-kata selanjutnya dari Siska.

“Aku ngerti kok rasanya...”

“Maksud kamu?”

“Telanjang bulat...” wajah Siska ikut tersipu. “Di depan umum... kamu kira cuma kau satu-satunya orang yang kaya gini?”

Mata Kinan melebar seperti juga senyumnya ketika ia menyadari telah bertemu seseorang yang memiliki kelainan seperti dirinya. “Benar?”

Siska mengangguk. “Bahkan sejak SD kelas lima. Nggak ada yang tahu selain kakak aku. Jujur, kalau aku ke Bali sendirian, mungkin aku juga bakal ngelakuin yang sama kaya kamu.”

Selama ini Kinan mengira hanya dirinya seorang di dunia yang mengidap kelainan seperti ini, tapi ketika mendengar pengakuan Siska, entah kenapa postur tubuh gadis montok itu berubah santai.

Bertahun-tahun Kinan merahasiakan jati dirinya sebagai seorang eksibisionis, namun kali ini dengan jujur ia mengaku meninggalkan bajunya jauh dan berjalan telanjang bulat menyusuri sungai sampai tempat ini.

“Wow! Oh, Wow!” Siska terngangga tak percaya. “Kamu benar-benar berani... bugil di tengah hutan kaya gini... di depan orang-orang yang nggak kamu kenal... Serius, kadang aku kepengen jadi kaya kamu. Bugil di tempat umum, dilihatin sama orang-orang yang nggak aku kenal, kaya kamu sekarang...”

“Hehehe. Kemarin bahkan aku nggak pernah ngira bisa kaya gini. Tapi kalau nggak pernah mencoba, kamu nggak pernah tahu, kan?”

Siska tertawa kecil, mengamati tubuh telanjang Kinan dari ujung kepala sampai ujung kaki, membayangkan saat ini dirinya juga berada dalam kondisi nirbusana.

Pemandu wisata memanggil Siska yang masih berdiri berhadapan di bawah pancuran.

“Aku duluan yah, aku nginep sama temen-temen kakak aku di Wisma Dewata di Ubud kota sampai besok malam, kalau kamu mau, kamu boleh mampir.”

Kinan mengangguk pasti.

Pelukan bersahabat dari Siska dan ciuman ringan di pipinya bertindak sebagai ucapan perpisahan. Siska melambai dari atas perahu, sebelum akhirnya juga menghilang di ujung riam.



●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●

Kinan ditinggalkan begitu saja dengan birahi yang masih meruyak hingga ubun-ubun. Hari yang beranjak senja dan kemungkinan kehadiran penduduk desa di tempat ini, membuat Kinan merasa perlu melakukan adegan penutup untuk petualangan birahinya.

Belajar dari pengalaman, Kinan memilih sebuah ceruk tersembunyi tepat di tepian riam curam di arah hilir. Ada sebuah batu yang cukup datar di situ, cukup besar untuk tempat duduknya tapi cukup tersembunyi sehingga orang-orang di atas perahu karet tidak akan meyadari kehadiran Kinan sebelum melintas tepat di sampingnya. Ditambah riam curam yang berada tak jauh dari situ membuat calon korbannya tak akan memiliki kesempatan untuk menepi. Itu artinya kemungkinan ada orang turun dari perahu dan menginterogasi dirinya seperti tadi bisa dinihilkan sama sekali.



Sinar matahari senja yang berwarna jingga kekuningan menyusup dari puncak tebing dan jatuh di atas tubuh sintal Kinan, bagaikan tata cahaya sempurna bagi sang penari erotis untuk memperagakan pertunjukannya. Sambil menahan malu dan birahi yang berkecamuk di dalam dada, Kinan duduk di atasnya. Dari posisi ini, Kinan bertaruh, orang-orang di atas perahu karet dengan jelas bisa melihat belahan kewanitaannya yang kini sudah dilelehi lendir kenikmatan.

Merangkak, Kinan bertumpu pada lengan dan sepasang lututnya, sementara tangannya yang satu mulai bergerak aktif mengusap dan membelai daerah kewanitaannya yang kini terasa panas membara. Dimulai dari sepasang labia, klitoris, sehingga liang senggamanya dibanjiri lendir-lendir licin yang memudahkan jarinya menyusup ke dalam.

Terdengar suara berkecipak pelan ketika satu jarinya menguak himpitan rapat bibir-bibir belia berwarna merah muda disusul lengguhan tertahan dari bibir sensual Kinan ketika liang senggamanya disusupi jemarinya sendiri persis seperti saat Pak Burhan, guru olahraganya menodai Kinan untuk pertama kali di kelas 6 SD.

Hanyalah tebing batu yang menjulang tinggi dan mengelilingi tempat itu barangkali, yang menjadi saksi seorang remaja montok yang sedang dimabuk birahi, telanjang bulat, merangkak-rangkak, dan menyetubuhi liang kawinnya sendiri dengan dua jari. Lendir kenikmatan yang kian membanjir memudahkan jari-jari Kinan bergerak masuk-keluar, mengusap dan membelai dinding-dinding liang senggamannya, hingga membuat pantatnya menggeliat nikmat, tertungging-tungging ke udara....

Deras air sungai yang mengalir di antara bebatuan mengiringkan desahan-rintihan binal yang berkali-kali keluar dari bibir Kinan seiring gerakan tangannya yang semakin bergairah mengaduk-aduk liang kenikmatan yang sudah dibanjiri cairan cinta, menimbulkan suara berkecipak seksi setiap kali jemari mungil Kinan menguak dan mengocok dinding-dinding rapatnya yang mengkilap indah.

Suara teriakan pemain arung jeram terdengar semakin keras, pertanda para penontonnya kian mendekat. Kinan mempercepat gerakan tangannya. Suara kecipak lendir yang sudah membanjir seolah ingin bersaing dengan ceracau erotis dari kerongkongan Kinan seiring bertambah hebatnya amukan badai birahi di bawah perut sang gadis. Dan Kinan tahu, puncaknya akan tiba tak lama lagi.

Perahu karet bergerak kian mendekat. Seolah tak ingin menyianyiakan momentum, Kinan semakin mempercepat kocokan di memeknya, membuat rintihannya kini tidak bisa dibedakan dengan tangisan kesakitan. Sekujur tubuhnya terasa mengejang dalam ekstase pre-orgasmik yang terlampau fantastis untuk bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dan tepat ketika perahu itu melintas di depannya, Kinan meledak.

Tidak jelas yang mana terdengar lebih keras, jeritan orang-orang di atas perahu ataukah lolongan orgasmik yang mencelat dari kerongkongan Kinan. Dalam hitungan sekon, sekujur otot-otot tubuh gadis itu berkontraksi dengan intensitas tinggi, termasuk kandung kemih yang sengaja ditahannya sedari tadi.

Belasan pasang mata yang tak siap sedia segera disambut dengan pemandangan menakjubkan seorang remaja montok yang berjongkok telanjang bulat di atas batu besar, dengan memek yang menyemprotkan lendir bercampur urin yang yang meleleh-leleh di atas sepasang paha dan bongkahan pantat yang tak kalah montoknya.

Kinan menutupi wajahnya. Malu bukan main, tapi sekaligus nikmat luar biasa menyadari belasan pasang mata tengah menyaksikannya dalam kondisi paling memalukan: Otot-otot pahanya kehilangan daya, sehingga Kinan jatuh berlutut dalam posisi menungging, memamerkan lebih banyak lagi anus dan bagian intim yang telah kuyup dibasahi cairan berwarna kuning kental....

Gadis itu hanya bisa mengejang berkali-kali di atas genangan kencingnya sendiri. Rasa malu yang bersenyawa dengan birahi meledakkan erupsi orgasmik yang paling menakjubkan (sekaligus paling memalukan) yang pernah dikenangnya selama ini.

Kinan menatap nanar ke arah para penumpang yang masih terngangga melihat tubuh montoknya sebelum menghilang di riam deras di ujung sungai. Kinan tergolek tak berdaya, tanpa mampu beranjak dari kubangan urinnya sendiri....

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

3 komentar:

  1. Mantab huu ...lanjutken ...

    BalasHapus
  2. suhu gay eh jay juga ada d sini ...

    BalasHapus
  3. Siska blm ada ceritanya nih...

    BalasHapus