Naked Adventure 4: Innocent Slut

Credit to Jaya Suporno



Kinan tidak pernah sekalipun menganggap dirinya lonte. Meski terkesan murah hati dalam mempertontonkan aurat, tidak sedikitpun Kinan memperbolehkan tubuhnya untuk dijamah orang banyak. Satu-satunya orang yang pernah merasakan belahan memeknya hanyalah Pak Burhan, guru renangnya saat kelas 6 dulu, itupun hanya 3 kali, sebelum sang guru tertangkap oleh kasus yang sama di kota tetangga.

Sejak itu Kinan lebih menutup diri terhadap lawan jenis. Trauma barangkali. Meski diam-diam Kinan kecil terkadang terkenang saat-saat dirinya disetubuhi paksa oleh sang guru bejat.

Kinan menggeleng kuat-kuat, entah kenapa justru di tempat ini kepingan-kepingan ingatan itu bermunculan bagaikan film erotis yang diputar di benaknya. Seharusnya hasrat binatang Kinan sudah entas dengan masturbasi penuh resiko sesaat yang lalu. Tetapi alih-alih mereda, birahinya malah semakin menggelora seiring gagasan-gagasan sinting yang melintas berkali-kali: bagaimana jika ia terpergok dan disetubuhi beramai-ramai.

Dan rasa gatal di kelentitnya terasa semakin menggila. Seberapapun Kinan coba menceboki belahan tembemnya, sebentuk organ erektil berbentuk kacang itu malah makin lama makin membesar hingga menyembul dari himpitan rapat labianya.

Kinan sedang berjongkok membersihkan belahan pantat ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang punggungnya. Seorang pemuda tanggung mengenakan cawat berbahan batik muncul menuruni tangga batu. Tak lebih tua darinya, batin Kinan menaksir-naksir, mungkin SMP atau SMA kelas satu.

“Tabik,” pemuda itu berkata canggung, tak menyangka bakal menemukan seorang remaja montok yang tengah berjongkok membelakanginya di tempat itu. Buah jakunnya sontak bergerak ke atas, matahari yang bersandar rendah di ufuk barat membiaskan kilapan-kilapan cahaya jingga di pantat bohai Kinan dan gundukan tembem misterius yang mengintip malu-malu.

Ngiring....” Kinan menjawab sopan, sambil mengerling tanpa membalik badan, membiarkan pemuda tampan itu menikmati bagian belakang tubuhnya yang telanjang.

Manjus, mbok?” sang pemuda bertanya basa-basi.

Nggih...” jawab Kinan, masih dalam perannya sebagai gadis desa.

Ngiring = mari
Manjus = mandi
Mbok = kata sapaan pada perempuan yang lebih tua
Nggih, Inggih = iya

Percakapan mati. Keduanya kembali sibuk dengan isi benak masing-masing.

Diam-diam, sudut mata Kinan melirik mengagumi. Pemuda itu cukup tampan dengan rona kecoklatan yang mewarnai kulit sawo matangnya. Rambut ikal hitam yang dibiarkan tumbuh sedagu dengan lesung pipi di sebelah kiri. Kinan bertaruh, jika anak ini bersekolah di tempatnya, ia yakin akan banyak kiriman surat cinta yang mengantre untuk diladeni.

Pemuda itu adalah gambaran sempurna bagaimana patung-patung Dewa Yunani seharusnya dipahat di atas tubuh yang dibentuk karena kerja keras, bukannya suplemen steroid di pusat kebugaran. Lihatlah, betapa bongkahan bisep-trisep dan otot-otot pectoral yang saling berkontraksi ketika ia melepas ikat kepala.... Guratan-guratan perut six-pack di yang mengerucut membentuk huruf v menuju pangkal paha.... Juga bulu-bulu ketiak yang lebat yang menguarkan aura maskulin ke udara... Ah....

Kinan menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering....

Secarik kain cawat bercorak batik membungkus bagian bawah tubuhnya. Dililitkan begitu di perut bagian bawah hingga bawah pantat. Tampak kekecilan untuk membungkus daerah-daerah intim yang seharusnya ditutupi, terlihat jelas dari semburat-semburat rambut pubis kehitaman yang mengintip dari baliknya....

Seekor dangap-dangap yang melayang dari tebing batu menyentak Kinan dari fantasinya sendiri.

Dangap-dangap = sejenis kadal terbang

Pemuda itu lalu mohon diri untuk mandi dan berdiri membelakangi. Penutup tubuhnya yang hanya berupa secarik kain tipis bisa dilepaskan dalam satu gerakan, lalu dilipat rapi bersama ikat kepala di rak bambu di dekat situ. Kinan menahan nafas, pantat kekar lawan jenisnya kini terpampang indah ke dalam matanya yang membeliak terpana, diikuti sepasang paha kokoh dan buah zakar yang bergelayut di antaranya...

Dada Kinan berdesir. Pemuda mulai menyabuni tubuh kekarnya dengan buih-buih daun sirih; dada, puting, ketiaknya yang berbulu. Hingga akhirnya pemuda berkulit sawo matang itu berjongkok untuk membersihkan sela-sela pantatnya. Perlahan, tangan Gede bergerak menguak bongkahan pantat berototnya, dan jarinya yang telah dilumuri buih sirih kini khidmat mengusap lembut lubang anal berwarna coklat muda dalam gerakan memutar.

Kinan menggigit bibir, meredam desahan nafasnya sendiri.

Sengatan birahi yang menyerang tepat pada kelentitnya membuat remaja montok itu tidak mampu melakukan apapun selain mematung tanpa bergeming. Buih-buih keemasan yang mengilat di atas guratan otot-otot lencir sang pemuda pribumi membuat Kinan kembali terjebak dalam labirin libidinal yang tak berujung pangkal.

Kinan masih mengagumi otot-otot sang pemuda, ketika mendapati anak itu juga ternyata mencuri lihat ke arahnya. Tidak sampai sedetik barangkali keduanya beradu pandang, dan anak desa itupun langsung cepat-cepat menunduk dengan wajah merah padam.

Kinan tersenyum dalam hati. Terbit rasa bangga di hatinya menyadari pancaran birahi pada kedua mata anak yang baru menginjak usia puber itu.

Berjongkok menghadap arah yang berlawanan, Kinan ‘si gadis desa’ kembali pura-pura mandi entah untuk kali yang keberapa. Sambil memejam penuh penghayatan, Kinan mengusapkan buih-buih daun sirih ke leher, pundak, lalu sela-sela ketiaknya. Hati-hati, Kinan mengangkat sebelah lengan, membiarkan lebih banyak lagi bagian bukit sintal belianya untuk dilahap sang pemuda yang berkali-kali menelan ludah melihat bidadari bertubuh montok itu.

“Adik dari desa mana?” Kinan mencoba membuat anak itu menoleh ke arahnya yang kini tengah berjongkok dan menyabuni dada.

“Saya... asal... dari dekat sini....” anak itu menjawab gemetar, melirik ke arah tangan Kinan yang bergerak mengusap bukit-bukit menggairahkan berikut tajuk-tajuknya yang belia.

“Masih sekolah?”

Anak itu mengangguk. “SMP, kelas III.”

Anak itu bernama Gede. Sekolah di SMP Negeri di Gianyar kota. Pulang sekolah ia biasa membantu keluarganya mencangkul sawah yang tak terletak tak jauh dari tempat itu. Lama mereka bercakap-cakap saling mempertukarkan kisah hidup. Kinan mengaku hanya tamat SMP, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Denpasar, dan sekarang sedang berkunjung ke rumah kerabatnya. Lama mereka berbincang hingga tak terasa senja semakin menjelang dan perahu karet tak lagi lewat di sungai itu. Dan kini, Gede tidak canggung lagi berhadapan dengan sesosok sintal yang seolah sengaja ingin memamerkan ketelanjangannya itu.

Gede kini tidak lagi hanya mendunduk tersipu tapi mulai berani memandang terang-terangan ke arah sesosok tubuh mengkal yang kini tengah khusyuk meratakan buih sirih di bongkahan montoknya.

Kinan tersenyum memergoki. “Ah... kamu itu, Gede.... kaya ndak pernah lihat nyonyo saja... di desa sini, bajang-bajang-nya nyonyo-nya kan bagus-bagus!” tegur Kinan bercanda mendapati pandangan mata Gede yang seolah tak mau beranjak dari payudaranya.

“Beda.... kak... nyonyo kakak itu bagus... gede... putih... mulus.... mirip kaya punyanya artis senetron!”

“Oh, ya?” wajah Kinan seketika bersemu menuai pujian itu.

Gede mengangguk polos.

Nyonyo = payudara
Bajang = remaja

“Ah, kamu ini... Saya gemuk begini, kok....” Kinan meremas-remas lipatan tebal lemak perut dan sepasang bongkahan payudaranya dengan wajah polos.

“Badan kakak bagus... benar... ndak gemuk, kok... pas!”

Kinan tertawa geli menyadari remaja tanggung sudah mulai berani melontarkan rayuan-rayuan cabul pada dirinya. Merasa mendapat angin segar, Kinan semakin berani menyabuni dada dalam gerakan meremas. Kuncup-kuncup dada yang berbentuk seperti buah cherry pun tak luput dari cubitan-cubitan nakal, sebelum sebelah tangan Kinan bergerak turun menuju rimbunan rimba di pangkal paha.



Gede menelan ludah. Ujung jari Kinan menghilang di antara lepitan basah paling rahasia, bergerak menceboki belahan memek dan membersihkan lubang anusnya....

“Ih, kakak kan sedang mekonceng? Masa dilihatin terus, sih... kakak kan malu....” Kinan merajuk manja sambil menggembungkan pipinya yang lucu..

Mekonceng = Cebok

“Ah! M-maaf, kak! Maaf! Saya... ndak...,” sahut Gede ketar-ketir lalu menunduk dengan wajah merah padam.

Dan Kinan tertawa dalam hati, girang bukan kepalang berhasil mempermainkan birahi remaja yang mungkin baru saja akil baligh itu.

Merasa memegang kendali, Kinan kini tak ragu-ragu lagi berdiri di bawah pancuran menghadap Gede tanpa merasa perlu menutupi daerah-daerah intimnya. Dibiarkannya curahan air yang mengucur deras dari bilah bambu menghantam bongkahan payudara montoknya hingga berguncang-guncang, sementara kedua tangannya bergerak menyapukan air ke sepanjang lekukan tubuhnya yang semok untuk membasuh sisa-sisa buih sirih dari atas kulit kuning langsatnya.

Kinan mengikat rambutnya kembali dengan karet rambut yang sedari tadi dilingkarkannya di pergelangan tangan, memberikan kesempatan terakhir pada Gede untuk mengagumi payudara montoknya yang kini tampak semakin membusung.

Kinan mengerling penuh rahasia sebelum mengakhiri pertunjukannya. Dengan tubuh yang hanya tertutup bulir-bulir air Kinan melangkah ke batu besar di pinggir sungai untuk memberikan adegan encore bagi sang pemuda yang belum selesai terpana.

“Adik... jangan lihat, ya... saya mau pipis...,” Kinan berkata dengan wajah tersipu.

Kinan mengejankan kandung kemihnya kuat-kuat sehingga cairan kuning kental mengucur keluar dari belahan apemnya hingga melelehi paha montoknya.

Matahari yang condong ke ufuk barat membiaskan spektrum warna jingga ke lembah sungai yang dikelilingi tebing curam. Sungai berarus deras di belakang Kinan kini diwarnai dengan warna keemasan, memberikan latar sempurna bagi seorang remaja montok yang tengah mengejan-ngejan dihenyak badai birahi....

Jantung Gede berdentam-dentam, mengalirkan ratusan mililiter hormon testosteron ke arah organ reproduksi yang mulai memberikan reaksi fisiologis. Kejantanan Gede mulai bergerak siaga, berdiri tegak dan menunjukkan keperkasaannya. Kulit khatan Gede yang tak disunat tersibak dengan sendirinya, menampakkan ujung kejantanan berwarna cokelat muda dengan setetes cairan precum yang menitik dari dalam lubang kencing.

Kedua tangan Gede refleks tersilang di bawah perut, —sama sekali tak memadai sebagai penghalang pandang dari batang perkasa yang kini mencuat hingga bawah pusar.

Kinan tersenyum manja.

“Hayoh... kamu pasti mikir jorok, yah... memangnya kamu ndak pernah melihat bajang-bajang di sini melalung?”

Melalung = telanjang

Gede tercengir bersalah. “Sering, sih... tapi....”

“Tapi... apa? ndak ada yang secantik kakak?” Kinan mengerling manja sambil menceboki daerah berbulu di bawah perutnya. “Kamu ini, yah.... masih kecil saja sudah pandai menggombal. Bagaimana kalau sudah besar!”

Gede mengekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya. Pancaran matahari senja yang jatuh di wajah Gede yang dibingkai rambut ikal membuat anak itu bertambah manis di mata Kinan.

Dengan perlahan, Kinan beringsut duduk di samping Gede tanpa harus mengesani dirinya sebagai wanita murahan, meski aroma kewanitaan yang menguar jelas ke udara tak akan bisa menutupi apa yang diinginkan tubuhnya saat ini.

Kepala Kinan terasa ringan. Suara batinnya sudah tidak terdengar lagi bersama dengan sepasang matanya yang kini terpejam erat. Dibiarkannya saja sepasang mata Gede memanjakan diri menikmati sekujur tubuh telanjangnya; sepasang bukit kenyal dengan tajuk-tajuk menantang di dadanya, tubuh mengkal yang terlalu menggoda untuk dipeluk dan diremas, juga ceruk kesuburan di antara pahanya yang kini telah basah dan mengundang....

Sepanjang 18 tahun hidupnya, Kinan dikenal sebagai anak yang alim dan tak pernah alpa beribadah. Kakeknya adalah seorang mubaligh terpandang yang berdakwah sejak orde lama di pulau Dewata. Ayahnya adalah dokter bedah terkemuka di kota Denpasar. Entah apa yang akan dikatakan keluarganya jika mengetahui puteri kebanggaan mereka kini sedang pamer aurat kepada pemuda desa tak dikenal di rimba antah berantah. Namun kini....

“Dik...” suara Kinan nyaris tak terdengar.

“Apa, kak...?” Gede menjawab, sama nyaris tak terdengarnya. Suara tongeret yang mengiringi datangnya sandyakala seolah ingin bersaing dengan degub jantung dua insan berbeda jenis kelamin itu.

“Kok masih kenyang saja, sih...? Apa ndak sakit, dik? Bengkak begitu....” wajah Kinan terasa panas luar biasa, merasa jengah sendiri pada betapa lacurnya perkataannya barusan.

Kenyang = ereksi

Gede tersenyum malu-malu sambil menyingkap lebih banyak lagi kulit khatannya yang tak bersunat. “Ya, makanya kalau sudah gini biasanya, ya... dikocok....”

“Oh,” sahut Kinan datar, berusaha meredam gairahnya sendiri. “Kamu... pasti sudah sering ngocok, yah... pantas... lututnya kopong... hehehe....”

“Ah, kakak itu.... Ndak lah, kak.... jarang-jarang, paling biasanya ngocok bareng sama teman-teman kalau ada yang punya majalah baru....”

Kinan tersenyum sendu. “Ndak malu? Ngocok rame-rame?”

“Ndak... kan sama-sama cowok....” jawab Gede polos.

“Ya sudah, ngocok sana, kakak ndak bakal ganggu,” sahut Kinan berlagak acuh tak acuh.

“Eh?” Gede agak ragu sesaat.

“Tapi terserah kamu, sih..., kalau ndak mau ya ndak apa-apa....” Kinan pura-pura melengos tak peduli, meski diam-diam melirik mengamati dari sudut mata.

Agak segan sebenarnya bagi Gede untuk masturbasi di depan orang yang tak dikenalnya, tapi ketika gairah remajanya disuguhi pemandangan seorang gadis montok siapa yang sudi bilang ‘tak mau’?

“Benaran ndak apa-apa?” tanya Gede ragu-ragu.

Kinan mengangguk lucu.

Anggukan Kinan bagaikan persetujuan bagi tangan Gede untuk mulai meremas dan mengurut sebatang torpedp yang sudah tak sabar untuk memuntahkan lahar panasnya.

“Sssssh.... oooh..... mmmmmh....” Tak lama, Gede sudah melengguh-lengguh keenakan, asyik sendiri dengan permainan tangannya yang bergerak meremas dan mengurut batangan tak berkhitan itu.

“Enak, dik?”

Gede mengangguk tanpa tanpa berkedip memandangi tubuh telanjang lawan jenisnya.



“Hayoh... ngocok, ngocok aja... ndak usah lirik-lirik....” Kinan menggembungkan pipi sambil menyilangkan tangan menutupi puncak dadanya.

“Mau gimana.... lagi.... kak... badan kakak seksi sekali.... bikin celak saya kenyang.....” jawab Gede sambil mendecap-decap keenakan. Dan tentu saja, Dada Kinan semakin berdesir mendengar puji-pujian itu.

Celak = penis, kontol
Kenyang = ereksi

“Eh? Benaran? Kamu suka sama badan saya yang gemuk begini? Masa?” Kinan mencubit-cubit payudara montoknya dengan wajah tak berdosa.

Gede mengangguk makin gugup. Tanpa menyadari bahwa Kinan pun dilanda kegalauan yang sama. Gadis manis yang sudah kadung dilanda birahi itu hanya bisa bergeming tak berkedip memandangi otot-otot telanjang Gede yang mengejang dan menggelinjang mengikuti gerakan tangannya. Jari-jari kasar Gede bergerak meremas dan mengocok batang kejantanannya mundur maju, sementara sebelah tangannya sibuk menggelitik putingnya sendiri. Kedua paha Gede tak lagi telentang di atas batu tapi mengangkang dan membuka pahanya lebar-lebar sehingga menampakkan sepasang buah zakar dan lubang anal yang kini kembang-kempis diamuk badai birahi yang kian meninggi. Dan ketika Gede mulai memainkan lubang analnya sendiri, Kinan tak mampu lagi membendung sisi hewan di alam bawah sadarnya....

“Enak banget, yah....” Kinan mendesau pelan.

“Iya kak.... apalagi... uuuh... kalau sambil ngelihatin kakak melalung....”

Seyum sendu mengembang di bibir Kinan. “Benaran... kamu... suka... sama badan kakak....?”

Gede mengangguk cepat. Jantung Kinan berdetak makin cepat.

“Gede.... Kalau mau... kamu boleh kok... ngocok sambil... ngelihatin pepek-nya kakak....” Kinan bahkan tidak bisa mendengar kalimatnya sendiri. Jantung Kinan sudah terasa hendak melompat dari tenggorokan ketika tanpa sadar bibirnya mengucapkan kata-kata lacur itu. Dasar lonte! suara batinnya kembali terdengar mengutuki, tapi liang senggamanya yang telah basah dan mendamba seolah ingin menentang nuraninya sendiri.

“Eh?” Gede terlongo tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

Kinan hanya mengangguk dan tersenyum sayu.

Nyonyo = Payudara, toket, buah dada
Pepek = Vagina, Meki, Puki
Jit = Pantat

Berdebar-debar, Kinan berjongkok di depan Gede, membuka pahanya lebar-lebar sehingga dengan jelas Gede bisa melihat rimbunan ikal lebat di pangkal paha yang sudah lembap dan mengkilat oleh cairan cinta.

“Jangan bilang sama siapa-siapa, ya....” Kinan mengusap ceruk licin labianya sehingga ujung jarinya kini diliputi selapis cairan cinta yang kini diusapkan di puncak dadanya yang menantang.

Jakun Gede turun-naik melihat pertunjukan erotis itu. Tangan Kinan yang belum mau beranjak dari area berbulu di antara kedua paha sintalnya. Payudara montok yang berguncang-guncang mengikuti remasan-remasan erotis Kinan. Juga bibir sensual Kinan yang sesekali mendesah di atas wajah manis yang bersemu kemerahan.

Gede hanya mampu mengerang panjang disuguhi pemandangan erotis itu. Birahi yang juga sudah meruyak hingga ubun-ubun membuat Gede juga kehilangan akal sehat dan mulai melontarkan ceracau-ceracau cabul yang hanya mampu disaingi oleh dialog cerita stensilan yang biasa dibelinya di terminal Batubulan.

“Aduuuh... kakak seksi sekali kaaaak.... apalagi... jit... pantatnya kakak itu.... montok... sekali....”

“Masa... sih...? pantat gemuk gini kok dibilang seksi....” Kinan mengerling menggoda, bergerak memunggungi Gede hanya untuk meremas-remas pantat semoknya.

Gede mengerang semakin keras melihat Kinan kini menunduk dan menguak belahan pantat dan memamerkan lubang anus sekaligus memek tembemnya pada seorang bocah SMP yang sedang meracap bak sedang kesetanan.

“Aaaaaaah.... pepeknya kakak putih sekali... rapat sekali.... ooooh....”

“Yang benar? Rapat? Coba dilihat lagi yang baik.....” jemari Kinan bergerak membuka belahan labianya sehingga liang senggama yang mengkilap licin dan siap disetubuhi itu terlihat jelas, merekah dan mengundang. “Kakak... sudah pernah.... loh....” Dan Kinan tak lagi bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata cabul pada Gede. Serangan birahi yang menohok tepat pada batas terakhir pengendalian diri membuat Kinan akhirnya kehilangan akal sehatnya....

“Kakak cantik..... Mekatuk sama saya, kak... mekatuk sama saya.... mau ya.... mau ya....” desau Gede penuh nafsu sambil terus mengocok batang kejantanannya.

Kinan sejenak terperangah, namun langsung menyergah. “Kamu ngomong apa sih, dik?!”

"Mau ya, kak... katukin saya... saya kasih perjaka saya buat kakak....”

Mekatuk = Bersetubuh, ML, Ngentot, Ngewe, Kentu

Namun belum sempat Kinan kembali menjawab, sang remaja yang sudah kesetanan itu tiba-tiba menubruk tubuh montok Kinan dari belakang.

“Dik! Kamu mau apa?! lepaskan!” Kinan menjerti tertahan mendapati tubuh sintalnya sudah dipeluk dan diremas-remas kurangajar.

Remaja tanggung yang sudah dibakar birahi itu tentu saja tidak akan sudi ambil peduli, malah semakin erat memeluk Kinan dan semakin bergairah meremas-remas buah dadanya! “Ayolah, kak.... saya tahu... kakak juga sebenarnya sudah pengen dikatuk, kan.....” bisik Gede penuh nafsu sambil menciumi leher Kinan yang ditumbuhi bulu halus, sementara torpedonya yang menegang maksimal digesek-gesekkan dengan biadab ke pantat montok gadis itu.

“Jangan, dik.... aaaah....” Kinan mendesah, tubuh sintalnya menggeliat gelisah. Dorongan tidak masuk akal dari tubuh kekar Gede membuatnya kehilangan keseimbangan dan terpaksa bertumpu pada batu besar.

Gede yang sudah benar-benar bernafsu ingin menyetubuhi Kinan rupanya tidak sadar kejantanannya malah melesak ke arah lubang anal Kinan, membuat remaja montok itu menggeleng-geleng panik ketika ujung kejantanan Gede mulai bergerak membelah paksa lubang sempit merah muda yang kini mulai termenggap-menggap karena diinvasi benda asing...

“Auuuuuh..... aduuuuuh.... bukan... bukan yang itu!!! Aaaaah!!!!! Aduuuuh!!!!” Kinan termegap-megap panik antara sakit dan nikmat, namun belum sempat ia bereaksi lebih jauh, tubuh Gede keburu mengejang hebat. Kinan hanya merasakan anak itu memeluknya erat-erat disusul sensasi hangat yang menyambur membasahi lubang anus berikut bongkahan pantatnya.

“Kaaak saya mau keluar kaaak... saya keluaaarrrrh!!” Gede membenamkan torpedonya erat-erat di belahan pantat Kinan ketika ejakulasinya menyembur prematur. Sekali, dua kali, sehingga seluruh pantat montok dan punggung telanjang Kinan belepotan dengan cairan putih kental....

Kinan terpekik panjang, sebelum tubuhnya ikut ambruk ditimpa tubuh kekar Gede yang belum bisa berhenti menggelinjang. Terenggah-enggah, Kinan mengatur nafasnya yang memburu. Rasa takut perlahan bergerak meriap membaurkan diri dengan birahinya yang menggebu, tapi kenyataan bahwa orgasmenya digantung di awang-awang oleh pemuda tanggung pengidap ejakulasi dini, membuat liang sengggamanya masih basah mendamba....


Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

3 komentar: