Naked Adventure 6: Pejantan Alfa

Credit to Jaya Suporno



Cahaya bulan pucat yang temaram di langit barat tak banyak menolong Kinan untuk menemukan pakaiannya. Juga semak-semak keladi yang lebih suka menggesek-gesek area berbulu di pangkal paha ketimbang membantu. Angin dingin mengendapkan uap air dari pegunungan di utara menjadi partikel-partikel embun yang melayang rendah di udara, menyelimuti tubuh telanjang Kinan dalam butiran-butiran keperakan yang berkilat-kilat ditimpa sinar kebiruan.

Keringat dingin mulai membasahi wajah manis Kinan. Sudah setengah jam anak itu merangkak-rangkak telanjang di antara semak-semak, mencari-cari tas ransel yang berisi pakaian, dompet, berikut tanda pengenal dan kunci motornya, tapi yang ditemukannya hanyalah semak-semak talas dan keladi. Mungkin salah ingat, batin Kinan menghibur diri. Tapi dirinya ingat betul, di ceruk batu di antara dua pohon kelapa itulah dia meletakkan ransel kanvas berwarna marun di dalamnya, tapi kenapa... Aduuuh, masa hilang beneran, sih? batin Kinan panik karena kebohongannya jadi kenyataan.

Kinan menyusut setitik air dari sudut matanya, matian-matian menahan diri agar jangan sampai menangis, tetapi ketika menyadari bahwa sepeda motor Grand Astrea-nya juga ikut lenyap dari tempat parkir, barulah tangis Kinan pecah sejadi-jadinya. Kinan terduduk lemas di antara semak keladi. Tungkai-tungkainya mendadak kehilangan tenaga bahkan untuk tetap tegak berdiri. Konsentrasi asam laktat yang bertumpuk-tumpuk dalam otot luriknya ditambah kadar glukosa yang menurun drastis karena belum makan sejak siang membuat Kinan hanya mampu meringkuk tersedan-sedan di bawah pohon pisang.

Seharusnya Kinan sadar sejak awal. Bahwa kenikmatan yang didapatnya ketika memamerkan aurat tidak lantas datang tanpa resiko sama sekali. Ada harga yang harus dibayar untuk mengecap nikmatnya sensasi bertelanjang bulat di tempat yang tidak semestinya –juga untuk keputusan Kinan untuk meninggalkan pakaian dan berjalan tanpa busana jauh ke dalam hutan− yang kini disesalinya.

Kinan menggigil gemetar, meringkuk dan memeluk pahanya yang ditekuk di depan dada erat-erat untuk meratakan panas tubuh agar tidak terlanda hipotermia. Batang-batang pohon pisang berfungsi sebagai naungan agar angin malam tidak langsung menyengat kulitnya, tapi tetap saja tubuhnya yang tak ditutupi sehelai benangpun tak mampu menahan suhu udara yang perlahan turun menuju titik beku.

Angin malam yang turun dari lereng Gunung Batur membawa serta kabut tipis yang perlahan membungkus bulir-bulir padi dalam warna kelabu yang monokrom. Langit pucat yang nyaris tak berpelita mulai disepuh oleh tirai halimun, membuat deretan pohon kepuh randu di kejauhan tampak sebagai siluet yang mengayun-ayun ganjil.

Sekawanan kalong terbang dari sarangnya di dalam gulungan daun pisang yang belum terbuka, lalu mengepak angkuh dalam naungan pucuk-pucuk pohon aren dan membentuk bayangan gelap di bawah temaram rembulan. Kinan bisa mendengar mamalia bersayap itu mencicit di atas kepalanya disusul lolongan anjing yang saling menyalak di kejauhan. Malam telah gelap sempurna, dan makhluk-makhluk nokturnal satu-persatu bangkit dari tidur panjangnya; celepuk, burung bence, juga sepasang luwak yang menggeram sayup dari dalam hutan. Dengan jelas gendang telinga Kinan menangkap itu semua, segenap makhluk kegelapan yang tersamar di balik suara tangisannya sendiri. Selebihnya adalah keheningan yang soliter, pertanda bahwa saat ini bumi bukan lagi kepunyaan manusia sepenuhnya.

Tak ada seorangpun yang sudi keluyuran di waktu-waktu itu, sungguh. Berkeliaran di tengah hutan di jam-jam seperti ini sama saja seperti menyediakan diri untuk dimangsa oleh Betara Kala. Kinan mendadak teringat pada cerita nenek dari keluarga Bali-nya tentang Calonarang, janda sakti dari Dirah yang gemar menghisap darah dan menyembelih mayat untuk diambil organ dalamnya dan dijadikan perhiasan. Bersama murid-muridnya, Calonarang menari di bawah pohon kepuh di pekuburan untuk memuja Betari Durga. Ngereh, dan ngelekas −berubah wujud menjadi raksasa bercaling dan berkuku panjang yang menebarkan wabah kolera di kerajaan Daha.

Entah kenapa justru di saat-saat seperti ini cerita-cerita seram itu justru berkilas-kilas dalam benaknya. Kinan memejamkan mata, tapi yang muncul malah wajah Rangda dan Celuluk yang pernah dilihatnya pada selembar kartu pos. Tangis Kinan kembali terdengar, bahkan semakin menjadi-jadi. Kombinasi mengerikan perasaan takut, tak berdaya, dan putus asa membuat nafas Kinan semakin tersengal-sengal, tersedak oleh sedu-sedannya sendiri.

Kinan terisak pelan. Dirinya hanya ingin pulang.

****

Kinan tak ingat berapa lama ia menangis. Yang jelas saat ini kerongkongannya mulai terasa sakit sehingga yang keluar hanyalah suara parau yang makin lama makin serak karena pita suara yang mulai meradang. Kinan mengusap air mata yang meleleh-leleh di pipi.

Bagaimana cara dirinya pulang? Apa yang harus dikatakan Kinan pada orangtuanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar saling bersusulan di pikiran Kinan. Kehilangan pakaian dan kendaraan ditambah berada dalam kondisi lemah karena kelaparan membuat Kinan seperti dihadapkan pada jalan buntu. Remaja yang tak berbusana itu terdiam lama, sebelum sebuah nama terlintas dalam pikirannya.

Siska. Mendadak nama ini muncul begitu saja. Turis dari Jakarta yang ditemui Kinan tadi siang. Kenapa tidak? Toh, sebagai sesama eksibisionis, anak itu yang bakal paling mengerti kondisinya saat ini.

Kinan ingat betul, Siska berkata bahwa dirinya menginap di Wisma Dewata. Kinan tahu benar tempat itu. Dia melewati guest house bergaya tradisional itu dalam perjalanan menuju kemari tadi pagi. Plang nama besar di deretan galeri dan rumah makan di tepian sawah yang dilewatinya ketika membeli makanan. Tak salah lagi.

Tapi bagaimana caranya? Tanpa pakaian dan kendaraan, Kinan akan dipaksa berjalan telanjang bulat menyusuri jalan protokol Singapadu-Penelokan, lalu berjalan ke arah timur entah melewati jalan-jalan kecil perkampungan atau memintas melalui persawahan menuju area Ubud kota. Lama Kinan menimbang-nimbang rute terbaik yang akan dilaluinya ketika indera pendengarannya menangkap kehadiran sosok lain di tempat itu.

Kinan bisa mendengarnya walaupun sayup, langkah-langkah kaki yang bergemeresek di antara rumput-rumput tinggi menuju ke arahnya.

Tangis Kinan berhenti seketika, sikap tubuhnya berubah waspada. Aliran adrenalin yang mengalir deras mengikuti debaran detak jantungnya sekaligus berfungsi sebagai tanda bahaya. Dalam senyap, Kinan menajamkan pendengaran dan mengarahkan pandangan ke arah datangnya suara, bersiap mengantisipasi apapun yang muncul dari balik kegelapan.

Orang yang menyembunyikan bajunya, kah? batin Kinan waspada. Bukan tidak mungkin mereka kembali ke tempat ini lalu memaksa Kinan memuaskan nafsu bejatnya seperti yang pernah dibacanya dalam kisah 7 Bidadari dan Rajapala. Kinan menggeleng panik, berusaha menghilangkan probabilitas mengerikan itu dari pikirannya.

Pembuluh darah Kinan serasa membeku. Siluet misterius kini berdiri menghadang di tengah jalan setapak di antara bayang-bayang pohon pisang. Di bawah sinar keunguan, mata Kinan menangkap sosok menyeramkan yang berjalan terhuyung ke arahnya. Hanya samar-samar barangkali, tapi Kinan bisa melihat tubuh kurus tak berbaju sama sepertinya. Yang pasti seorang kakek-kakek tua, dengan rambut setengah botak dan kelamin yang mengkerut seperti siput. Sebelah tangannya menggenggam tongkat bambu, satu tangannya lagi mengayun-ayunkan buntelan kain putih. Orang mau ngeleak, kah? batin Kinan sebelum indera pengelihatannya menangkap raut muka yang tersenyum-senyum sendiri dan bibir keriput yang menggumam tak jelas.

Sial betul malah ketemu orang gila! batin Kinan panik lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari jalur melarikan diri. Sekilas, Kinan menangkap celah sempit yang mengarah ke jalan raya. Tapi belum sempat Kinan menggerakkan persendian, si kakek sudah berjongkok tepat di depan wajah Kinan, memblokade rute pelarian.

“Ciluk... baaaaa... hehehe... hehehe....” si kakek terkekeh-kekeh menyadari kehadiran Kinan yang sama-sama tak berbusana.

“Kyaaaaaaaaaaah!!!!!!” Kinan memekik histeris melihat wajah ompong yang tersenyum-senyum tepat di depan matanya.

Kinan seketika terjerembab ke belakang, menggeragap mundur dengan dengan kedua tangannya yang berpegangan pada batang pohon pisang. Melihat ekspresi Kinan yang ketakutan, si kakek misterius hanya terkekeh-kekeh jenaka, apalagi ketika kedua melon putih dan semak-semak rimbun Kinan yang kini tak terlindungi ikut bergetar-getar karena pemiliknya gemetaran menahan tangis.

“P-pekak m-mau a-apa?” pekik Kinan lalu cepat melindungi bagian-bagian intimnya.

“Hehehe... hehehe...” si kakek gila hanya terkekeh-kekeh. Sepasang korneanya yang keruh karena katarak menatap lucu ke arah Kinan yang semakin terpojok di antara batang pisang.

“Kyaaaaaa! Kakek mau apa?” Kinan segera meringkuk memeluk pahanya erat-erat ketika tangan si kakek bergerak menjangkau ke arahnya.

“Hehe... hehehe....”

“Pergi! Jangan ganggu saya! Kalau tidak saya teriak!!!” jerit Kinan yang hanya ancaman kosong belaka. Kinan pun tahu tak akan ada yang mendengarnya di tempat itu. Rasa takut kembali berjangkit di pikiran Kinan menyadari bahwa seorang pengidap schizophrenia bisa melakukan apa saja di tempat sepi seperti ini.

“Gedang... hehehehe... Gek nawang gedang? Ne... Gedang... hehehehehe...”

“G-g-gedang? Pekak?”

“Nggih.... Pekak... Gedang....”

Jadi namanya Pekak Gedang, batin Kinan.

“Panak jegeg, ne.... jegeg sajan.... hehehe....”

“Ng-nggih,” sahut Kinan risih karena Pekak Gedang mulai memainkan rambut ikalnya yang bergelombang, ditarik-tarik, dimainkan dengan jari. Meski risih, Kinan tak punya nyali bahkan untuk menepis tangan si kakek ketimbang beliau menggila karena merasa tidak dihargai.

Pekak = Kakek
Gedang = Pepaya (b. Bali)
Tiang = saya
Panak tiang, ne.... panak tiang = anak saya, nih... anak saya....
Gedang... hehehehe... Gek nawang gedang? Ne... Gedang... = Gedang... adik tahu Gedang? Ini... Gedang....
Panak jegeg, ne.... jegeg sajan.... = anak cantik, ini... cantik sekali
Nggih = iya
Panak tiang, ne.... panak tiang... = anak saya ini... anak saya

Sambil tersenyum-senyum tak jelas, Pekak Gedang mencubiti pipi Kinan dengan gemas, menowel hidung, lalu menjawir lembut daun telinga Kinan seolah-olah sedang bermain dengan cucunya saja! Awalnya Kinan hanya menanggapi dengan ekspresi menahan tangis, tetapi ketika tangan keriput itu bergerak turun membelai lehernya, bulu kuduk Kinan tidak bisa untuk tidak merinding. Apalagi ketika ujung jari Pekak Gedang mengusap-usap pundak telanjang Kinan sebelum berhenti sejenak di atas tulang selangkanya.

Jantung Kinan berdetak semakin kencang, karena tak ada tanda-tanda si kakek bakal menghentikan gerakan jarinya yang terus turun ke arah gundukan kenyal di samping ketiak.

“J-jangan, pekak...,” tolak Kinan halus ketika tangan kasar itu sampai di atas bongkahan kenyal dadanya. “Pekak... jangan... itu nyonyo saya....” Kinan menggeliat menolak tak sungguh-sungguh. Karena kalau Kinan benar-benar tidak terima, sebenarnya dengan mudah ia bisa menendang jatuh kakek bertubuh kurus itu, tapi alih-alih tegas menolak Kinan malah bersimpuh dan bertumpu pada kedua tangannya seolah-olah sengaja membiarkan dada indahnya digerayangi.

Nyonyo = Payudara

“Nyonyo.... nyonyo.... hehehe... hehe....” Dengan girang tangan kotor si pekak mulai menggerayangi payudara putih mulus dengan puting cokelat muda itu. Mengusap-usap dan menggoyang-goyangnya jenaka bagaikan anak kecil yang mendapat mainan baru. Ujung jarinya yang dipenuhi dengan lumpur dan kotoran bergerak mengitari bukit kenyal dada Kinan, menekan-nekannya gemas seolah sedang merasakan tekstur kenyal glandula mammae atau mengagumi betapa halusnya kulit Kinan yang tak pernah alpa dirawat dengan lulur itu.

Kinan menelan ludah, tapi kerongkongannya terasa kering. Dadanya berdebar mengira-mengira apa lagi yang bisa dilakukan seorang pengidap schizophrenia di tempat sesepi ini. Sungguh, tak pernah sedikitpun Kinan pernah berfantasi digrepe kakek bau tanah yang mengidap gangguan jiwa, sama-sama telanjang bulat, di tengah hutan pula. Tapi belaian-belaian lembut di daerah erogennya sudah kadung membangkitkan hasrat tak terbendung dari jiwa lonte Kinan yang selama dikurung di alam bawah sadar. Dan Kinan malu mengakui −bahkan pada dirinya sendiri− bahwa ia sebenarnya tergoda, tapi ngeri mencoba.



Merasa mendapat angin, tangan kotor si kakek mulai bertindak lebih kurang ajar. Dicubit-cubitnya puting susu Kinan lalu ditarik-tarik sekuat tenaga sehingga puncak dada yang kenyal itu mulur panjang seperti permen karet. ”Aduuuh... pekaaaak... sakit, kaaaaak....” rintih Kinan menahan geli-geli nikmat yang melanda tubuhnya. Si kakek hanya terkekeh-kekeh melihat tubuh montok Kinan menggeliat-geliat menahan geli, lalu dengan gemas pengidap gangguan jiwa itu mencubiti lapisan lemak di perut Kinan, diikuti remasan-remasan gemas yang mendarat pada paha Kinan yang mengejang-ngejang. Tapi ketika tangan kotor itu mulai menusuk-nusuk belahan memeknya yang sudah membasah, peringatan tanda bahaya di otak Kinan berbunyi nyaring, menyadarkan gadis yang sedang birahi itu dari tepi jurang kenistaan.

Ini tidak boleh diteruskan! suara batin Kinan terdengar menjerit. Sungguh, meski diam-diam menikmati, Kinan sama sekali tidak berencana untuk diperkosa orang gila! jerit batin Kinan untuk yang kesekian kali. Petualangannya hari ini sudah cukup gila tanpa perlu ditambahkan sebuah skenario beresiko lagi.

Masih dalam gemetar karena birahinya, Kinan beringsut perlahan. Tidak ingin menimbulkan gerakan tiba-tiba yang dapat memprovokasi kakek itu untuk menyerangnya. Lalu dengan gerak yang nyaris tak bersuara, Kinan merangkak dengan tangan dan lutut melalui semak-semak keladi tak jauh dari tempat si kakek gila itu berjongkok.

Kinan merangkak gemetar di bawah semak-semak keladi. Kinan bahkan tak peduli lagi jika lubang anus dan belahan tembem memeknya kini menjadi bulan-bulanan si kakek yang mengikutinya dari belakang. Sandalnya tersangkut akar dan ditinggalkannya sebelah kerena tangan si kakek gila mulai lancang menggelitiki lubang anusnya dari belakang. Satu-satunya yang dipikirkan Kinan kini adalah bagaimana caranya melarikan diri dari tempat ini!

Pepohonan di sekelilingnya hanya tampak sebagai terowongan gelap di antara langit yang berwarna hitam-keunguan, tapi dari suara klakson truk tronton yang menderum dari kejauhan, Kinan tahu dirinya sedang merangkak menuju jalan raya.

Dan begitu melihat jalan setapak yang terbuka lebar, Kinan menolakkan tungkai-tungkainya menggunakan segenap tenaga yang masih tersisa dan melesat menuju arah jalan raya. Gaya tarik bumi menghalangi tubuh montok Kinan untuk mencapai kecepatan maksimal. Berkali-kali Kinan tersuruk ke tanah karena tersandung batu atau akar kayu. Tapi Kinan tidak peduli. Diterobosnya semak-semak tajam tanpa memikirkan payudara dan pantatnya yang tergores-gores. Sampai akhirnya Kinan bisa melihat lampu jalan yang menyala jingga di depannya. Nyaris. Hingga sebatang akar beringin luput dari perhatian Kinan.

Kinan bahkan tak sempat bereaksi. Kinan hanya merasa tubuhnya terpelanting ke dalam tanah berlumpur dan ditutup dengan suara tercebur yang memenuhi lubang telinga.

****

Kinan terenggah-enggah sesaat, mengatur kembali detak jantungnya yang memburu. Konsentrasi adrenalin yang kembali menormal membuat Kinan merasakan sakit di seluruh tubuhnya yang lecet-lecet. Sandal gunungnya putus dan sebelahnya sudah hilang entah kemana. Kinan mencoba menopang badan dengan siku dan mendapati wajah sekujur tubuh bugilnya kini dipenuhi lumpur. Railing besi di depan mata, dan tumbuhan genjer di kanan-kirinya. Kinan segera sadar dirinya telah terjerembab pada parit berair di tepi jalan raya.

Hu-uh. Sial banget, sih! gerutu Kinan menahan tangis. Baju dan motornya dicuri orang. Dirinya dikejar-kejar orang gila. Jatuh ke dalam got pula! Kinan mengembungkan pipinya kesal. Tapi ngomong-ngomong soal orang gila, bukan tidak mungkin kakek-kakek gila tadi mengejarnya sampai di sini! batin Kinan panik. Benaran saja, belum lama Kinan membatin begitu, tahu-tahu saja terdengar suara terkekeh-kekeh dari dalam hutan di belakangnya! Kinan langsung terkesiap waspada. Itu artinya tak ada jalan lain selain bergerak maju!

Di depannya adalah jalan raya Singapadu-Penelokan dan dilalui oleh truk pengangkut sayur dan pasir bahkan di malam hari, tapi itu masih lebih baik daripada berhadapan dengan kakek-kakek gila di dalam hutan. Lagipula jalan aspal itu tampak lenggang dan tak ada tanda-tanda kendaraan bermotor akan melintas, −setidaknya selama beberapa detik ke depan.

Kinan menarik nafas panjang, mengumpulkan segenap keberaniannya sebelum melompat melewati pembatas jalan.

Tubuh telanjang Kinan segera disambut udara malam dan lampu jalan. Kinan segera menyadari betapa tereksposnya dirinya kini; di pinggir jalan raya dalam kondisi telanjang bulat tanpa alas kaki hanya dengan lapisan-lapisan lumpur yang melumuri tubuh montoknya. Refleks Kinan menyilangkan tangan di depan dada dan sebelah telapaknya di pangkal paha. Sia-sia saja sebenarnya, karena pinggul dan pantat semoknya bakal menjadi tontonan gratis bagi seantero pengguna jalan.

Terpincang-pincang, Kinan melangkah menjauhi lokasi si kakek gila. Nafas Kinan mulai terdengar memburu, entah karena kemungkinan kehadiran kembali si kakek, ataukah karena Kinan menyadari bahwa dirinya sedang berjalan di jalan protokol tanpa mengenakan sehelai benangpun. Kinan bisa merasakan udara malam yang membelai tubuh dan rambut-rambut pubisnya yang tak terlindungi. Juga bongkahan kenyalnya yang berguncang mengikuti langkah kakinya yang terpincang. Menyadari bahwa dirinya bisa saja terpergok sewaktu-waktu oleh pengguna jalan dalam keadaan paling memalukan membuat jantung Kinan berdetak semakin kencang dan mengalirkan berliter-liter darah menuju puncak-puncak ranum dadanya dan biji kelentit yang perlahan mencuat seiring rasa tegang-takut ketahuan yang melanda sang gadis eksibisionis.

Perasaan ini membawa pikiran Kinan mengembara pada lorong-lorong masa lalu. Semuanya terasa seperti deja vu. Kinan tiba-tiba teringat bagaimana pertama kali dirinya mengendap-endap keluar rumah dalam keaadaan telanjang bulat di usianya yang ke-10. Badai adrenalin itu. Perasaan tegang takut ketahuan itu. Sensasi erotis itu. Hingga Kinan menyadari aliran hangat mulai meleleh dari belahan intimnya.

Derum suara truk pengangkut pasir yang datang dari arah utara menyentak Kinan dari lamunannya yang mengawang. Benar saja, sesaat kemudian sorot lampu depan sudah terlihat menyala dari kejauhan. Secepat kilat Kinan melompat ke balik pembatas jalan dan berjongkok di balik pagar besi yang tak seberapa tinggi. Darah Kinan terasa membeku ketika mobil berbobot puluhan ton itu melintas tepat di depan kepalanya dan hanya terhalang pembatas jalan dan rumput ilalang dari tubuhnya yang telanjang.

Jantung Kinan belum selesai memburu ketika tiba-tiba dari arah berlawanan muncul bayangan ibu-ibu yang sedang mengendarai sepeda kumbang, di belakangnya bertumpuk-tumpuk pisang raja yang diikat dengan tali rafia. Posisi sepeda si ibu yang hanya sedikit lebih tinggi dari pembatas jalan posisi membuat Kinan seketika dipergoki.

Kinan langsung menunduk gemetar. Berjongkok dan memeluk erat-erat kedua lututnya yang ditekuk di depan dada untuk menutupi bagian-bagian tubuhnya yang paling pribadi.

Kinan memejam tak bergerak, mengantisipasi hardikan, cacian atau apapun yang kiranya bakal keluar dari mulut ibu itu, tapi yang ada hanyalah tatapan yang mengasihani begitu melihat penampilan Kinan yang telanjang bulat dengan tubuh penuh lumpur dan rambut acak-acakan.

“Aduh-aduh... Adik di mana rumahnya...? kenapa telanjang di sini sendirian?”

“Saya... eh... saya... baju saya....,” Kinan menjawab terbata-bata.

“Aduh-aduh.... adik ini... kasihan... cantik-cantik sudah gila...,” ucapnya dalam bahasa Bali.

Kurang ajar, masa aku dibilang gila? batin Kinan tidak terima. Tapi masih untung, sih... daripada dituduh berbuat mesum atau ngeleak! Kinan memberengut menghibur diri. Sesisir pisang raja yang disodorkan ibu itu membuat Kinan batal mengajukan nota protes. Untuk saat ini lebih masuk akal jika dirinya mengikuti peran baru yang diberikan semesta kepadanya.

“Ini untuk adik... ambil saja... saya bukan orang jahat....,” ucapnya ramah sebelum mohon diri.

Kinan segera merangkak-rangkak untuk memunguti pisang yang diletakkan begitu saja di atas aspal karena perutnya yang keroncongan sudah berteriak minta diisi. Kondisinya yang nyaris hipoglikemi membuat Kinan melahap pisang-pisang itu tanpa malu-malu lagi. Kinan nyaris tak peduli lagi kondisi tubuhnya yang telanjang bulat di pinggir jalan protokol, karena yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana cara menghabiskan sesisir buah tropis ini secepat-cepatnya. Sambil bersila di pinggir jalan aspal, Kinan melahap habis sebatang demi sebatang buah di tangannya, hingga tanpa sadar dari arah Denpasar melaju mobil Colt bak terbuka yang mengangkut berkarung beras.

Kinan tak sempat menyembunyikan diri ketika lampu depan mobil itu menerangi sepasang payudaranya yang tak terlindungi. Kedua tangannya sibuk mengupas pisang dan mulutnya penuh dengan kunyahan tak sempurna saat mobil itu melintas tepat di sampingnya.

Kinan sudah mengira mobil itu akan berhenti dan dirinya akan diinterogasi, tapi lagi-lagi yang didapatnya hanyalah tatapan mengasihani dari sang sopir yang berlalu tanpa mengurangi kecepatan.

Kemudian melintas lagi seorang pengendara motor. Lalu serombongan bapak-bapak bersepeda yang baru berangkat meceki. semuanya memandang acuh tak acuh, terkadang menatap kasihan pada sesosok perempuan kumal yang sedang makan pisang seperti orang liar di pinggir jalan.

Meceki = permainan kartu semacam gaple yang menggunakan kartu domino

Dan Kinan hanya mampu merespon dengan wajah tak percaya. Orang-orang benar-benar mengira dirinya gila! jerit Kinan dalam hati. Kalau begitu, berjalan telanjang bulat di tengah malam sampai Ubud kota bukan masalah yang besar! Untuk pertama kalinya Kinan lupa akan kondisinya saat ini. Perutnya kini sudah penuh terisi dan dengan leluasa Kinan memasuki areal perkampungan yang menghubungkan jalan raya menuju tujuannya di arah timur.

Tak lama Kinan sudah terlihat menyusuri jalan batu di depan rumah-rumah tradisional dengan pagar batu bata merah dan gapura beratap ijuk. Nyala pelita damar berkedip redup dari ambang jendela rumah bergaya bale-bale. Pertengahan 90-an, belum semua tempat di pedesaan Bali dialiri listrik. Dalam keremangan, dengan leluasa Kinan melenggang dalam keadaan tak berbusana. Mungkin hanya anjing-anjing liar saja yang merespon kehadiran seorang perempuan telanjang yang melintas di depan gerbang-gerbang depan yang sudah menutup. Selebihnya mungkin hanya satu-dua orang saja yang kebetulan berpapasan, itu pun lebih memilih menjauh lekas-lekas ketimbang berurusan dengan sosok misterius berselemak lumpur.

Kinan tak kuasa untuk menahan senyum kecil yang mengembang di sudut bibirnya. Bertelanjang bulat di tengah perkampungan dengan orang-orang yang melihat bagian-bagian paling intim tubuhnya? Bahkan mengkhayalkannya saja Kinan tidak berani! Tapi kali ini lagi-lagi sang eksibisionis manis berhasil melampaui fantasi terliarnya!

Bermandikan cahaya bulan, Kinan segera menyadari betapa terekspos tubuh telanjangnya yang berjingkat di antara rumah penduduk. Sepasang putingnya yang mencuat karena dingin dan adrenalin. Juga rambut-rambut ikal di pangkal paha yang meremang digesek angin dan embun malam. Kinan memejamkan mata, membiarkan angin malam membelai seluruh tubuhnya yang tak tertutup apapun termasuk alas kaki. Kinan memetiki bunga-bunga kumitir yang tumbuh di depan pekarangan rumah orang, sambil sesekali berjongkok memunguti kerikil untuk melempari anjing liar yang menyalak ke arahnya.

Kinan merasa tak terkalahkan, semua orang yang dipapasinya langsung balik kanan bubar jalan begitu melihat batang hidungnya. Sebegitu menyeramkannya kah penampilannya kini? tanya Kinan dalam hati sambil meraba wajah dan rambutnya yang penuh lumpur. Hihihi, biarin, deh! batin Kinan bahagia. Agak jauh Kinan berjalan, keluar dari jalan kampung hingga menyeberangi jembatan besar, sebelum Kinan akhirnya menyadari, bahwa orang-orang itu menjauh bukan karena dirinya melainkan pada sosok misterius yang menguntit di belakang. Kinan refleks menoleh dan mendapati si pekak telanjang tengah cengar-cengir tak jauh darinya!

"Nyonyo... nyonyo.... hehehe...."



****

​Astaganaga! jerit Kinan dalam hati. Ternyata si kakek gila membuntutinya sejak dari dalam hutan!

Kinan segera mempercepat langkahnya, tapi si pekak ikut menaikkan kecepatan. Kinan berlari. Si kakek ikut berlari. Kaki Kinan yang pegal karena berjalan seharian membuat langkahnya tersuruk-suruk, hingga tak perlu waktu lama sampai Kinan akhirnya tersusul. Suara terkekeh-kekeh terdengar di antara nafas Kinan yang tersengal. Paru-paru Kinan terasa terbakar dan jantungnya terasa sudah tak mampu lagi memompa darah ke seluruh tubuhnya.

Kinan mencoba meminta pertolongan, tapi yang keluar dari kerongkongannya hanya dengusan-dengusan tak terdengar. Jalan semakin sepi dan di tak ada seorangpun yang berada di luar rumah lagi. Beruntung bagi Kinan, di perempatan di depannya melintas motor Honda bebek seven c-block yang mendekat arah selatan. Panik, Kinan melambai-lambai meminta pertolongan.

Melihat pemandangan absurd seorang cewek bugil dalam kejaran seorang kakek-kakek bugil, si pengendara seketika berhenti. "Eh? Eh! Mangkin dumun! Mangkin dumun! wenten napi niki?"

"Tolong saya, bli... Tolong saya...." Kehabisan nafas, Kinan segera bersembunyi di balik badan pemuda itu. Kinan yang masih terguncang jiwanya sampai-sampai lupa bahwa dirinya tidak berpakaian. Orang gila yang takut orang gila? Kedok Kinan terbongkar dalam satu adegan.

"Haduh-haduh, Pekak Gedang... jeg eda ngae uyut... suba peteng, ne!" ia berkata pada si kakek yang hanya cengar-cengir melihat ekspresi Kinan. "Ini adiknya jangan dikejar-kejar lagi ya... pedalem..." ujarnya bak seorang gentlemen.

"Hehehe... hehehe... nyonyo... nyonyo..." Pekak Gedang menunjuk-nunjuk payudara Kinan.

"Nah, sube tawang ento nyonyo, men lakar kudiang pekak? Jeg suud ngurusang nyonyo! Nih, baang raga mako..." si pemuda mengulurkan bungkusan daun pisang yang berisi sirih dan tembakau yang segera disambut si kakek dengan mata berbinar. Tak lama kemudian si kakek gila sudah berdendang-dendang sambil mengunyah sirih dan berjalan sempoyongan ke arah selatan.

Mangkin dumun = tunggu dulu
wenten napi niki? = ada apa ini?
Jeg eda ngae uyut, suba peteng, ne! = jangan bikin ribut, sudah malam, nih!
Nah, suba tawang ento nyonyo, men lakar kudiang pekak = iya, sudah tahu itu toket, terus mau diapain sama kakek?
Suud ngurusang nyonyo = berhenti mikirin toket
Baang raga mako = saya kasih tembakau
Pedalem = kasihan


****

"Adik tidak apa-apa? Jangan takut, itu namanya Pekak Gedang, warga desa sebelah. Kasihan, beliau jadi gila karena anak-istrinya dibunuh waktu tragedi tahun 66," jelas sang pemuda pada Kinan yang masih meringkuk ketakutan. "Si pekak memang biasa berkeliaran dari desa ke desa, tapi belum pernah saya lihat dia sampai mengejar orang."

Kinan tak menjawab, masih meringkuk memeluk lututnya erat-erat.

"Adik siapa namanya siapa? Kenapa telanjang di tempat seperti ini?"

"S-saya....," Kinan menyebut sebuah nama alias.

"Oh?" lawan bicaranya mengernyit tak percaya. "Kalau begitu adik boleh panggil saya Badeng."

Badeng. Dengan nama itu ia minta dipanggil. Meski dengan sekali tebak Kinan tahu itu hanyalah sebuah alias. Mungkin karena kulitnya yang hitam legam. Mungkin karena masa lalunya yang kelam. Tapi Kinan tak ingin terlalu banyak menebak-nebak.

“Kenapa adik berkeliaran ndak makai baju?” Badeng bertanya tanpa melepaskan pandangan dari bongkahan kenyal Kinan yang terhimpit lengan sehingga semakin menonjolkan belahannya yang menggugah selera.

“S-saya... B-baju dan m-motor saya hilang... s-saya... jadi ndak bisa pulang”

“Waduh, gawat sekali! Kalau begitu, mari saya antar ke kantor polisi. Biar kita bisa buat laporan kehilangan.”

“Jangan!” sergah Kinan cepat.

“Kenapa jangan?"

"S-saya...," Kinan terdiam, tanpa sadar itu malah membuatnya tampak sebagai seorang pesakitan.

Di antara cahaya remang-remang Kinan mencoba menangkap perawakan lelaki yang hanya mengenakan kain jarik di pinggangnya itu. Sosok tinggi atletis dengan otot-otot tubuh yang tidak terlalu kekar, meski kulit hitam legam dan tato bermotif serigala memenuhi dada dan punggungnya tetap menyiratkan kesan berbahaya. Rambutnya ikal sebahu dan digulung ke atas membentuk man bun. Tulang rahang tegas membingkai raut dingin yang dirimbuni brewok tebal. Alis tebal. Sepasang mata tajam. Hidung yang tampak sedikit bangir menunjukkan bahwa orang di depannya ini bukan seorang sudra seperti Gede.

Mendadak Kinan kembali merasa terancam, pandangan tak sopan pemuda itu pada lekuk-lekuk ranum tubuhnya membuat kesadaran Kinan berada dalam posisi siaga.

Sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada Kinan mencoba berjalan menjauhi pemuda menyeramkan itu.

"Loh, adik mau ke mana?"

"S-saya m-mau pulang."

Kinan mempercepat langkah kaki, tapi Badeng dengan mudah mensejajari dengan sepeda motornya.

"Kalau begitu mari saya antar."

"Ndak usah, saya bisa pulang sendiri."

"Oh,” jawab Badeng nyaris tanpa ekspresi. “Tapi tanpa kendaraan dan pakaian, adik bisa berjalan berapa jauh? Adik tahu di desa sebelah banyak ada kuli-kuli galian C? Di jalan-jalan dekat sini berkeliaran si Pekak Gila. Sudah untung adik ‘cuma’ ketemu saya. Kalau adik ketemu sama warga desa yang fanatik adik pasti sudah dituduh lagi nengkleng atau ngeleak!”

Ngeleak = ritual ilmu hitam untuk berubah menjadi leak, semacam makhluk jejadian, bisa berwujud monyet, lembu, burung garuda, atau Rangda.
Nengkleng = menari-nari dengan satu kaki, biasanya dilakukan di pekuburan atau di perempatan yang sepi di malam hari dengan telanjang atau hanya mengenakan selembar kain putih
Pecalang = petugas keamanan adat

Darah Kinan terasa dingin. Dituduh sebagai praktisi ilmu hitam tentu membawa konsekuensi lebih mengerikan daripada sekedar dikira orang gila.

"S-saya bukan sedang ngeleak!"

"Oh, ya?" lagi-lagi, Badeng menanggapi tanpa ekspresi. "Coba kamu bilang itu kalau kamu nanti ketemu sama pecalang. Di desa ini ndak ada orang yang telanjang malam-malam di jalan sepi kalau bukan orang gila, orang lagi menuntut ilmu hitam, atau.... orang yang lagi berbuat hal yang mengotori desa."

Bibir Kinan seketika dibungkam. Tiga pilihan itu tak ada satupun yang mengenakkan.

"Saya ndak nakut-nakutin. Adik mau dihakimi warga desa?"

Kinan menggeleng tanpa suara.

"Kalau begitu, ikut," perintah Badeng tegas.

Gadis telanjang itu tak memiliki pilihan lain selain membonceng pada seorang pemuda asing dalam keadaan tanpa busana walaupun akal sehatnya sudah menjerit-jerit memberi peringatan tanda bahaya. Benar saja, deru knalpot butut motor dua-tak itu malah mengarah menuju jalan tanah di tengah sawah dan tegalan.

"S-saya mau di bawa ke mana?" tanya Kinan gentar.

“Terserah kamu. Mau ke kantor polisi? Ke kantor desa? Ke rumah sakit jiwa Bangli juga bisa,” jawab Badeng sedikit mengintimidasi.

Kinan seketika terdiam, mendadak dirinya merasa diancam diam-diam.

****

Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan Badeng. Sudah seharian ini dirinya berhasil dibuat terobsesi tentang identitas wanita misterius yang memamerkan bagian intim ketika dirinya sedang memandu turis-turis berarung jeram tadi sore. Naas, ketika kembali ke tempat kejadian selepas jam kerja, sang gadis manis sudah menghilang. Badeng hanya mendengar desas-desus seorang gadis asing yang dibonceng bertelanjang dada dari penduduk yang ditemuinya di areal persawahan.

Badeng menelusuri jejak si gadis bugil dari keterangan seorang anak bernama Gede Panjul yang mengaku mengantarnya sampai kebun pisang di dekat bendungan. Lalu dari keterangan ibu-ibu penjual pisang di pasar dan dari bapak-bapak yang sedang meceki, Badeng mendapat informasi tentang penampakan ‘orang gila’, seorang gadis montok dengan badan belepotan lumpur yang berkeliaran bertelanjang bulat menuju jurusan timur. Badeng yakin buruannya itu belum jauh. Dan ketika berpapasan dengan Kinan yang sedang dikejar-kejar orang gila asli di sebuah perempatan sepi, Badeng tahu Dewa Mesum sedang berpihak kepada selangkangannya.

****

Motor butut buatan tahun 70-an itu memasuki reruntuhan rumah yang tinggal menyisakan tembok batu bata merah yang dikelilingi dengan semak-semak berduri. Tak ada satu bangunan lain pun di tempat itu selain hamparan tegalan yang ditanami pohon tebu.

“Turun,” perintah Badeng dingin.

Kinan melangkah gemetar, diseret memasuki salah satu ruangan yang tadinya dapur. Tangan kirinya tersilang di depan puting sementara telapak tangan kanannya menekap erat area berbulu di pangkal paha untuk melindungi kehormatannya yang tersisa −kalaupun masih ada− yang tampaknya sia-sia, karena aerola dan rambut-rambut pubisnya tetap mengintip dari sela jari.

Badeng menyalakan sebatang rokok kretek. Aroma cengkeh segera meruap memenuhi udara rumah tua yang lembab. “Ndak usah ditutupin, seharian ini kamu sudah telanjang, toh?”

“Jangan bli... malu...” pinta Kinan mengiba.

“Ah, kok baru sekarang malunya... tadi kamu telanjang di jalanan ndak malu sama sekali.”

Pipi Kinan agak bersemu. Dengan tidak rela anak itu menurunkan tangan yang menutupi tubuhnya. Dan pandangan Badeng segera menyambut bahagia, seolah ingin menjarah tubuh Kinan dari ujung kaki hingga ujung rambut tanpa melewatkan sejengkalpun dari kulit Kinan yang telanjang. Serigala pemburu itu menatap lekat-lekat wajah manis buruannya yang coreng-moreng oleh lumpur. Sepasang mata bulat yang indah, hidung bangir yang mungil, juga lesung pipi di samping bibir penuh yang sensual. Pipi Kinan yang bundar bersemu kemerahan menahan malu, membuatnya bertambah menggemaskan di mata Badeng.

“Duduk,” perintah Badeng tegas. Sinar bulan berwarna keunguan adalah satu-satunya pelita yang menerangi reruntuhan rumah yang tak beratap itu. Rumput-rumput ilalang tumbuh di mana-mana dari lantai tanah dan puing-puing kayu. Badeng duduk di atasnya dengan kaki dinaikkan.

“Saya cuma mau pulang, bli.... tolong lepaskan saya...,” pinta Kinan sambil menahan tangis.

“Ndak usah takut sama saya. Saya cuma mau ngobrol-ngobrol, makanya kamu saya suruh duduk.”



Badeng menghembuskan asap rokoknya ke wajah Kinan. Sepasang matanya menyorot tajam ke arah Kinan yang masih berdiri canggung tanpa sehelaipun penutup tubuh. Dipandangi seperti ini, wajah manis Kinan seketika menunduk seperti daun puteri malu.

“Kamu itu...” kata Badeng sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu sudah mengotori kesucian desa? Kamu tahu berapa biaya upacara adat buat membersihkan desa atas kelakuan kamu?”

“Baju saya hilang, bli... sumpah... Saya ndak tahu... Waktu selesai mandi, tahu-tahu baju saya sudah ndak ada....”

“Wah... wah... mandinya pasti jauh benar sampai-sampai ndak sadar bajunya dicuri orang.”

“Saya ndak bohong ndak, bli... baju dan motor saya dicuri orang...” jawab Kinan memelas.

"Terus karena baju kamu hilang, jadi kamu bisa bebas berjalan-jalan telanjang bulat di desa kami? Kenapa tidak minta tolong warga? Kenapa tidak langsung lapor polisi? Saya jadi curiga jangan-jangan sejak awal memang kamu memang ndak bawa baju sama sekali. Jangan-jangan kamu memang sengaja mau berbuat tidak senonoh di desa kami, ya?”

Keringat dingin mulai menetes dari pori-pori Kinan. Kinan benar-benarkan tak menyangka di balik penampilannya yang serba menyeramkan, pemilik tato serigala ini ternyata menyembunyikan intelegensia yang mengagumkan. Dan rentetan-rentetan pertanyaan Badeng terasa semakin memojokkan sehingga Kinan tak punya pilihan lain selain mengakui satu-persatu perbuatan cabulnya.

“Ndak ada yang seperti itu bli! Sumpah! Saya ndak ada ndak bermaksud mengotori kesucian desa! S-saya c-cuma mandi... benar!”

“Oh? Mandi...” senyum kecil terbit di bibir Badeng. “Maksud kamu mandi sambil main-mainin pepek di pinggir sungai? pantas saja ndak tahu ada orang ambil bajunya!”

“Eh?!! Ndak! Saya... Ndak!” sanggah Kinan gelagapan.

“Hayoh, ndak usah bohong kamu. Orang saya lihat sendiri kamu tadi nyelek-nyelek pepek pake tangan di pinggir sungai,” tandas Badeng dingin, tanpa harus mengesaninya seperti tokoh-tokoh generik dalam kisah perkosaan.

Dirinya tak bisa mengelak lagi. Keringat dingin mengucur dari kening Kinan bersama dengan rona-rona kemerahan di pipinya yang semakin terlihat seiring memuncaknya rasa malu karena tindakan mesumnya tadi sore ternyata dipergoki pemandu arung jeram di depannya ini.

“Hayoh, saya tanya sekali lagi. Tadi sore kamu ngapain? Jawab yang jujur!”

“T-tadi sore... s-saya... mandi... s-sambil....” Wajah Kinan nyaris merah padam karena dipaksa mengakui hal yang memalukan di depan orang asing.

“Sambil apa?”

Kinan menunduk dengan wajah bersemu.

“S-sambil m-masturbasi...,” Aliran hangat seketika mengalir deras dari bibir memek Kinan ketika kata-kata memalukan ini keluar dari mulutnya. Wajah innocent Kinan yang lucu kini merah padam seperti tomat saking hebatnya rasa malu dalam hatinya.

“Apa itu masturbasi? Kami orang desa, ndak ngerti masturbasi,” pancing Badeng pura-pura.

“Eh? M-masturbasi itu...” Kinan gemetar menahan rasa gatal yang kembali menggila seiring harga dirinya yang dipermainkan sedemikian rupa. “...m-m-main-mainin p-pepek...”

“Mainin-mainin pepek? Memang orang kota sudah kehabisan mainan sampai pepek dimain-mainin?! Kamu itu, masih kecil tapi sudah jorok! Memang gimana cara kamu main-mainin pepek?!

“P-pake tangan, bli...”

“Saya ndak ngerti!!! Cepet contohin!”

“J-jangan, bli!!” pinta Kinan memelas. “S-saya malu....”

“Jangan pura-pura suci kamu!!! Tadi sore kamu tidak malu main-mainin pepek di depan tamu-tamu saya, masa sekarang mendadak kamu jadi orang suci?! Kamu tahu, kamu itu sudah bikin takut tamu-tamu saya?! Kamu tahu, kalau kamu sudah mengotori kesucian desa kami?!”

“Jangan, bli... saya mohon... saya malu....” Kinan terisak pelan.

“Lebih malu mana... contohin di depan saya atau di depan penduduk desa?” ancam Badeng sungguh-sungguh.

Isakan lirih terdengar dari bibir Kinan. Hanya dengan sedikit ancaman saja, Kinan menurut patuh ketika diperintahkan memperagakan posenya masturbasi tadi siang bagaikan seorang budak setia. Diiringi isak sesengukan, Kinan merangkak di atas lutut dan dua telapak tangannya seperti seekor anjing. Tubuh Kinan gemetar menahan rasa malu yang teramat ketika anak itu dipaksa menungging, mengangkat bongkahan pantatnya tinggi-tinggi hingga memamerkan lubang anus dan gundukan mulus di bawahnya yang berkilap mengggairahkan. Wajah Kinan merah padam menahan malu, karena Badeng pasti menyadari liang senggamanya yang telah basah, terbukti dari suara terkekeh-kekeh mesum yang terdengar di belakangnya.

“Ih, adi belus, gek?”

Ih, adi belus, gek? = Ih, kok basah, dik?

Wajah Kinan seperti ditampar. Harga dirinya hancur berkeping-keping dalam satu kalimat mematikan.

“Kamu... terangsang, ya...?” pertanyaan berikutnya terdengar kian menyudutkan, tapi bagian tubuh paling jujur Kinan justru meresponnya dengan mensekresikan lebih banyak lagi cairan pelicin pada bibir-bibir memeknya yang semakin merekah.

“Ndak usah bohong... jujur saja sama bli Badeng... kamu suka, kan... dilihat telanjang?”

Kinan menggeliat gelisah karena merasakan embusan nafas Badeng di bagian tubuhnya yang paling pribadi. Kinan bahkan seolah bisa merasakan tatapan Badeng yang berjongkok di belakangnya, memindai lubang anal kinan yang bergerak kembang-kempis mengikuti badai perasaan remaja berusia 18 tahun itu. Rasa takut, malu, bercampur baur dengan perasaan erotis yang justru membuat tubuh montok Kinan mengeluarkan rona-rona merah muda yang membuatnya makin menggemaskan!

"Aduuuuh... jangan bli... pepek-nya Kinan jangan dilihatin kaya begitu... Kinan malu....."

“Ah, ngapain malu... jujur saja sama bli Badeng kalau kamu terangsang... itu normal...,” bisik Badeng dengan nada menggoda di telinga Kinan, “... saya juga cowok normal... saya juga suka sekali melihat cewek cantik seperti kamu telanjang... apalagi... waktu kamu...,” Badeng berhenti sesaat, mengusap rambut pubis Kinan yang telah dibasahi cairan cinta, “...masturbasi....”

Tubuh Kinan seketika gemetar merasakan jari-jari besar itu mendarat pada bagian tubuhnya yang paling pribadi. “Ampun bli....S-saya... j-jangan diapa-apaken... bli...” pinta Kinan mengiba, namun tubuhnya seolah memiliki keinginan sendiri. Di bawah tatapan mata orang asing, tubuh Kinan justru mendamba begitu hebat. Tajuk-tajuk cokelat mudanya mencuat dari tengah payudaranya yang bergantung, dan kewanitaannya memproduksi lebih banyak lagi cairan cinta yang meleleh-leleh hingga pahanya.

“Saya ndak mau ngapa-ngapain kamu... suer...” bujuk Badeng merayu. “Saya, cuma kepengin kamu memperagakan cara kamu...” Badeng terdiam lagi, memberi jeda pada kalimatnya untuk mempermainkan birahi Kinan. Diusapnya pelan tengkuk remaja yang sedang merangkak itu hingga pantatnya menandak-nandak ke udara menahan geli, lalu dengan lembut dibisikkan permintaan yang setengah menuntut di telinga Kinan, “...saya cuma kepengin melihat kamu... masturbasi....”

Desahan tertahan tak kuasa keluar dari bibir Kinan. Entah karena belaian lembut Badeng di lehernya, ataukah karena permintaan kurang ajar sang pejantan alfa. Setengah diri Kinan merasa jengah oleh kata-kata kurang ajar itu, tapi ada setengahnya lagi yang tidak sabar untuk menuruti perintah-perintah majikan barunya.

“Ayoh... saya ndak bakal ganggu...,” bisik Badeng mempersuasi, seraya menuntun satu tangan Kinan yang ragu-ragu ke daerah paling pribadinya.

Ujung jari Kinan segera merasakan kehangatan yang telah menggenangi ceruk-ceruk kesuburannya diikuti rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Secara naluri tangan Kinan bergerak mengusap, meratakan lendir licin dengan ujung jarinya sehingga menimbulkan getaran-getaran nikmat yang membuat akal sehat Kinan semakin memudar.

“Sudah ya, bli.... saya malu....,” desau Kinan mengiba walaupun tubuhnya menginginkan yang sebaliknya. Bulu kuduk Kinan merinding hebat menyadari bagaimana cara ia mempermalukan dirinya sendiri. Jauh dari orangtua, anak yang sehari-hari rajin mengaji itu kini mempertontonkan daerah paling pribadinya pada orang yang bahkan baru ditemuinya. Kinan merasa kotor, sangat. Tapi semakin jijik Kinan pada dirinya, semakin deras kehangatan mengalir dari dalam rahimnya. Dan semakin Kinan tidak ingin berhenti mempermalukan dirinya sendiri. Kinan menikmati setiap pandangan Badeng yang menatap tubuh montoknya tak berkedip, juga belaian-belaian lembut jarinya yang menjelajahi lembah gairah yang dipenuhi kilauan indah lendir kenikmatan. Malunya, sungguh. Tapi nikmatnya pun luar biasa.

“Coba, kamu buka pepek kamu... saya mau lihat kamu masih perawan atau tidak.”

“Jangan, bli... jangan... saya malu... benar....” desah Kinan parau yang semakin galau oleh birahinya sendiri.

“Cepat!” hardik Badeng berwibawa.

Dengan patuh, Kinan pun menuruti perintah majikannya. Tanpa diancam pun Kinan sebenarnya Kinan bakal menjadi budak yang setia, hanya untuk menjaga harga dirinya saja barangkali, Kinan mengeluarkan isakan sesengukan tak rela.

Karena kontras dengan apa yang dikatakannya, sepasang mata Kinan justru nanar memijar ketika dengan kedua jarinya anak itu menguak sepasang labianya untuk memperlihatkan dirinya secara utuh pada seorang pemuda brewok tak dikenal. Seisi lorong senggamanya yang berwarna merah muda, lubang anus mungil yang berbentuk bintang kecil, juga sebiji kelentit di bawah lubang kencingnya yang sudah menjerit-jerit ingin dijepit.

“Hayoh... kamu ini masih kecil tapi sudah ndak perawan...,” Badeng membeliak girang ketika mendapati selaput dara Kinan yang sudah tidak utuh.

“E-eeeh?” Wajah Kinan seketika semakin memerah. “S-saya... saya....”

“Kamu sudah sering ngentot pasti, ya... atau jangan-jangan kamu senang telanjang karena memang ketagihan ngentot, kan...?”

“Enggak... saya... enggak...” wajah Kinan dipenuhi rona-rona menggairahkan saking hebatnya rasa malu yang melanda tubuhnya.

“Ah, kamu itu... ndak usah sok suci... sudah ndak perawan juga.” Badeng tertawa melecehkan. Seringai puas terbayang di wajah Badeng melihat gundukan memek tembem Kinan yang sekarang sudah mengkilap indah. Tanpa permisi, Badeng mencelupkan jari-jarinya pada rekahan daging merah muda liang kawin Kinan yang segera disambut jeritan tidak rela pemiliknya.

“Jangannnhhh... bliiii... pepeknya Kinan... jangan dimasukiiiiin... aduuuuh.... auuuuuh... uunggggh...,” desah Kinan yang semakin tak kentara karena telunjuk dan jari tengah Badeng sudah merogoh jauh ke dalam dan memenuhi tubuh Kinan dengan jari-jari kasarnya. Kinan segera menggeliat tidak terima, tapi segera dibungkam oleh usapan lembut pada kerat-kerat dinding kewanitaan Kinan yang basah dan bergerinjal.

Kinan gemetar menahan nikmat, seluruh tulang-tulangnya berasa dilolosi dari tubuhnya sehingga kedua lengan Kinan sedari tadi yang menyangga tubuhnya kehilangan tenaga dan Kinan terpaksa bertumpu pada siku dalam posisi yang makin menungging.

Badeng membeliak girang melihat pose si gadis montok yang semakin membuat dirinya ngaceng terutama lubang anus mungil Kinan yang berwarna merah hati. Lalu dengan senyum penuh kemesuman, Badeng mengusapkan jari-jarinya yang dilelehi lendir kinan ke dearah perineum –perbatasan antara lubang vagina dan anus. Kinan seketika membeliak kaget, dengan bejatnya Badeng menggelitik lubang pembuangan Kinan dengan ujung jari lalu mengusapkan lendir licin Kinan ke mulut lubang anal dalam gerakan melingkar. Pelan. Perlahan. Sehingga tubuh Kinan mengejang hebat demi menahan rasa geli saat merasakan lubang analnya disusupi benda asing. “Aiiiiiih, bli... bol-nya Kinan diapaiiiin... aduuuuh... aduuuuh....,” Kinan menggelepar heboh saat jari Badeng bergerak memutar hingga otot-otot bibir anus Kinan terlumasi seluruhnya oleh cairan pelicinnya sendiri. Lalu dengan lembut bergerak menguak otot-otot rektal Kinan hingga menohok g-spot remaja manis itu dari arah belakang. Rintihan erotis segera terdengar menyambut, dan Badeng tak perlu ragu-ragu lagi mengaduk-aduk lubang pembuangan si gadis montok yang malah mengkeret keenakan.

Kinan sadar betul bahwa gelitikan Badeng di titik lemahnya bakal membuatnya hilang akal. Anak itu memang pernah mencobanya sesekali waktu masturbasi. Ketika cairan cintanya tak sengaja menggenang hingga dalam lubang anusnya. Kinan coba menggelitikinya sekali dan ternyata bibir analnya dipenuhi dengan syaraf-syaraf sensitif yang selalu berhasil membuat si montok menggelinjang dalam sekali sentuh.

“Ssssst... nikmatin aja, Gek... ini enak....” bisik Badeng sambil memijatkan ibujarinya kuat-kuat ke biji kelentit Kinan, semakin kuat, semakin cepat, hingga tinggal Kinan yang cuma bisa menggeleng-geleng panik sambil menutup bibirnya rapat-rapat dengan telapak tangan, tak sudi kalau rintihan kenikmatannya sampai terdengar oleh sang penjantan alfa.

Kinan hanya bisa termegap-megap tak berdaya, bibir sensualnya terbuka lebar dan mengeluarkan lengguhan-lengguhan yang tertahan di kerongkongan karena hasrat birahi yang mati-matian coba dipungkirinya. Meskipun pipi chubby Kinan yang kini dipenuhi lelehan keringat dan rona-rona merah muda sudah cukup menunjukkan betapa sebenarnya anak itu menikmati getar-getar kenikmatan yang masih menjalari tubuh sintalnya.

Dan kali ini, Kinan bahkan tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata jorok yang dipelajarinya dari buku stensilan sang kakak. Serangan Badeng pada titik-titik lemahnya benar-benar membuatnya menggila. Telunjuk Badeng sudah terbenam dua ruas dalam lubang anal Kinan, sementara jempolnya bertumpu pada belahan tembem memek, turut serta memijat dan melumat-lumat tonjolan indah kelentit yang mencuat dari sepasang labia yang semakin basah dan merekah.

Dan ketika g-spot Kinan ditekan kuat-kuat, orgasmenya meledak. Tubuh montok Kinan mengelejat beberapa kali dalam cumbuan Badeng diikuti dengan semburan segar peju kenikmatan yang segera melelehi pangkal paha, tapi Badeng sepertinya tak ingin berhenti malah memasukkan jempolnya ke dalam belahan memek Kinan dan mengocok lubang kawin yang sudah menggap-menggap minta time out.



“U-uuudah.... uu-u-udaahh...” pinta Kinan mengiba, ngilu sekali rasanya sudah orgasme tapi masih dikerjai seperti ini. Tapi tentu saja sang pejantan alfa tak akan ambil pusing malah semakin brutal mengocok lubang kawin dan lubang pembuangan Kinan sekaligus. “Udaaaaaaah.... uddaaaaaah... aaiiiiiih... aiiiiiiiiih..... aaaaaaaaaaaih!!!!!” Kinan menggeleng-geleng panik sambil berusaha mendorong tubuh kekar Badeng, sebentar saja, karena di detik berikutnya tubuh montok Kinan sudah kembali berkejut-kejut. Kali ini Kinan bahkan tidak bisa mengenali suaranya sendiri, karena yang keluar dari kerongkongannya hanyalah erangan parau seekor binatang yang sedang berada di puncak birahi. Tubuh Kinan mengelejat beberapa kali ketika lubang memeknya menyemprotkan cairan cinta bercampur urin yang menyembur kencang seperti keran hydrant.

Mata Kinan terpejam erat. Dada sintalnya bergerak naik turun mengikuti nafasnya yang tersengal. Kinan bisa merasakan tangan Badeng yang belum mau berhenti menggeranyangi bongkahan pantat dan dadanya. Tersenyum puas karena berhasil membuat cewek semanis Kinan squirt, Badeng mengusapkan cairan peju Kinan di sekujur gundukan kenyal dada, pundak, lalu perut montok yang dipenuhi lapisan lemak yang menggemaskan. Dan Kinan bahkan tak punya tenaga lagi untuk berkeberatan, tulang-tulangnya terasa dilolosi dari tubuh setelah dihantam dua orgasme berturut-turut.

Kinan mengerejap lemah, dan mendapati Badeng sedang melucuti pakaiannya sendiri. Otot-otot telanjang yang terlatih karena mendayung perahu karet itu segera terpampang indah ke dalam mata Kinan. Rangkaian tato serigala yang membuatnya tampak berbahaya. Bekas luka memanjang di perut kanan. Juga kejantanan berukuran biadab yang mengacung tegak di depan matanya.

Dada Kinan berdesir indah. Kinan hanya merasakan dengusan nafas Badeng di telinganya sebelum mendapati dirinya kini berada dalam himpitan tubuh Badeng yang telanjang. Dengan jelas Kinan merasakan bibir brewok Badeng yang menciumi pipi dan memagut-magut tengkuknya penuh nafsu diikuti batangan keras yang terasa panas di antara dua pahanya, menggeliat-geliat mencari jalan masuk.

“Bliiiiii.... Jangaaaaaaan... Kinan jangan dientot, bli... aduuuh... Kinan jangan dientoooot.....,” rintih Kinan memohon, tapi sepasang pantatnya yang semakin menungging seolah membuka jalan bagi kepala kejantanan Badeng yang berwarna hitam legam. Kinan hanya bisa menggigit bibirnya pelan, berharap-harap cemas, apakah tubuhnya sanggup menampung kejantanan berukuran biadab itu.

Berbeda jauh dengan Gede yang belum berpengalaman, Badeng tanpa kesulitan sama sekali melesakkan batangan hitam tebalnya ke dalam belahan memek yang memang dari awal sudah licin. Dalam satu tarikan nafas ujung kulup yang belum disunat itu sudah mulai membelah masuk kedalam himpitan sempit labia Kinan yang lucu. “Sssssssh.... aduuuuh.... aduuuuuh.... sssssssh.... oooooooh!!!!!” Terdengar suara benda becek diikuti rintihan nikmat yang keluar dari bibir Kinan ketika batang kontol sebesar botol saus tiram itu terbenam sepenuhnya dalam liang mungil sang remaja yang masih termegap-megap menyesuakan diri. Sakit, tapi nikmatnya luar biasa ketika dinding-dindingnya yang basah tergerus urat-urat kebiruan di sepanjang batangan berukuran kurangajar itu. “Auuuuh.... sakit... pelan-pelan, bliii.... auuuuh.... huff... huuuffffff....” Kinan mendengus-dengus kesakitan karena dipaksa meladeni Badeng yang berusaha menyodokkan kejantanannya hingga mulut rahim. Tapi itu tak berlangsung lama karena rintihan erotis segera terdengar sebagai reaksi atas genjotan Badeng di lubang kawinnya.

Kontras dengan penampilannya yang hitam kasar, Badeng ternyata mencumbui Kinan dengan piawai seolah mengetahui titik mana saja dari tubuh gadis itu yang bisa membuat sepasang bibir Kinan mengeluarkan erangan sensual. Diciuminya belakang telinga Kinan, dibelainya puncak dada Kinan sebelum dipilin-pilin penuh perasaan, pelan sebelum akhirnya Kinan merasakan ciuman hangat di lehernya yang bergerak turun menuju pipi dan bibirnya yang segera merekah seolah menyediakan diri untuk segera dikulum bibir Badeng yang dirimbuni brewok tebal.

Bertumpu pada kedua siku dan lututnya, Kinan berlaku seperti seekor anjing betina yang dikawini dari belakang. Kinan bahkan tak sanggup mendengar suaranya sendiri, karena yang keluar dari bibir Kinan hanyalah kata-kata kotor yang pantasnya dikeluarkan lonte-lonte di Jalan Danau Tempe belaka. Kinan mendesah. Kinan merintih. Menceracau penuh penghayatan. Tanpa harga diri, Kinan menjerit dalam ekstase ketika rambut ikalnya dijambak dan pepaya bangkoknya yang mengayun-ayun diperas-peras tidak manusiawi dari belakang. Juga ketika puncak kenikmatannya datang lagi. Lagi. Dan lagi.

Kinan mengejang beberapa kali sebelum akhirnya tubuhnya menyerah karena kadar gula darahnya yang terpakai habis. Seperti anai-anai yang diombang-ambingkan angin, Kinan tergolek lemas, terenggah tak berdaya di rumah kosong dengan paha yang belepotan lendir bercampur lumpur. Orgasme yang menghantamnya berkali-kali membuat tubuh Kinan didera rasa lemas yang meredupkan kesadarannya. Bibir Kinan termegap-megap, melakukan upaya terakhir untuk memompa oksigen ke dalam paru-paru, tapi yang ada malah kepalanya yang terasa kian ringan.

Sepasang mata Kinan mengerejap lemah, bulan pucat dan langit malam penuh bintang adalah hal terakhir yang dilihat Kinan sebelum pandangannya meredup tanpa sempat menyadari bahwa sosok ketiga sedari tadi mengawasi dari kegelapan pergumulan keduanya....

****

Kinan terjaga oleh cahaya matahari yang menyusup dari balik dinding batu bata merah yang rontok setengah. Tanpa terasa, rotasi bumi pada porosnya telah mengembalikan hari kembali paginya yang sediakala. Kinan menggerakkan otot wajahnya dan merasakan dada dan pipinya kini dipenuhi lelehan sperma yang sudah mengering. Lubang anus dan kewanitaannya perih dan terasa melar karena diperkosa nyaris sepanjang malam. Tapi jika persetubuhan terjadi atas konsensus suka sama suka, masihkah itu disebut dengan ‘perkosaan’?

Dasar kurang ajar, batin Kinan kesal, meski diam-diam dia mengenang keperkasaan sang pejantan yang membuatnya muncrat berkali-kali.

Masih terpejam, Kinan merasakan payudaranya diremas-remas. Lalu rambut-rambut lembut di pangkal pahanya dibelai-belai. Lalu labianya yang mungil diusap-usap. Hu-uh, dasar cowok mesum, belum puas apa ngerjain Kinan, gerutu si lucu sambil menggeliat terjaga. Tubuhnya masih pegal-pegal karena dipaksa melayani nafsu bejat Badeng semalaman dan tidur di tanah keras. Tangan Kinan menggaruk-garuk kulitnya yang menjadi hidangan prasmanan bagi bangsa kepinding dan nyamuk. Serangga-serangga penghisap darah itu tentu tidak akan melewatkan tubuh montok yang tertidur di tempat terbuka. Tapi belaian-belaian nakal di tubuhnya kembali membuat Kinan jengah.

“Uuuh, Bli Badeng, udaaaah... kok belum puas aja, siiiiih,” Kinan menepis tangan yang malah asyik menarik-narik putingnya.

“Hehehe... hehehe... nyonyo... nyonyo....”

Kinan segera membelalak penuh histeria mendengar suara terkekeh yang familiar itu. Tahu-tahu saja Pekak Gedang sudah berjongkok di sampingnya. Bibir si pekak yang pecah-pecah tersenyum dan menampakkan deretan gigi-geligi yang sudah menguning −setengahnya ompong, setengahnya bergoyang-goyang− dan mengeluarkan bau asam lambung setiap kali nafasnya menghembus di dekat telinga Kinan.

“Kyaaaaaaah!!!!”

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

4 komentar:

  1. alya atau ochi donk lanjutan nya

    BalasHapus
  2. Lanjutin dong....
    kangen kegilaan kinan, pengen lihat ilustrasi foto2nya juga, hehe

    BalasHapus
  3. Keren. Cerita terbarunya yg lain di tunggu.

    BalasHapus