Naked Adventure 7: Fragmentasi Mental

Credit to Jaya Suporno


Seingatnya ia sedang tertidur, sungguh. Karena setelah pergumulan liar semalam suntuk yang menguras seluruh kalori dan membuat tulang-tulangnya serasa dilolosi, tak ada satupun alasan bagi Kinan untuk bangun pagi-pagi. Udara sedang dingin-dinginnya dan Kinan sedang enak-enaknya bergelung sambil memeluk lutut ketika samar-samar ia merasakan tangan-tangan kasar yang menggerayangi tubuhnya. Hu-uh, siapa sih ini! Kinan menggeliat risih. Tapi remasan-remasan kurang ajar yang tidak mau berhenti menjarah bagian-bagian privatnya lama-lama membuat Kinan jengah dan membuka mata.

“Hehehe... hehehe... nyonyo... nyonyo....”

Kinan segera membelalak penuh histeria mendengar suara terkekeh yang familiar itu, karena tahu-tahu saja tubuh montoknya ditindih oleh seorang kakek-kakek pengidap gangguan jiwa dengan kejantanan purbakala yang menggeliat-geliat di selangkangannya.

“Kyaaaaaaah!!!!”


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Kinan mengerjap terjaga dan mendapati dirinya berada dalam puing-puing rumah tua. Tak ada si pekak. Tak ada siapapun. Hanya genteng ambrol dan puing-puing kayu yang berserakan di sekeliling tubuh telanjangnya. Huft, ternyata cuma mimpi, batin Kinan lega. Tapi dari semua probabilitas mimpi yang bisa menjadi bunga tidurnya, kenapa justru si kakek ompong yang bertandang pagi-pagi?! Hu-uh, pertanda buruk nih!

Matahari yang menyusup dari tembok batu bata yang sudah dobol membentuk garis-garis cahaya yang jatuh di atas tubuh telanjang Kinan. Tanpa terasa, rotasi bumi pada porosnya telah mengembalikan hari kembali paginya yang sediakala.

Kinan menggeliat malas. Tubuhnya masih pegal-pegal karena dipaksa melayani nafsu bejat Badeng semalaman dan tidur beralaskan tanah. Tangan Kinan menggaruk-garuk kulitnya bentol-bentol setelah dijadikan hidangan prasmanan bagi bangsa kepinding dan nyamuk. Serangga-serangga penghisap darah itu tentu tidak akan melewatkan tubuh montok yang tidur telanjang bulat di tempat terbuka.

Onggokan arang kayu yang masih membara menggunduk di sebelah kiri Kinan. Sisa-sisa unggunan api itu masih menebarkan kehangatan dan bergemereletak sesekali. Hehehe, baik juga Badeng menyalakan api agar Kinan tidak kedinginan! Anak itu menggerakkan kaki dan merasakan ubang anus dan kewanitaannya perih dan terasa melar karena diperkosa nyaris sepanjang malam. Diperkosa, yah? Kinan membatin geli, karena jika persetubuhan terjadi atas dasar konsensus suka sama suka, masihkah itu disebut sebagai ‘perkosaan’?

Tangan Kinan mengusap rambut pubis dan selangkangannya yang dipenuhi lengketan sperma yang sudah mengering. Hu-uh, semalem kayanya dimuncratin di dalam yah, untung ini bukan masa subur Kinan! batin si montok kesal, meski diam-diam dia mengenang keperkasaan sang pejantan yang membuatnya orgasme berkali-kali. Tapi ngomong-ngomong soal Badeng, ke mana tuh orang? Yang bener aja, masa Kinan habis dipake ditinggalin begitu aja? dibayar dulu, kek! Hehehe, batin Kinan sambil mencari-cari keberadaan pemuda berengsek bertato serigala itu.

Suara percik geretan Zippo yang dipantik membuat Kinan menoleh ke arah halaman. Aroma tembakau bercampur cengkeh segera meruap di antara bau tanah dan embun pagi mengikuti langkah kaki yang terdengar mendekat. Sosok hitam kekar itu muncul dari balik ambang yang tak berpintu. Badeng melenggang santai hanya dengan berbalut sehelai kain jarik yang membebat tubuh bagian bawahnya. Sebatang rokok terselip di bibirnya yang dirimbuni brewok tebal. Dua buah tas kresek ditenteng di tangan dan segera dilempar kasar ke depan Kinan.

Kinan segera beringsut ke sudut, menyilangkan dua tangannya di depan dada dan meringkuk untuk menutupi bagian-bagian tubuh yang disukai lelaki. Badeng tersenyum geli melihat Kinan yang semalam mengeluarkan kata-kata jorok kembali menjadi gadis manis yang malu-malu kucing.

“Sudah bangun?” Badeng bertanya basa basi, menghempaskan pantatnya di atas tumpukan balok kayu. Tangannya mengulurkan sebuah tas kresek berisi dua bungkusan daun pisang dan dua botol air mineral, satu untuk Kinan dan satu untuk dirinya yang segera dilalap Badeng di tempat itu juga tanpa mencuci tangan.

“Makan dulu,” kata Badeng sok dingin, seperti tak ingin tampak terlalu perhatian pada anak itu.

Kinan tak langsung menjawab meski perutnya yang keroncongan setelah pertempuran semalam sudah mengancam bakal melakukan insurgensi jika tidak segera diisi. Karena gengsi barangkali, masa dirinya habis dientot cuma dibayar pakai nasi bungkus? Tambahin gocap, kek! Kinan menggembungkan pipinya yang lucu. Tapi melihat Badeng yang makan dengan lahap nasi putih hangat yang masih mengepulkan uap, dengan lauk sate lilit, suwiran betutu, ayam sisit, serundeng kelapa, ditambah sambal matah membuat air liur Kinan menetes tanpa sadar. Dan tak perlu diminta untuk kedua kali Kinan langsung melahap nasi bungkus itu seperti orang yang baru saja puasa mutih 30 hari 30 malam.

Badeng menahan senyum melihat Kinan yang makan dengan kedua tangannya sampai-sampai lupa menutupi bagian-bagian sensual tubuhnya; sepasang payudara mengkal yang walaupun berlapis lumpur karena semalam tidur beralas tanah tetap tampak menggoda, dan semak-semak rimbun di pangkal pahanya yang terekspos jelas dalam posisi bersila.

Kinan memalingkan wajah takut-takut ketika menyadari tatapan Badeng yang memindai setiap lekuk tubuhnya. Kinan hanya mampu menunduk dengan wajah bersemu dan menguyah suapannya dalam diam. Wajah manis Kinan yang tersipu-sipu membuatnya tampak semakin imut dan menggemaskan sehingga membuat Badeng semakin tergoda untuk terus menggoda.

“Did you enjoy it, eh?” suara berat Badeng terdengar tiba-tiba.

Buset bisa bahasa inggris juga ini orang, Kinan langsung kaget! Eh iya ding, emang anaknya guide rafting kali, ya? Kan biasa gaul sama bule-bule, batin Kinan jadi keki sendiri karena ketahuan mikirin si brewok.

“M-maksud kamu enjoy? Nasi ini apa yang semalem?” Kinan menyahut polos dengan pipi penuh kunyahan.

Badeng segera tersedak dan tertawa terbahak-bahak. “Ayolah, apalagi yang diharapkan dari seorang cewek yang nungging-nungging mainin pepeknya di depan turis yang lagi rafting, dan telanjang malam-malam di tengah jalan, selain kemungkinan adanya orang nggak dikenal buat ngentotin kamu,” papar Badeng vulgar yang membuat rona-rona di pipi Kinan semakin terlihat. “Jujur saja. Sebenarnya baju kamu nggak beneran hilang, kan? Kamu memang ingin merasakan sensasi telanjang di tempat yang nggak semestinya, kan?”

Kinan hanya mengangkat bahunya ringan dan memilih menghabiskan makanan gratis di depannya sampai-sampai membuat Badeng makin gemas pada cewek montok tanpa busana ini. Karena dari pengamatannya, gadis berwajah manis ini adalah tipe cewek rumahan yang tidak akan melakukan tindakan memalukan seperti semalam, tapi siapa yang tahu?

Kinan sempat mengira cerita ini akan berakhir dengan foto-foto bugilnya yang dijadikan bahan pemerasan seperti yang biasa dibacanya di setiap akhir kisah stensilan bergenre pemerkosaan, tapi alih-alih mengeluarkan dialog klise “awas kalau kamu berani lapor ke polisi, foto-foto bugil kamu akan kami sebar!”, Badeng malah menyodorkan bungkusan berisi kain sarung dan sepasang sandal jepit swallow yang masih baru.

“Di jalan depan sana ada saluran irigasi, kalau kamu mau kamu bisa membersihkan diri di sana...,” kata Badeng tanpa bisa menyembunyikan lagi raut perhatian dari wajah seramnya. “Kamu bisa berpakaian dan kembali ke kehidupan normalmu... itupun kalau kamu ‘mau’... karena saya lihat agaknya kamu memang kepingin terus-terusan telanjang, ya? Hahaha!”

Wajah Kinan agak bersemu mendengar penuturan Badeng, tapi anak itu memilih menghabiskan lauknya yang tersisa. “M-makasih,” kata Kinan setelah menandaskan tetes terakhir botol air mineralnya.

“Makasih buat? Makanan ini atau yang semalam?” jawab Badeng acuh tak acuh.

Si lucu cuma bisa menggembungkan pipinya yang jadi semakin lucu karena ogah mengakui menikmati perbuatan bejat Badeng semalam, berikut kemungkinan bahwa diam-diam dirinya ternyata juga masih mengharap Badeng kembali ‘menodai’-nya untuk yang kedua kali. Buktinya? Meski memasang raut tak rela, Kinan tak benar-benar menolak ketika dagunya direnggut dan pipi lucunya dicium lembut.

Jantung Kinan berdegub makin kencang ketika Badeng mulai merangkak di atas tubuhnya dan titik-titik erogen tubuhnya dihujani kecupan satu demi satu, ketiak, puting susu, leher, sebelum mengulum lembut daun telinga Kinan. Dibisikkannya kata-kata melecehkan yang membuat relung keintiman sang budak mengalirkan lebih banyak lagi kehangatan. Lalu dikecupnya kening Kinan yang justru menyambut dengan melingkarkan tangannya di pinggang Badeng. Sang pemuda membalas dengan remasan gemas di kedua bongkahan pantat Kinan yang telanjang diikuti lengguhan lirih ketika bibir keduanya bertaut.

Kinan membiarkan Badeng memagut bibirnya lembut dan buah dadanya diremas, lalu dalam satu tarikan nafas, Badeng sudah telanjang dan menindih tubuhnya. Sebelah tangan Badeng menggapai turun, merogoh rongga kawin Kinan yang menuai kehangatan dari tangan Badeng yang berminyak. Kinan menggeliat pelan, menikmati satu persatu cumbuan sang pejantan alfa yang membuat tubuh montoknya menggelinjang nikmat dan mengeluarkan rintihan demi rintihan erotis saat mendaki pusaran puncak kenikmatanya.

Matahari pagi menyembul dari balik cakrawala membentuk garis-garis cahaya yang jatuh di atas sepasang tubuh telanjang yang menggelinjang, menghangatkan birahi yang meleleh tanpa bisa lagi menyembunyikan diri. Pagi itu, untuk yang kedua kalinya Badeng menjelmakan diri menjadi kuda jantan yang mengamuk di atas tubuh montok betinanya. Dan Kinan, apalagi yang bisa ia lakukan selain menikmati perannya sebagai budak seks yang patuh? Kinan tak menolak ketika Badeng meminta Kinan menjepit batang kejantanannya di antara kedua bongkahan sintal payudaranya. Kinan bahkan membiarkan Badeng berejakulasi di atas wajahnya yang manis! Karena untuk kali ini saja barangkali, Kinan bisa menikmati panasnya persetubuhan yang telah lama ia idam-idamkan!


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​




Badeng yang harus masuk kerja meninggalkan Kinan dengan selangkangan yang membara −baik secara literal maupun figuratif−, karena setelah suara motor 2-tak Badeng menghilang dari pendengaran barulah Kinan menyadari dirinya telah melakukan kesalahan fatal. Tangan Badeng yang menggobel-gobel memeknya tadi ternyata belum dicuci setelah memegang sambel matah! Akibatnya, tinggal Kinan sekarang yang cuma bisa merem-melek karena memeknya kepedesan terkontaminasi biji cabe rawit!

Aduuuuh, sial banget sih! runtuk Kinan kesal lalu buru-buru berjongkok di dalam saluran irigasi. Berkali-kali Kinan menceboki belahan tembemnya dengan air dingin. Tapi bukannya mereda, rasa panas di alat kelaminnya malah semakin menggila seiring jari-jarinya yang bergerak menceboki sepasang labia. Lah terang aja, kan jarinya Kinan juga habis dipake makan sambel! Kinan gimana, sih! Dasar bego! batin si montok sambil menggembungkan pipinya yang lucu.

Akhirnya Kinan terpaksa berjongkok seperti orang gila di dalam saluran irigasi sempit yang lebih menyerupai parit. Karena selain Kinan nyaris tak ada satu pun yang sudi merendam diri dalam parit berlumut itu.

Agak lama Kinan berkongkok membiarkan air dingin yang mengalir di antara dua paha. Berharap suhu air yang hanya 18 derajat lebih tinggi dari titik beku bisa membasuh rasa pedas dari memeknya yang menderita. Hingga tak terasa embun pagi mengendap menjadi lapisan tipis berkilauan di atas bongkahan dadanya yang sintal.

Matahari yang merambat naik menuju titik zenith menyiratkan cahaya-cahaya keemasan yang menyemburat dari pucuk-pucuk daun bambu di kejauhan. Partikel-partikel kabut yang menyaput lembah sungai mulai tersapu angin pagi yang bertiup dari puncak gunung. Petani-petani sudah terlihat menggarap sawah atau memanen bulir-bulir padi. Kinan bisa melihat topi caping mereka di antara hamparan sawah yang menguning. Musim panen yang tiba lebih awal membuat suara lesung sudah terdengar bertalu dari sekumpulan ibu-ibu yang menumbuk padi di antara gabah kering yang mulai dijemur di tepi jalan.

Di samping Kinan adalah jalan tanah lebar yang menghubungkan jalan protokol besar dengan deretan guest house di sepanjang lembah sungai di timur. Beberapa pengguna jalan lewat sesekali, ibu-ibu yang membawa hasil bumi dengan sepeda kumbang, atau pengendara sepeda motor yang lebih suka memandang iba pada Kinan yang tampak seperti orang gila karena berjongkok bugil di pinggir jalan. Awalnya Kinan masih bisa menghadapi pandangan-pandangan menusuk mereka. Tetapi ketika melintas serombongan remaja asal Perancis yang menaiki sepeda gunung mau tak mau dada Kinan berdesir juga dibuatnya.

Rona-rona merah muda mulai bersemu dari balik kulit mulus Kinan yang diliputi bulir-bulir embun menyadari tatapan birahi para remaja londo ke arah tubuh bugilnya yang berjongkok di pinggir jalan. Mendadak perut Kinan terasa mulas. Kali ini bukan cuma karena birahi tapi juga karena panggilan alam di pagi hari!

Aduuuh, masa di sini sih? batin Kinan sambil memegangi perutnya yang makin lama makin mulas! Hu-uh...


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Aneh juga rasanya kalau mendengar Kinan masih punya rasa malu. Padahal kalau dipikir-pikir sudah lebih dari 1 x 24 jam Kinan tak mengenakan pakaian barang selembar pun. Kinan sudah masturbasi di depan orang main rafting. Kinan sudah melakukan fellatio terhadap anak di bawah umur. Sudah diperkosa pula. Tapi untuk buang air besar di depan umum? Itu lain soal! Kalian pernah dengar anak cewek kentut? Enggak, kan? Begitu pula Kinan. Masih ada sedikit harga dirinya sebagai perempuan yang belum rela untuk direnggut dengan berak di depan orang banyak.

Sambil menahan rasa mulas di perutnya Kinan berlari-lari kecil menjauhi keramaian. Ada hutan bambu lebat di belakang rumah tua tempatnya tidur semalam dengan setapak kecil dan bekas kandang sapi yang tak digunakan lagi. Kinan menoleh ke sekeliling. Sepi. Kinan pun segera berjongkok ambil posisi. Sebuah celah kecil di antara rumpun bambu petung yang cukup lebat dirasa Kinan cukup ideal untuk menunaikan hajatnya pagi ini.

Hihihi, aneh juga rasanya be-a-be di tempat seperti ini, batin Kinan geli sendiri. Di sekelilingnya adalah batang-batang bambu tinggi yang melengkung membentuk terowongan hijau-kekuningan. Sinar matahari menyusup masuk dari sela-sela daun membentuk larik-larik cahaya yang menyinari tubuh telanjang Kinan yang sedang mengejan. Suara gemeresek daun terdengar mengiringi bersama decit burung yang bertanggar di antara bilah-bilah kayu. Kinan tersenyum dalam hati. Bahkan aroma fesesnya nyaris tak tercium karena disamarkan bau tanah bercampur harum dedaunan!

Tapi kalian salah kalau mengira Kinan bisa boker dengan tenang. Karena sedang khusyuk-khusyuknya menunaikan hajat, gendang telinga Kinan menangkap suara langkah-langkah kaki mendekat. Siapa? Warga desa, kah? batin Kinan panik, karena yang didengar tidak cuma sepasang langkah kaki, melainkan belasan pasang langkah yang berderap sekaligus hingga menimbulkan kumparan debu di udara.

Ajegile! batin Kinan kaget. Karena bukannya orang, tapi yang lewat di depan jalan setapak tempat Kinan berjongkok adalah belasan ekor babi. Melintas megol-megol di depan Kinan yang sedang beol. Kinan bisa melihat tubuh mereka yang bongsor hampir segede sapi mendengus-dengus acuh di depannya diikuti seorang peternak yang melotot kaget melihat Kinan sedang buang hajat. Tak lama seorang anak lewat sambil menarik seekor kerbau. Lalu seorang lagi dengan sekawanan itik, semuanya memandang dengan tatapan menyedihkan ke arah Kinan yang sedang ngeden sambil bugil.

Buset dah, gua sial betul, yak! batin Kinan, ternyata tempat ini adalah jalur utama yang menghubungkan jalan tanah di depan sana dengan area kandang ternak warga di seberang hutan bambu! Kinan ingin cepat-cepat menuntaskan hajatnya, tapi sesisir pisang raja yang dimakannya semalam tak mengizinkan Kinan untuk berhenti buru-buru!

Dan kesialan Kinan ternyata tidak berhenti sampai di situ, karena dari kejauhan Kinan malah menangkap kehadiran sesosok makhluk yang paling tidak ingin dijumpainya. Kinan bisa mengenali botaknya yang familiar, senyum indah di mulut ompong, dan badan kurus menyerupai tulang belulang yang menari-nari menirukan gerakan kuda lumping.

Aduuuuuuh, kenapa si kakek gila malah nongolnya sekarang, siiiiih! batin Kinan panik, makin panik lagi karena e’eknya kini sudah di ambang pintu!

“Jangan ke sini, pleaaasee... Jangan ke sini-jangan ke sini-jangan ke sini... cir gobang gocir-gobang gocir-gobang gocir... kakek gila jangan ke sini...,” mulut Kinan sudah komat-kamit baca mantera aji, berharap bisa menghilang seperti Didi Petet dalam film Kabayan, tapi yang ada si kakek yang malah nyengir kuda begitu melihat wajahnya.

Jegeeeer!!! Benar saja, si kakek langsung melambai girang seperti bertemu sahabat lama.

Lalala... Kinan pura-pura cuek, mencoba tidak menampilkan ekspresi terkejut yang takutnya malah memprovokasi si kakek untuk menganggunya lagi. Sambil pura-pura tenang, Kinan melanjutkan acara bokernya, kembali ngeden dengan tenang... tenang... tenang... Woy!!! Giimana bisa ngeden tenang kalau di depannya si kakek malah ikut jongkok sambil cengar-cengir!!!! Huaaaa!!!

Sumpah ini absurd banget. Coba bayangin kalian lagi boker terus di depan kalian ngejogrok kakek-kakek schizophrenia yang cuma senyum-senyum nggak jelas ngelihat ekspresi kalian ngeden. Mau kabur pun nggak bisa karena tokai yang sudah kadung memanjang indah walau belum menyentuh tanah.

Walhasil Kinan cuma bisa ngeden dengan wajah merah padam. Ekspresinya sudah tidak jelas antara, ngeden, nahan tangis, dan semua ekspresi horor yang pernah dibayangkan manusia. Semua, −kecuali horny. Woy! gimana bisa terangsang kalau lagi berak terus ada orang gila di depannya!!!!

“Aduuuuh... pekaaaaaak... jangan lihat!!!! saya sedang meju...,” pinta Kinan terisak-isak dengan pipi berurai air mata yang lebih heboh dari akting Ayu Azhari di sinetron Noktah Merah Perkawinan.

“Meju? meju... meju... hore-hore-hore... Ayo! Ayo! Ayo!!!! hehehe... hehe....” dan yang ada si kakek bukannya pergi, malah bertepuk-tepuk tangan menyemangati seolah Kinan adalah Susi Susanti yang sedang berjuang di Olimpiade Barcelona.

___________________________________

|Pekak = kakek |

|Meju = buang air besar |
___________________________________

Tangis Kinan semakin menjadi. Tubuh montoknya yang telanjang menggigil hebat karena rasa malu dan kontraksi otot-otot perutnya demi untuk mengeluarkan tinja. Payudara Kinan yang terhimpit paha tampak makin sekal dan diwarnai rona-rona kemerahan saking hebatnya badai perasaan yang berkecamuk di dada (dan lubang pantat) Kinan. Sungguh, sebenarnya Kinan sudah ingin ambil langkah seribu. Tapi gimana bisa lari-larian ala film India dengan usus yang masih melilit-lilit dan sebatang tinja yang belum putus dari belahan pantatnya? Rasanya Kinan pengen mati buru-buru!

Belum cukup bikin si montok nangis bombay. Si kakek ompong malah mendekati Kinan yang sedang ngeden sekuat tenaga. Tak berdaya karena tokai yang di ujung lubang e’ek, Kinan cuma membeliak horor melihat tangan kotor si kakek mendekat dan membelai-belai kepalanya. Lalu pipi, leher, pundak, dan sepasang bongkahan kenyal yang terhimpit paha, tak ada satupun bagian erotis tubuh Kinan yang luput dari grepean si kakek gila. Tangis Kinan semakin horor ketika tangan si kakek turun membelai rambut pubis lalu mengusap-usap memek dan lubang kencingnya, dan... tak ada tanda-tanda tangan si kakek bakal berhenti turun menuju ‘area selanjutnya’....

Kinan pernah membaca cerita stensilan aliran fetish ekstrim bergenre ‘scat’, di mana feses manusia yang menjadi titik fokus sebuah cerita erotis. Dan ketika jari si kakek semakin jauh menjamah, jeritan histeris Kinan pun pecah bersama dengan air kencing yang mengucur deras saking hebatnya rasa takut yang melanda gadis montok itu.

Dalam sekejap, cairan kuning keruh menyemprot kencang ke tangan dan wajah Pekak Gedang yang justru membeliak girang menyambut semburan urin segar dari lubang kencing Kinan.

Kinan menekap mulutnya erat-erat. Dari dalam belahan montoknya mengucur deras cairan kencing yang meleleh-leleh membasahi paha dan betisnya, hinggga menggenangi kedua kaki dan tumpukan feses yang menggunduk di bawah pantat Kinan. Kinan memejamkan mata erat-erat. Tubuhnya menggigil hebat dalam sintesis paling mengerikan dari rasa terhina dan rasa takut yang pernah dialami manusia.

Hajatnya sudah selesai dituntaskan. Tapi sepasang kakinya yang gemetar hebat seolah tidak mau diajak melarikan diri. Kinan hanya bisa merelakan wajah manisnya jadi bulan-bulanan tangan si kakek yang berlumuran urin. Pipinya yang berlinang air mata diusap-usap sampai-sampai Kinan bisa membaui sengaknya aroma kencing sendiri. Kinan memejam jijik. Ujung jari si Kakek mencelup masuk ke dalam bibir dan indera pengecapnya segera diserbu sensasi gurih-gurih-asam yang lebih yahud dari micin.

“Kyaaaaaaaaaah!!!!”


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Ini sudah terlalu jauh, sungguh. Belum pernah kinan dipermalukan seperti ini sepanjang hidupnya. Dengan sisa-sisa tengaganya Kinan menolakkan kakinya sekuat tenaga menjauhi si kakek yang sedang asyik menjilati tetes-tetes urin dari ujung jari, tapi tungkai-tungkai Kinan masih gemetaran hanya mampu terhuyung lemah. Kinan terpaksa berpegangan pada pokok-pokok bambu, berjalan sempoyongan dengan paha dan betis yang berlumuran urin. Kinan mencoba mengacuhkan pandangan belasan pasang mata peternak yang menatapnya dengan tatapan jijik bercampur kasihan bagaikan seorang pengidap gangguan jiwa. Sambil menahan malu yang teramat, Kinan menekap payudaranya erat-erat dan membiarkan rambut-rambut pubisnya yang berkilauan terkena kencing terpampang bebas disambut matahari pagi.

Masih berlinang air mata, Kinan berjongkok di dalam saluran irigasi, menceboki belahan pantatnya yang lengket dan membasuh wajahnya yang dipenuhi jejak-jejak menjijikkan air kencingnya sendiri. Dan ketika kembali terdengar suara terkekeh-kekeh di belakangnya, sekujur tubuh Kinan terasa lemas. Si kakek ternyata masih membuntuti, bahkan ikut berjongkok di dalam saluran irigasi. Kali ini Kinan hanya bisa pasrah, kakinya bahkan sudah tidak punya tenaga lagi untuk melarikan diri.

Kinan hanya bisa menangis sesengukan sambil memeluk pahanya erat-erat, meringkuk pasrah sampai ia merasakan pundaknya ditepuk, kali ini lembut, tidak dengan birahi seperti sebelum-sebelumnya.

“Yeh... ngeling ie, puk! Ngeling, hehehe... hehe...” si kakek terkekeh-kekeh jenaka dengan nada meledek. “Hehehe... hehe... masa anak lupa sama saya? Gedang, ne... Gedang....” si kakek menepuk-nepuknya dadanya seolah-olah ingin mengingatkan Kinan akan teman lama yang seharusnya ada dalam ingatan. “Gedang... ingat sama saya? Gedang ajus!”

_______________________________________

|Yeh... ngeling ie, puk! Ngeling = wah, dia nangis lho! Nangis!|

|Ajus = ganteng|
___________________________________

Iya, Pekak Gedang! Semalam kakek yang menggerepe-gerepe saya di tengah hutan! batin Kinan ketakutan. Kinan ingin menjerit, tapi nafasnya malah tersengal-sengal sesak.

“Heh! Panak jegeg... kenapa menangis? Siapa yang mengganggu anak?!” Pekak Gedang berkata lembut dalam bahasa Bali. Diusapnya pelan rambut Kinan. Ditepuk-tepuknya dengan jari yang masih dibasahi urin.

Ini semua gara-gara kamu kakek sarap! Kinan mau bilang begitu, tapi yang keluar dari kerongkongannya hanya sesengukan tak jelas.

“Sudah! Sudah! Suud ngeling! Kalau ada yang ganggu anak bilang saja sama saya biar saya cetik!”

“Kakek yang terus ganggu saya!!!” Kinan berteriak tersedan. “s-sejak semalam Kakek terus mengikuti saya!! Mengejar-ngejar saya! Masa orang lagi berak masih juga diganggu!!!” jerit Kinan tak bisa menahan geram, mau berantem-berantem deh!

___________________________________

|Panak jegeg = anak cantik|

|Suud ngeling = berhenti menangis!|

|Cetik = racun, santet|
___________________________________



“Hehehe... hehe...” si kakek garuk-garuk kepala tanpa merasa bersalah. “Mau bagaimana lagi... soalnya... hehe... saya sudah kadung berjanji kepada anak... untuk... hehehehe....”

Idih! Siapa elu?! batin Kinan makin sebal sama si kakek yang SKSD itu. Kinan menyeka air mata dan mendapati wajah si kakek yang tersenyum-senyum sendiri di depan wajahnya. Deretan gigi ompongnya terpamer jelas bersama mata kataraknya yang menatap jenaka.

“Nih...” si kakek menyodorkan sebelah sandal gunung yang sudah putus.

Eh? Tapi ini kan sandalnya Kinan yang putus semalem! seru Kinan dalam hati.

“A-apaan i-ini, p-pekak? Sandal?”

“Jaje, ne... jaje... buat anak makan... tapi anak harus janji jangan menangis lagi ya....”

______________________________________

|Jaje, ne... jaje= Kue, nih... kue...|
______________________________________

Gubrag! Masa sandal dibilang kue?! Takut campur tengsin campur ingin ketawa, membuat Kinan ingin membuat Kinan terpaksa memasang senyum manyun di atas wajahnya yang mewek.

“Matur suksma, pekak,” Kinan tetap berusaha menghargai sambil menyusut tangisnya yang masih tersedan sesekali.

“Jangan menangis seperti itu lagi, ya... jangan, ya... dulu anak memang paling sering menangis... tapi anak tahu... kita semua... sudah tidak bisa lagi kembali....”

Kinan seketika terdiam. Kinan merasa kini seperti ada sebuah petak kosong dalam ingatannya yang tak lagi terisi... Tiba-tiba saja Kinan ingin pulang.


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Ada yang familiar dari cara si kakek bergerak dan tertawa, tapi Kinan tidak tahu apa. Jika tidak sedang menjadi kakek mesum yang menggerepe-gerepe tubuhnya, Pekak Gedang bisa menjadi sosok yang lembut dan lucu, meski 80% ucapannya ngelantur karena diselingi acara menari. Si kakek duduk bersila di bawah pohon kersen. Sedang berdialog dengan bumi, katanya. Karena si kakek mengaku sebagai keturunan terakhir kaum terpilih yang bisa berkomunikasi dengan planet.

Kemudian si kakek menyanyikan kidung. Merdu. Lalu kepada Kinan (atau kepada bumi seperti yang diyakininya) beliau mulai berceloteh ngelantur menggunakan bahasa Bali halus yang terkadang tercampur dengan bahasa-bahasa antah berantah yang bahkan Kinan tak tahu apa artinya. Tapi sedikit banyak Kinan menangkap kisahnya walau sepotong-sepotong. Tentang peristiwa tahun 66. Tentang orang-orang yang diusir dari tanah kelahirannya sendiri. Entah benar ataukah waham semata, tapi diam-diam Kinan jatuh iba.

“K-keluarga k-kakek di mana...?” Kinan bertanya pelan.

“Hehehe... hehe....” si kakek tiba-tiba linglung dan memandang kosong ke arah gunung tinggi di utara. Lalu kembali menyanyikan tembang tentang bunga sandat. Tentang mimpi-mimpi yang hilang. Tentang seorang anak yang mencari jalan pulang.

Sama-sama telanjang, dan jauh dari orang yang disayang Kinan jadi sedikit banyak bisa berempati pada pengidap gangguan jiwa itu. Tidak ada yang ingin mengidap schizophrenia, sungguh. Sayangnya orang-orang merasa dirinya lebih waras saja lalu merasa berhak memberi stigma dan memperlakukan si kakek semau mereka.

“Ini... saya juga punya sesuatu buat pekak.” Kinan menyodorkan tas kresek berisi kain sarung dan sandal jepit yang diberi Badeng tadi pagi. Mata si kakek segera membeliak berbinar dan menyambut dengan penuh sukacita.

Tas kresek dikenakan seperti topi di kepala. Kain sarung diikatnya di leher seperti superman. Dan sandal jepit ditepuk-tepuknya girang lalu berlari-lari menuju hutan bambu.

Tanpa sadar sudut bibir Kinan ikut melengkung.


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Matahari yang menanjak di tentang langit menampakkan diri sebagai titik panas di ujung kubah warna biru. Gumpalan awan putih yang tersebar di atmosfer tak bisa memberikan rasa sejuk. Berkali-kali Kinan merendam diri dalam saluran irigasi tapi tetap saja butiran-butiran keringat tak bisa berhenti menetes dan membungkus tubuh telanjang Kinan dalam lapisan erotis yang berkilat-kilat ditimpa terik.

Kinan memilih menunggu malam hari sebelum bergerak menuju tujuannya. Di sebelah timur adalah lembah sungai dan deretan guest house, setelah itu sudah masuk daerah wisata Monkey Forest, dan Wisma Dewata tempat Siska menginap terletak di gang-gang kecil di selatannya. Kinan tahu tempat itu ramai betul jika masih terang. Ada banyak bule-bule, pecalang, dan pos polisi, dan akan sangat beresiko tinggi bila Kinan berkeliaran telajang bulat di tempat itu di siang bolong.

Ketimbang diciduk pihak berwenang, Kinan memilih menghabiskan waktunya dengan menyusuri hutan bambu ke arah selatan. Benar, di balik hutan bambu itu banyak terdapat kandang ternak milik warga. Berjalan ke selatan sedikit ada sepetak kebun kelapa dengan satu-dua ekor sapi yang digembalakan di sana. Pagar pring petung membatasi sepetak tanah itu, membuatnya tak terlihat dari jalan setapak di hutan bambu.

Kinan berbaring di bawah pokok tua yang sudah tidak berbuah. Telentang dan memejamkan mata tanpa berusaha lebih jauh melindungi bagian-bagian intimnya. Kinan tidak peduli lagi dirinya telanjang atau tidak. Kinan bahkan tidak peduli si kakek atau sapi-sapi yang merumput di dekatnya bisa melihat payudara mulus atau semak rimbun di pangkal pahanya.

Rumput tebal di bawahnya cukup empuk sebagai alas tidurnya. Jika saja tidak ada ancaman tungau dan semut rasanya Kinan tidak ingin beranjak dari tempat ini! Angin berhembus sepoi-sepoi membelai kulit telanjang Kinan dan dirinya sudah setengah bermimpi sedang berlibur di sebuah resor nudis ketika merasakan sentuhan jahil di puting susunya. Kinan berdehem memperingatkan.

Ish! Nih si kakek kumat lagi mesumnya, batin Kinan agak sebal. Tapi karena malas meladeni, Kinan memejamkan mata sambil pura-pura tidur. Tapi tak seberapa lama, sentuhan jahil kembali mendarat sekali lagi kali ini di kedua putingnya diikuti suara terkekeh-kekeh jahil. Kinan berdehem sekali lagi. Tapi tangan si kakek bukannya pergi malah semakin lancang membelai-belai tulang selangka Kinan dengan tangan kasar penuh kapalan. Kinan berdehem untuk yang terakhir kali. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Ketika tak ada tanda-tanda si kakek bakal menghentikan gerak jarinya, jantung Kinan terpaksa berdetak sedikit lebih cepat, menimbang-nimbang antara hendak menyergah atau malah membiarkan si kakek menggerayangi tubuhnya lebih jauh seperti kemarin malam. Wajah Kinan agak tersipu karena malu mengakui bahwa diam-diam dirinya penasaran juga. Lagian kakek kurus ini emang bisa ngapain aja, sih? Siang bolong, orangnya cungkring juga. Ditiup sedikit aja pasti bakalan goler, batin Kinan merasa geli sendiri sama jalan pikirannya yang rada-rada abnormal. Maka alih-alih menolak tegas, Kinan malah menarik nafas tegang mengantisipasi kedatangan jari-jari kotor itu ke atas salah satu bagian tubuhnya yang paling privat.

Sinar matahari yang menyusup dari sela-sela daun kelapa jatuh di atas gundukan bundar dada Kinan yang berselemak keringat, menimbulkan kilauan-kilauan erotis saat partikel-partikel cahaya membias di atasnya. Tangan kotor Pekak Gedang mengusap lembut bulir-bulir keringat Kinan, seolah tak sabar ingin merasakan kekenyalan dan kelembutan bongkahan daging ranum milik remaja itu. Kinan bisa merasakan tangan kapalan si kakek yang membelai-belai kulit mulusnya sambil sesekali menggoyang-goyangnya gumpalan kenyal itu dengan jenaka. Memberikan rangsangan-rangsangan menyenangkan pada tubuh Kinan yang tanpa sadar mulai menikmati perlakuan si kakek mesum.

“Kakek... sudah, ya... kakek jangan nakal lagi... itu susu saya... ndak sopan kalau megang-megang susunya anak perempuan...” Kinan akhirnya memperingatkan dengan halus. Bukannya takut sama si kakek, tapi takut birahinya malah naik gara-gara digrepe kakek-kakek bau tanah. Tahu sendiri kan, kalau si lonte udah kadung horny jadinya kaya gimana?

“Ah, yang benar? Bukannya anak paling suka kalau susunya diremas-remas? Hehe... hehe...” sambar si kakek yang seketika membuat wajah Kinan agak bersemu.

Ini kakek mulutnya kurang ajar banget sih! batin Kinan keki, t-t-tapi kalau dipikir-pikir yang dibilangnya itu memang ada benernya juga, sih... huhuhu... Kinan jadi malu sendiri karena merasa dirinya munafik banget....

Sebenarnya Kinan sudah ingin menepis tangan si kakek. Tapi belaian-belainan dan remasan-remasan yang dilakukan pengidap gangguan jiwa itu sudah terlanjur membuat jantungnya berdebar-debar dan memenuhi pembuluh kapiler tajuk-tajuk payudaranya dengan aliran darah hingga membuatnya semakin tegak dan menantang.

Pekak Gedang membeliak berbinar menyaksikan keindahan sepasang puting cokelat muda yang mencuat dari tengah aerola, memaksanya menelan ludah berkali-kali. Kinan tak tahu apakah masih ada pancaran birahi dalam lelaki tua itu tapi dari caranya memandang dirinya saat ini, Kinan menyadari bahwa kadar testosteron pria itu sedang diuji.

Rona-rona merah muda mulai mewarnai pipi lucu Kinan bersama butiran keringat yang berkilat menghiasi wajah manisnya. Kinan malu pada dirinya sendiri, tapi juga penasaran sekaligus merasa erotis di saat yang sama. Bagaimana bisa remaja solehah dirinya membiarkan seorang kakek tua pengidap gangguan jiwa menggerayangi tubuhnya? Sebegitu rendahkah moralitasnya sampai-sampai tega menjadikan seorang kakek tua sebagai target eksibisi? Tapi kali ini hati nurani harus rela mempertuan nafsu hewani. Dan ketika menyadari bahwa telah terbit hasrat birahi dari tatapan mata kakek tua yang seolah ingin menelan payudaranya bulat-bulat, sisi binatang di alam bawah sadar Kinan malah menjerit bahagia!

“Nyonyo.... nyonyo...” si kakek tampak makin girang sekali menggerepe bagian sensual tubuh Kinan..

“Iya... nyonyo saya itu...” Kinan menyahut lirih, semakin termakan oleh hasutan birahinya. “Uhhhm... kenapa, kek? Kakek... suka... nyonyo saya?” desau Kinan nyaris tak terdengar.

Pekak Gedang mengangguk cepat.

“Kalau begitu... pecil sampun, pekak...,” wajah Kinan merah padam, merasa jengah oleh kata-kata lacurnya sendiri.

_______________________________________

|Nyonyo = payudara|

|Pecil sampun, pekak = remes sudah, kakek...|
_______________________________________


Merasa mendapat nota persetujuan, dengan girang kedua tangan Pekak Gedang menjangkau sepasang puting cokelat muda Kinan yang dilapisi keringat, lalu dengan telunjuk dan ibu jarinya dia menjepit dan menarik-narik benda lentur itu saking gemasnya hingga melenting indah. Seketika Kinan menggelinjang pelan, tanpa sadar punggungnya melengkung nikmat sehingga sepasang payudaranya ikut membusung seolah menantang Pekak Gedang untuk menangkupkan telapak kapalannya secara sempurna dan mulai meremas-remas kedua bongkahan kenyalnya bersamaan.

Kinan gemetar hebat, mati-matian menahan tubuh montoknya yang sudah ingin menggelinjang nikmat di depan laki-laki tua itu. Meski tidak mungkin, tapi Kinan masih ingin menjaga sedikit sisa dari harga dirinya. Kinan menggigit kuat-kuat agar desahan-desahan erotisnya yang sudah ingin keluar dari kerongkongan tidak sampai terdengar oleh Pekak Gedang. Tapi ketika putingnya jadi sasaran, Kinan sudah tak mampu lagi menahan erangan pelan yang keluar saat bagian tubuh paling pribadinya diremas dan dipilin oleh kakek-kakek tua pengidap gangguan jiwa. Hingga tanpa sadar, tahu-tahu saja bibir Kinan sudah terbuka mengundang dan mengeluarkan desahan-desahan erotis setiap kali sela-sela jari Pekak Gedang menarik-memilin puncak-puncak ranum dadanya.

“Mmmmmh..... Sssssh.... kakeeeeeeek nakaaaal... putingnya Kinan... digituiiin.... kan... geli... uuuuuuhhh....” pinta Kinan manja sambil menggeliat menggoda.

Jakun Pekak Gedang turun naik melihat tubuh montok Kinan yang pasrah berbaring telentang di bawah pohon kelapa. Sepasang payudara mengkalnya kini sudah belepotan tanah karena diremas-remas tangan kotornya. Lipatan-lipatan lemak menggemaskan di daerah perut Kinan yang dipenuhi rona kemerahan dan bulir keringat menandakan bahwa saat ini hasrat berkembang biak tengah bergejolak ramai di bawah perut remaja berusia 18 tahun itu. Pandang birahi si kakek kemudian turun menuju area sensual yang berhiaskan bulu-bulu lembut, dan tak perlu menunggu lama hingga Kinan merasakan belaian lembut di atas rambut-rambut pubisnya.

Tangan kasar si kakek tiba di pangkal pahanya yang lembab, menggesek pelan tonjolan kelentit yang berada tepat di bawah lubang kencing hingga tubuh Kinan disengat rasa geli bercamput nikmat yang membuatnya semakin hilang akal. Mengikuti insting binatangnya, sepasang paha Kinan bergerak membuka, seolah ingin memberikan ruang bagi jari kotor si kakek untuk membelai lebih jauh lagi relung intimnya. “Hayoh... Kakek mulai nakal, ya... pepeknya Kinan... kok malah dicelek-celek...?” rengek Kinan manja, sambil membuka lebih banyak lagi pahanya hingga mengungkap seutuhnya sebongkah gundukan tembem dengan bibir merah muda yang sudah mengkilap indah oleh cairan pelicin.

____________________________________

|Dicelek-celek = ditusuk-tusuk dengan jari|
____________________________________



Mata Kinan terpejam makin erat. Bayangan seorang gadis remaja yang bergumul dengan kakek-kakek tua bangka di alam terbuka justru membuat kewanitaannya semakin membanjir. Hingga tanpa disadari pinggulnya mulai ikut bergerak menyambut gerakan jari si kakek gila pada memeknya. Bibir Kinan yang sedari tadi digigit demi menahan gengsi, kini sudah tak malu-malu lagi mengeluarkan desahan −yang walaupun lirih sudah cukup bisa menjabarkan betapa nikmatnya permainan jari si banteng tua.

Sambil cengar-cengir Pekak Gedang menjilati ujung jarinya sendiri yang dilelehi cairan cinta demi mencicipi gurihnya lendir si montok. Cuping hidungnya terlihat mengembang-mengempis liar, mengendus-endus kesana kemari, mencari-cari muasal dari aroma asam yang menguar dari celah sempit di pangkal paha Kinan.

Pekak Gedang membungkuk dan menghidu aroma kewanitaan yang tercium jelas dari sepasang labia yang sudah terkuak, hingga tinggal Kinan yang hanya bisa mendengus-dengus geli merasakan embusan nafas si kakek di bagian tubuhnya yang paling pribadi.

Hu-uuuh! Kinan menggeliat jijijk merasakan mulut ompong si kakek mencaplok bulat-bulat gundukan tembem kewanitaannya. Bibir kakek yang pecah-pecah mencucup rakus belahan memek Kinan tanpa permisi. Lidahnya yang bau dengan berisik meyeruput lelehan lendir gurih dari lubang kawin yang mirip isi perut siput itu. Kinan menggelinjang tak rela. Siapa yang bisa tahan untuk tidak menjerit geli ketika kelentitnya digigit-gigit oleh sebaris gigi-geligi yang sebagian sudah bergoyang-goyang?!

“Kyaaaaaah!!! kakek... kakek.... gelii... geliiii... aduuuuh.... aduuuuuuuh....,” Kinan menggeleng-geleng panik ketika kepala botak itu semakin terbenam di antara sepasang pahanya. Lidah si kakek sekarang tidak hanya bermain di atas lembah cinta Kinan tapi mulai turun menjilati lubang anusnya. Menciumi, dan melumat-lumat lubang tubuh Kinan yang paling menjijikkan.

Diserang tepat pada titik lemahnya, membuat Kinan segera merasakan sengatan nikmat yang diakrabinya, tubuhnya yang mulai menegang hebat pertanda klimaksnya akan tiba tak lama lagi. Nafas Kinan semakin tersengal dan bibirnya yang basah mengucapkan kata-kata jorok, “Aduuuuh... kakeeeek.... kakeeeek... pepeknya Kinan diapaaainn... pepeknya Kinan... aduuuh... aduuuh... Kinan mau pipish... Kinan mau pipiiiiiish... pipiiiiiiissss!!!!”

Kinan merasakan rasa gatal yang mulai menyebar dari selangkanannya seperti sebuah reaksi berantai. Dimulai dari klitoris, paha, perut, puncak-puncak payudara, dan ujung-ujung jari tangannya yang gemetar satu-persatu. Hingga tak ada satupun serabut otot lurik Kinan yang tak berkontraksi. Sekujur tubuh montok Kinan mengejang dan menggelinjang, digulung gelombang demi gelombang kenikmatan hewani yang menyapulenyapkan akal sehatnya. Kinan hanya merasakan lubang anusnya ditusuk dengan jari dan kelentitnya dihisap kuat-kuat ketika erupsi peju kenikmatannya meyembur laksana air terjun niagara diiringi ekstase orgasmik yang melengking seksi.

Kinan bernafas tersengal memburu udara sekitar. Konsentrasi oksigen yang menurun di dalam otak membuat kepalanya terasa ringan hingga tak menyadari si kakek sudah merangkak di atas tubuhnya. Barulah saat kulit telanjangnya merasakan kulit Pekak Gedang yang kasar bersisik, Kinan menyadari bahwa si kakek gila tengah berusaha menyetubuhi seorang anak yang lebih cocok menjadi cucunya. “Kakeeeek... kakeeeekh pornooo.... ssssssshhh... Kinanh... masa... mau dientoth juga....?” Kinan mendesah resah merasakan kejantanan purbakala yang coba digesek-gesekkan sia-sia di atas belahan tembemnya yang sebenarnya sudah becek dan siap menerima penetrasi. Tapi seperangkat kejantanan dan buah zakar yang kadaluarsa itu sepertinya tak memiliki cukup konsentrasi testosteron untuk melawan gaya gravitasi.

Tak lagi menghiraukan harga dirinya, Kinan menjangkau selangkangan Pekak Gedang, membelai zakar keriput dan mengarahkannya mendekat ke wajahnya. Menyadari isyarat sang betina, sang pejantan tua merangkak naik dan mengangkangi wajah Kinan sehingga batang kejantanannya yang setengah berdiri menampar-nampar pipi Kinan yang lucu.

Kinan menahan nafas, aroma amis bercampur sengak pesing yang memenuhi paru-parunya sebenarnya bisa membuatnya muntah. Tapi melihat si kakek yang mendengus-dengus ingin bersetubuh membuat Kinan jatuh iba dan merelakan bibir imutnya dimasuki batangan kotor yang tak pernah diceboki selama bertahun-tahun. “Hmmmmph... kakekh... sinihhh... hmmmmphhh... enthotinh mhuluth Kinanh.... hmmmmphhh... mmmh....” Wajah Kinan yang lucu tampak makin menggemaskan ketika mencoba melahap batangan lemas si kakek lalu mengemut-emutnya seperti sedang melahap gulali. Bibir Kinan yang fasih melafalkan ayat-ayat suci itu kini dipenuhi oleh batang kontol bau milik seorang kakek tua pengidap gangguan jiwa. Melengguh-lengguh, Kinan mengucapkan kata-kata jorok seiring air liurnya yang deras menetes dari sela-sela bibirnya, “mmmmh.... kakeeeeekh.... muncratinh... kekh... muncratinh dhi mhuluth... Kinanh.... mmmmhhhhh....”

Bibir Pekak Gedang monyong-monyong komat-kamit tak jelas beberapa kali diikuti tubuh kurus si kakek yang mulai kejang-kejang karena tanpa sadar Kinan menyedot perkakasnya kuat sekali. Pantat si kakek bergerak liar, menandak dan menghenyak hingga batang kejantanannya terbenam di pangkal kerongkongan ketika peju orgasmenya yang tak pernah dimuntahkan selama satu dasawarsa menyembur pecah dalam mulut remaja itu.

Kinan termegap-megap kaget, merasakan rongga mulutnya tiba-tiba dipenuhi lendir encer yang terasa asin, Kinan mencoba mendorong tubuh si kakek tapi Pekak Gedang yang sedang kalap kelojotan malah menjambak rambut Kinan dan mendorong kuat-kuat batang kontolnya sehingga membuat benih si kakek tertelan ke dalam lambung. Kinan tersedak hebat hingga cairan putih kehijauan itu tampak meleleh keluar dari sela-sela bibirnya yang sensual dan jatuh menyusuri lesung pipinya yang manis.

Pekak Gedang menarik batang kejantanannya, dan muntahan peju kadaluarsa bercampur saliva segera menghambur tumpah dari dalam bibir sensual Kinan dan terececer hingga atas bongkahan dadanya yang sintal. Pekak Gedang tersungkur lemah di bawah pohon kelapa, dada kurusnya kembang-kempis berusaha memasukkan udara ke dalam paru-parunya. Matanya yang keruh menatap kosong pada daun-daun kelapa semakin lama tampak semakin kabur di matanya. Tapi sekilas Kinan bisa menangkap senyum si kakek melebar dan semakin melebar sebelum akhirnya beliau terkekeh-kekeh sendiri. Kinan memejamkan matanya erat-erat. Suara kekehan bahagia si kakek masih terdengar bahkan ketika ia berjalan menjauh seperti seorang prajurit yang menang perang!


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●


Kinan sempat khawatir si kakek terkena serangan jantung. Atau setidaknya asma kronisnya kumat setelah dibikin muncrat. Tapi si kakek ini agaknya memang makhluk ajaib. Setelah joget-joget SKJ sebentar si kakek melenggang sempoyongan menuju arah kota. Kinan sekilas menangkap bayangannya yang melambai-lambai sebelum menghilang di balik rumpun lebat tanaman jagung.

Sebenarnya Kinan agak sedikit merasa bersalah juga karena menjadikan seorang kakek pengidap gangguan jiwa sebagai pelampiasan nafsunya. Tapi kali ini hati nurani Kinan yang biasanya cerewet menceramahi bahkan ikut bungkam. Mungkin jengah sendiri dengan kebiadaban sisi lonte Kinan yang malah tidur siang di alam bawah sadar setelah puas menodai kepolosan si kakek lucu.

Hampir seharian ini Kinan menatap kosong ke arah cakrawala yang membentang di hadapannya. Matahari telah tergelincir ke barat dan warna merah mulai tampak bergradasi pada biru langit. Dengan tatapan mengawang, Kinan duduk di saluran irigasi yang membelah sebuah ladang ketimun, membiarkan sinar ultraviolet menggelapkan pigmen kulitnya menjadi sedikit kecokelatan.

Seorang anak memandikan sapi tak jauh dari tempatnya duduk. Seorang anak bermain-main dengan seekor anjing kintamani di antara rumpun bunga kumitir di pinggiran talud irigasi. Alangkah bahagianya anak-anak itu, batin Kinan sambil melemparkan pandangannya menuju ufuk timur sekumpulan anak-anak usia sekolah dasar sedang mencari belut di dalam parit berlumut. Kinan bisa melihat tawa riang anak-anak itu ketika memegang makhluk air berlendir yang menggeliat tak terima dimasukkan ke dalam keranjang rotan.

Kinan teringat sebungkus tas keresek berisi kain sarung dari Badeng yang terlanjur berpindah tangan pada si kakek yang sudah menghilang. Padahal kalau mau Kinan bisa berpakaian dan kembali ke kehidupan normal. Mungkin Badeng ada benarnya juga. Mungkin dirinya yang memang ingin terus-terusan telanjang.

Kinan sedang termenung ketika seekor anjing Kintamani berwarna cokelat keemasan mendekatinya sambil menggoyang-goyang ekor. Wah, lucunya! Kinan membelalak takjub melihat anjing bermata biru itu. Tangan Kinan mengulur dan anjing itu cukup jinak untuk membiarkan kepalanya diusap-usap sambil menandak-nandak girang. Dari kecil Kinan ingin sekali memelihara seekor anjing seperti Snowy dalam komik Tintin, meski keluarganya yang muslim tak akan pernah setuju. Najis, kata mereka. Meskipun menurut Kinan anjing adalah hewan yang paling lucu dan setia.

Kinan menggeliat geli ketika moncong lembab si gukguk menyentuh pahanya. Kinan bisa merasakan nafasnya yang panas mendengus-dengus menghidu partikel feromon yang dikeluarkan oleh organ intim Kinan. Aroma kewanitaan Kinan yang khas mengundang si guguk mencari sumber bau asam yang berasal dari relung kesuburan di pangkal pahanya. “Ih! Gukguk lucu nggak boleh nakal, ya...,” pinta Kinan sambil mendorong kepala anjing yang sedang berusaha kuat masuk ke bawah selangkangannya. Dan ketika Kinan merasakan sapuan lidah kasar di atas lubang kencingnya, jiwa lonte Kinan yang sedang tidur siang segera menyambut bahagia.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar