Naked Adventure 8: Hasrat Abnormal

Credit to Jaya Suporno



Bagaimana kisah ini akan diakhiri? tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas di benak Kinan. Seharusnya bisa saja ia melapor ke kantor Polisi, mengaku sebagai korban perampokan dan perkosaan. Paling-paling Kinan cuma diinterogasi. Masuk koran bisa jadi. Atau kemungkinan terburuk Kinan bakal digampar oleh sang ayah yang agaknya lebih murka karena motornya hilang ketimbang anaknya yang jadi korban perkosaan.

Tapi ketimbang straighforward menuju ending yang happilly ever after, Kinan malah memilih jalan memutar. Mungkin karena dirinya yang sudah tidak ingin lagi memakai baju untuk selamanya. Mungkin juga karena Kinan yang masih ingin terus-terusan telanjang di tempat ini daripada kembali kepada keluarganya yang represif. Siapa yang tahu?

Kinan cuma takutnya dirinya malah keterusan aja. Idih, amit-amit jabang bayi kalau Kinan ampe gila beneran kaya si Pekak Gedang, jalan-jalan telanjang bulat kemana-mana... Pipis dan berak di depan umum... Pamer-pamer alat kelamin sama banyak orang... lho, kok? Semuanya persis sama kaya fantasi Kinan, sih?! batin Kinan malu sendiri sama fantasinya yang... ehem −jujur aja... emang abnormal!

Maka alih-alih membersihkan diri. Kinan mengambil segenggam lumpur dari saluran irigasi dan mengusapkannya hingga sekujur tubuh montoknya tertutup lapisan hitam tanpa terkecuali. Segenggam lagi diraupkan ke atas rambut dan wajah, sehingga raut manis Kinan sekarang mirip tokoh utama dalam serial televisi Nakusha. Eh, emang jaman segitu udah ada Nakusha? Hehehe...

Dengan penampilannya yang ‘baru’ Kinan tak ragu-ragu lagi berjalan memasuki kawasan turis yang notabene lebih ramai dari kawasan perkampungan. Hanya dengan lumpur kering yang membalut tubuh telanjangnya Kinan melewati deretan kafe dan restoran yang menjual hidangan internasional, sambil berharap-harap dirinya tidak diciduk pecalang atau satpol PP.

Reaksi turis-turis mancanegara tentu berbeda dengan warga desa yang langsung terperanjat kaget melihat penampakan sosok montok berselemak lumpur. Misalnya aja, waktu ada cewek-cewek bule lewat naik sepeda di depan Kinan, si cewek sarap sengaja ngeden sambil berdiri. Akibatnya tinggal anak-anak bule itu yang terpekik ketakutan melihat cairan kuning keruh yang menyembur kencang balik bulu jembut Kinan yang lebih lebat dari hutan bakau! Myehehehe... jadi orang gila mah bebas... seru-seru-seru, batin Kinan sambil ketawa-tawa sendiri. Sampai akhirnya Kinan jadi cape sendiri karena belum makan siang. Untungnya seorang pegawai rumah makan Padang jatuh iba dan memberi Kinas sebungkus nasi berlauk ayam pop dan kuah rendang, meski ujung-ujungnya minta imbalan meremas-remas buah dada Kinan yang kenyal. Iya deh, Uda... puas-puasin deh grepein toketnya Kinan, hihihi, batin si lucu sambil memasang tampang ala orang gila beneran yang jatuhnya malah ngegemesin!

Huft. Biarin deh, yang penting dapat makan gratis, batin Kinan yang tidak sadar remasan si Uda membuat birahinya naik lagi! Hehehe....


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Waktu sampai di sebuah sungai kecil di pinggiran desa, kaki Kinan yang udah pegel-pegel kayanya nggak mau diajak jalan-jalan lagi. Ternyata cape juga pura-pura jadi orang gila! Kinan ketawa sendiri. Akhirnya si montok cuma goler-goler lemes di bawah pohon kelapa. Sepi, karena sawah di daerah itu kebanyakan sudah dipanen semua.

Langit yang nyaris tak berawan menampakkan gunung Batur yang bertakhta agung di utara. Di ketinggiannya, kaldera gigantis yang berisi jutaan galon air membentuk danau vulkanis yang mengalirkan sungai-sungai besar dan belasan anak sungai yang membelah lembah-lembah kehijauan di lereng-lerengnya. Sawah-sawah dibentuk dalam lanskap bertingkat-tingkat mengikuti kontur tanah dengan penduduk berkulit sawo matang yang melenggang dalam keseimbangan menakjubkan di atas pematang-pematangnya. Pucuk-pucuk nyiur. Kawanan bangau yang terbang rendah. Kinan memandangi itu semua dengan senyum mengembang di bibirnya.

Kinan duduk di pinggir pematang, telanjang dengan kaki menjuntai menyentuh permukaan berlumpur di bawahnya. Bungkus nasi padang terbuka di atas pangkuannya dan mengepulkan aroma santan yang lezat ke udara.

Kinan sedang menghabiskan potongan ayam popnya ketika seekor anjing Kintamani berbulu cokelat keemasan mendekat sambil menggoyang-goyangkan ekor. Moncongnya mengendus-endus, lidahnya menjulur jenaka, berharap bidadari baik hati di depannya ini sudi memberikan sisa tulang yang tidak termakan.

Wah, lucunya! Kinan membelalak takjub melihat anjing bermata biru itu. Tangan Kinan mengulur dan anjing itu cukup jinak untuk membiarkan kepalanya diusap-usap sambil menandak-nandak girang. Dari kecil Kinan ingin sekali memelihara seekor anjing seperti Snowy dalam komik Tintin, meski keluarganya yang muslim tak akan pernah setuju. Najis, kata mereka. Padahal menurut Kinan anjing adalah hewan yang paling lucu dan setia!

“Anjing lucu namanya siapa?” tanya Kinan lucu.

“Gukguk!” si gukguk menyalak dua kali.

“Waaah jadi namanya Gukguk, yah....”

Hehehe, Kinan ketawa sendiri karena dirinya jadi kaya orang gila betulan karena berbicara dengan seekor anjing.

“Hehehe... Guguk lucu mau makan?”

“Guk! Guk! Guk!” si gukguk menggoyang-goyang ekor ketika Kinan menyodorkan sepotong tulang berikut sisa-sisa nasi yang bersalut kuah rendang.

“Enak?”

“Guuuuuk!!!” Si gukguk menyambut girang.

Perut kenyang dan angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat kelopak mata Kinan terasa berat. Kinan menguap panjang, lalu menyandarkan punggungnya di sebuah batang pohon kelapa. Tidur siang sebentar boleh juga sambil menunggu matahari terbenam, batin Kinan.

Tapi belum sempat Kinan memejamkan mata, si guguk lucu tahu-tahu saja naik ke atas pangkuan Kinan dan menyalak jenaka.

“Apa gukguk lucu...? Mau makan lagi? Tapi tulangnya sudah habis, niiii...” Kinan mengekeh gemas sambil membelai-belai rambut halus anjing itu.

Rupanya hewan cantik berambut cokelat itu hanya ingin bermanja-manja di atas pangkuan Kinan, membiarkan anak itu mengusap-usap kepalanya. “Tuannya guguk di mana?” tanya Kinan, karena anjing secantik dan sejinak itu pastilah bukan anjing liar.

“Guk!” si guguk menyalak jenaka lalu menjilat paha Kinan.

Kinan segera menggeliat geli.

“Guk! Guk!” si guguk menjilat lagi, kali ini mendarat di atas rambut pubis Kinan.

“Ih, Gukguk lucu... jangaaan... kakak kan geli...,” rengek Kinan manja ketika moncong lembab si gukguk menyentuh kulit pahanya. Kinan bisa merasakan nafas binatang berdarah panas itu yang mendengus-dengus menghidu partikel feromon yang dikeluarkan oleh organ intim Kinan. Aroma kewanitaan Kinan yang khas agaknya mengundang si guguk mencari sumber bau asam yang berasal dari relung kesuburan di pangkal pahanya.

“Hayoh. Gukguk lucu nggak boleh nakal, ya!” pinta Kinan sambil mendorong kepala anjing yang sedang berusaha keras masuk ke bawah selangkangannya. Tapi ketika Kinan merasakan sapuan lidah kasar di atas lubang kencingnya, jiwa lonte Kinan yang sedang tidur siang segera menyambut bahagia.

Wajah Kinan berubah merona menyadari pikiran-pikiran gila yang berkelebat dalam otaknya. Sambil mengusap-usap rambut lebat anjing ras lokal itu Kinan melebarkan pahanya sedikit, seolah memberikan lebih banyak lagi kesempatan bagi si guguk untuk menjilati lendir gurih yang mulai meleleh dari belahan rapatnya sepuas hati. Aneh banget, ih! batin Kinan geli sendiri karena lidah kecil si guguk beda banget sama lidah cowok-cowok yang pernah mengoral Kinan selama ini −Oom Burhan, Gede, Badeng, dan iya si kakek ompong juga dihitung!− karena moncong lembab yang mendengus-dengus di memeknya malah membuat Kinan kegelian ketimbang erotis!

Wajah Kinan semakin bersemu kemerahan membayangkan adegan seks beda spesies yang pernah dibacanya di salah satu majalah stensilan, sambil mengira-ngira dalam hati, sejauh manakah dirinya berani melangkah... Sungai kecil itu sedang sepi-sepinya dan rasanya tak ada yang peduli pada kehadiran seorang remaja telanjang yang mengadu kelamin dengan seekor anjing sekalipun... tapi tetap saja... Remaja berwajah manis itu menggigit bibir bawahnya yang merah muda, seolah menimbang-nimbang sejenak. Tapi masa sama anjing, sih? Yang bener aja, dong! Gimana kalau sampai hamil? Eh, emang bisa hamil beneran, ya? Kan kromosomnya beda! suara batin Kinan terdengar saling bertikai.

Tapi kontras dengan apa yang ada di pikirannya, tubuh Kinan justru mendamba begitu hebat akibat bayangan mental seorang remaja soleha yang disetubuhi oleh seekor pejantan dari spesies yang berbeda. Menyadari bahwa harkat dan martabatnya sedang berupaya didegradasi hingga berada setingkat dengan seekor anjing justru membuat kewanitaan Kinan semakin deras mengalirkan lendir gurih yang dijilat-jilat oleh hewan yang dianggap najis itu.

Jantung Kinan seperti hendak melompat ke tanah ketika remaja manis itu akhirnya memutuskan untuk menuruti hasutan birahinya. Dengan wajah merah padam menahan malu, lonte manis berwajah innocent itu lalu membuka selangkangannya lebar-lebar, membiarkan lidah kecil si gukguk yang kasar menyapu sekujur belahan memek bahkan menguas hingga lubang anus. Klitoris Kinan yang sudah mengeras tampak paling menonjol dari dalam belahannya yang rapat dan segera menjadi daerah kesukaan binatang berkaki empat itu. Penuh hasrat, si gukguk menghujani segumpal daging berbentuk kacang itu dengan jilatan-jilatan mesum yang membuat mata sang betina merem-melek keenakan.

Kinan telah basah. Dan anjing itu dengan lahapnya menyeruput-nyeruput cairan gurih yang terus meleleh-leleh deras dari dalam gundukan tembem Kinan sambil menggeram-geram birahi. Kinan sedang mendecap-decap keenakan berusaha menggapai puncak birahi, ketika gendang telinganya menangkap suara langkah mendekat....


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​



“Balung!!! Hei! Balung! Haduh... Haduh... Dicariin dari tadi ternyata ada di sini!!! Heh!! itu Kakaknya jangan digangguin!!! Hei!!!” seorang anak memekik khawatir karena peliharaannya sedang menjilati selangkangan Kinan yang sedang merem-melek sehingga tampak seperti orang gila betulan.

Kinan menggeragap panik karena tindakannya terpergoki dan cepat-cepat mendorong si guguk menjauh dari pahanya. “I-ini anjing kamu?”

Si kecil tersenyum kecut, agak ngeri dengan sosok orang gila yang sudah menjadi buah bibir warga desa selama satu hari belakangan ternyata memiliki hasrat abnormal dengan penjantan beda spesies.

“M-m-maaf, kak... k-kalau a-a-anjing s-saya s-sudah mengganggu.. a-anjing saya... jangan diapa-apaken, ya...,” kata anak itu, memperhatikan baik-baik wajah Kinan yang tampak tidak karu-karuan karena terbakar birahi.

“Hu-uh, orang saya lagi duduk enak-enak malah digangguin... dasar anjing nakal!” Kinan mencoba memasang raut judes di atas wajahnya yang bersemu. Gengsi sekali rasanya dipergoki sedang berbuat mesum!

“E-eh...? i-iya... ini... anjing ini... memang nakal... hayoh... Balung! Ayo pulang! Itu pepek kakaknya jangan dijilat-jilat!” Anak itu mencoba menarik hewan peliharaannya yang belum rela berpisah dari ceruk keintiman Kinan.

“Woy! Lennon! Ngudiang ci ditu! Nak buduh, to! Nyegut nyanan, mare ci nawang!!! Ahahaha!!!”

Terdengar suara berteriak dari arah sungai. Seorang anak yang bertubuh tinggi-gempal mendekat diikuti seorang anak lagi yang bertubuh gemuk-hitam.

_____________________________________

| Woy! Lennon! Ngudiang ci ditu! Nak buduh, to! Nyegut nyanan, mara ci nawang!!! = Woy! Lennon! Ngapain kamu di situ?! Orang gila itu! Digigit nanti, baru kamu tahu rasa!!! |

| Mbok = kakak perempuan |
_____________________________________

Kinan tersenyum sayu. “Itu teman-temannya?”

“I-iya...” jawab anak yang dipanggil Lennon itu takut-takut karena peliharaannya masih betah menjilati rambut pubis Kinan.

“Adik namanya Lennon? Seperti nama pemain musik itu?” ujar Kinan yang mulai bisa mengendalikan dirinya.

“Iya, mbok! Yang ini Lennon, mbok! Kalau mau gigit, gigit dia saja! Hahahaha!” dua anak yang mencari belut datang sambil mengolok-ngolok.

“Ndak usah takut. Saya bukan orang gila,” Kinan berkata sambil tersenyum melihat tingkah polah ketiga anak itu. “Saya sebenarnya bidadari. Baju saya dicuri orang. Jadi saya tidak bisa pulang ke kahyangan....”

Ketiga anak itu saling pandang dengan ekspresi, ‘nah-ternyata-benar-kan-orang-gila-betulan’.

Kalian lagi apa?” Kinan tersenyum memulai.

“Ini, kak! Lagi menangkap belut!” kata seorang yang berbadan paling bongsor lalu memperlihatkan satu keranjang penuh berisi makhluk berlendir.

“Ih! Kasihan! Buat apa belut ditangkapin?”

“Dimakan, kak! Digoreng!” sambut anak yang paling gemuk tapi paling hitam.

“Enak nggak? Saya mau dong!”

“Yeee... enak saja, kalau mau kakak tangkap sendiri, dong!” sahut yang paling bongsor sambil tergelak-gelak.

“Makanya ajari saya, ya! Di Kahyangan tidak ada belut soalnya!” ucap Kinan sungguh-sungguh.

“Huuuuuu... kenalan dulu, dong... Kakak bidadari namanya siapa?” si bongsor memepet Kinan sambil mencuri-curi lirik ke arah payudara mengkal Kinan yang tak ditutupi.

Hihihi, anak-anak ini sudah punya nafsu juga rupanya batin Kinan. Padahal anak-anak itu tingginya tak sampai pundak Kinan. Barangkali masih SD atau SMP, batin Kinan menaksir-naksir.

Anak yang paling bongsor bernama Ketut Gobel, tampak paling bengal dan paling badung di antara ketiganya. Rambut jabrik. Codet di dahi. Postur tubuhnya yang paling kekar membuat anak bungsu dari 4 bersaudara ini dianggap sebagai pimpinan bagi anak-anak desa. Penekek, bahasa gaulnya. Seharusnya Gobel masuk SMP tahun ajaran ini, tapi karena tinggal kelas dia harus mengulang satu tahun lagi.

Anak yang badannya paling gemuk dan paling hitam dipanggil Celeng. Sebenarnya nama aslinya Made Sujana, hanya karena berat badannya yang berlebih anak itu harus merelakan namanya diubah menjadi Celeng. Walau tubuhnya pendek dan gemuk Celeng tidak segan-segan berkelahi sehingga didaulat sebagai tangan kanan sang penekek.

Nyoman Lennon adalah yang paling tinggi, paling, ceking dan paling ganteng. Ayahnya penggemar The Beatles dan ingin menamai anaknya dengan nama pentolan grup band asal Liverpool itu. Sebenarnya Lennon paling polos di antara ketiganya. Hanya karena persahabatan sejak SD saja yang membuat anak itu setia mengikut kemanapun Gobel dan Celeng pergi.

Matahari telah condong ke barat, dan lembah sungai kecil itu mulai semarak dengan suara anak-anak yang bermain air.

Di tingkat paling rendah dari rangkaian sawah terasering itu adalah aliran sungai kecil yang seberapa lebar dan diapit rumpun bambu lebat, seorang anak memandikan sapi di dalamnya. Beberapa anak usia sekolah dasar sedang mencari belut di parit irigasi berlumpur yang terletak pararel dengan aliran sungai. Kinan bisa melihat tawa riang anak-anak itu ketika memegang makhluk air berlendir yang menggeliat tak terima dimasukkan ke dalam keranjang rotan.

Hampir seharian itu Kinan bermain-main dengan anak-anak desa sehingga melupakan kenyataan bahwa dirinya tidak berpakaian sama sekali. Kinan berkubang dalam lumpur menangkap belut dan melakukan hal-hal gila yang selalu dilarang oleh orang tuanya. Hingga akhirnya anak-anak itu tidak canggung lagi mendaratkan ledekan-ledekan gombal ke arah remaja nirbusana itu.

_____________________________________

|Melalung legot = telanjang bulat |
|Nyoyo = payudara |
_____________________________________


“Kak... kakak ndak malu melalung legot seperti itu?” tanya Lennon agak tersipu, karena sepertinya Kinan sengaja memamerkan ketelanjangannya pada mereka.

“Kenapa harus malu? Di tempat saya semua bidadarinya telanjang bulat cuma pakai selendang...,” jawab Kinan mengada-ada.

“Ah, yang benar...?” sergah Gobel tak percaya.

Kinan mengangguk manja. “Cowok-cewek... telanjang semua....”

“Yang secantik kakak, banyak?” Celeng menambahi.

Kinan mengangguk pasti.

“Yang nyonyo-nya besar seperti kakak...?” ia bertanya lagi

“Masa? ndak usah menggombal... masa nyonyo saya besar?” Kinan menggembungkan pipi lucunya sembari menopang kedua gumpalan kenyal dadanya dengan telapak tangan.

Anak-anak itu mengangguk serempak.

“Seksi sekali, kak! Mirip kaya susunya turis-turis!” Celeng menelan ludah melihat sepasang puting yang mencuat seksi dari tengah aerola karena dijepit dengan jari oleh Kinan.

“B-boleh p-pegang ndak, kak?” pinta Gobel mengharap.

“Huuu... kamu itu... maunya...,” ujar Kinan sambil memeletkan lidah jenaka. Susunya kakak cuma boleh dilihatin aja yah, dek..., batin Kinan sambil tertawa dalam hati.

Kinan tersenyum bangga menyadari tatapan birahi anak-anak yang baru akil baligh itu pada tubuh moleknya. Malah semakin sengaja membungkuk-bungkuk untuk memberikan kesempatan lebih banyak lagi pada anak-anak desa itu untuk mengagumi bongkahan apem tembemnya yang menggunduk indah di bawah pantat. Kasak-kusuk terdengar dari belakang Kinan. Hanya sayup-sayup Kinan menangkap, tapi yang jelas anak-anak itu sedang membicarakan bentuk alat kelaminnya yang semakin banyak mengalirkan lendir hangat hingga melelehi pahanya.

Malu tapi juga erotis sekali rasanya memamerkan alat kelaminnya kepada anak-anak yang bahkan hanya setinggi pundaknya, membuat Kinan ingin agar keindahan tubuh moleknya dinikmati lebih jauh lagi oleh anak-anak kampung yang pastinya tidak pernah melihat tubuh semlohai seperti dirinya.

Pura-pura mencari belut, Kinan merangkak di dalam parit berlumpur hingga tangan dan lututnya terbenam dalam lumpur sedalam satu jengkal. Tapi Kinan tak amibl peduli, karena tujuannya adalah memamerkan lebih banyak lagi liang kawinnya yang semakin jelas menggunduk dalam posisinya membungkuk. Bongkahan kenyal dadanya tertarik gaya gravitasi bumi sehingga semakin membulat seperti bola sepak dengan sepasang puting yang sudah mencuat horny karena menyadari beberapa anak yang tampak sibuk memperbaiki posisi celana. Hihihi, nikmatin aja yah dik, kapan lagi kalian bisa melihat body seksi kaya kakak, batin Kinan bangga.

“Kaaaaak!!! Kejar kak! belutnya lari ke sini!” jerit Lennon yang membendung ujung satunya dengan kukusan nasi. Kinan memekik girang dan merangkak-rangkak telanjang di dalam parit berlumpur sampai-sampai seekeor luput dari perhatiannya. Makhluk berusaha melarikan diri dari kepungan dan berenang cepat melalui sela-sela paha Kinan.

“Kyaaaaaah!!!” Kinan memekik geli ketika merasakan makhluk berlendir itu menggeliat tepat di bawah selangkangannya. Kinan segera mencoba bangkit dari dalam saluran, tetapi dasar parit yang licin malah membuatnya terjerembab dalam posisi telungkup di dalam selokan sempit berlumut itu.

Tak pelak, tubuh bugil si montok terbenam ke dalam parit berlumpur yang dipenuhi belasan ekor makhluk berlendir. Seekor menggeliat licin di belahan dada Kinan, seekor lagi terjepit di antara paha mengkal dan mencoba masuk ke dalam lubang kawin remaja montok itu. Kinan menggelinjang kegelian. Tapi itu malah membuatnya semakin terbenam ke dalam lumpur hingga makhluk-makhluk licin itu kini menggeliat-geliat di atas wajahnya, menampar-nampar pipi lucu Kinan, dan meninggalkan jejak-jejak menjijikkan lendir licin di atas wajah menggemaskan anak itu.

Gobel dan Celeng tergelak-gelak dan membantu Kinan keluar dari dalam parit. Kinan yang masih terpukul menurut saja didudukkan di pinggiran parit tanpa peduli lagi kalau tubuh montoknya kini belepotan dipenuhi lumut dan lendir menjijikkan.

“Aduuuuuh... susunya kakak belepotan, deh....” Kinan merengek manja, berusaha membersihkan lelehan lendir di atas gumpalan montok dadanya dengan meremas-remasnya, tapi yang ada bongkahan kenyal putih itu tampak semakin menggumpal dalam himpitan jari-jarinya. Buah jakun Gobel, Celeng, dan Lennon yang baru tumbuh seketika naik turun, ketika jari-jari lentik Kinan ikut memilin-milin puting susu cokelat muda yang sudah mencuat seksi.

“I-iya kak... namanya saja... mencari belut... pasti kotor....,” kata Lennon polos.

“M-mau... k-kami bantu bersihkan... kak?” tawar Celeng tergagap-gagap.

“Huuuu kalian itu ya, masih kecil tapi sudah jorok!” Kinan melengos sok tak butuh, meski jantungnya berdebar-debar juga membayangkan tubuh montoknya digerepe oleh anak-anak kampung yang pastinya belum pernah menyentuh tubuh gadis kota sepertinya.

“Ndak, kok kak... kami, kan... anak-anak baik... iya, ndak, Leng?” sambut Gobel yang penampilannya paling mirip anak-anak jalanan putus sekolah yang suka tawuran.

“I-iya! I-iya!”

“Ya udah, sini! tapi kalian nggak boleh macem-macem, yah!” kata Kinan pura-pura judes, dan anak-anak itu hanya mengangguk patuh.



Matahari yang mendekati cakrawala sudah memendarkan cahaya jingga-kemerahan di ufuk barat. Satu-persatu anak-anak itu membersihkan diri di sungai kecil di bagian terendah persawahan yang berbentuk undak-undak.

Kinan geli sendiri karena tahu-tahu saja dirinya berada di antara kumpulan burung-burung kecil. Kebanyakan belum tumbuh bulu, hanya satu-tiga orang saja yang sudah memiliki rambut-rambut halus di selangkangannya, termasuk tiga sekawan yang tidak henti-hentinya memepet Kinan.

Gobel yang paling rimbun rambut pubisnya tampak tidak bisa melepaskan pandangannya dari payudara Kinan. Sungguh, sekalipun dirinya sudah sering melihat payudara warga desa yang mandi di sungai, kali ini untuk pertama kalinya Gobel melihat susu seindah itu.

Terbit rasa bangga di hati Kinan mendapati pandangan birahi anak itu. Hihihi, belum pernah lihat susunya cewek kota yah, dik? Puas-puasin aja deh, ngelihatnya, batin Kinan.

Kinan hanya membalas dengan kerlingan manis ke arah mereka. Tak apa, anak-anak ini, batin Kinan. Lagipula apa yang bisa dilakukan anak-anak itu pada dirinya? Tujuannya sudah tak seberapa jauh, dan tak ada salahnya bermain-main bersama anak-anak itu.

“Sini, kak... kakak duduk di sini,” kata Lennon sopan. Kinan dituntun ke atas sebuah batu besar di tengah aliran sungai, beberapa kendi tanah liat dan gayung batok kelapa sudah teregeletak di atasnya.

Kinan tertawa dalam hati merasakan dirinya diperlakukan bagaikan ratu. Gobel si pemimpin memerintahkan Celeng mengambil air dalam kendi tanah liat. Kemudian Gobel mengguyurkan air dengan gayung batok kelapa pada di kepala Kinan. Sementara para pengikut Gobel yang terdiri dari anak-anak kelas I dan II SD berebutan berpartisipasi dengan mencari bunga melati dan daun lidah buaya untuk mengeramasi rambut ikal Kinan. Kapan lagi punya kesempatan memandikan seorang bidadari yang tersasar ke bumi?

Anak-anak itu membasuh lapisan lumpur yang menutupi kulit Kinan lalu digosoknya dengan batu kali. Betis, paha, punggung, pundak, leher. Bahkan Kinan tidak menolak ketika tangannya diangkat tinggi-tinggi dan ketiaknya digosoki dengan telaten. Dalam posisi ini Payudara Kinan yang mengkal jadi semakin membusung indah karena Kinan melipat lengannya di belakang kepala, agar anak-anak itu leluasa menyabuni ketiak sambil mencuri-curi memegang bongkahan kenyal di dekatnya.

Celeng mengguyurkan satu kendi air penuh membilas semua lapisan lumpur di tubuh Kinan sehingga tubuh montok yang belepotan lumpur itu kini menunjukkan kehalusan yang sebenarnya, kuning langsat dan mengeluarkan kilapan erotis di bawah sinar matahari senja.

“Saya... sabunin, ya...,” bisik Gobel gemetar.

Kinan mengangguk manja, memasang senyumnya yang paling manis ke arah anak bertubuh bongsor itu. Kinan jadi geli sendiri melihat buah jakun anak-anak kampung itu bergerak turun naik mengagumi kemolekan lekuk tubuhnya.

“Woy! Ambilkan melati dan daun sirih!” perintah Gobel kepada anak buahnya.

Laskar privat Gobel yang terdiri dari sepasukan anak-anak kelas 1 dan kelas 2 SD dengan patuh mengambilkan ketuanya segenggam bnga melati dan daun sirih yang diperas menjadi lendir berbuih. Lalu dengan tangannya yang gemetar, Gobel mengusapkan pelan antiseptik alami itu pada pundak Kinan. Celeng dan Lennon ikut saling sikut tak mau ketinggalan acara mandi-memandikan bidadari itu. Kapan lagi anak-anak dekil seperti mereka punya kesempatan menggerepe gadis kota seperti Kinan!

Celeng yang mendapat bagian menyabuni punggung mulus Kinan hanya bisa menelan ludah berkali-kali merasakan kelembutan kulit gadis kota yang tak pernah lupa dirawat dengan lulur itu. Tangannya gemetar bergerak naik-turun meratakan cairan antiseptik alami itu di sepanjang tulang punggung Kinan lalu mengusap pelan lengan dan ketiak si montok yang hanya merespon dengan lengguhan pelan.

“Geli, dik...,” desah Kinan manja, lalu memasang senyum sendunya yang semanis madu.

Berkali-kali anak berbadan gemuk-dekil itu menelan ludah karena tidak tahan melihat keerotisan tubuh montok Kinan yang menggeliat-geliat geli dalam belaiannya, hingga akhirnya kedua tangan Celeng bergerak semakin berani menyusuri lekuk tubuh Kinan yang berlekuk mengkal bagaikan seperangkat cello. Hingga ketika tangannya sampai di pinggul, Celeng tidak tahan lagi untuk meremas-remas bongkahan kenyal pantat Kinan. Jari-jari mungilnya bergerak mengusap, membelai, meratakan cairan licin di sekujur bongkahan putih kenyal yang menggelinjang-gelinjang kegelian. Dan desahan lirih pun tak kuasa keluar dari bibir Kinan ketika jari Celeng dengan lancangnya menceboki lubang anus Kinan bahkan merogoh jauh ke depan hingga sela-sela belahan memeknya.

“Jangan dicebokin, dik... malu...,” bisik Kinan tersipu sambil mendorong tangan Celeng menjauh. Wajah Kinan yang malu-malu manja membuat anak-anak itu semakin gelisah. Termasuk Gobel yang kebagian menyabuni tubuh bagian depan dan sedang asyik mengusapi leher Kinan dengan buih daun sirih.

Dibantu beberapa anak kelas 1 SD yang bertugas mengambil air dan menyirami tubuh sang bidadari, Gobel mengusap pelan pundak Kinan, lalu turun ke tulang selangka dan belahan dada. Disapukannya sekilas buih-buih kemilauan itu pada sepasang bongkahan kenyal dada Kinan hingga membuatnya dipenuhi kilauan erotis sebelum dibelainya lembut puncak-puncak dada Kinan yang segera mencuat indah dari tengah aerola. Dengan telunjuk dan ibu jarinya ia menjepit dan menarik-narik benda lentur itu saking gemasnya hingga melenting indah sambil memberikan remasan-remasan erotis pada sekujur gumpalan daging lembut di dada Kinan. Sebentar saja, karena Gobel memang berencana menyisakan bagian terbaik untuk saat-saat terakhir.

Kinan menggigit bibirnya, berusaha meredam sedikit rasa kecewa karena tangan Gobel malah bergerak turun menyabuni perutnya yang berlipat-lipat menggemaskan, mengorek-ngorek pusarnya sebelum merambat turun menuju rambut-rambut ikal yang membentuk segitiga erotis di pangkal paha. Lama Gobel bermain-main di antara helaian ikal rambut pubis Kinan tanpa sedikitpun berniat menjamah kelembaban yang mulai mengalir dari belahannya yang belia. Begitu berkali-kali. Sehingga tanpa sadar sepasang paha Kinan yang dari tadi tertutup rapat perlahan bergerak membuka mengikuti insting hewaninya.

Tentu saja Lennon yang mendapat jatah membersihkan tungkai bawah Kinan yang paling girang dengan hal ini. Anak bertubuh jangkung itu sedang membersihkan jari kaki dan betis Kinan ketika ketika paha Kinan membuka sepenuhnya. Anak itu segera membeliak takjub mendapat sajian gratis pemandangan mesum berupa sebentuk alat kelamin yang menggunduk mulus dengan rekahan daging merah muda yang sudah berkilau licin oleh lelehan lendir birahi. Di bawahnya, lubang anal yang berbentuk bintang kecil merah hati terpampang indah, mengembang dan mengempis mengikuti kesimpangsiuran perasaan si gadis eksibisionis.

Anak-anak lain yang sedari tadi hanya memantau dari kejauhan segera berlarian mendekat dan berkerumun di depan selangkangan Kinan. Kinan segera memejam dengan wajah merah padam, menahan rasa malu dan erotis menyadari tatapan-tatapan mesum anak-anak itu pada bagian tubuhnya yang paling rahasia. “Adik... pepeknya kakak... jangan dilihatin... seperti itu... kakak... malu...,” rengek Kinan setengah mendesah. Karena tatapan anak-anak di bawah umur yang berjongkok di bawah selangkangannya, liang kawin Kinan justru berkedut-kedut nikmat dan mensekresikan lebih banyak lagi cairan pelicin yang meleleh hingga lubang anus.

Lennon menelan ludah berkali-kali menyaksikan pemandangan erotis yang selama ini hanya bisa dinikmatinya dalam sebuah mimpi basah. Cuping hidungnya mengembang dan mengempis menghirupi aroma asam kewanitaan yang memenuhi paru-parunya. Dan Lennon tidak bisa menahan diri untuk tidak membelai gundukan tembem Kinan yang segera memberikan reaksi begitu jarinya mendarat di belahan rapat yang digenangi lendir licin.

Kinan mendesah manja, membelai-belai pundak Lennon yang berlutut di depannya. “Jangan dipegang, dik... itu pepeknya kakak...,” Bibir Kinan menolak meski tubuhnya saat ini jelas-jelas menginginkan yang sebaliknya. Buktinya, Kinan hanya merespon dengan desahan manja ketika jari Lennon yang belum berpengalaman membelai labia merah muda yang licin berikut klitoris Kinan yang sudah mencuat di bawah lubang kencingnya.

Erangan lirih terdengar. Belaian-belaian Lennon di salah satu titik tubuhnya yang paling erotis membuat akal sehat Kinan semakin memudar. Sampai-sampa Kinan tak menyadari bahwa Celeng yang duduk di belakangnya mulai lancang melingkarkan tangan di pinggangnya, mendekap erat tubuh montok Kinan yang hanya mampu menggeliat manja dalam pelukan anak bertubuh tambun itu. Celeng mendaratkan kecupan-kecupan mengundang pada batang lehernya yang basah. Pundak Kinan digigit-gigit dan dijilat-jilat oleh bocah bau kencur yang bertindak mengikuti nafsu binatangnya semata.

Kinan memejam penuh penghayatan, menciumi lengan gemuk Celeng yang melingkar di atas dadanya.

“Enak, kak?” bisik Celeng menggoda sambil mengulum daun telinga Kinan.

“Hu-uh,” Kinan menjawab dalam desahan penuh gairah tanpa menyadari anak-anak SMP yang sedari tadi hanya berani duduk-duduk di pematang dari kejauhan kini bergerak mengerumuninya. Kinan yang sudah naik birahinya hanya mampu memejam pasrah ketika sepasang paha sintalnya dipegangi beramai-ramai dan dikuak lebar-lebar ke arah anak-anak yang menonton dari seberang sungai. Sehingga makin lama di depan selangkangan Kinan semakin menyemut anak-anak lain yang ingin melihat dengan lebih jelas bentuk alat kelamin yang menyerupai isi perut tiram.

Terdengar suara bersorak dari anak-anak kelas I SD yang berkerumun di depan Kinan ketika gundukan tembem kewanitaan terekspos seutuhnya berikut lubang anus mungil berwarna merah muda lucu di bawahnya.

_____________________________________

| Song jit = lubang pantat |

| bajang = remaja |
_____________________________________



“Wah song jit-nya kakak bersih, ya... warnanya merah muda enggak hitam kayanya punyanya bli Celeng...” seorang anak kecil membeliak takjub dan membelai lubang lucu berbentuk bintang kecil di pantat Kinan. Seorang lagi menggumam kagum pada sepasang labia tembem yang menggunduk menggemaskan dan menyentuhnya dengan tangannya yang mugil. “Jadi... bentuknya pepek itu seperti ini, yaaaa....”

“Iyaaaaa....” tubuh Kinan merinding hebat, “memaaaang... kalian... belum pernah... lihat pepeknya bajang-bajang... yang lagi mandi... di desa sini?” Kinan berkata terbata, karena memeknya rasanya sudah ingin meledak saja menyadari bahwa saat ini dirinya tak telanjang bulat dan belasan anak-anak berjongkok di depan bagian tubuhnya yang paling privat.

Mereka kompak menggeleng. “Lihat dari depan yang banyak bulunya sering, kakak... tapi saya baru tahu ternyata di dalamnya seperti ini....” seorang anak menguak labia Kinan dengan jari-jarinya sehingga seisi liang senggama Kinan yang mengkilap terlihat jelas. “Kalau kencing keluar dari sini yah, kak?” anak itu dengan kurang ajar mencelupkan telunjuknya ke dalam rongga tubuh Kinan yang basah.

“Kyaaaaaah!!!!” Kinan memekik kaget. “B-bu-bukaaaan yang ituuuh... kalaauuu... kenciiing ituuuuh... dariii... siniiih....” sahunt Kinan termegap-megap sambil menunjuk uretra yang merupakan muara dari kandung kemih yang terletak tepat di atas organ erektil yang membesar seperti kacang.

“Loh? Kok? Terus kalau yang bentuknya kaya kacang ini apaan, kak?” seorang membelai klitoris Kinan tanpa permisi yang segera disambut erangan erotis dari kerongkongan empunya.

“E-eeeeh? Y-y-yang itu... j-j-j-jangaan dipegaaaaaang!!!! Ituuuuh... ituuuuuh... aduuuh... auuuuuh!!!!” Kinan tak sempat menjawab, karena mata Kinan keburu membeliak nanar sebelum tubuhnya kejang-kejang beberapa kali.

“Eh? Eh? Kakaknya kenapa?” anak-anak itu segera mengerumuni Kinan yang masih termegap-megap dengan wajah merah padam setelah dihantam orgasme insidentalnya.

“Dasar lengeh! Yang itu namanya teli!” Gobel menempeleng kepala anak kelas 5 SD yang masih asyik memijat-mijat kelentit Kinan. “Lihat ini kakaknya jadi merem-melek keenakan kamu pegang-pegang telinya!” Anak yang bertubuh paling bongsor itu berceletuk memprovokasi yang segera disambut riuh sorak sorai anak buahnya. “Oi, teman-teman!!! Kakak gilanya ternyata senang pepek-nya digrepe-grepe!”

_____________________________________

| lengeh = ngaco |

| teli = klitoris |
_____________________________________


“Benar nih, sudah basah pepek-nya!” jerit Celeng yang dengan kurang ajarnya mencelupkan jari tanpa izin ke dalam kubangan lendir di belahan memek Kinan dan menunjukkan ujung jari yang sudah dilapisi cairan cinta itu pada teman-temannya yang segera berkerumun untuk melakukan hal yang sama.

Dan kerumunan di pinggir sungai itu semakin membesar laksana bola salju. Dari mulut-ke mulut beredar kabar tentang orang gila yang sedang dikerjai beredar cepat dari anak-anak dan remaja tanggung bahkan dari desa-desa di sekitarnya. Bahkan ada yang datang sambil membawa keranjang sayur atau layang-layang di tangan.

Anak-anak di bawah umur itu saling sikut dan saling dorong hanya untuk mendapat giliran mengusap dan membelai benda misterius yang berbentuk daging keriput berwarna merah muda itu. Mata kanak-kanak mereka membeliak berbinar saking takjubnya bagaimana lorong senggama Kinan bisa mengeluarkan cairan licin berbau anyir yang terasa asin ketika dijilat. Seorang anak kecil penasaran dan mencucup belahan memek Kinan dan segera dijitak temannya yang juga ingin merasakan gurihnya memek si montok. Kinan refleks memberontak, tapi jilatan melingkar pada lubang anusnya segera membungkam protes Kinan menjadi erangan erotis yang diikuti gelinjangan tak rela dari seorang gadis kota yang sedang dipermalukan oleh sekumpulan anak-anak dekil.

Kinan menggelepar tak berdaya dalam cengkeraman tangan-tangan kecil yang membelenggu gerak tubuhnya. Jari-jari mungil mereka saling berebutan menggobel-gobel lubang kawin Kinan, mencubiti klitorisnya, dan menggelitik lubang anusnya. Kedua puting Kinan dikenyot-kenyot dan ditarik-tarik secara biadab oleh kerumunan bocah bau kencur yang memperlakukan gadis montok itu tak lebih dari seonggok daging segar dalam film bergenre zombie apocalypse.

Kinan bahkan tidak bisa mendengar jeritan kenikmatannya sendiri. Karena yang tedengar di telinganya saat ini hanyalah sorak-sorai anak-anak kampung yang berebutan menikmati kenyalnya tubuh montok si gadis kota. Kinan termegap-megap berusaha menghirupi udara yang terasa semakin tipis setelah dirinya nyaris pingsan dihantam orgasme demi orgasme. Tapi cumbuan bertubi-tubi yang mendera liang kawinnya mau tak mau membuat tubuh Kinan menyerah. Nafasnya terasa semakin tersengal. Dan. Kepalanya terasa ringan. Ringan. Sebelum pandangannya ikut meredup dan yang terlihat hanyalah warna hitam.


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Kinan hanya merasakan tubuhnya dibopong beramai-ramai dan ditelentangkan di tengah rumpun bambu yang tersembunyi. Terenggah-enggah tak berdaya, tubuh montok Kinan menggeliat lemah dalam genggaman tangan-tangan kecil yang menahannya beramai-ramai. Payudara Kinan kini dipenuhi bekas gigitan dan remasan di antara rona-rona kemerahan dan bulir-bulir keringatnya. Kilapan segar lendir pelicin tampak meleleh dari liang senggama Kinan hingga paha dan pantatnya. Mata Kinan berkerejap lemah. Dan bibir sensualnya hanya mampu termegap-megap, memohon ampun kepada para majikan kecilnya untuk menyudahi siksaan birahi ini.

“Sudah-sudah! Bagaimana kalau kita kerjai lagi kakak gila ini? Setuju teman-teman?!” teriak Gobel berwibawa yang disambut tepuk tangan para pengikutnya.

Nafas Kinan belum selesai tersengal ketika Gobel memerintahkan seorang anak kelas I SD yang membawa sekeranjang penuh berisi sayur-sayuran mendekat. Dengan girang anak badung itu mengambil sebatang mentimun berdiametar cukup besar.

Kinan bahkan tak punya tenaga untuk memberontak ketika Gobel berjongkok di bawah selangkangannya sambil mengacungkan sayuran dari bangsa Cucumberaceae itu. Tungkai-tungkainya dipegangi oleh anak-anak yang kebanyakan sudah telanjang bulat. Dan kedua buah dadanya diciumi bergiliran oleh anak-anak yang belum ingin berhenti menyusu kepada remaja berdada montok itu. Dan Kinan hanya bisa memejam pasrah ketika ujung bundar sayuran itu menyentuh bibir memeknya.

Tubuh Kinan menegang merasakan ujung tumpul ketimun itu mulai membelah bibir memeknya, lalu dalam satu gerakan perlahan Gobel membenamkan mentimun itu kuat-kuat ke dalam lubang kawin Kinan sudah paripurna dipenuhi lendir-lendir birahi. Bunyi erotis cipratan cairan cinta terdengar menyemburat dikuti lengguhan lirih dari bibir Kinan ketika batang tumpul itu bergerak mempenetrasi bibir tembem dan dinding-dinding legit liang kawinnya yang elastis hingga terbenam penuh dan mencium mulut rahim Kinan.

Mata Kinan seketika membeliak nanar, bibirnya membuka lebar dan mengeluarkan dengusan-dengusan yang entah nikmat ataukah kesakitan ketika dildo nabati itu menyesaki liang kawinnya. “Auuuf.... auuuuf.... sakiiiiiiiithh... sakiiiiiiith.... auuuuuuh...” rintih Kinan menahan geli-geli-nyeri yang melanda selangkangannya. Namun belum sempat dinding-dinding memeknya menyesuaikan diri, Gobel sudah tak sabar ingin mengocok lubang memek Kinan dalam kecepatan maksimal.

Geliat seksi tubuh bugil Kinan tampak mengiringi batang ketimun yang berkecipak mesum memperkosa lubang kawin si montok. Sayur lalapan itu kini nampak berkilat-kilat dibasahi cairan kenikmatan yang sudah mulai deras berlelehan. Sekujur tubuh montok Kinan menggeliat-geliat dalam rona-rona erotis dan bulir-bulir keringat yang mengkilat menggairahkan. Payudara Kinan yang membusung dipenuhi bekas gigitan dan cupangan anak-anak yang masih belum puas menggigiti bongkahan kenyal itu.

Lennon si jangkung segera membelai rambut pubis dan kelentit Kinan yang ereksi. Dua orang lagi masih asyik menyusu pada payudara mengkal si montok yang tengah diremas-remas oleh kawan-kawannya yang lain. Sementara anak-anak usia sekolah dasar mendapat tugas memegangi kaki dan tangan Kinan yang berontak sia-sia.

Celeng yang dari tadi memang sudah gemas dengan bibir sensual Kinan tidak bisa menahan diri lagi untuk menciumi bibir merah muda yang merekah pasrah itu. Kinan segera menggeleng jijik karena lidah anak gemuk itu dengan lancang mencoba memasuki rongga mulutnya, tapi sia-sia saja, karena jilatan-jilatan yang mendarat pada ketiaknya membuat Kinan tidak bisa melakukan apa-apa selain mendesah geli dan membiarkan mulut bau jigong itu mengulum bibirnya yang lembut.

Melihat Kinan yang tampaknya menikmati tindakan bejat mereka, Gobel mempercepat gerakan mentimun di memek korbannya sementara sebelah tangannya yang bebas asyik mempermainkan lubang anus Kinan sambil meremas-remas pantat montok si gadis kota. Kinan memejamkan mata kuat-kuat berusaha agar tidak kelihatan terlalu menikmati kocokan mentimun yang memperkosa lubang memeknya hingga banjir bandang, tapi semprotan peju kenikmatan yang meleleh-leleh seperti air pancuran, jelas-jelas menunjukkan liang kawin Kinan saat ini sebenarnya tengah menjerit-jerit bahagia.

Sekumpulan anak-anak yang sudah tidak tahan melihat pemandangan bokep live itu mulai mengocok burung masing-masing mengelilingi Kinan. Beberapa anak kelas 5 dan kelas 6 yang sudah akil baligh memuncratkan benihnya satu persatu. Hingga atas prakarsa Celeng yang mesum, anak-anak itu mengumpulkan tumpahan spermanya dalam satu wadah batok kelapa.

Anak bertubuh tambun itu tersenyum girang membawa semangkuk lendir kental dalam tangannya. Bibir merah muda Kinan yang merekah dan terenggah menggoda Celeng untuk meminumkan benih kental itu untuk menodai sang bidadari lebih jauh lagi.

Kinan membeliak ngeri melihat semangkuk sperma yang disodorkan di depan bibirnya, tapi kocokan brutal mentimun Gobel malah membuat mulut Kinan terbuka lebar demi mengeluarkan desahan-desahan nikmat yang membuat Celeng leluasa menempelkan semangkuk lendir berbau anyir itu.

Kinan segera menggeleng jijik, sehingga peju kental itu terciprat ke atas wajah manis Kinan, meleleh-leleh di atas pipi lucu Kinan yang berurai air mata, tapi rambutnya yang dijambak dan kepalanya yang dipegangi beramai-ramai tidak meninggalkan banyak pilihan bagi remaja berwajah manis itu selain termegap-megap dicekoki cairan menjijikkan milik anak-anak kampung.

Kinan tersedak beberapa kali, sehingga cairan amis itu meleleh keluar dari hidungnya, tapi Celeng tanpa belas kasihan memegangi pipi Kinan sehingga remaja malang itu terpaksa menelan mentah-mentah lendir putih kental yang mengalir turun memenuhi kerongkongannya. Lambung Kinan seketika terasa mual dan berkontraksi, sehingga cairan amis itu segera terhambur muntah besama isi perut Kinan yang melumeri sekujur bongkahan mulus dadanya.

Tawa terbahak-bahak segera terdengar memenuhi gendang telinga Kinan dengan kata-kata melecehkan. Anak-anak itu mengatainya dirinya orang gila. Anak-anak itu mengatai Kinan pelacur yang memang menginkan dientot ramai ramai. Air mata mulai meleleh di pipi Kinan seiring kehormatannya yang dihancurkan sebegitu rupa.

Tangis Kinan memecah dan terdengar memilukan. Bagaimana mungkin anak-anak kampung itu berani melecehkan anak gadis dari keluarga ningrat sepertinya. Ayahnya dokter bedah terkenal di kota Denpasar. Ibunya berasal dari keluarga bangsawan. Tapi kenapa anak-anak dekil dan kumal itu berani-beraninya memperlakukannya lebih hina dari binatang?!!

Seolah belum cukup menginjak-injak martabat Kinan. Seorang anak membawa seekor belut hidup yang masih menggeliat-geliat licin. Kinan segera membeliak histeris menyadari apa yang akan mereka perbuat dengan hewan berlendir itu. Benar saja, tak seberapa lama, Celeng dengan biadabnya memasukkan hewan itu ke bawah selangkangannya. Kinan segera menjerit histeris, dirinya tidak keberatan dijebol dengan mentimun atau batang kontol, tapi ketika lubang pembuangannya disusupi makhluk menjijikkan berlendir, itu lain cerita.

“KYAAAAAAAH!!!! KALIAN MAU APAAAA?!!!! KALIAN MAU APAAAAAA?!!!!” Kinan berteriak-teriak histeris merasakan kepala licin makhluk itu menggeliat-geliat di tepian bibir analnya. “Addiiik... jangan, ya... pleaseeeee.... jangaaaan pakai belut... jang− ssssshhh,” kalimatnya Kinan terputus oleh desahannya sendiri. Lubang anal adalah salah titik favorit Kinan, maka hanya diperlukan beberapa gelitikan saja pada syaraf-syaraf sensitif lubang analnya, hingga jeritan tak rela Kinan perlahan berubah menjadi desahan-desahan erotis ketika makhluk berlendir itu melata mencari jalan masuk. Lubang anal yang sudah dipenuhi peju kenikmatan ditambah kulit belut yang berlendir memudahkan hewan menjijikkan itu menggeliat memasuki tubuhnya. Lubang anal Kinan seketika termenggap-megap nikmat, kembang kempis menghimpit kepala belut yang semakin jauh menggeliat ke dalam rongga rektumnya. Ekor belut itu hanya tersisa setengah menggelepar putus asa di antara bongkahan pantat Kinan yang menandak-nandak demi mengkompensasi kenikmatan mengerikan akibat seekor hewan melata yang terjebak di dalam lubang pembuangannya.

Peju kenikmatan yang menyemprot seiring orgasme Kinan yang datang berulang-ulang membuat Gobel semakin leluasa mengocok batang timun dalam memek Kinan tanpa peduli gadis montok itu sudah merintih-rintih menahan ngilu. Pemandangan bokep live yang ultra ngacengin itu akhirnya membuat anak-anak yang sedari tadi hanya ikut menggarap sepasang buah dada Kinan kini sudah mulai berani melepas kain atau celana masing-masing dan mengocok kejatanan yang belum berbulu mengelilingi Kinan yang sedang berkelojotan.



Kinan bahkan tidak punya tenaga untuk memprotes tindakan tidak manusiawi yang dilakukan anak-anak kampung itu terhadapnya. Matanya sembab oleh air mata, dan dari bibirnya tampak lelehan air liur yang menetes-netes akibat orgasme yang mendera tanpa henti. Kinan hanya merasakan tubuhnya diangkat dan ditelentangkan di atas sebuah batu besar. Kemudian batang mentimun dan seekor belut yang sudah tidak bernyawa dikeluarkan secara biadab dari tubuhnya.

Hampir semua anak itu kini telah telanjang bulat. Beberapa mengocok burung sendiri-sendiri, tapi beberapa lagi dengan kurang ajar menyodorkan alat kelaminnya di wajah Kinan. Remaja manis itu tidak memliki pilihan lain selain melayani satu-persatu burung-burung kecil yang mengacung di depan wajahnya dengan bibir ataupun kedua tangannya. Tak lama kemudian, bibir Kinan yang sensual segera dipenuhi dengan batangan-batangan mungil yang disodok-sodokkan dengan brutal oleh anak bau kencur yang seolah ingin menyetubuhi kepala Kinan.

Huh, burung-burung kecil itu, dengus Kinan kesal ketika merasakan pahanya dibuka lebar-lebar liang kawinnya dipenetrasi oleh anak di bawah umur, sungguh tak seberapa nikmat jika dibandingkan dengan kontol Badeng semalam, apalagi tidak sampai semenit masing-masing sudah berejakulasi di dalam rahimnya. Tapi ketika satu demi satu kenikmatan itu berakumulasi dalam 30 kontol yang menyetubuhinya sekaligus, mau tak mau si lonte berwajah imut ini mendesah keenakan juga.

Bagai seorang budak seks yang setia, Kinan menurut patuh ketika diperintahkan menggenjot tubuh gempal Gobel dalam posisi wot, sementara bibirnya sibuk menyepong kontol Lennon yang panjang-kurus seperti orangnya. Celeng yang sejak awal gemas dengan pantat Kinan tidak bisa menahan diri untuk tidak menggesek-gesekkan batang kontolnya yang gemuk-pendek di sela-sela bongkahan pantat Kinan. Tak pelak, kontolnya yang hitam menyeruak ke dalam lubang anal Kinan, meski hanya ujungnya saja karena panjang burung yang tak seberapa hanya mampu mempenetrasi lubang pembuangan Kinan hanya sampai di bibirnya.

Tapi tetap saja Kinan kelojotan dibuatnya, karena sejak awal si lonte kecil memang suka lubang anusnya digejol-gejol. Bibir Kinan yang dipenuhi kontol Lennon hanya mampu melengguh-lengguh seksi guna menyuarakan betapa hebatnya kenikmatan birahi yang diberikan anak-anak itu. Sementara dua orang anak buah Gobel yang lain harus cukup puas dikocok-kocok burungnya dengan kedua tangan Kinan yang masih bebas.

Lennon melengguh panjang. Pemuda bertubuh jangkung, menyemprotkan benihnya dalam bibir Kinan dan terpaksa ditelan oleh gadis manis itu, sementara dua orang yang sedang dikocok burungnya oleh Kinan memuntahkan peju masing-masing di tatas payudara dan wajah Kinan yang segera terpejam jijik. Gobel dan Celeng kompak keluar bersamaan, memenuhi kedua rongga tubuh Kinan dengan jutaan calon jabang bayi yang salah satunya bisa saja membuahi sel telur Kinan. Kinan merintih tak berdaya, berharap jangan sampai dirinya berbadan dua tanpa ayah yang jelas. Namun belum sempat Kinan berpikir lebih jauh, tubuh montoknya kini ditunggingkan karena si guguk Balung juga ingin ikut ambil bagian. Haaaaah! Bisa jebol memeknya Kinan nih! batin Kinan yang malu-malu birahi.

Partikel feromon –semacam neurotransmiter yang memicu hasrat berkembang biak− yang menguar dari organ intim Kinan agaknya membuat birahi sang pejantan ikut menggelegak tak terbendung. Kinan merasakan cakar tajam mamalia itu di atas punggungnya yang telanjang ketika si gukguk mencoba menaiki tubuhnya.

Binatang berspesies Canis familiaris itu mendengus-dengus birahi sambil menggesek-gesekkan batang kejantanannya di atas pantat montok Kinan. Ujung kulup sang pejantan telah terbuka dan menampakkan ujung kontol berwarna merah darah yang digesek-gesekkan ke atas gundukan putih mulus betinanya. Geli. Ukuran tubuh yang tidak sama tinggi membuat batang kontol mungil itu hanya mampu menusuk-nusuk lubang anal Kinan. Kinan harus mengangkat pantatnya sedikit agar batang kontol beda spesies itu bisa masuk ke dalam lubang kawinnya.

Terdengar geraman tertahan dari sang pejantan diikuti rintihan lirih betinanya ketika batang mungil itu dipenetrasi sepenuhnya dalam lubang kawin yang telah basah. Hu-uh, kecil banget, batin Kinan agak kecewa. Entah kenapa, Kinan merasa ada yang kurang dengan ukuran kejantanan sang pejantan yang di luar dugaan kecil bukan main. Setelah digempur semalam suntuk dengan kontol monster milik Badeng rasanya Kinan perlu dikawini oleh kontol si brewok sekali lagi agar bisa terbantai puas.

Kinan yang birahinya sudah di ubun-ubun langsung berinisiatif mengocok sendiri organ intimnya dengan tangan tanpa peduli lagi dengan harga diri. Kelentitnya yang sudah mengeras segera menjadi sasaran cumbuan buas jari-jarinya yang memburu puncak kepuasan.

Benar saja, tak sampai 1 menit Kinan mulai kelojotan. Diiringi kata-kata jorok dari bibir manisnya, tubuh montok Kinan menggelinjang nikmat ketika cairan squirtnya menyembur deras seperti water canon. Tak seberapa lama klimaks si guguk ikut menyusul. Sang pejantan menggeram-geram penuh kenikmatan sambil menyemprotkan cairan sperma najis yang memenuhi tubuh Kinan.

Kinan terenggah lemah, sebelum akhirnya tungkai-tungkainya melemas dan menumpu pada siku sehingga pantat montoknya semakin tertungging-tungging dan mempertontonkan lebih banyak lagi gundukan tembem dengan cairan cinta yang meleleh-leleh dan tercampur dengan peju najis binatang berkaki empat itu.

Kinan tak ingat lagi berapa orgasme yang sudah dicapainya, yang diingat Kinan adalah ketika tubuhnya sudah tergolek tak berdaya dan anak-anak yang sedang mengocok kontol itu mengelilingi dan memandikan tubuh montoknya dengan peju kental yang menjijikkan. Sementara anak-anak kecil yang cuma tahu ikut-ikutan mengencingi tubuh Kinan dengan urin. Tak ada satupun bagian tubuh Kinan yang luput, wajah manis, bibir sensual, sepasang payudara sintal, perut mengkal, juga bulu-bulu lebat di pangkal paha Kinan seolah berada di bawah lapisan kental lendir putih yang meleleh-leleh.

Mata Kinan terpejam erat. Harga dirinya yang diijak-injak tak menyisakan apapun selain tubuh montok yang mengejang lemah di atas genangan urin dan sperma. Setelah menunaikan hasrat abnormalnya, satu persatu anak-anak itu meninggalkan Kinan begitu saja, seolah-olah remaja manis itu tak lebih dari onggokan daging mentah yang tak lagi berharga.

Kinan bahkan tak berupaya mengeluarkan benih-benih itu dari dalam tubuhnya. Tanpa mempedulikan lagi kemungkinan bahwa salah satu dari jutaan sel sperma yang ditumpahkan dalam rahimnya bisa saja membuahi sel telurnya, Kinan meringkuk lemas di atas genangan menjijikkan ampas-ampas persetubuhan. Kepalanya terasa ringan dan rasanya Kinan tidak ingin buru-buru beranjak....


●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​


Matahari yang berada tepat di cakrawala memendarkan cahaya jingga kemerahan di atas permukaan sungai kecil yang beriak. Kinan bersimpuh di dalam aliran sungai membiarkan arus air membelai tubuh telanjangnya dan membersihkan cairan lengket yang berselemak membungkus setiap jengkal kulit mulusnya. Kinan memandang mengawang mengendang pesta seks bukake-nya dengan anak-anak kampung itu. Rasanya menakjubkan. Sekaligus mengerikan pada saat yang sama menyadari bahwa dirinya ternyata menikmati perlakukan anak-anak itu, bahkan membayangkan pesta seks yang lebih brutal dengan batang kontol dewasa yang pasti bisa membuat Kinan menggelinjang seperti kuda binal....

Tapi, bagaimana cerita ini akan diakhiri? lagi-lagi pertanyaan itu terlintas di benak Kinan. Anak itu hanya takut dirinya menjadi lonte binal kecanduan seks yang rela dijadikan budak seperti kisah-kisah stensilan yang biasa dibacanya. Kinan menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran-pikiran gila dari dalam benaknya. Karena saat ini prioritasnya adalah tiba di tempat Siska untuk meminta bantuan.

Matahari sudah terbenam sempurna ketika Kinan akhirnya sampai di Wisma Dewata. Malam telah menggelapkan cakrawala dan Kinan harus mengendap-endap melewati persawahan yang terletak di belakangnya agar tak menarik perhatian petugas keamanan yang berjaga di pintu depan.

Kinan mendapati Siska, turis asal Jakarta yang sedang berenang tanpa busana dalam kolam kecil di belakang bungalo yang berada tepat di pinggir sungai kecil. Gadis berambut pendek itu sempat membelalak kaget ketika Kinan muncul dari rimbunan padi yang belum dipanen, sebelum menyadari bahwa yang datang itu adalah gadis eksibisionis yang ditemuinya satu hari yang lalu saat bermain arung jeram.

Gembira bukan kepalang karena bertemu sesama pengidap kelainan, Siska menyelundupkan Kinan ke dalam kamarnya, dan membiarkan Kinan yang dekil karena seharian bertelanjang bulat memanjakan diri dalam buih-buih sabun mewah bath tub semi terbuka guest house berstandar internasional itu.

Masih sama-sama telanjang, Kinan bercerita semua tentang petualangannya, tentang kegilaannya dalam 48 jam terakhir, tentang petualangan seks spektakuler yang membuat Siska terangsang dan tidak bisa menahan diri untuk menyentuh dirinya sendiri di depan Kinan. Kinan hanya tersenyum dalam hati melihat betapa mudahnya remaja ibukota itu dibuat menggelinjang hanya dengan sebuah cerita mesum yang keluar dari bibirnya....

Kinan memperhatikan dengan sudut matanya, wajah tirus blasteran bak seorang model sampul, tubuh Siska yang langsing dan tinggi semampai, buah dada mungil yang hanya sekepalan tangan tapi membulat mengkal dengan puting warna merah hati, juga gundukan memek yang dicukur mulus seperti bayi. Diam-diam otak Kinan mensintesis sebuah skenario brilian tentang bagaimana cara menjebak si gadis ibukota agar dipermalukan seperti dirinya. Senyum simpul Kinan tersungging di bibir Kinan membayangkan gadis semolek Siska diperkosa semalam suntuk oleh Badeng, dikenyot puting imutnya oleh si kakek ompong, dijilati klitorisnya oleh si guguk, dan dimandikan dengan peju kental dalam pesta seks bukake anak-anak kampung....

It will be interesting... batin Kinan. It will be interesting....

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar